# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label the scientists muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the scientists muslim. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2022

Al Kindi, Ilmuwan Serba Bisa dan Pemecah Kode Rahasia

Penggunaan kode rahasia atau sandi mulai populer di masa Perang Dunia II. 

 

Sandi sangat penting karena setiap informasi perlu dijaga kerahasiaannya dari musuh. Ada seorang ilmuwan serba bisa bernama Al Kindi di balik ini.

 

Al Kindi tak cuma melahirkan pemikiran di bidang filsafat. Dikutip dari aplikasi Islami KESAN, Selasa (11/4/2022) Al Kindi adalah orang pertama yang berhasil menyusun teori pemecahan sandi (kriptoanalisis). 

 

Kitab itu mengurai dan membahas kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam kitabnya itu, Al Kindi memaparkan bagaimana kode-kode rahasia diurai.


 

"Salah satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasanya, adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya," kata Al Kindi.

 

Setelah itu, lanjut Al Kindi, baru kemudian dilihat kepada teks rahasia yang ingin dipecahkan, kemudian dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi simbol-simbolnya.

 

Di situ, kita akan menemukan simbol yang paling sering muncul. Lalu simbol itu diubah dengan catatan kejadian satu, dua, dan seterusnya sampai seluruh simbol terbaca.

 

Teknik itu kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.

 

Misalnya, dalam bahasa Indonesia huruf yang paling sering muncul adalah huruf 'a'. 

 

Dengan demikian, huruf pengganti 'a' akan muncul paling banyak dalam kalimat, sehingga kata sebenarnya dapat diprediksi. 

 

Jadi yang perlu dipastikan hanya bahasa yang digunakan dalam pesan kode.

 

Al Kindi terinspirasi menyusun teori ini setelah mempelajari kata-kata dalam Al-Qur'an. 

 

Istilah kriptoanalisa sendiri baru muncul di abad 20, namun teori dasarnya telah disusun oleh Al Kindi pada 9 abad yang lalu.


 

Kriptografi dikuasai Al Kindi, lantaran dia adalah pakar di bidang Matematika. 

 

Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern. 

 

Al Kindi juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi.

 

Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi, telah mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisis.

baca keseluruhan - Al Kindi, Ilmuwan Serba Bisa dan Pemecah Kode Rahasia

Selasa, 12 April 2022

Ibnu Firnas dari Andalusia, Manusia Terbang Pertama di Dunia

Pada zaman peradaban kuno, ide menerbangkan manusia terdengar konyol bahkan dianggap gila.



Konsep ini pula yang coba diwujudkan seorang ilmuwan dari Cordoba, Andalusia bernama Ibnu Firnas di abad ke-9 Masehi.



Abu al-Qasim 'Abbas bin Firnas bin Wardus, demikian nama lengkapnya, lahir sekitar tahun 810 M, di Ronda, Malaga, Spanyol.



Dia lahir di masa ketika benteng-benteng dibangun di sekitar kota dan Ronda mulai mengalami perkembangan pesat setelah Islam masuk ke Andalusia pada tahun 711 M.



Phillip K Hitti dalam bukunya yang berjudul History of The Arabs: From The Earliest Times to The Present pada tahun 1937, menceritakan tentang gagasan cemerlang Ibnu Firnas untuk mewujudkan manusia terbang.



"Kisah Ibnu Firnas telah menginspirasi banyak orang untuk dapat terbang," tulisnya.



"Ibnu Firnas adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan upaya ilmiah untuk terbang, itu membuatnya melegenda," tambah Hitti.



Ibnu Firnas adalah seorang penyair besar. Kehebatannya membuat ia kerap diundang sebagai penyair di Istana Imarah, Cordova, Spanyol.



Meski begitu, temuan kedua sayapnya menjadikannya melegenda dan lebih dikenal dunia.
Uji Coba Terbang



Seperti dikutip dari aplikasi Islami KESAN, Ibnu Firnas melakukan uji coba terbang pertamanya dengan sebuah jubah longgar yang disangga kayu sebagai sayap.



Ia melompat dari menara Masjid Cordoba dan terbang beberapa saat lalu jatuh.



Meski gagal, dia hanya mengalami cedera ringan. Ini menunjukkan ia sempat melayang.



Dengan percobaan pertamanya, bisa dikatakan Ibnu Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat alat terjun payung.


Kegagalan tak pernah membuatnya menyerah, Ibnu Firnas mendesain kembali perangkat terbangnya.



Ia menyempurnakan alat terbangnya menyerupai sayap burung yang dikepakkan dengan tangan, juga badan yang dilapisi bulu.


Di usia 65 tahun, ia menguji perangkat terbangnya di depan ribuan penonton, di Gunung Al-'Arus, Rusafa, Suriah.



Kali ini upayanya hampir berhasil. Dataran tinggi memungkinkannya untuk meluncur di udara, terbang selama lebih dari sepuluh menit sebelum akhirnya pendaratan buruk mencelakainya.



Kecelakaan tersebut melukai punggungnya. Ibnu Firnas mengalami patah tulang punggung dan membuatnya berhenti untuk mengembangkan perangkat penerbangan lebih lanjut.



Hikmahnya, ia menyadari pentingnya ekor pada burung saat mendarat.


Mattias Paul Scholz dalam bukunya berjudul Advanced NXT: the Da Vinci Inventions Book yang terbit pada 2007, menjelaskan tentang teori Ibnu Firnas yang direkam oleh Leonardo Da Vinci.



"Setelah kecelakaan uji terbang, Ibnu Firnas menyadari bahwa struktur ujung ekor adalah bagian penting untuk mendarat, dan ini mirip dengan bagaimana seekor burung menggunakan ekornya untuk mengurangi kecepatannya.




Struktur ini kemudian dinamai ornithopter oleh da Vinci," tulis Scholz dalam bukunya.



Pada 1260 M, Roger Bacon menulis tentang ornithopter theory yang didasari pada eksperimen dan gagasan Firnas.




Sayangnya, manuskrip yang ditulis Bacon menghilang begitu saja dalam perpustakaan Spanyol.



Hal tersebut kemudian berpengaruh pada berkurangnya pengakuan terhadap penemuan prototipe pesawat Ibnu Firnas.



Pada tahun 1908 M, Wright bersaudara mendemonstrasikan menerbangkan pesawat di Prancis, penemuan ini kemudian menenggelamkan peran Firnas sebagai pencipta prototipe.



Ibnu Firnas meninggal di tahun 887 M, tepatnya saat berusia 77 tahun.



Teorinya terbukti pada berbagai inovasi pesawat modern berabad-abad setelahnya.



Dunia penerbangan hari ini telah menjadi sangat kompleks dengan segala kecanggihannya.



Studi tentang ornithopter pun menjadi pembicaraan para ilmuwan, selain bagian sayap, ekor pesawat sangat penting untuk membuat pesawat mendarat dengan halus dan sempurna.

baca keseluruhan - Ibnu Firnas dari Andalusia, Manusia Terbang Pertama di Dunia

Jumat, 16 Juli 2021

Kisah Ilmuwan Muslim Penemu Cara Meluruskan Arah Kiblat

Nasiruddin Al Tusi, penemu cara meluruskan arah Kiblat (Foto: Wikipedia)

 

Umat muslim di dunia sore ini, Kamis 15 Juli 2021 bisa meluruskan arah Kiblat. Metode ini ditemukan tepat 8 abad silam.

 

Menurut LAPAN dari situs resminya, Matahari lewat di atas Kakbah 2 kali setahun, pada 27 Mei dan 15 Juli. 

 

Momen ini disebut Qibla Day atau Istiwa'ul Azham alias Great Culmination of Mecca atau Global Rashdul Qibla.

 

Saat Matahari di atas Kakbah, maka semua bayangan di Bumi akan mengarah langsung ke Kakbah. 

 

Inilah saat yang tepat untuk meluruskan arah Kiblat. Siapakah orang yang pertama kali menemukan metode ini?

 

Dihimpun dari laman Fakultas Sains, Universitas Utrecht, Belanda, metode meluruskan Kiblat dengan bayangan matahari dirintis oleh 2 ahli astronomi muslim abad ke-13. 

 

Yang pertama adalah Mahmud Bin Muhammad Bin Umar Al Jaghmini (wafat 1221) dari Jaghmin, Uzbekistan.


Tidak terlalu banyak catatan kisah hidupnya, namun dia menulis buku Al Mulakhkhas fi Al Hay'a (Compendium of Astronomy). 

 

Dia mengatakan meluruskan arah Kiblat bisa dilakukan ketika Matahari ada di atas Kakbah pada posisi 7,21º Gemini dan 22,39º Cancer.

 

Ilmuwan kedua yang lebih dikenal sejarawan adalah Nasiruddin Abu Ja'far Muhammad Bin Muhammad Al Tusi (1201-1274) dari Persia (Iran). 

 

Dia menulis buku Al Tadhkira Al Nasiriyya Fi Ilm Al Hay'a (Memoir on Science of Astronomy).

 

Al Tusi adalah ahli astronomi, logika, matematika, biologi, kimia dan filsafat serta menulis 150 buku sepanjang hidupnya. 

 

Dia juga disebut sebagai pelopor rumus Trigonometri. 

 

Sementara di bidang astronomi, salah satu prestasinya adalah membuat tabel pergerakan planet dan tentu saja menemukan motede untuk meluruskan arah Kiblat.


Meluruskan arah Kiblat dengan Matahari (Foto: CNN)

 

Dia mengatakan ada cara sederhana untuk meluruskan arah Kiblat yaitu ketika Matahari berada di titik zenith Makkah, pada 8º Gemini dan 23º Cancer. 

 

Perlu diketahui, karena sumbu rotasi Bumi miring 66,6º terhadap orbit Bumi, maka terjadi pergerakan semu tahunan Matahari dan lewat tepat di atas Kakbah dua kali setahun.

 

Pada saat itu, Al Tusi tidak menyebutkan tanggal Hijriah ataupun tanggal Masehi untuk menyebutkan kapan Matahari ada di atas Kakbah. 

 

Yang dia -- dan juga Al Jaghmini -- sebutkan adalah posisi lintang Matahari.

 

Mengapa demikian? Karena di abad ke-13 itu, konversi kalender Masehi dan Hijriyah belum umum dilakukan seperti di masa modern sekarang ini. 

 

Bangsa Eropa memakai kalender Masehi (Gregorian) sementara di Timur Tengah memakai kalender Hijriah (Islam).


Metode Al Tusi dan juga Al Jaghmini ratusan tahun kemudian akhirnya telah disempurnakan oleh para astronom dunia. 

 

Di zaman modern ini, kita sudah bisa menentukan waktu yang tepat untuk meluruskan arah Kiblat.

 

Jadwal kulminasi Matahari di atas Kakbah, yaitu pada Kamis sore, 15 Juli 2021 pukul 16.26 WIB / 17.26 Wita / 18.26 WIT. 

 

Pada saat kulminasi di waktu yang ditentukan, amatilah bayangan pada tiang yang lurus. Arah Kiblat adalah garis dari ujung bayangan menuju bagian pangkal tiang yang menancap di tanah.

 

Terima kasih kepada Al Tusi dan Al Jaghmini yang telah menemukan cara sederhana untuk meluruskan arah Kiblat ini.


baca keseluruhan - Kisah Ilmuwan Muslim Penemu Cara Meluruskan Arah Kiblat

Minggu, 30 Mei 2021

15 Ilmuwan Muslim Terkenal dan Penemuannnya

Para ilmuwan Muslim membuat penemuan yang sangat banyak di bidang kedokteran, fisika, kimia, filsafat, astronomi, geometri dan banyak lagi. Siapa saja?

Al-Battani (858 - 929). Albatenius adalah nama lain bagi Al-Battani. Dia adalah ahli matematika, ilmuwan, dan astronom Arab yang meningkatkan nilai untuk perhitungan panjang tahun dan musim.

Ibn Sina (980 - 1037). Juga dikenal sebagai Avicenna. Filsuf dan ilmuwan Persia ini terkenal karena kontribusinya pada filsafat dan pengobatan Aristoteles.

Ibn Battuta (1304 - 1369). Nama lainnya adalah Syams ad–Din. Dia adalah penjelajah dan sarjana Arab yang menulis salah satu buku perjalanan paling terkenal dalam sejarah, Rihlah.

Ibn Rushd (1126 - 1198). Ibn Rushd atau Averroes adalah filsuf dan sarjana Arab yang menghasilkan serangkaian ringkasan dan komentar pada sebagian besar karya Aristoteles dan tentang Republik Plato.

Muhammad ibn Musa Al-Khwarizmi (780 - 850). Dia juga dikenal sebagai Algoritmi atau Algaurizin. Karyanya yang paling terkenal adalah memperkenalkan angka Hindu-Arab dan konsep aljabar ke dalam matematika Eropa.

Omar Khayyam (1048 - 1131). Ahli matematika, astronom, dan penyair Persia ini, terkenal dengan prestasi ilmiahnya dan Rubaiyat (syair).

Thabit ibn Qurra (826 - 901). Thabit atau Thebit merupakan ahli matematika, dokter, dan astronom Arab. Dia adalah pembaharu pertama dari sistem Ptolemeus dan pendiri statistika.

Abu Bakar Al-Razi (865 - 925). Al-Razi atau Rhazes adalah ahli kimia dan filsuf Persia yang merupakan salah satu dokter terhebat dalam sejarah.

Jabir Ibn Haiyan (722-804). Bapak kimia Arab yang juga dikenal dengan nama Geber ini terkenal karena karyanya yang sangat berpengaruh di bidang kimia dan metalurgi.

Ibn Ishaq Al-Kindi (801 - 873). Al-Kindi, juga dikenal sebagai Alkindus, merupakan filsuf dan ilmuwan Arab yang dikenal sebagai filsuf Muslim pertama yang selalu bepergian.

Ibn Al-Haytham (965 – 1040). Al-Haytam atau Alhazen adalah astronom Arab dan ahli matematika yang dikenal karena kontribusinya yang penting pada prinsip-prinsip optik dan penggunaan eksperimen ilmiah.

Ibn Zuhr (1091 - 1161). Ibn Zuhr atau Avenzoar adalah dokter dan ahli bedah Arab yang terkenal dengan bukunya yang berpengaruh Al-Taisir Fil-Mudawat Wal-Tadbeer (Penyederhanaan Mengenai Terapi dan Diet).

Ibn Khaldun (1332 - 1406). Ibn Khaldun adalah ahli sejarah dan sejarawan Arab yang mengembangkan salah satu filsafat sejarah nonreligius paling awal. Dia sering dianggap sebagai salah satu pelopor historiografi, sosiologi, dan ekonomi modern. Buku Muqqadimah adalah maha karyanya.

Ibn Al-Baitar (1197 - 1248). Al-Baitar adalah ilmuwan, ahli botani dan tabib Arab yang secara sistematis mencatat penemuan-penemuan yang dibuat oleh para dokter Islam di Abad Pertengahan.

Abu Nasr Al-Farabi (872 - 950). Ilmuwan yang satu ini dikenal juga sebagai Alfarabius. Dia adalah ilmuwan dan filsuf Arab, dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka di era abad pertengahan. Foto: Famousscientist.org

baca keseluruhan - 15 Ilmuwan Muslim Terkenal dan Penemuannnya

Kamis, 23 April 2020

Seputar Teorema Phytagoras: Rumus dan Sejarah dalam Islam

Teorema Phytagoras mungkin tidak asing bagi kebanyakan siswa sekolah atau mahasiswa yang menekuni ilmu tersebut. 

Materi teorema Phytagoras mungkin bikin pusing namun punya banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Rumus teorema Phytagoras adalah :

c2 = a2 + b2

Dengan C adalah sisi miring serta A dan B adalah dua sisi lain yang disebut alas dan tinggi. 

Aplikasi teorema Phytagoras tak hanya dalam bentuk dua dimensi namun juga bangun ruang yang disertai perhitungan sudut.

Teorema Phytagoras biasanya diterapkan pada segitiga siku-siku dengan dua sisinya diketahui lebih dulu. 

Berawal dari teorema Phytagoras dikenal susunan angka yang berasal dari penghitungan kuadrat disebut tripel Phytagoras.

Rumus dalam teorema Phytagoras ditemukan seorang ilmuwan asal Yunani dengan nama yang sama yaitu Phytagoras. 

Dalam perkembangannya, teorema phytagoras ditulis kembali (redefining) ilmuwan Islam bernama Tsabit bin Qurrah.

Hal ini tertulis dalam Thabit Ibn Qurra and The Pythagorean Theorem Robert Shloming, yang dipublikasikan National Council of Teachers of Mathematics. 

Tsabit bin Qurrah diakui sebagai salah satu ilmuwan terbesar di zaman tersebut meski tidak semua karyanya dikenal luas.

Tsabit bin Qurrah memiliki nama lengkap Abu'l Hasan Tsabit bin Qurra' bin Marwan al-Sabi al-Harrani. 

Dia hidup pada periode 826-901 M dan menghabiskan masa hidupnya di Baghdad, Irak. 

Tsabit mengikuti jejak Musa bin Shakir yang saat itu mengajaknya belajar dan ahli dalam matematika serta astronomi.

Penjelasan Tsabit terhadap teorema phytagoras diakui sebagai karya yang elegan dan sempurna.

Dia membedah hingga detail dan menyamakan pemahaman teorema Phytagoras sehingga tak ada lagi bias pengertian. 

Saat ini karya Tsabit disimpan di perpustakaan Museum Aya Sofya, Turki.

Selain sebagai ahli matematika yang menulis dan menjelaskan kembali teorema phytagoras, Tsabit bin Qurrah juga dikenal sebagai penerjemah handal. 

Keahliannya terutama dalam bahasa Yunani dan Syriac yang diterjemahkan dalam bahasa Arab hingga mendirikan sekolah khusus penerjemah (school of translation) di Baghdad. 

Beberapa ilmuwan yang sempat menuntut ilmu di sekolah tersebut adalah Qusta bin Luqa, Ishaq bin Hunain, dan Al-Kindi.
baca keseluruhan - Seputar Teorema Phytagoras: Rumus dan Sejarah dalam Islam

Rabu, 15 April 2020

Sejarah Sabun, Zaman Babilonia Hingga Disempurnakan Ilmuwan Islam

Selama pandemi COVID-19, sabun wajib ada tiap fasilitas cuci tangan. Kandungan sabun terbukti efektif menjaga kebersihan dan mencegah infeksi virus corona.

Sabun yang kini mudah ditemukan dalam berbagai bentuk dan fungsi, ternyata punya sejarah panjang. 

Dikutip dari Morocco World News, penemuan sabun dimulai pada zaman Babilonia sekitar 2.800 SM. 

Bangsa Mesir kuno, Romawi, dan Yunani juga membuat sabun dengan mencampur lemak, minyak, dan garam.

Namun saat itu, sabun tidak dibuat untuk kebersihan diri sendiri atau personal hygiene. Sabun dibuat untuk membersihkan produksi tekstil, medis, alat makan, dan peralatan rumah tangga lainnya. 

Untuk keperluan tersebut, sabun tersedia dalam aroma yang kurang sedap dengan bentuk mirip sabun colek.

Dikutip dari History of Science and Technology in Islam, bentuk sabun itulah yang disempurnakan ilmuwan muslim Abu Bakr Muhammad Ibn Zakariya Al Razi. 

Ilmuwan yang lahir di Teheran, Iran, tersebut dikenal juga dengan nama Rhazes atau Rasis. Proses pembuatan sabun hasil modifikasi Al-Razi menggunakan minyak wijen atau zaitun, alkali, dan lemon (lime).

Bahan sabun tersebut dimasak sedemikian rupa hingga keras dan diberi pewangi. 

Hasil modifikasi sabun Al-Razi memudahkan masyarakat menjaga kebersihan diri dan mencegah bau badan. 

Termasuk bagi umat muslim yang tubuhnya wajib bersih tiap kali hendak sholat dan jangan sampai berbau tidak sedap.

Modifikasi sabun bukan satu-satunya karya Al-Razi bagi peradaban manusia. 

Dikutip dari situs US National Library of Medicine National Institutes of Health, Al-Razi adalah seorang dokter yang terkenal. 

Dia juga menguasai filsafat seperti ditulis dalam artikel berjudul Abu Bakr Muhammad Ibn Zakariya Al Razi (Rhazes): Philosopher, Physician and Alchemist.

Al-Razi menjadi direktur rumah sakit di kampung halamannya Al-Rayy selama pemerintahan Mansur Ibn Ishaq Ibn Ahmad Ibn Asad dari Dinasti Samanian. 

Keunggulan Al-Razi didengar penguasa Dinasti Abbasiyah hingga dia dipanggil Khalifah Al-Muktafi. Al-Razi kemudian menjadi direktur rumah sakit terbesar di Baghdad.

Sebagai dokter, Al-Razi terkenal dengan metode memilih lokasi pendirian rumah sakit. Dia menempatkan beberapa potong daging segar di berbagai lokasi di Baghdad. 

Setelah beberapa hari, Al-Razi membandingkan kesegaran potongan daging tersebut. Lokasi rumah sakit dipilih di tempat dengan potongan daging lebih segar, karena dianggap memiliki kualitas udara lebih baik dan sehat.

Selama menjadi tenaga kesehatan, Al-Razi dikenal sangat dermawan dan mementingkan aspek kemanusiaan. 

Al-Razi merawat pasien dengan mendengar tiap keluhan, saran, dan tanpa biaya. Setelah beberapa tahun mengabdi, Al-Razi mengalami katarak di kedua matanya hingga buta dan wafat. 

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Al-Hawi fi al-Tibb yang dikenal dengan Liber Continents.
baca keseluruhan - Sejarah Sabun, Zaman Babilonia Hingga Disempurnakan Ilmuwan Islam

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense