# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label virus corona indication. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label virus corona indication. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2021

Mata Merah Gejala Baru COVID-19? Ini Faktanya

Banyak keluhan baru dari pasien positif COVID-19 yang berbeda dari gejala utama saat awal pandemi menyerang. Salah satunya, keluhan mata merah yang tercatat pada sekitar 23 persen anak dan 3 persen orang dewasa yang terkonfirmasi COVID-19.

 

Dikutip dari Medical News Today, Sebuah studi tahun 2020 mencatat, 23 persen anak-anak pasien COVID-19 mengidap konjungtivitas. 

 

Serta, bukti yang menunjukkan bahwa mata merah dapat terjadi pada sekitar 1-3 persen orang dewasa dengan COVID-19. 

 

Ini mungkin menunjukkan bahwa mata merah adalah gejala yang tidak biasa, tetapi lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan COVID-19.

 

Selain mata merah, COVID-19 juga dapat menyebabkan masalah mata lainnya, yang dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti kehilangan penglihatan atau sakit mata. 

 

Terkini, prevalensi gejala oftalmologi itu terjadi pada pasien COVID-19 dapat berkisar antara 2%–32%.

 

Mata merah tampaknya menjadi salah satu gejala oftalmologi yang lebih sering ditemui. 

 

Penelitian juga menyatakan itu lebih sering terjadi pada individu dengan kasus COVID-19 yang parah.

 

Gejala lain pada mata

 

Selain konjungtiva, orang juga dapat melaporkan gejala di bagian lain mata, seperti saraf optik, retina, pupil, dan kelenjar lakrimal. 

 

Kondisi mata lain yang mungkin terkait dengan COVID-19 dapat mencakup:

 

Episkleritis: Mengacu pada peradangan episklera, lapisan tipis jaringan antara konjungtiva dan sklera. 

 

Meskipun mata merah memiliki hubungan yang sama dengan virus corona, laporan kasus mencatat bahwa episkleritis dapat terjadi dengan COVID-19. 

 

Dalam beberapa kasus, tanda-tanda episkleritis mungkin muncul sebelum gejala COVID-19.

 

Perubahan retina: Sebuah studi tahun 2020 mencatat bahwa para ilmuwan mengamati perubahan retina pada orang dengan COVID-19. 

 

Perubahan pada retina ini termasuk lesi, bercak kapas, dan pendarahan. Studi lain menambahkan bahwa COVID-19 juga dapat memengaruhi vena retina atau menghasilkan nodul.

 

Neuritis optik: Ini mengacu pada peradangan saraf optik, yang dapat memengaruhi penglihatan. 

 

Coronavirus dapat mengobarkan saraf optik pada model hewan, sementara penelitian menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 mungkin mampu melakukan hal yang sama pada manusia.

 

Sebuah studi kasus menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 memicu sistem kekebalan tubuh, yang mengakibatkan neuritis. 

 

Studi kasus lainnya mencatat bahwa sakit mata dan kehilangan penglihatan dapat terjadi bersamaan dengan gejala COVID-19 yang lebih umum.

 

Kaitan antara COVID-19 dan gejala mata

 

Virus yang menyebabkan COVID-19 adalah SARS-CoV-2, salah satu anggota keluarga virus corona. 

 

Meskipun lebih sering terjadi pada hewan, virus corona dapat memicu perubahan mata pada manusia. 

 

Karena mata memiliki banyak pembuluh darah, mata dapat menjadi titik masuk yang mudah bagi virus.

 

Sebuah studi tahun 2021 menyoroti bahwa mata memungkinkan jadi tempat masuk untuk penularan SARS-CoV-2. 

 

Para peneliti percaya bahwa kontak langsung dengan selaput lendir mata adalah jalur penularan yang paling mungkin.

 

Oleh karena itu, seseorang dapat terkena infeksi mata dengan SARS-CoV-2 jika mereka menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata mereka. 

 

SARS-CoV-2 juga mungkin masuk ke mata melalui tetesan udara setelah batuk atau bersin dari orang yang membawa virus.

 

Cara melindungi mata dari COVID-19

 

The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Trusted Source menekankan pentingnya mencuci tangan, 

 

juga orang harus menghindari menyentuh hidung, mulut, dan mata mereka dengan tangan yang belum dicuci. 

 

Studi tahun 2020 juga menyarankan untuk mengenakan kacamata pelindung, terutama dalam pengaturan layanan kesehatan.

 

Juga, menjaga jarak dari orang yang batuk atau bersin dan menjaga jarak minimal 6 kaki dari orang lain. 

 

Rutin membersihkan dan mendisinfeksi area yang digunakan bersama, seperti sakelar lampu, kenop pintu, dan telepon.


baca keseluruhan - Mata Merah Gejala Baru COVID-19? Ini Faktanya

Jumat, 15 Mei 2020

Bukan Hidung, Penelitian Ungkap Virus Corona Masuk ke Tubuh Lewat Mata

Meski menyerang saluran pernapasan, penelitian menyebut virus Corona Covid-19 masuk ke tubuh bukan melalui hidung, melainkan lewat mata. Kok bisa?


University of Hong Kong melakukan penelitian yang menemukan bahwa mata merupakan bagian penting bagi virus corona masuk ke dalam tubuh.


Mereka juga menemukan strain itu hingga 100 kali lebih menular daripada SARS dan flu burung, yang diuji oleh para ahli kesehatan masyarakat.


Tes laboratorium mengungkapkan tingkat virus dari SARS-CoV-2 jauh lebih besar daripada SARS di saluran pernapasan bagian atas dan konjungtiva, sel-sel yang melapisi permukaan mata.


Tim yang dipimpin oleh Dr Michael Chan Chiwai, dari sekolah kesehatan masyarakat HKU, menjadi peneliti pertama di seluruh dunia yang membuktikan virus corona dapat menginfeksi manusia melalui mata, dan mempublikasikannya dalam THe Lancet Respiratory Medicine.


"Kami membiakkan jaringan dari saluran pernapasan dan mata manusia di laboratorium dan menerapkannya untuk memperlajari SARS-CoV-2, membandingkannya dengan SARS dan H5N1," katanya, dikutip dari South China Morning Post.


infeksi mata merah (ilustrasi/shutterstock)

"Kami menemukan bahwa SARS-CoV-2 jauh lebih efeisien dalam menginfeksi konjungtiva dan saluran pernapasan bagian atas daripada SARS, dengan tingkat virus sekitar 80 hingga 100 kali lebih tinggi," sambungnya.


Penelitian ini diperkuat dengan saran kepada masyarakat untuk tidak menyentuh mata dan mencuci tangan secara teratur untuk menghindari infeksi, setelah peneliti sebelumnya menemukan virus corona dapat bertahan selama tubuh hari di permukaan stainless steel dan plastik.


"Meski ada tanda-tanda bahwa epidemi Covid-19 semakin tabil di Hong Konh, situasi di tempat lain di dunia masih serius.


Masih banyak kasus baru dilaporkan setoap hari. Kita seharusnya tidak lengah."


Temuan Dr Chan ini menentang asumsi luas bahwa staf medis akan dilindungi secara memadai ketika memakai N95 dan pakaian pelindung, tanpa memerlukan kacamata khusus.

baca keseluruhan - Bukan Hidung, Penelitian Ungkap Virus Corona Masuk ke Tubuh Lewat Mata

'Happy Hypoxia' Gejala Tak Biasa pada Pasien Corona

Para dokter kembali menemukan gejala lain dari pasien positif virus Corona COVID-19 .


Belum lama ini sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pasien yang terinfeksi tampaknya kesulitan dan memiliki kadar oksigen yang cukup rendah, yang biasanya menyebabkan seseorang menjadi tidak sadarkan diri bahkan hingga meninggal dunia.


Fenomena ini, dikenal sebagai 'Happy Hypoxia' atau beberapa orang menyebutnya 'silent hypoxia', memunculkan satu pertanyaan mengenai bagaimana virus menyerang paru-paru dan apakah ada cara yang lebih efektif untuk merawat para pasien positif.


Dikutip dari laman The Guardian, seseorang dalam kondisi sehat memiliki saturasi oksigen paling sedikit 90 persen.


Namun, untuk pasien berusia 70 hingga 80 tahun yang dibawa ke unit gawat darurat dilaporkan oleh dokter memiliki kadar oksigen yang sangat rendah, beberapa kasus kritis memiliki kadar oksigen di bawah 50 persen.


"Sangat menarik melihat begitu banyak orang datang, betapa mereka sangat hipoksik," ujar seorang konsultan dalam perawatan kritis dan anestesi di Manchester Royal Infimary, dr Jonathan Bannard Smith.


"Kami melihat saturasi oksigen yang sangat rendah dan mereka tidak menyadarinya.


Kita biasanya tidak melihat fenomena ini dalam influenza atau pneumonia yang didapat masyarakat.


Ini jauh lebih mendalam dan contoh fisiologi yang sangat abnormal terjadi di depan mata kita," tambahnya.


Ahli anestesi di rumah sakit Wythenshawe di Manchester, Inggris dr Mike Charlesworth, mengatakan bahwa pada kondisi paru-paru lainnya dapat menyebabkan hipoksia parah, ia mempertanyakan apakah efek dari virus Corona bisa menyebabkan kerusakan organ yang tidak dapat dideteksi oleh para ahli medis.


Penurunan kadar oksigen secara tiba-tiba bukanlah penyebab utama sesak napas. Paru-paru dari beberapa pasien COVID-19 tidak dapat mendeteksi meningkatnya kadar karbon dioksida, membuat organ-organ tidak dapat merespon secara efektif untuk membersihkan saluran udara paru-paru.


Laporan itu mengkonfirmasi bahwa ada bukti yang menunjukkan COVID-19 dapat menyebabkan pembekuan darah yang mengakibatkan pembengkakan dan radang paru-paru, sehingga menyulitkan oksigen untuk memasuki aliran darah.

baca keseluruhan - 'Happy Hypoxia' Gejala Tak Biasa pada Pasien Corona

Rabu, 29 April 2020

Dua Bocah Cileungsi Positif Corona, Penularan Diduga Berasal dari Baju Ayah

Kakak beradik dari Cileungsi, Bogor dikonfirmasi positif terinfeksi virus corona.

Penularan pada dua anak itu dicurigai berasal dari pakaian sang ayah.

Hal tersebut membuat pemerintah kembali mengingatkan warga untuk segera mengganti dan cuci pakaian setelah sampai di rumah.

"Kalau pulang segera ganti baju, dicuci, berapa kali diomongin, masa diulang lagi, diulang lagi," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan percepatan COVID-19, Achmad Yurianto (Yuri) saat dihubungi.

Melansir dari Health,  pedoman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC)  mencatat bahwa virus dapat tetap hidup selama berjam-jam di permukaan yang terbuat dari berbagai bahan, termasuk pakaian.

Sementara itu, para peneliti dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) di Montana telah mempelajari berapa lama virus corona baru dapat bertahan hidup di atas kertas karton, plastik, dan baja.

Namun, soal permukaan pakaian belum dipastikan.

"Saya hanya menduga Anda dapat menemukan viabilitas virus selama beberapa jam hingga mungkin sehari pada pakaian," kata pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, MD,  senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins di Maryland, dikutip dari Health.

"Ini sangat tergantung pada kondisi lingkungan, suhu dan kelembaban yang berdampak pada pertumbuhan virus," tambahnya.

Penelitian dari NIAID mengungkapkan bahwa beberapa virus dapat tetap aktif setelah dua atau tiga hari pada plastik dan stainless steel, dan selama 24 jam pada kardus dan empat jam pada tembaga.

Ritsleting, kancing, dan aksesoris pakaian bisa saja terbuat dari bahan di atas, sehingga dapat membawa virus ke rumah.

Meskipun begitu, Dr. Adalja menegaskan dia tidak begitu yakin pakaian bertindak sebagai penyebaran utama virus corona.

Seberapa Sering Harus Mencuci Pakaian?

Jika tidak ada seorang pun di rumah yang dinyatakan positif atau menunjukkan gejala, Anda dapat membersihkan pakaian seperti biasanya.

Tetapi jika baru keluar rumah atau ke tempat umum, Anda disarankan untuk mencuci pakaian yang Anda kenakan sesegera mungkin saat Anda pulang.

CDC telah merekomendasikan mencuci pakaian pada suhu air sesuai dengan item pakaian dan deterjen biasa.

Mencuci pakaian dengan deterjen cukup untuk meminimalkan risiko menempelnya virus.

Selain itu, Anda perlu membuat pakaian benar-benar menjadi kering sebelum kembali memasukkannya ke rumah.
baca keseluruhan - Dua Bocah Cileungsi Positif Corona, Penularan Diduga Berasal dari Baju Ayah

Rabu, 15 April 2020

Gejala Baru Virus Corona, Kulit Merah dan Gatal-gatal

Ahli Perancis baru-baru ini mengatakan bahwa virus corona SARS-CoV-2 dapat menyebabkan gejala dermatologis seperti pseudo-frostbite (radang dingin semu), kulit kemerahan yang kadang menyakitkan, dan gatal-gatal.

Menurut Persatuan dokter spesialis kulit dan penyakit kelamin Perancis (SNDV), gejala dermatologis itu memengaruhi tubuh di luar sistem pernapasan dan kemungkinan terkait dengan infeksi virus corona baru penyebab Covid-19.

Banyaknya pasien Covid-19 yang melaporkan gejala di atas semakin menguatkan bahwa hal ini berhubungan dengan infeksi virus corona.

"Gejala dermatologis dapat muncul tanpa disertai gejala pernapasan," ungkap SNDV dalam siaran persnya seperti dilansir The Jerusalem Post.

Sekitar 400 pakar kulit di Perancis telah mendiskusikan gejala baru ini melalui grup WhatsApp khusus.

Mereka menyoroti lesi kulit yang mungkin terkait dengan tanda Covid-19 lainnya seperti masalah pernapasan.

Untuk diketahui, lesi kulit adalah jaringan kulit yang tumbuh abnormal, baik di permukaan atau di bawah permukaan kulit.

Dari diskusi itu diketahui bahwa tidak semua pasien Covid-19 mengalami komplikasi dan banyak juga yang tidak mengalami gangguan pernapasan sama sekali sementara sistem kekebalan tubuh melawan virus.

Dari penelitian sebelumnya diketahui, pasien Covid-19 yang tidak merasakan gejala apapun masih dapat menginfeksi orang lain. Oleh sebab itu, di rumah saja adalah cara tepat untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona baru.

"Analisis dari banyak kasus yang dilaporkan ke SNDV menunjukkan bahwa manifestasi kulit ini dapat dikaitkan dengan Covid-19. 

Kami memperingatkan masyarakat dan tenaga medis untuk mendeteksi pasien yang berpotensi menularkan virus secepat mungkin," kata SNDV dalam siaran pers dilansir New York Times.

Aneka gejala baru virus corona

Kendati demikian, beberapa gejala baru telah ditemukan selama sebulan terakhir yang mungkin terkait dengan virus corona baru. 

Beberapa gejala muncul tanpa disertai gejala pernapasan.

Pada akhir Maret, British Rhinological Society dan American Academy of Otolaryngology melaporkan bukti anekdotal yang menunjukkan bahwa hilangnya indera penciuman dan pengecap menjadi gejala Covid-19.

New York Times pun memberitakan, laporan dari berbagai negara telah mengindikasikan bahwa sejumlah besar pasien Covid-19 mengalami anosmia (gangguan pada indera penciuman), kehilangan indera penciuman, dan ageusia (masih bisa merasakan makanan, tapi kepekaannya berkurang).

Para profesional medis belum mengetahui pasti apa yang menyebabkan gangguan pada indera penciuman dan perasa pada pasien Covid-19.

Beberapa virus mungkin menghancurkan sel atau reseptor sel di hidung, sementara yang lain menginfeksi otak melalui saraf sensor penciuman.

Kemampuan menginfeksi otak dapat menjelaskan beberapa kasus gangguan pernapasan pada pasien Covid-19. 

Bukti menunjukkan bahwa virus corona dapat menyerang sistem saraf pusat.

Times melaporkan, beberapa pasien Covid-19 juga mengalami masalah neurologis, termasuk kebingungan, stroke, dan kejang.

Beberapa pasien juga melaporkan acroparesthesia, kesemutan, atau mati rasa di area tangan dan kaki.

Sementara pasien yang lain mengalami serangan jantung serius, tapi tanpa penyumbatan pembuluh darah.

Menurut Forbes, banyak gejala baru yang mungkin merupakan tanda virus corona. Namun sayangnya hal ini belum dapat ditangani lebih jauh karena semua dokter di seluruh dunia sibuk menangani pasien Covid-19 yang terus berdatangan.
baca keseluruhan - Gejala Baru Virus Corona, Kulit Merah dan Gatal-gatal

Selasa, 14 April 2020

Diare Salah Satu Gejala pada Pasien COVID-19 Level Ringan

Sebuah studi yang dipublikasikan The American Journal of Gastroenterology menganalisis gejala masalah pencernaan dilaporkan oleh banyak pasien COVID-19 dengan kondisi ringan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kondisi sedang atau kritis.

Studi yang dipublikasikan pada 30 Maret 2020 ini juga menemukan kelompok dengan kondisi ringan biasanya mengalami diare.

Para penulis dari Union Hospital and Tongji Medical College di Wuhan, China mengatakan ketika orang yang mengidap kondisi ringan akibat virus corona, mereka bisa jadi atau tidak sama sekali mengalami masalah pernapasan atau demam.

Dikutip dari Coronavirus Today, diarenya sendiri berdurasi selama lima hari dengan frekuensi 4 kali buang air besar dalam satu harinya.

Analisis ini dilakukan pada 206 pasien dengan tingkat keparahan yang rendah dari infeksi virus corona. 

48 Orang di antaranya mengalami masalah pencernaan, 69 mengalami masalah pencernaan dan pernapasan, dan 89 hanya mengalami gejala masalah pernapasan.

Dari dua kelompok dengan gejala pencernaan, 67% mengalami diare dan 20% dari angka tersebut mengalami diare sebagai gejala pertama mereka saat penyakitnya muncul.

Sementara itu, demam ditemukan pada 62% pasien dengan masalah pencernaan, yang mana berarti hampir sepertiganya tidak mengalami demam.

"Studi ini penting karena merepresentasikan 80% pasien atau lebih yang tidak memiliki kondisi parah atau kritis," kata Brennan MR Spiegel, MD, MSHS, FACG, Co-Editor-in-Chief The American Journal of Gastroenterology.

Spiegel menambahkan, semakin umum orang yang kemungkinan mengalami COVID-19 dengan tanda awal diare, mual, dan muntah.

baca keseluruhan - Diare Salah Satu Gejala pada Pasien COVID-19 Level Ringan

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense