# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label about children's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about children's. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013

Alasan Bayi di Seluruh Dunia Ucapkan Kata 'Mama'

Setiap budaya memiliki bahasa yang berbeda-beda, namun sepertinya setiap bayi langsung mengucap kata 'mama' begitu ia bisa bicara. Suka atau tidak, ternyata penyebabnya bukan karena cinta.
 
Setiap bahasa memiliki istilah sendiri untuk air. Dalam bahasa Swahili disebut maji. Dalam bahasa Denmark disebut vand. Dalam bahasa Jepang disebut mizu. Meski kata-kata itu menggambarkan zat paling umum dan paling penting bagi kehidupan, secara linguistik mereka tidak sama. Maklum saja, kata-kata tersebut berevolusi karena berasal dari tiga benua yang terpisah dan tradisi yang sangat beragam.
 
Namun ada satu — dan hanya satu-satunya — kata yang diucapkan secara sama di hampir setiap bahasa yang dikenal umat manusia. Kata itu adalah “mama.”
 
“Mama” merupakan sebuah kata universal yang menggambarkan wanita yang memberikan kasih sayang saat kita berada dalam kondisi terlemah. Meskipun banyak bahasa memiliki kata pengganti resmi buat ibu, kata mama yang lebih intim tetap sama dalam setiap bahasa.
 
Namun kata “mama” tidak muncul dari cinta. Itu terjadi karena dua hal: Mulut bayi kecil yang malas, dan payudara. 
 
Penelitian mengenai “mama dan papa” sebagai kata universal dilakukan ahli linguistik Roman Jakobson asal Rusia. Dia menjelaskan bahwa vokalisasi termudah bagi seorang manusia yaitu mengucapkan kata-kata vokal dengan mulut terbuka. 

Bayi bisa mengeluarkan huruf vokal (tangisan) sejak hari pertama. Dan mereka selalu mengucapkannya itu saat mereka mulai  bereksperimen dengan mengucapkan suara-suara lainnya, bayi akan mencoba beberapa suara konsonan yang lebih mudah.
 
Biasanya mereka mulai dengan suara yang dibuat dengan mulut tertutup, atau “suara bibir” seperti /m/ /p/ /b/. Bayi mengumpulkan energi mereka untuk mengucapkan suara konsonan baru dengan “MMMM” dan kemudian beristirahat dengan mengucapkan suara huruf vokal, biasanya “ah” dengan mulut terbuka – yang sangat mudah untuk dilakukan. Ketika Anda menggabungkan itu dengan ucapan alami bayi yang berulang-ulang, atau “bergumam,” Anda akan mendengar “ma-ma,” “ba-ba,” “pa-pa,” dan seterusnya.  
 
Lalu kenapa bayi lebih suka mengucapkan “m” ketimbang “p” atau “b”? Tentu saja karena payudara! Huruf “m” sangat mudah diucapkan mulut bayi ketika berada dalam pelukan dada ibunya. Bahkan sebagai orang dewasa, kita masih suka mengucapkan “mmm” untuk sesuatu yang lezat dan enak. Begitu juga bayi Anda.
 
Hasil penelitian Jakobson menyatakan bahwa bayi Anda tidak tahu nama Anda adalah Mama, (atau Papa dalam hal ini). Mama tidak berarti “Aku sayang kamu, wahai wanita bidadari yang baik, wanita yang mengorbankan waktu tidur, pelindung, dan sosok yang tegas dan cantik.” Kata itu berarti “makanan.” 
 
Jadi ketika seorang bayi memanggil ayahnya “mama,” dan semakin marah saat ayahnya tidak menjadi mama, sesungguhnya anak itu tidak menanyakan ibunya. Anak itu mengetahui bahwa dada ayahnya yang rata dan berbulu bukanlah payudara ibunya yang biasa menyusuinya. Dan ibu yang menyusuinya atau dot pengganti yang biasa dipegangnya, harus tersedia secepat mungkin. 
 
Penelitian Jakobson mendahului gerakan feminis, dan tidak terlalu menyinggung peran pria sebagai pengasuh. Kita bisa mengasumsikan perkembangan pola yang sama dari perkembangan pelafalan ucapan bayi, namun disesuaikan kembali dengan bimbingan orangtua, jadi bayi segera mengetahui bahwa dengan mengatakan “da da” dia akan mendapatkan makanan, bahkan tanpa harus melihat payudara ibunya.
 
Para orangtua mendorong kemampuan bicara bayi, dan membantu dalam memperbaiki perubahan nada suaranya sesuai dengan bahasa mereka. Dengan segera “mama” dan “papa” mulai mewakili sosok sesungguhnya dalam kehidupan anak itu, tak peduli betapa beragamnya kehidupan mereka. 

Jadi jika anak terbangun di malam hari meminta  vand, mizu, atau maji, kemungkinan mereka meminta Mama untuk menyediakan minuman untuknya.
baca keseluruhan - Alasan Bayi di Seluruh Dunia Ucapkan Kata 'Mama'

Sabtu, 31 Maret 2012

Anak Jago Komputer Sejak TK? Jangan Bangga Dulu, Berdampak Negatif, Lho


Mengajari anak memakai komputer, internet, atau ponsel, ternyata tidak selamanya baik. Ada kecenderungan, anak-anak yang lebih dini mengenal kecanggihan teknologi komunikasi ini akan punya kemampuan dan keterampilan sosial dan empati yang lebih rendah.
''Saat ini jika anak kecewa, ada kecenderungan mereka menarik diri, marah, mudah putus asa atau frustrasi. Sekarang toleransi anak-anak juga  rendah,  kata  psikolog RSUP Dr Sardjito dan dosen psikologi Fakultas Kedokteran UGM, Dr Indria Laksmi Gamayanti. 
Belum lagi bila anak bisa mengeksplorasi situs porno. Meskipun ahli teknologi informasi mengatakan ada proteksi, situs porno terbukti masih dapat diakses oleh anak-anak. ''Ada kejadian seorang guru memberi tugas kepada anak untuk mencari sebuah informasi di internet, tetapi ternyata yang keluar situs porno. Ada klien saya cerita, anaknya yang baru berusia enam tahun, mendapat kiriman video mesum artis,'' ungkap psikolog perkembangan ini.  
Karena itu Gamayanti tidak setuju apabila anak TK dan SD sudah belajar komputer dan siswa disuruh mengakes sendiri. Dia pun menyarankan agar proses belajar menarik dan hidup, sebaiknya menggunakan LCD proyektor. Atau, lebih baik hanya guru yang menggunakan komputer serta menjelaskannya, sedangkan murid melihatnya. 
baca keseluruhan - Anak Jago Komputer Sejak TK? Jangan Bangga Dulu, Berdampak Negatif, Lho

Jumat, 16 Maret 2012

Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Hal Ini pada Anak Anda

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak Anda lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?
''Pergi sana! Bapak Mau Sendiri!''
Ketika Anda kerap melontarkan kata-kata ini pada anak, Suzette Haden Elgin, pendiri Ozark Center, mengatakan anak-anak akan berpikir tidak ada gunanya berbicara dengan orang tuanya karena mereka selalu diusir. ''Jika Anda terbiasa mengatakan hal-hal itu pada anak-anak sejak mereka kecil, biasanya mereka akan mengatakan hal serupa ketika dewasa.''
''Kamu Itu...''
Pelabelan pada anak adalah cara pintas untuk mengubah anak-anak. Jika seorang ibu mengatakan, ''Anak saya memang pemalu'', maka anak akan menelan begitu saja label itu tanpa bertanya apa pun. Apalagi, bila kita memberikan label buruk pada anak-anak, itulah yang akan melekat dalam benak mereka. Seumur hidup.

''Jangan Nangis''
Atau, kata-kata serupa seperti, ''Jangan cengeng'' atau ''Nangis melulu''. Padahal, untuk anak-anak yang belum dapat mengekspresikan emosi lewat kata-kata, mereka hanya dapat menyalurkannya dengan cara menangis. Adalah wajar, bila anak-anak merasa sedih atau ketakutan. ''Sebenarnya, wajar saja bila ortu ingin melindungi anak mereka dari perasaan-perasaan itu. Tapi, dengan mengatakan ''jangan'' tidak berarti anak-anak akan lebih baik. ''Ini juga akan memberikan kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih,'' ujar Debbie Glasser, direktur Family Support Services.
Lebih baik, katakan pada anak bahwa Anda memahami perasaan sedih yang dia alami. ''Ibu paham kamu takut dengan ombak. Ibu janji tidak akan melepaskan tanganmu lagi, Nak...''
''Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?''
''Lihat tuh, Doni rapi banget mengancing bajunya. Kok kamu tidak bisa?''
Para pakar menilai wajar orang tua membandingkan anak-anaknya. Ini akan menjadi referensi terhadap perkembangan anak-anak. Namun, tolong, jangan katakan ini di depan anak-anak. Ini karena tiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka punya kepribadian tersendiri. Membandingkan anak dengan orang lain berarti Anda menginginkan anak Anda menjadi orang yang berbeda.
baca keseluruhan - Pak, Bu, Tolong Jangan Katakan Hal Ini pada Anak Anda

Sering Pindah Rumah Ganggu Kesehatan Anak

Masalah pekerjaan selalu menuntut para orangtua untuk berpindah rumah, baik ke luar kota maupun ke luar negeri. Tapi penelitian terbaru menunjukkan seringnya berpindah rumah justru berimbas pada kesehatan sang anak.
Menurut temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health menemukan anak-anak yang sering ikut orangtuanya pindah rumah lebih cenderung mengalami gangguan kesehatan psikologis dan meningkatkan kemungkinan anak menggunakan obat-obatan terlarang.
Hasil temuan ini didasarkan pada penelitian yang menganalisis data dari 850 anak yang diamati selama 20 tahun.
Saat anak berusia 18 tahun, 59 persen mengakui mereka telah pindah rumah sebanyak satu atau dua kali. Bahkan satu dari lima anak mengakui telah pindah rumah sebanyak tiga kali.
Peneliti juga menemukan anak-anak dari orangtua tunggal (single parent) dan orangtua angkat lebih cenderung pindah rumah dibandingkan anak-anak dari keluarga besar (empat saudara kandung atau lebih).
Hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang berpindah rumah sebanyak dua hingga tiga kali, lebih mungkin menggunakan obat-obatan terlarang dan tiga kali lebih mungkin memiliki keinginan untuk membunuh, ketimbang anak-anak yang tidak pernah pindah rumah.
"Bagi banyak orang, pindah rumah merupakan pengalaman positif karena dapat meningkatkan keadaan keluarga. Namun, bagi beberapa anggota keluarga, terutama anak-anak, pindah rumah justru membuat mereka stres dan dapat memicu masalah kesehatan serta perubahan perilaku kelak mereka dewasa," papar Dr Denise Brown, from the Social and Public Health Sciences Unit in Glasgow, dilansir melalui Dailymail.
baca keseluruhan - Sering Pindah Rumah Ganggu Kesehatan Anak

Kamis, 08 Maret 2012

Anak Saya Kok Menangis Tanpa Suara?


Seorang ibu ketakutan karena saat menangis anaknya tak mengeluarkan suara hingga tujuh detik lamanya dan wajahnya  membiru.
"Saya takut sekali melihat anak saya seperti itu. Apakah  berbahaya terhadap anak saya?"
Dokter Amran Harun SpA, Spesialis Anak RS Graha Husada Bandar Lampung menjelaskan ini bisa terjadi karena dua faktor. Faktor pertama oleh Breath Holding Spell (BHS) atau serangan pernapasan mendadak. BHS adalah keadaan menahan napas dan tidak bersuara dalam hitungan 5-10 detik, kemudian menangis keras lagi. Saat menahan napas dan henti napas tersebut seringkali disertai biru pada kulit terutama bibir bayi.
"Namun tidak perlu khawatir atau panik, karena hal ini merupakan suatu yang normal. Dan biasanya timbul akibat ada suatu keinginan anak yang tidak terpenuhi, sehingga ia bersikap seperti itu, menangis tanpa mengeluarkan suara dan badannya membiru," kata Amran.
BHS ini biasanya akan hilang dengan sendirinya pada anak usia diatas dua tahun lebih. Atau seiring kondisi emosi anak yang semakin baik secara psikologi. Untuk itu bujuk anak jika mulai menunjukan sikap ngambek berlebih yang bisa menyebabkan ia menangis seperti itu.
Faktor kedua yaitu karena adanya penyakit kronis yang diidap oleh anak. Seperti penyakit jantung (bawaan lahir), paru-paru atau gangguan syaraf. Sehingga ketika menangis seluruh tubuhnya membiru. Untuk lebih jelasnya, bisa langsung konsultasikan ke ke dokter spesialis anak.
baca keseluruhan - Anak Saya Kok Menangis Tanpa Suara?

Mengenal Emosi Bayi


Bayi menunjukkan emosi mereka dengan berbagai cara. Kalau merasa tidak nyaman, ia menangis, mengejangkan tubuhnya dan menggerak-gerakkan tangannya sambil menendang-nendangkan kakinya ke sana ke mari. Kalau senang, bayi akan menunjukkannya lewat ekspresi yang berbeda.
Pada bulan pertama, ia akan diam kalau mendengar suara manusia dan kalau diangkat ia tersenyum. Kalau ia diajak bermain dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya, ia akan tersenyum, mengeluarkan suara, menggapai dan bergerak mendekati. Semua ini merupakan tanda dan isyarat yang pasti dari emosi bayi.
Kalau memerlukan sesuatu, bayi akan menangis; kalau merasa ingin bergaul mereka tertawa atau tersenyum. Bayi akan merasa kekuatan pribadinya bertumbuh ketika tangisannya mendatangkan pertolongan dan kenyamanan; dan senyuman atau tawa mereka mendatangkan tanggapan yang serupa dari orang lain. Namun, semua ekspresi emosional ini memiliki berbagai makna lain ketika bayi bertumbuh. Pada awalnya tangisan merupakan isyarat ketidaknyamanan fisik, tapi tangisan kelak juga menyatakan ketidaknyamanan psikologis.
Berikut ini gambaran singkat perihal berbagai emosi khas dari bayi.
Menangis
Ada empat jenis tangisan. Yang paling mendasar adalah tangisan karena lapar. Ada lagi tangisan karena marah, karena sakit dan karena frustasi. Tangisan karena lapar sifatnya ritmis. Tangisan karena marah memiliki irama yang bervariasi. Tangisan karena rasa sakit biasanya tiba-tiba dan keras. Sedangkan tangisan karena frustasi diikuti oleh dua atau tiga kali teriakan panjang tanpa menahan napas.
Tangisan bayi mesti ditanggapi dengan hati-hati dan lemah lembut. Bila ini dilakukan para ibu secara konsekuen, bayi akan lebih jarang menangis saat berumur setahun dibandingkan dengan bayi yang tidak cepat ditanggapi orang tuanya.
Tersenyum
Senyuman pertama terjadi tidak lama setelah bayi lahir, yaitu hasil aktivitas sistem saraf pusat. Biasanya senyuman itu terjadi saat bayi tidur. Di minggu kedua, bayi sering tersenyum setelah diberi susu. Saat mengantuk, mereka mungkin menanggapi suara orang yang mengasuhnya. Selanjutnya bayi mulai terlihat suka tersenyum saat ia masih terjaga dan tidak sedang melakukan aktivitas.
Setelah berusia sebulan, senyuman bayi akan lebih sering dan lebih memiliki makna sosial untuk berinteraksi dengan orang lain. Mereka tersenyum kalau kedua tangannya ditepukkan, atau kalau mendengar suara yang mereka kenal. Pada bulan kedua mereka akan lebih tanggap pada orang-orang yang mereka kenal.
Tertawa
Bayi mulai tertawa sekitar usia empat bulan. Sebagian tawa mereka ada kalanya terkait dengan takut, sebab kadang-kadang mereka bereaksi sama terhadap ketakutan dan tertawa. Ketika usia bayi meningkat, mereka mulai tanggap terhadap berbagai suara dan batuk dan mulai senang diajak bermain pada usia tujuh sampai sembilan bulan. Perubahan ini mencerminkan perkembangan kognitif mereka. Tertawa merupakan tanggapan terhadap lingkungan, yang membantu bayi melepaskan ketegangannya dari situasi yang mengesalkan. Tertawa memperlihatkan pentingnya hubungan antara perkembangan kognitif dan perkembangan sosial.
baca keseluruhan - Mengenal Emosi Bayi

Sabtu, 25 Februari 2012

Kok, Si Anak Cowok Bergaya 'Melambai'? Bagaimana Ini?


Punya anak laki-laki, tapi kok suka bermain boneka dan bergaya seperti perempuan? Boleh dibilang, sebagian besar orang tua tidak akan senang melihat kenyataan itu terjadi pada anak laki-laki mereka. Namun, bila ini yang terjadi, psikolog Elly Risman Musa meminta agar para orang tua memahami dulu bagaimana hal ini bisa terjadi.
Elly mengatakan, menjadi laki-laki atau perempuan memengaruhi bagaimana penampilan mereka, bagaimana mereka menggerakkan tubuh, bekerja, bermain dan berpakaian/berdandan. Hal ini juga memengaruhi persepsi mereka terhadap diri mereka dan apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka.
Semua karakteristik menjadi laki-laki atau perempuan disebut gender. Menjadi laki-laki dan perempuan membawa kecenderungan yang berbeda. Anak laki lebih agresif dalam tindakan dan kata-kata daripada anak perempuan sejak usia prasekolah. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak perempuan lebih empatik, kooperatif kepada orangtua dan cenderung mencari persetujuan dari orang dewasa.
Pembentukan kepribadian seorang anak laki atau perempuan sangat dipengaruhi oleh cara orangtua memperlakukan anak, pengaruh teman dan budaya. Anak cenderung meniru orang yang dijadikan sebagai model. Pada masa kanak-kanak anak meniru orangtua yang sama jenis kelaminnya. Mereka meniru tingkah laku orangtua atau orang dewasa lain terutama tingkah laku yang mendapat respons positif.
Lebih lanjut, ibu tiga orang putri ini mengungkapkan, perlakuan orangtua memengaruhi pengetahuan anak-anak, misalnya anak perempuan tahu bahwa main bola adalah permainan untuk laki-laki. Ayah cenderung memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan secara berbeda daripada ibu. Ayah menunjukkan sikap tidak suka jika anak laki-laki main boneka. Ibu lebih banyak berbicara dengan anak perempuan daripada anak laki-laki. Ayah lebih banyak bermain dengan anak laki-laki daripada dengan anak perempuan.
Teman sebaya memiliki pengaruh yang dapat membentuk kepribadian anak laki-laki maupun anak perempuan dengan cara memberi respons positif atau negatif pada tingkah laku temannya. Biasanya anak laki-laki menunjukkan sikap tidak suka jika ada teman yang bertingkah laku keperempuan-perempuanan. Selain itu media juga dapat memengaruhi tingkah laku anak. ''Sinetron yang sering menampilkan banci dapat memengaruhi pembentukan peran gender anak laki-laki,'' ujarnya.
Oleh karena itu, orangtua harus memperlakukan anaknya sesuai jenis kelaminnya dan memberi penguatan pada tingkah laku yang sesuai gendernya. Orangtua juga harus menjadi contoh yang baik untuk anak karena pada awal awal kehidupan, anak mengidentifikasikan dirinya dengan orangtua. Orangtua harus mengembangkan keperempuanan dan keibuan anak perempuan dan mengembangkan kelaki-lakian dan kebapakan anak laki-laki.
Orangtua, lanjut Elly, harus menunjukkan rasa syukur atas anugerah anak baik laki-laki atau perempuan. Terimalah semua kelebihan dan kekurangan anak dari sisi fisik maupun sifat sifat bawaannya agar jati diri anak berkembang apa adanya. Dia akan berkembang menjadi dirinya sendiri.
Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati ini menambahkan, pada hal-hal tertentu anak laki maupun perempuan dapat diperlakukan sama misalnya dalam mengajarkan ilmu dan pengetahuan. Orangtua tidak perlu membedakan kesempatan belajar --seperti yang terjadi di waktu lalu di mana anak laki-laki selalu mendapat kesempatan belajar lebih baik dengan anggapan anak perempuan akan tinggal di rumah jadi tidak perlu pendidikan tinggi.
Anak perempuan dan anak laki-laki juga sama-sama diajarkan membantu pekerjaan rumah. Sebab, anak laki-laki maupun perempuan juga harus dapat memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Kelak di suatu hari nanti mereka harus tinggal di asrama mereka dapat menata kamar dengan baik. Lebih jauh lagi jika mereka sudah berkeluarga mereka dapat saling membantu.
Pada kasus anak laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan, mungkin disebabkan beberapa faktor. Pertama, anak bergaul dengan kakak yang semuanya perempuan. Bisa jadi anak meniru cara berbicara atau bergaya kakak-kakaknya. Belum lagi respons orangtua atau orang dewasa lain yang tertawa atau tidak marah ketika dia bergaya seperti perempuan. Kalaupun ada kasus yang terjadi sejak kecil, kemungkinan terjadi kelainan kromosom. Namun, kasus ini sangat jarang.
Jika ada anak yang seperti ini, secara bertahap orangtua membicarakan pada anak tentang apa apa yang diharapkan dari seorang laki-laki (mengubah cara pandang anak itu agar ada perubahan persepsi tentang dirinya).
Ayah mulai dilibatkan dalam pengasuhan agar anak memiliki tokoh identifikasi atau model dari jenis kelamin yang sama. Hal ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati dan tidak secara terburu-buru karena anak membutuhkan waktu untuk menyadari adanya perbedaan pada dirinya. ''Sebenarnya penyadaran peran jenis kelamin harus terbentuk sebelum anak memasuki TK sehingga ketika sudah memasuki SD ia akan tahu bagaimana harus bertingkah laku,'' tutur Elly.
baca keseluruhan - Kok, Si Anak Cowok Bergaya 'Melambai'? Bagaimana Ini?

Bayi Ternyata Mampu Membaca Gerakan Bibir


Bayi-bayi rupanya punya kekuatan tersembunyi. Tidak hanya dapat belajar bicara dengan mendengarkan suara orang tuanya, mereka juga mampu membaca gerak bibir juga. Dari satu riset terbaru di AS terungkap bahwa bayi berumur enam bulan mulai dapat melebarkan daya jangkau matanya untuk mempelajari mulut ketika orang berbicara padanya. ''Untuk dapat menirukan, bayi harus tahu dulu bagaimana bibir membuat suara yang mereka dengar,'' ujar ketua riset ini, David Lewkowicz dari Florida Atlantic University. ''Ini termasuk proses yang luar biasa rumit.''
Yang lebih menakjubkan, mereka tidak butuh waktu lama untuk belajar. Dalam beberapa bulan, bayi-bayi ini dapat menyerap ilmu soal gerakan bibir dan produksi suara. Ketika mereka ulang tahun ke-1, bayi sudah dapat memberikan respons dengan menatap mata orang tuanya. Kecuali, jika mereka mendengar suara yang tidak lazim, seperti bahasa asing yang tidak pernah mereka dengar.
''Ini benar-benar penemuan yang menarik,'' ujar Profesor Bob McMurray dari University of Iowa. Dia melanjutkan, bayi tahu apa yang mereka perlu tahu dan mereka mampu untuk mengerahkan perhatian untuk hal-hal yang penting dalam perkembangan mereka.''
baca keseluruhan - Bayi Ternyata Mampu Membaca Gerakan Bibir

Anak Usia 5-8 Tahun Cenderung Punya Emosi Negatif


Anda mempunyai anak berusia antara 5 sampai 8 tahun? Jika iya, kenalilah tahapan perkembangannya.
Hanny Muchtar Darta dari EI Parenting Consultant mengungkapkan, setidaknya ada empat tahapan perkembangan anak usia ini.
- Emosi negatif cenderung timbul. Muncul rasa emosi moody, tertekan, malu dan ada perasaan nobody likes me
- Cenderung mengerjakan sesuatu sempurna tidak mau mengambil resiko
- Membutuhkan dorongan yang positif yang dilakukan secara konsisten
- Mampu memberikan pendapat suka atau tidak suka
- Anak sudah mampu untuk memilih sebagai wujud perilaku yang bertanggungjawab
- Keinginan untuk berkompetisi tumbuh.

baca keseluruhan - Anak Usia 5-8 Tahun Cenderung Punya Emosi Negatif

Berikan Banyak Pujian dan Anak Akan Jadi Hebat


Perilaku orangtua dalam mendidik sejak dini ternyata berkorelasi langsung dengan sikap, pribadi buah hati di masa mendatang. Jika salah melakukan pengasuhan, yang terjadi justru anak mempunyai sifat atau sikap negatif. Lalu bagaimana mendidik anak yang tepat sehingga menjadi anak hebat (incredible).
Tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Tetapi, orangtua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan.
Hanny Muchtar Darta dari EI Parenting Consultant saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin & Mineral Agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, mengungkap beberapa tips ataupun trik yang bisa menjadi rujukan:
1. Berkomunikasilah secara positif
Orangtua harus mempunyai persepsi bahwa anak itu unik dan mempunyai perbedaan dibandingkan anak yang lainnya. Jadi orangtua harus mempunyai kemampuan untuk membangun bakat yang dimiliki dengan cara yang positif. Kalau ibu ingin anaknya belajar bukan bilangnya "Jangan malas-malas". Tapi akan lebih baik jika mengatakan "Ayo dong semangat belajar".
2. Hindari membandingkan dengan adik, kakaknya atau dengan anak lain.
Jangan membandingkan dengan yang lain, tapi bandingkan dengan kemajuan yang diperoleh buah hati. Jangan mengatakan "Kakak kamu lebih hebat atau kakak kamu lebih rajin belajarnya, jadi kamu harus seperti dia dong. Harusnya "Loh kamu kemarin nilai Matematika dan Bahasa Inggris nilai kurang, seharusnya nanti harus lebih baik".
3. Dorong anak untuk ikut kompetisi.
Anak yang berusia 5-8 tahun lagi senang-senangnya berkompetisi karena dari segi kognotifnya lagi senang-senangnya untuk menunjukkan kebisaannya dan kemampuan yang dimilikinya. Tapi kalau sudah 12 tahun keinginan untuk berkompetisi turun. Jadi kalau ingin membentuk anak yang hebat, ajaklah berkompetisi sejak kecil.
4. Hindari memotong pembicaraan.
Seringkali dilakukan orangtua yang tidak sabar mendengarkan dan selalalu menyalahkan. Yang harus dilakukan adalah mendengarkan terlebih dahulu dengan penuh perhatian. Anak juga ingin dihargai pendapatnya. Jika ini dilakukan bisa melatih anak berani mengemukakan pendapat, atau gagasan yang dimilikinya.
5. Fokus pada tujuan
Terkadang orangtua asal memerintahkan. Misalnya, mengatakan jangan lupa baju olahragamu dibawa pulang atau mengatakan jangan malu bertanya nanti sesat di jalan. Lebih baik mengatakan, "Kalau berani bertanya, itu tanda anak cerdas,". Jadi bicaranya lebih positif sehingga membuat anak menjadi terinspirasi.
6. Memberikan banyak pujian, tentunya di tempat dan waktu yang tepat
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk buah hati. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula."
7. Berikan pelukan, belaian, dan ciuman
Biasakan memeluk buah hati hingga 12 kali sehari. Tujuannya supaya ia merasakan adanya kedekatan, kehangatan sehingga mampu membangun ikatan emosional yang baik disamping anak akan merasa diterima dan didukung oleh orangtuanya.
8. Membangun aturan sederhana.
Melatih kedisiplinan bisa dilakukan dengan membangun rutinitas misalnya: jam makan, jam tidur, makan pada tempat yang benar, dan lain sebagainya. Ini akan melatih anak hidup secara disiplin. Meski demikian, sebagai orangtua harus memberikan contoh melakukan kedisiplinan. Jangan terus dilanggar.
9. Hindari untuk bicara dengan anak ketika sedang mengalami emosi negatif
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.
baca keseluruhan - Berikan Banyak Pujian dan Anak Akan Jadi Hebat

Mengapa Anak Berperilaku Buruk?


Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya.
Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda.
Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun.
Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun.
"Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber.
Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.
Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk.
Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik.
Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting," katanya.
baca keseluruhan - Mengapa Anak Berperilaku Buruk?

Rabu, 01 Februari 2012

Perilaku Konstruktif Tentukan Masa Depan Anak


Psikolog Lampung, Khairul Huda, menyatakan orang tua perlu berlaku konstruktif yang positif dalam menumbuhkan pola pikir dan mental anaknya sejak dini sehingga berguna bagi masa depan mereka.
"Apa yang sering didengar anak, lama kelamaan akan dipercaya sebagai sugesti. Karena itu orang tua perlu berlaku dan bersikap bijak serta jangan ragu menghargai eksistensi buah hatinya tersebut," kata Huda.
Menurut Huda, setiap anak bisa tumbuh pintar dan mempunyai kepercayaan diri jika orang tua bisa berlaku demikian. Dan setiap orang tua boleh memarahi anaknya jika salah, namun usahakan kalimat yang disampaikan ialah yang membangun. Bukan yang negatif atau kasar sehubungan bisa mengganggu mentalitas anak.
"Semisal orang tua menghendaki anak laki-lakinya untuk tegas, maka, kalimat yang harus dilontarkan ialah anak laki-laki harus tegas. Bukan anak laki-laki jangan klemar-klemer. Atau contoh lain, anak pintar seperti kamu seharusnya kreatif, bukan anak pintar seperti kamu jangan nakal," jelas psikolog Life Identity Institute ini.
Intinya, lanjut Huda, kata-kata positif akan membangun mental dan pola pikir anak-anak ke depan. Anak-anak bisa nakal karena tidak ada penyaluran bagi kreativitasnya. Oleh sebab itu, beri mereka ruang atau waktu berekspresi sesuai perkembangan jiwanya yang tentunya bisa kita pantau.
"Tidak tepat jika kita melihat anak nakal berarti ia nakal, sisi lain kenapa anak bisa nakal harus diperhatikan," pungkas alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu.
baca keseluruhan - Perilaku Konstruktif Tentukan Masa Depan Anak

Memilih Susu Cair Sesuaikan dengan Usia Anak

KATEGORI susu bubuk berdasarkan usia sangat mudah ditemukan di pasaran. Namun, susu cair tidak. Kalangan produsen hanya menyebutkan susu tersebut dikonsumsi untuk anak usia di atas 1 tahun.
"Sebenarnya, ibu sudah memahami kebutuhan nutrisi anak harus disesuaikan dengan usia. Mereka juga memahami, susu cair bisamemenuhi kebutuhan ini. Namun, produk susu cair yang ada di pasaran belum ada yang dibedakan berdasarkan usia. Akhirnya, banyak ibu yang khawatir, apakah ia sudah memberikan nutrisi tepat untuk anaknya darisegi jenis dan takaran," ujar Fidiyantri Cholid, Brand Manager Susu CairFrisian Flag, saat peluncuran susu cair tepat usia,
Dokter Spesialis gizi Samuel Oetoro mengatakan, dibandingkan dengan susu bubuk, nutrisi yang terdapat dalam susu cair tidak banyak terbuang selama proses pengepakan sehingga zat-zat dasar dalam susu tidak terbuang. Biasanya susu cair agar awet digunakan proses pemanasan suhu yang tinggi selama sekitar dua detik.
Nah, proses itu membuat jamur atau bakteri mati, namun kandungan nutrisinya tidak terbuang. Anda pilih yang mana?
baca keseluruhan - Memilih Susu Cair Sesuaikan dengan Usia Anak

Sabtu, 28 Januari 2012

Demi Kecerdasan Anak, Sempatkan Mendongeng


Orangtua adalah pendidik pertama. Karenanya hubungan kedekatan dengan orangtua akan menjadi pola sosialisasi anak usia dini. Namun sayangnya fakta menunjukkan bahwa anak banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Sementara banyak orangtua yang juga sibuk mencari nafkah.
Karena itulah orangtua harus kreatif memanfaatkan waktu yang berkualitas bersama anak. Salah satunya bisa dilakukan dengan mendongeng karena ternyata cara ini dapat mencerdaskan anak. Demikian terungkap dalam Kampanye "20 Menit Yang Memukau: Wahana Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga Menuju Keluarga Idaman" di Library Mall Bandung Indah Plaza.
Menurut Ketua Keluarga Peduli Pendidikan Yanti Sriyulianti, kebutuhan anak atas perhatian dan pengasuhan yang intensif dari orangtuanya tidak dapat ditunda. Hubungan antara anak dan orangtua mempunyai peran penting dalam menentukan pola perkembangan psikis, sosial, dan emosional di masa depan.
Untuk itu, diperlukan komitmen dan kesungguhan orangtua untuk meningkatkan kemampuan berkreasi dalam mengisi waktu berkualitas bersama anak-anak.
"Diantara banyak metode, mendongeng diyakini efektif bagi pendidikan anak usia dini. Menurut seorang pengarang dan ilustrator cerita anak terlaris versi New York Times Laura Numeroff, membacakan dongeng untuk anak selama 20 menit dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam membaca dan menulis. 20 menit mendongeng setara dengan sekurang-kurangnya belajar 10 hari di sekolah," katanya.
baca keseluruhan - Demi Kecerdasan Anak, Sempatkan Mendongeng

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense