Tampilkan postingan dengan label about obesitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about obesitas. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Juni 2013
Remaja Obesitas Terancam Resiko Tuli
Berkurangnya pendengaran tentu akan mempengaruhi daya tangkap dan kemampuan bersosialisasi. Tapi tahukah kamu kalau tuli itu dimulai dengan mulai berkurangnya pendengaran. Nah salah satu yang harus diwaspadai bagi remaja yang memiliki berat tubuh berlebih atau obesitas.
Dilansir dari Dailymail, sebuah penelitian yang dilakukan tim Columbia University Medical Center menyatakan, remaja yang mengalami obesitas lebih besar kemungkinannya mengalami kehilangan pendengaran. Sedangkan remaja yang bertubuh langsing, kemungkinannya lebih kecil.
Studi ini menyatakan remaja obesitas berisiko kehilangan pendengaran disemua frekuensi. Sedangkan frekuensi manusia dibagi 3 yaitu, frekuensi infrasonik, dengan rentang 0-20 Hz, frekuensi audible 20-20.000 Hz, dan frekuensi ultrasonik, dengan rentang > 20.000 Hz. Mereka juga lebih berpeluang mengalami kehilangan pendengaran pada satu telinga.
Penelitian ini menganalisa 1500 responden remaja dari National Health and Nutrition Examination Survey. Survei dilakukan oleh National Center for Health Statistics of the Centers for Disease Control and Prevention terhadap remaja usia 12-19 tahun pada 2005-2006.
Penulis riset Professor Anil Lalwani dari Department of Otolaryngology/Head & Neck Surgery pada Columbia University Medical Center menyatakan, studi ini menemukan bahwa kehilangan pendengaran ada hubungannya dengan kerja sensorineural pada manusia.
Pada remaja dengan obesitas kemampuan sensorineural untuk mendengar turun akibat rusaknya serabut saraf pada telinga bagian dalam. Sehingga kemampuan remaja mendengar, di semua frekuensi ikut menurun.
Rata-rata kehilangan pendengaran paling banyak terdapat pada frekuensi rendah dibawah 2 ribu Hz. Sedangkan remaja dengan obesitas 15% menderita kehilangan pendengaran, sementara yang non obesitas hanya 8 persen.
Remaja yang kehilangan pendengaran pada frekuensi rendah, masih mengerti perkataan manusia. Tapi mereka menemui kesulitan mendengar saat berkelompok atau berada dalam lingkungan berisik. Walaupun kasus kehilangan pendengaran ini relatif sedikit, namun peningkatannya mencapai dua kali lipat. Hal ini tentu mengkhawatirkan, apalagi jumlah remaja dengan obesitas juga terus meningkat.
“Hasil studi ini harus dimasukkan dalam daftar efek buruk obesitas. Hasil ini bisa memotivasi setiap orang di segala usia untuk mengurangi berat badan,” tutur Lalwani.
Selasa, 07 Agustus 2012
Lidah Bantu Cegah Obesitas, Kok Bisa?
Selama ini mungkin kita hanya tahu lima dasar rasa yang bisa dicecap oleh lidah, yaitu manis, asam, asin, pahit, dan pedas. Ternyata, dari penelitian panjang para ilmuwan dari AS, dikabarkan telah mengidentifikasi sebuah rasa baru yang bisa dirasakan oleh lidah, yaitu rasa dari lemak. Dengan begitu, sebenarnya lidah juga dapat diandalkan untuk mengatasi obesitas.
Sebuah tim peneliti dari universitas Washington St.Louis menemukan kimia dalam lidah yang bisa menerjemahkan rasa lemak.Tapi, sensitivitasnya berbeda di tiap individu."Tujuan utamanya adalah untuk memahami bagaimana persepsi dari lemak yang dirasa dapat mempengaruhi makanan yang kita makan, juga kualitas dari lemak yang kita konsumsi," kata Professor Nada Abumrad, yang memimpin penelitian itu,seperti dikutip dari Telegraph.
Temuan ini menjelaskan mengapa beberapa orang mengonsumsi lebih banyak makanan berlemak ketimbang yang lainnya. Hal ini lantaran mereka kurang peduli akan rasa lemak ketika memakannya. Faktor lain yang memepengaruhi rasa adalah aroma yang dideteksi oleh hidung.
Dr.Yanina Pepino yang juga terlibat dalam penelitian ini mengatakan, "Jika kita melihat percobaan pada binatang, diet ketat terhadap lemak akan memperoduksi kadar CD36 lebih sedikit, yang berarti hal itu dapat membuat seseorang kurang sensitif terhadap lemak."
"Hasil dari penelitian itu memperkirakan bahwa orang dengan obesitas akan memproduksi protein CD36 lebih rendah. Sehingga hal itu terlihat logis jika jumlah protein yang kita hasilkan dapat diubah, baik secara genetik atau melalui diet kita."
Melalui kendali sensitivitas terhadap lemak, para peneliti berharap temuan ini akan berguna untuk memerangi obesitas.
Langganan:
Postingan (Atom)


