# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label traveling vietnam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling vietnam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

Menelusuri Jejak Vietnam di Pulau Galang

Pulau Galang adalah salah satu pulau kecil di Provinsi Kepulauan Riau. Letaknya tidak jauh dari Kota Batam, hanya sekitar 50 kilometer. Pulau ini terkenal karena dahulu pernah digunakan sebagai tempat pengungsian para manusia perahu dari Vietnam. Kini, yang tinggal hanya sisa-sisanya, namun masih layak untuk dikunjungi. 

Tergantung dari mana Anda datang, Pulau Galang dapat dicapai baik melalui darat maupun laut. Umumnya para wisatawan datang dari Batam, menggunakan mobil maupun bus, karena antara Pulau Batam, Rempang, dan Galang sudah dihubungkan dengan jembatan yang bernama Barelang. Nama jembatan tersebut diambil dari salah satu suku kata nama pulau-pulau tersebut (Batam-Rempang-Galang).


Barak-barak kayu yang dahulu digunakan sebagai tempat tinggal pengungsi.
Bila datang dari Tanjung Pinang di Pulau Bintan, butuh waktu sekitar 30 menit dengan perahu untuk mencapai Pulau Galang.

Pulau Galang menjadi tempat pengungsian manusia perahu Vietnam antara tahun 1979 hingga 1996. Ketika itu, untuk menghindar dari Perang Vietnam yang bergejolak banyak rakyat Vietnam yang nekat mencari suaka di negara lain. Mereka yang terdampar di pulau-pulau Indonesia seperti misalnya di Natuna, Anambas, ataupun Tarempa akhirnya dipindahkan ke Galang sambil menunggu penentuan nasib mereka. Di sini mereka dibantu oleh badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi yaitu UNHCR.


Perahu-perahu yang digunakan untuk melarikan diri dari Vietnam.
Di kompleks pengungsian yang dulu terkenal dengan nama Kamp Sinam ini terdapat fasilitas yang cukup lengkap sehingga bagai satu kampung tersendiri. Kompleksnya pun sangat luas dan dikelilingi oleh hutan. Kamp pengungsian seluas 80 hektar ini memang dibuat terisolasi karena selain untuk memudahkan pengawasan, juga untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa oleh pengungsi.

Ketika berkunjung ke Kamp Sinam beberapa hari yang lalu, saya melihat masih banyak peninggalan yang tersisa. Salah satu yang paling monumental adalah perahu-perahu kayu yang dahulu membawa para pengungsi dari Vietnam. Sulit untuk membayangkan bagaimana perahu sekecil itu mampu bertahan melewati terjangan gelombang laut lepas.

Peninggalan lain yang masih dapat dilihat adalah barak-barak pengungsi. Barak tersebut terbuat dari kayu berbentuk memanjang, seperti yang mungkin pernah Anda lihat di daerah setelah bencana.  Selain itu ada juga bekas rumah sakit, penjara, sekolah, kesemuanya tampak sedikit menyeramkan karena memang sudah tidak digunakan lagi. Ada juga satu kompleks pemakaman bernama Ngha Trang  yang cukup besar, menampung 503 makam.


Vihara Quan Am Tu yang masih tegak berdiri.
Beberapa rumah ibadah, seperti gereja dan vihara masih tampak gagah berdiri. Gereja Katolik Ngha Tho Duc Me Vo Nhiem dihubungkan oleh sebuah jembatan. Sementara itu Vihara Quan Am Tu mungkin merupakan bangunan yang paling mencolok. Di sini terdapat patung Dewi Guang Shi Pu Sha, tempat para pengungsi berdoa untuk mendapatkan keberuntungan, jodoh, harmoni dalam rumah tangga, dan sebagainya. 

Bila para pengunjung ingin mendapatkan informasi yang lebih lengkap, mereka dapat berkunjung ke kantor informasi yang menempati bangunan bekas kantor UNHCR. 

Walau kini yang tertinggal hanyalah sisa-sisa, namun itu semua adalah saksi sejarah. Dalam kurun waktu 17 tahun lebih dari 200.000 pengungsi Vietnam tinggal di tempat ini sebelum akhirnya mendapatkan suaka di beberapa negara di Eropa, Australia, ataupun kembali ke negaranya.

Pengunjung dapat masuk ke kompleks ini dengan membayar biaya Rp 10.000. Anda dapat berkeliling dengan mobil dan jangan kaget: di pinggir jalan banyak kera kecil menghadang untuk minta makanan. 
baca keseluruhan - Menelusuri Jejak Vietnam di Pulau Galang

Jumat, 16 Maret 2012

Wisata Sejarah di Asia Tenggara

Asia Tenggara memiliki banyak lokasi menarik bagi para penggemar sejarah seperti saya. Budaya di kawasan ini amat beragam dengan sejarah yang panjang. Awal yang baik untuk melakukan perjalanan, sebab terjangkau dari sisi anggaran dan jarak.

Berikut ini adalah beberapa tempat bersejarah di Asia Tenggara yang saya rekomendasikan. Semoga menginspirasi Anda untuk rencana perjalanan berikutnya!



Angkor Wat, Kamboja


Secara harfiah namanya berarti “candi (berukuran) kota/city temple”. Ukurannya memang masif, sekitar 80 hektare. Didirikan pada abad ke-12 oleh raja Suryawarman II sebagai bagian dari kekaisaran Khmer yang berdiri pada abad yang sama. Uniknya, ia merupakan salah satu kompleks candi Buddha yang pada awalnya digunakan oleh umat Hindu. 


Ayutthaya, Thailand


Ayutthaya adalah kerajaan yang ada di jantung negara Thailand hari ini. Ia merupakan salah satu kerajaan terkaya di Asia Tenggara. Ayutthaya sendiri hari ini merujuk pada kompleks kota tua di dalam kota modern yang juga bernama Ayutthaya. Kumpulan candi-candi (wat) peninggalan ibukota Ayutthaya dapat dikunjungi di Ayutthaya Historical Park.

Borobudur, Indonesia

Borobodur adalah kompleks candi termasyhur lainnya di Asia Tenggara. Bagi kita yang di Indonesia, mengunjunginya sangat mudah. Walau lebih kecil dari Angkor Wat, Borobudur lebih tua, dibangun pada abad ke-9. Candi ini juga dari awal didedikasikan untuk umat Buddha.

Luang Prabang, Laos

Kota ini merupakan ibukota kerajaan Luang Prabang yang berdiri pada abad ke-17 sampai akhir abad ke-18. Mirip seperti Ayutthaya, Thailand, di kota ini banyak peninggalan bangunan bersejarah seperti candi (juga dipanggil wat di Laos).

Hue, Vietnam

Hue dulunya adalah ibukota dari Vietnam ketika negara itu berada di bawah bendera Dinasti Nguyen. Sejarah dinasti yang panjang meninggalkan beberapa bangunan bersejarah, seperti benteng, monumen dan makam. Selain itu, letaknya yang berada di tengah Vietnam menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Vietnam Selatan dan Vietnam Utara ketika Perang Vietnam.

Melaka, Malaysia

Didirikan sebagai pos strategis Portugis dalam rangka ekspansi kolonialismenya ke Asia Tenggara. Sempat menjadi pos persinggahan bangsa Belanda juga. Beberapa peninggalan kolonial seperti benteng pertahanan (A Famosa) dan balai kota (Stadthuys) terdapat di sini. Cocok jika Anda menyukai wisata kota tua.

Singapura

Wisata sejarah tidak perlu melulu soal candi atau situs tertentu. Beberapa bagian dari sebuah kota atau negara bisa menjadi ekskursi sejarah yang menarik. Mungkin tidak ada yang terbayang soal Singapura sebagai tempat bersejarah, tetapi Singapura punya sejarah kolonial yang menarik.

Ia menjadi persimpangan banyak momen di masa lalu dan berpindah-pindah tangan ke banyak pihak, mulai dari Sriwijaya, Inggris, sampai Malaysia. Jumlah populasinya banyak didominasi imigran karena letaknya yang strategis. Sebagai konsekuensi, Singapura tumbuh menjadi pusat ekonomi dan industri yang mapan.
baca keseluruhan - Wisata Sejarah di Asia Tenggara

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense