Sebelum jeda River Plate memang unggul penguasaan bola. Ariel Ortega jadi sosok pengalir bola sang raksasa Argentina. Kinerja Cruz dan Francescoli di lini depan dibuat mudah olehnya. Sayang, Paolo Montero dan Sergio Porrini tampil kokoh menjaga pertahanan
La Vecchia Signora.Angelo Peruzzi juga tampil brilian. Beberapa kali ia melakukan penyelamatan gemilang terhadap peluang yang datang dari Francescoli dan Juan Pablo Sorin. Tak pelak, hasil imbang tanpa gol pun menutup babak pertama.
Babak kedua di mulai, tak ada pergantian pemain yang dilakukan kedua kubu. Namun Marcello Lippi terlihat merubah skema Juve dengan memberi kebebasan lebih pada Zidane, yang tampil kikuk di babak pertama.
Hasilnya mulai kentara, punggawa Timnas Prancis berdarah Aljazair ini menunjukkan kelasnya sebagai calon pemain terbaik dunia. Ia jadi pemain yang paling serig menyentuh bola dan memimpin dominasi Juve di paruh kedua.
Hal itu membuat potensi besar Del Piero yang tak terlihat di babak pertama keluar. Peluang demi peluang mampu dihasilkan lewat kerja sama kedua pemain yang kini pantas disebut sebagai maestro sepakbola.
Luar biasanya kegemilangan mereka berhasil dibendung lewat kesigapan kiper
La Banda Roberto Bonano. Namun penampilan heroiknya tak mampu bertahan hingga 90 menit usai.
Momen bersejarah bagi Juve akhirnya datang pada menit ke 81. Berawal dari serangan
La Vecchia Omcidi yang gagal dan menghasilkan sepak pojok. Bola hasil tendangan sang eksekutor, Angelo Di Livio, menemui kepala Zidane. Dengan cerdik
Zizou mengarahkan bola ke tiang jauh yang jatuh tepat di kaki Del Piero.
Tanpa ragu Alex langsung melepaskan tembakan keras ke pojok kiri gawang River Plate dan mengubah keadaan menjadi 1-0! Kedudukan itu bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.
Juventus akhirnya menegaskan posisi mereka sebagai tim terbaik di dunia dengan raihan Piala Toyota. Del Piero sendiri dipilih sebagai pemain terbaik dalam laga itu.
Final Piala Toyota 1996 jadi penampilan terakhir kedua klub di kompetisi bergengsi ini, sebelum FIFA mengubahnya menjadi ajang Piala Dunia Antraklub pada 2004.
Tak seperti Piala Toyota yang hanya mempertemukan dua klub terbaik dari belahan Eropa dan Amerika Selatan, Piala Dunia Antarklub menyertakan tim teratas dari setiap konferderasi untuk bersaing menduduki puncak dunia.