# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label virus corona Disinfektan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label virus corona Disinfektan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2020

Sejarah Alkohol Sebagai Disinfektan Dalam Kedokteran Islam

Penggunaan alkohol tidak bisa dipisahkan dalam praktik kedokteran di masyarakat.

Alkohol menjamin alat dan bagian tubuh yang terkait praktik kedokteran bebas bakteri serta organisme penyebab penyakit lainnya (steril).

Dikutip dari Morocco World News, produksi alkohol sebetulnya sudah ada sejak 2000 SM di peradaban manusia.

Namun saat itu alkohol digunakan sebagai bahan minuman, bukan disinfektan untuk menjaga kebersihan.

Penggunaan alkohol sebagai disinfektan kali pertama dilakukan ilmuwan muslim Al-Razi atau Rhazes.

Terobosan Al-Razi ditemukan dalam kitab Al-Hawi atau Al-Hawi Fi Altibb, yang diartikan menjadi The Comprehensive Book on Medicine.

Al Razi menekankan pentingnya penggunaan alkohol sebagai antiseptik sebelum, selama, dan setelah operasi. Luka yang bersih berperan besar dalam keberhasilan operasi.

Dalam situs Middle East Health dikatakan, Al-Razi mengetahui koneksi antara bakteri dan kejadian infeksi.

Sebagai ahli kimia, Al-Razi menyadari alkohol bisa digunakan sebagai disinfektan yang sangat efektif.

Selain mengetahui kegunaan lain alkohol, Al-Razi juga menemukan asam sulfat yang berperan penting dalam kemajuan peradaban manusia.

Metode disinfeksi dengan alkohol ini kemudian dikenalkan di rumah sakit pertama di Baghdad.

Rumah sakit ini didirikan Khalifah Harun Al-Rasyid pada 805 Masehi.

Praktik ini kemudian menyebar di seluruh wilayah kekuasaan Islam, karena terbukti mampu meningkatkan angka keberhasilan hidup pasien yang mengalami operasi.

Penemuan alkohol sebagai disinfektan sampai ke Eropa yang kemudian mengadopsi metode tersebut.

Alkohol dalam bahasa Arab ditulis sebagai Al-Kuhul yang artinya inti dari suatu bahan atau essence.

Penamaannya mengacu pada metode destilasi yang digunakan untuk memperoleh alkohol.

Saat ini alkohol tidak hanya digunakan dalam menjaga kebersihan alat dan praktik kedokteran.

Berbagai produk antiseptik yang digunakan masyarakat awam telah menggunakan alkohol sebagai bahan aktif.

Menjaga kebersihan dengan produk antiseptik berbahan alkohol terbukti mampu mencegah infeksi COVID-19.

Terkait Al-Razi, sosok ini punya peran besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan kedokteran Islam di abad pertengahan.

Terlahir dengan nama Abu Bakr Mohammad Ibn Zakariya al-Razi, dia menginspirasi ilmuwan muslim besar lainnya misal Ibnu Sina.

Al-Razi lahir hidup pada periode 865-925 Masehi di kota bernama Rayy yang terletak di Iran.

Al-Razi awalnya adalah seorang musisi sebelum serius mendalami kimia dan ilmu kedokteran.

Selama hidup dia dikenal sebagai pribadi yang semangat belajar, baik, memegang teguh prinsip, dan melayani semua pasien tanpa kecuali.

Untuk menghormati Al-Razi, tiap tanggal 27 Agustus diadakan Razi Day atau Pharmacy Day di Iran.
baca keseluruhan - Sejarah Alkohol Sebagai Disinfektan Dalam Kedokteran Islam

Ka'bah Disterilkan dengan Teknologi Ozon, Seperti Apa Bentuknya?

Pandemi virus corona mengharuskan tiap negara berusaha maksimal melakukan pencegahan penularan COVID-19. 

Hal ini dilakukan Pemerintah Saudi dengan menjaga kebersihan Ka'bah yang terletak di Masjidil Haram, Mekah.

Dalam tweet yang diunggah Saudi Press Agency di @SPAregions, Presiden Umum Urusan Masjid Agung dan Masjid Nabi di Mekah dan Medina, Arab Saudi, Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais ikut serta dalam sterilisasi Ka'bah. 

Dia tampak menggunakan teknologi baru untuk membersihkan kiblat seluruh muslim saat sholat.

"Presiden Umum Dua Masjid Suci meluncurkan teknologi sterilisasi baru (Ozon Tech)," tulis kantor berita SPA dalam Twitternya.

Ozon tech atau teknologi ozon yang digunakan untuk membersihkan Ka'bah ternyata bukan metode baru dalam sterilisasi. 

Dikutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC, ozon menjadi salah satu metode dalam panduan disinfeksi dan sterilisasi fasilitas kesehatan.

Partikel ozon sebelumnya digunakan sebagai dalam usaha disinfeksi air minum selama beberapa tahun. 

Ozon berasal dari oksigen yang diberi energi tambahan hingga molekulnya terpisah. Molekul tersebut kemudian menempel pada yang masih berpasangan hingga menjadi O3.

Hasilnya Ozon adalah oksigen dengan molekul O tambahan yang tidak terikat dengan kuat. 

Tambahan O ini siap menempel dan menimbulkan reaksi oksidasi pada molekul lain. 

Reaksi inilah yang kemudian membunuh berbagai jenis mikroorganisme yang merugikan kesehatan. 

Namun ozon atau trioksigen untuk sterilisasi ini bersifat sangat tidak stabil.

Sterilisasi dengan ozon disahkan FDA pada Agustus 2003 untuk membersihkan peralatan medis yang digunakan ulang. 

Penggunaan sterilisasi ozon terbukti efektif digunakan pada berbagai bahan peralatan medis yaitu stainless steel, titanium, anodized aluminum, keramik, kaca, silica, PVC, Teflon, silikon, polypropylene, polyethylene, dan acrylic.

Penggunaan ozon untuk sterilisasi yang mencegah penyebaran virus corona, telah direkomendasikan profesor Zhou Muzhi ketua Cloud River Urban Research Institute. 

Tulisan ini diunggah di situs China.org.cn.

Menurut Muzhi, ada tiga alasan yang menyebabkan ozon sebaiknya digunakan dalam usaha sterilisasi. 

Alasan pertama adalah molekul ozon bisa menjangkau seluruh wilayah tanpa kecuali. 

Ozon yang diproduksi ozone generators atau electrostatic air purifiers mampu membersihkan hingga area yang tersembunyi. 

Kelebihan ini tidak dimiliki sinar ultraviolet yang pergerakannya terbatas, sehingga menyisakan tempat yang belum disterilisasi.

Kelebihan lain adalah tidak menyisakan zat beracun yang berbahaya bagi lingkungan sekitar. 

Ozon berbeda dengan cairan pembersih kimia dengan efek samping yang mungkin berbahaya. 

Dampak negatif tersebut tak hanya ditimbulkan cairan pembersih, tapi juga residu yang dihasilkan dari reaksi kimia. 

Penggunaan zat kimia berbahaya untuk sterilisasi, kini harus mulai diperhatikan dampaknya di tengah pandemi COVID-19 yang belum selesai.

Penggunaan ozon untuk sterilisasi juga dinilai nyaman bagi masyarakat umum atau pekerja medis. 

Ozon dihasilkan alat yang penggunaannya sangat praktis sesuai kebutuhan masyarakat. 

Untuk kamar atau tempat tinggal, bisa digunakan ozone generators dengan kapasitas terbatas. 

Sedangkan untuk fasilitas umum atau transportasi bisa digunakan ozon generators berkapasitas lebih besar.
baca keseluruhan - Ka'bah Disterilkan dengan Teknologi Ozon, Seperti Apa Bentuknya?

Jumat, 03 April 2020

Amankah Jika Tubuh Manusia Disemprot Desinfektan?

Penyemprotan desinfektan saat ini sedang banyak dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. 

Bahkan, kini penyemprotan ini sudah dilakukan di perumahan warga hingga area perkantoran.
Demi mencegah terjadinya infeksi, para karyawan hingga ojek online juga ikut disemprot cairan desinfektan. 

Jika tidak berbahaya untuk kulit, apa bisa cairan ini masuk ke pori-porinya?
"Cairan desinfektan yang mengenai kulit tidak dapat masuk ke pori-pori kulit ataupun ke pembuluh darah," jelas dokter spesialis kulit dan kelamin dari DNI Skin Centre, dr I Gusti Nyoman Darma Putra, SpKK.

Menurut dr Darma, cairan desinfektan ini tidak akan menyebabkan efek samping jika kulit orang tersebut normal. Dalam arti tidak memiliki alergi ataupun luka.

Sehingga, jika terjadi efek samping hanya akan muncul pada permukaan tubuh saja, seperti kemerahan sampai perih. Cairan itu tidak akan memberikan efek hingga ke fungsi organ dalam tubuh.

"Karena itu, efek samping hanya akan muncul di permukaan tubuh dan tidak ada efek ke sistemik di dalam tubuh," ujarnya.

baca keseluruhan - Amankah Jika Tubuh Manusia Disemprot Desinfektan?

Kamis, 02 April 2020

Perlu Diketahui, Ini Lima Perbedaan Hand Sanitizer dan Disinfektan

Hand Sanitizer dan Disinfektan belakangan menjadi sering digunakan oleh masyarakat dalam usaha untuk mencegah penyebaran dan penularan virus corona covid19.

Virus corona ini telah menyebar ke ratusan negara. Di Indonesia, Covid19 ini juga telah menyebar kemana-mana.

Virus corona ini sendiri bisa menyebar akibat kontak langsung seperti berjabat tangan. Bisa juga akibat Covid19 itu menempel ke benda-benda dan kemudian tersentuh oleh seseorang.

Tindakan pencegahan penularan virus dapat dilakukan dengan menggunakan hand sanitizer dan disinfektan. Memang, kedua cairan ini memiliki fungsi yang sama yakni dapat membunuh kuman, bakteri, dan virus.

Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan mendasar yang perlu diketahui agar Anda tidak salah dalam memanfaatkannya. Berikut rangkuman 5 perbedaan dari hand sanitizer dan cairan disinfektan.

Istilah

Pada dasarnya, hand sanitizer dan cairan disinfektan memiliki istilah yang sama yakni campuran bahan-bahan kimia yang dapat membunuh mikroorganisme seperti kuman, bakteri, dan virus yang dapat merugikan dengan bertahan hidup dan bereproduksi di dalam sel makhluk hidup lainnya.

Namun, secara istilah hand sanitizer lebih merujuk pada tindakan untuk melakukan sterilisasi pada anggota tubuh yang rentan menjadi sumber bakteri yaitu tangan.

Sedangkan istilah disinfektan lebih erat kaitannya dengan menjauhi infeksi yang dapat dilakukan oleh bakteri, virus, dan kuman yang menempel pada benda-benda di sekitar manusia.

Kemudian, virus tersebut dapat menyebar dan menyebabkan gangguan kesehatan pada tubuh manusia.

Bahan

bahan yang digunakan untuk membuat disinfektan tersebut berbeda dengan bahan yang terkandung di dalam hand sanitizer.

Pada umumnya, cairan disinfektan menggunakan bahan-bahan kimia berupa senyawa chlorin, hydrogen peroksida, creosote, dan alkohol.

Tidak hanya itu, pada dasarnya disinfektan memiliki kandungan biosida yang cukup tinggi dibandingkan dengan hand sanitizer.

Sedangkan, hand sanitizer merupakan cairan pembunuh bakteri yang mengandung alkohol yang lebih banyak dibandingkan dengan cairan disinfektan yakni antara 60 hingga 100 persen, etanol, gliserol, dan hydrogen peroksida serta beberapa bahan kimia tambahan yang dapat membantu melembabkan kulit.

Manfaat

Berdasarkan istilahnya, hand sanitizer adalah cairan pembunuh kuman, bakteri, dan virus yang menempel sementara pada anggota tubuh manusia seperti tangan.

Jadi, hand sanitizer hanya dapat digunakan pada manusia untuk sebagai antiseptik pencegah bakteri, kuman, dan virus.

Pada umumnya hand sanitizer tidak efektif digunakan untuk membunuh bakteri yang menempel pada permukaan benda.

Sebab, hand sanitizer hanya bersifat antiseptik dimana hanya efektif apabila diaplikasikan pada anggota tubuh.

Merujuk pada istilah disinfektan, maka cairan ini lebih digunakan untuk kuman, bakteri, dan virus yang tidak menghinggapi makhluk hidup sebagai tempat tinggalnya sementara, melainkan pada permukaan benda.

Oleh karena itu, cairan disinfektan memiliki manfaat yang berbeda dengan hand sanitizer. Cairan disinfektan hanya dapat digunakan untuk mematikan kuman, bakteri, dan virus yang menempel pada permukaan benda yang ada di sekitar Anda.

Cara Penggunaan

Cara menggunakan hand sanitizer yaitu ambil 2 hingga 3 tetes cairan hand sanitizer pada telapak tangan.

Setelah itu, aplikasikan pada seluruh permukaan tangan yang meliputi telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, serta punggung jari secara merata.

Berbeda, cairan disinfektan dapat dimanfaatkan untuk membunuh kuman, bakteri, dan virus dengan disemprotkan pada benda-benda yang sering tersentuh.

Hindari menyemprotkan cairan disinfektan pada anggota tubuh ataupun bio organisme lainnya.
Cairan disinfektan dapat disemprotkan dua kali sehari. Semprotkan pada permukaan benda seperti gagang pintu, toilet, saklar lampu, meja, kursi, dan lain sebagainya.

Hindari menyemprotkan cairan disinfektan secara langsung pada makhluk hidup. Karena justru dapat memicu gangguan kesehatan.

Maka, akan lebih baik untuk menggunakan alat pelindung seperti masker, kacamata khusus, dan sarung tangan plastik sebelum menyemprotkan cairan disinfektan pada permukaan benda di sekitar Anda.

Waktu Penggunaan

Terdapat beberapa waktu yang tepat untuk menggunakan hand sanitizer. Hand sanitizer dapat digunakan pada waktu-waktu yang penting seperti setelah melakukan aktivitas, sebelum makan, setelah makan, setelah buang air kecil dan besar, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, Anda dapat mengaplikasikan hand sanitizer tersebut sesering mungkin untuk menghindari kuman, bakteri, dan virus menempel lebih lama di tangan Anda.

Namun, akan lebih baik jika Anda sering mencuci tangan menggunakan sabun untuk membunuh kuman dengan efektif dibandingkan dengan hand sanitizer. 

Sebab, kandungan alkohol yang tinggi disinyalir dapat membuat tangan Anda kering, kasar, alergi, dan bahkan gangguan kesehatan pada permukaan kulit.

Di sisi lain, penggunaan cairan disinfektan yang disemprotkan pada permukaan benda dapat dilakukan cukup dua kali dalam sehari. 

Semprotkan pada saat sebelum memulai aktivitas yakni pada pagi hari dan setelah melakukan aktivitas yakni pada sore hari.
baca keseluruhan - Perlu Diketahui, Ini Lima Perbedaan Hand Sanitizer dan Disinfektan

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense