Jumat, 16 Juli 2021
Mata Merah Gejala Baru COVID-19? Ini Faktanya
Jumat, 15 Mei 2020
Bukan Hidung, Penelitian Ungkap Virus Corona Masuk ke Tubuh Lewat Mata
University of Hong Kong
melakukan penelitian yang menemukan bahwa mata merupakan bagian penting
bagi virus corona masuk ke dalam tubuh.
Mereka juga menemukan strain itu hingga 100 kali lebih menular daripada SARS dan flu burung, yang diuji oleh para ahli kesehatan masyarakat.
Tes laboratorium mengungkapkan tingkat virus dari SARS-CoV-2 jauh lebih besar daripada SARS di saluran pernapasan bagian atas dan konjungtiva, sel-sel yang melapisi permukaan mata.
Tim yang dipimpin oleh Dr Michael Chan Chiwai, dari sekolah kesehatan masyarakat HKU, menjadi peneliti pertama di seluruh dunia yang membuktikan virus corona dapat menginfeksi manusia melalui mata, dan mempublikasikannya dalam THe Lancet Respiratory Medicine.
"Kami membiakkan jaringan dari saluran pernapasan dan mata manusia di laboratorium dan menerapkannya untuk memperlajari SARS-CoV-2, membandingkannya dengan SARS dan H5N1," katanya, dikutip dari South China Morning Post.

"Kami menemukan bahwa SARS-CoV-2 jauh lebih efeisien dalam menginfeksi konjungtiva dan saluran pernapasan bagian atas daripada SARS, dengan tingkat virus sekitar 80 hingga 100 kali lebih tinggi," sambungnya.
Penelitian ini diperkuat dengan saran kepada masyarakat untuk tidak menyentuh mata dan mencuci tangan secara teratur untuk menghindari infeksi, setelah peneliti sebelumnya menemukan virus corona dapat bertahan selama tubuh hari di permukaan stainless steel dan plastik.
"Meski ada tanda-tanda bahwa epidemi Covid-19 semakin tabil di Hong
Konh, situasi di tempat lain di dunia masih serius.
Masih banyak kasus baru dilaporkan setoap hari. Kita seharusnya tidak lengah."
Temuan Dr Chan ini menentang asumsi luas bahwa staf medis akan dilindungi secara memadai ketika memakai N95 dan pakaian pelindung, tanpa memerlukan kacamata khusus.
'Happy Hypoxia' Gejala Tak Biasa pada Pasien Corona
Para dokter kembali menemukan gejala lain dari pasien positif virus Corona
COVID-19 .
Belum lama ini sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pasien yang terinfeksi tampaknya kesulitan dan memiliki kadar oksigen yang cukup rendah, yang biasanya menyebabkan seseorang menjadi tidak sadarkan diri bahkan hingga meninggal dunia.
Fenomena ini, dikenal sebagai 'Happy Hypoxia' atau beberapa orang menyebutnya 'silent hypoxia', memunculkan satu pertanyaan mengenai bagaimana virus menyerang paru-paru dan apakah ada cara yang lebih efektif untuk merawat para pasien positif.
Dikutip dari laman The Guardian, seseorang dalam
kondisi sehat memiliki saturasi oksigen paling sedikit 90 persen.
Namun, untuk pasien berusia 70 hingga 80 tahun yang dibawa ke unit gawat darurat dilaporkan oleh dokter memiliki kadar oksigen yang sangat rendah, beberapa kasus kritis memiliki kadar oksigen di bawah 50 persen.
"Sangat menarik melihat begitu banyak orang datang, betapa mereka sangat hipoksik," ujar seorang konsultan dalam perawatan kritis dan anestesi di Manchester Royal Infimary, dr Jonathan Bannard Smith.
"Kami melihat saturasi oksigen yang sangat rendah dan mereka tidak
menyadarinya.
Kita biasanya tidak melihat fenomena ini dalam influenza
atau pneumonia yang didapat masyarakat.
Ini jauh lebih mendalam dan contoh fisiologi yang sangat abnormal terjadi di depan mata kita," tambahnya.
Ahli anestesi di rumah sakit Wythenshawe di Manchester, Inggris dr Mike Charlesworth, mengatakan bahwa pada kondisi paru-paru lainnya dapat menyebabkan hipoksia parah, ia mempertanyakan apakah efek dari virus Corona bisa menyebabkan kerusakan organ yang tidak dapat dideteksi oleh para ahli medis.
Penurunan kadar oksigen secara tiba-tiba bukanlah penyebab utama sesak napas. Paru-paru dari beberapa pasien COVID-19 tidak dapat mendeteksi meningkatnya kadar karbon dioksida, membuat organ-organ tidak dapat merespon secara efektif untuk membersihkan saluran udara paru-paru.
Laporan itu mengkonfirmasi bahwa ada bukti yang menunjukkan COVID-19 dapat menyebabkan pembekuan darah yang mengakibatkan pembengkakan dan radang paru-paru, sehingga menyulitkan oksigen untuk memasuki aliran darah.
Rabu, 29 April 2020
Dua Bocah Cileungsi Positif Corona, Penularan Diduga Berasal dari Baju Ayah
Penularan pada dua anak itu dicurigai berasal dari pakaian sang ayah.
Hal tersebut membuat pemerintah kembali mengingatkan warga untuk segera mengganti dan cuci pakaian setelah sampai di rumah.
"Kalau pulang segera ganti baju, dicuci, berapa kali diomongin, masa diulang lagi, diulang lagi," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan percepatan COVID-19, Achmad Yurianto (Yuri) saat dihubungi.
Melansir dari Health, pedoman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat bahwa virus dapat tetap hidup selama berjam-jam di permukaan yang terbuat dari berbagai bahan, termasuk pakaian.
Sementara itu, para peneliti dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) di Montana telah mempelajari berapa lama virus corona baru dapat bertahan hidup di atas kertas karton, plastik, dan baja.
Namun, soal permukaan pakaian belum dipastikan.
"Saya hanya menduga Anda dapat menemukan viabilitas virus selama beberapa jam hingga mungkin sehari pada pakaian," kata pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, MD, senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins di Maryland, dikutip dari Health.
"Ini sangat tergantung pada kondisi lingkungan, suhu dan kelembaban yang berdampak pada pertumbuhan virus," tambahnya.
Ritsleting, kancing, dan aksesoris pakaian bisa saja terbuat dari bahan di atas, sehingga dapat membawa virus ke rumah.
Meskipun begitu, Dr. Adalja menegaskan dia tidak begitu yakin pakaian bertindak sebagai penyebaran utama virus corona.
Seberapa Sering Harus Mencuci Pakaian?
Jika tidak ada seorang pun di rumah yang dinyatakan positif atau menunjukkan gejala, Anda dapat membersihkan pakaian seperti biasanya.
Tetapi jika baru keluar rumah atau ke tempat umum, Anda disarankan untuk mencuci pakaian yang Anda kenakan sesegera mungkin saat Anda pulang.
CDC telah merekomendasikan mencuci pakaian pada suhu air sesuai dengan item pakaian dan deterjen biasa.
Mencuci pakaian dengan deterjen cukup untuk meminimalkan risiko menempelnya virus.
Selain itu, Anda perlu membuat pakaian benar-benar menjadi kering sebelum kembali memasukkannya ke rumah.



