Tampilkan postingan dengan label the scientists. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the scientists. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Agustus 2013
Gadget di Film 'Mission: Impossible' Tak Lama Lagi Bakal Menjadi Kenyataan
Kamis, 25 Juli 2013
Cetak Gambar 3D dengan Kekuatan Pikiran
Pernah membayangkan mencetak sebuah gambar 3D hanya dengan mengendalikan pikiran? George Laskowsky, Chief Technical Officer Thinker Hal mengembangkan sistem tersebut.
![]() |
| Thinker Thing, sebuah start-up berbasis di Santiago, Chili, mengatakan telah mengembangkan cara untuk mencetak objek 3D dari pikiran manusia. |
![]() |
| Mainan ini adalah objek pertama dari daya pikir yang berhasil diciptakan oleh start-up tersebut. |
![]() |
| Bentuk atau wujud mainan tersebut ditentukan dari sebuah headset yang kemudian akan dapat mengenali apa yang sedang kita pikirkan. |
![]() |
| Ide ini adalah sebuah imajinasi mereka apa yang ingin mereka cetak dalam bentuk 3D. |
![]() |
| Versi awal dari apa yang disebut emosional sistem desain evolusi yang akan memungkinkan orang untuk mengembangkan desain dengan pikiran mereka. |
![]() |
| Anak-anak di Chili akan mendapatkan kesempatan pertama untuk mencobanya ketika mereka akan mengubah pikiran mereka untuk mengubah desain cetak 3D. |
![]() |
| Dari hasil cetak 3D tersebut bisa dibuat dalam bentuk patung hiasan meja dan lainnya. |
Jumat, 19 Juli 2013
Penelitian: Urine Digunakan untuk Isi Daya Telepon Seluler
Ilmuwan Inggris pada Selasa melaporkan telah memanfaatkan kekuatan urine untuk mengisi baterai telepon seluler, dengan energi listrik yang cukup untuk mengirimkan pesan dan menjelajahi internet.
Para peneliti dari University of Bristol dan Bristol Robotics Laboratory mengatakan mereka telah menciptakan sel bahan bakar yang menggunakan bakteri untuk memecah urine agar bisa membangkitkan energi listrik, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Royal Society of Chemistry Physical Chemistry Chemical Physics.
Belum ada orang yang memanfaatkan urine untuk hal ini sehingga ini merupakan penemuan yang menarik, ujar peneliti Ioannis Ieropoulos.
Kebaikan dari sumber daya ini adalah, kita tidak bergantung pada tenaga angin atau matahari yang tidak menentu; kami mendaur ulang sampah untuk menciptakan energi. Satu produk yang kami yakini pasokannya tidak akan habis adalah urine kita sendiri, tambahnya.
Tim membiakkan bakteri dalam elektron positif berisi serat karbon dan menempatkannya ke dalam tabung keramik. Bakteri yang memecah zat-zat kimia dalam urine tersebut masuk melalui tabung itu, lalu membentuk sejumlah kecil daya listrik yang disimpan dalam sebuah kapasitor.
Ieropoulos berharap sel tersebut, yang saat ini sebesar aki mobil, dapat digunakan untuk banyak aplikasi.
Tujuan kami adalah mempunyai sesuatu yang bisa dibawa ke mana-mana dengan mudah, jelasnya.
Sejauh ini microbial fuel stack (MFC) yang sudah kami kembangkan membangkitkan daya yang cukup untuk mengirim SMS, menjelajah internet, dan melakukan panggilan singkat. Konsepnya sudah diuji dan berhasil -- sekarang saatnya bagi kami untuk mengembangkan dan memperbaiki prosesnya sehingga kami bisa mengembangkan MFC untuk mengisi baterai secara penuh.
Mereka berharap teknologi tersebut dapat digunakan untuk alat elektronik rumah tangga.
Sabtu, 13 Juli 2013
Ilmuwan China Ciptakan Kamera 100 Megapixel
Kamis, 04 Juli 2013
Rich Lee, Manusia Pertama yang Cangkok Headphone di Telinga
Sabtu, 29 Juni 2013
Ilmuwan Ciptakan Alat Melihat Tembus Pandang
Senin, 11 Maret 2013
Mobil Sapu Angin 'Minum' 1 Liter BBM untuk 300 Km
Mobil Sapu Angin, karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) ini kian akrab di telinga beberapa tahun terakhir. Semakin inovatif, versi terbaru Sapu Angin siap berlaga kembali.
Ya, meraih juara Shell Eco-Marathon Asia selama tiga tahun berturut-turut, tak lekas membuat tim pengembangan Sapu Angin berpuas diri. Bekerja keras, mereka menyiapkan Sapu Angin 7 Evolution untuk dipertandingkan di event tahunan yang sama, di Sirkuit Sepang Juli mendatang di Malaysia.
Arif Aulia Rahhman, perwakilan tim Sapu Angin mengatakan, timnya saat ini fokus pada pengembangan kinerja mesin, meringankan bobot kendaraan dan membuat desain mobil lebih aerodinamis. Satu hal tak kalah penting, Arif dan rekan-rekannya akan membuat mobil ini semakin irit bahan bakar.
"Anda ingin isi bahan bakar hanya sebulan sekali?," demikian Arif mempromosikan karya timnya dalam sebuah tayangan video yang diputar dalam acara Get Inspired, Kamis (7/3/2013).
Ucapan Arif tak main-main. Timnya memang menargetkan Sapu Angin 7 Evolution bisa lebih irit dari pendahulunya, dengan penggunaan bahan bakar satu liter pada jarak 300 km.
Demi Sapu Angin 7 Evolution, Arif dan timnya yang berjumlah sekitar 20 orang rela sering begadang selama kurang lebih enam bulan. Alhasil, mereka pun harus pandai-pandai mengatur waktu di tengah kesibukan kuliah mereka. Meski demikian, Arif dan timnya bersemangat mengerjakan proyek ini.
"Biasanya sih kita kerjain malam setelah kuliah dan kalau libur," kata mahasiswa ITS semester 8 ini.
Dalam kesempatan berbicara di acara Get Inspired yang diadakan BBC Indonesia di Undiknas University, Denpasar, Bali, Arif juga menyempatkan diri memohon doa restu dari hadirin menjelang Sapu Angin 7 dilombakan.
"Kami ingin menjadi juara keempat kalinya, mengukuhkan rekor yang kami buat tahun lalu. Saya mohon doanya ya," kata Arif.
Selain Shell Eco-Marathon Asia, rencananya Sapu Angin 7 Evolution juga akan mengikuti ajang di negeri sendiri, Indonesia Energy Marathon Chalenge, November tahun ini.
Sukses terus tim Sapu Angin!
Ya, meraih juara Shell Eco-Marathon Asia selama tiga tahun berturut-turut, tak lekas membuat tim pengembangan Sapu Angin berpuas diri. Bekerja keras, mereka menyiapkan Sapu Angin 7 Evolution untuk dipertandingkan di event tahunan yang sama, di Sirkuit Sepang Juli mendatang di Malaysia.
Arif Aulia Rahhman, perwakilan tim Sapu Angin mengatakan, timnya saat ini fokus pada pengembangan kinerja mesin, meringankan bobot kendaraan dan membuat desain mobil lebih aerodinamis. Satu hal tak kalah penting, Arif dan rekan-rekannya akan membuat mobil ini semakin irit bahan bakar.
"Anda ingin isi bahan bakar hanya sebulan sekali?," demikian Arif mempromosikan karya timnya dalam sebuah tayangan video yang diputar dalam acara Get Inspired, Kamis (7/3/2013).
Ucapan Arif tak main-main. Timnya memang menargetkan Sapu Angin 7 Evolution bisa lebih irit dari pendahulunya, dengan penggunaan bahan bakar satu liter pada jarak 300 km.
Demi Sapu Angin 7 Evolution, Arif dan timnya yang berjumlah sekitar 20 orang rela sering begadang selama kurang lebih enam bulan. Alhasil, mereka pun harus pandai-pandai mengatur waktu di tengah kesibukan kuliah mereka. Meski demikian, Arif dan timnya bersemangat mengerjakan proyek ini.
"Biasanya sih kita kerjain malam setelah kuliah dan kalau libur," kata mahasiswa ITS semester 8 ini.
Dalam kesempatan berbicara di acara Get Inspired yang diadakan BBC Indonesia di Undiknas University, Denpasar, Bali, Arif juga menyempatkan diri memohon doa restu dari hadirin menjelang Sapu Angin 7 dilombakan.
"Kami ingin menjadi juara keempat kalinya, mengukuhkan rekor yang kami buat tahun lalu. Saya mohon doanya ya," kata Arif.
Selain Shell Eco-Marathon Asia, rencananya Sapu Angin 7 Evolution juga akan mengikuti ajang di negeri sendiri, Indonesia Energy Marathon Chalenge, November tahun ini.
Sukses terus tim Sapu Angin!
Kamis, 10 Maret 2011
Ilmuwan Buat Bahan Bakar Diesel Langsung dari Matahari
Perusahaan bioteknologi di Massachusetts, Amerika Serikat (AS), Joule Unlimited mengklaim bisa menghasilkan bahan bakar diesel murni langsung dari energi matahari. Bagaimana caranya?
Menggunakan teknologi yang dinamakan Helioculture, tim Joule mengubah cahaya matahari dan sisa pembakaran CO2 langsung menjadi bahan bakar berwujud cairan.
Ini dilakukan tanpa melibatkan proses dua tahap menggunakan cahaya matahari untuk menumbuhkan tanaman yang baru setelah itu diolah untuk menjadi bahan bakar.
"Kami menyalurkan fotosintesis yang merupakan proses pengambilan energi paling produktif di dunia, pada tingkat efisiensi yang sebelumnya diperkirakan tidak dapat dicapai," kata President dan CEO Joule Bill Sims, dikutip dari TG Daily.
Dia juga menyebutkan, pada waktu yang sama, proses ini menghilangkan ketergantungan pada biomass, produksi biofuel serta biaya pengolahan yang menyertainya.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Photosynthesis Research ini, memaparkan bahwa penemuan Joule dapat menghasilkan 15.000 galon bahan bakar diesel per tahun. Ini lebih banyak dibandingkan 3.000 galon biodiesel yang dihasilkan secara tidak langsung dari tanaman ganggang.
"Kami telah menunjukkan bahwa proses fotosintesis adalah cara unggul untuk mendapatkan bahan bakar yang bisa diperbaharui secara langsung pada volume dan biaya yang dibutuhkan untuk menggantikan bahan bakar fosil," kata Dan Robertson selaku Senior Vice President Biological Sciences di Joule.
Menggunakan teknologi yang dinamakan Helioculture, tim Joule mengubah cahaya matahari dan sisa pembakaran CO2 langsung menjadi bahan bakar berwujud cairan.
Ini dilakukan tanpa melibatkan proses dua tahap menggunakan cahaya matahari untuk menumbuhkan tanaman yang baru setelah itu diolah untuk menjadi bahan bakar.
"Kami menyalurkan fotosintesis yang merupakan proses pengambilan energi paling produktif di dunia, pada tingkat efisiensi yang sebelumnya diperkirakan tidak dapat dicapai," kata President dan CEO Joule Bill Sims, dikutip dari TG Daily.
Dia juga menyebutkan, pada waktu yang sama, proses ini menghilangkan ketergantungan pada biomass, produksi biofuel serta biaya pengolahan yang menyertainya.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Photosynthesis Research ini, memaparkan bahwa penemuan Joule dapat menghasilkan 15.000 galon bahan bakar diesel per tahun. Ini lebih banyak dibandingkan 3.000 galon biodiesel yang dihasilkan secara tidak langsung dari tanaman ganggang.
"Kami telah menunjukkan bahwa proses fotosintesis adalah cara unggul untuk mendapatkan bahan bakar yang bisa diperbaharui secara langsung pada volume dan biaya yang dibutuhkan untuk menggantikan bahan bakar fosil," kata Dan Robertson selaku Senior Vice President Biological Sciences di Joule.
Langganan:
Postingan (Atom)















