# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label ac milan legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ac milan legend. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2021

Dinasti Maldini Capai 1000 Laga di Serie A untuk AC Milan: Dari Sang Kakek hingga Cucu

 

Dinasti Maldini bakal menjadi legenda di sepak bola Italia. Sebab, dari tiga nama Maldini yang bermain di Serie A, total jumlah penampilan mereka mencapai 1.000 laga dan bisa bertambah.

 

Laga AC Milan vs Juventus mungkin tidak berakhir manis bagi tuan rumah. 

 

Sebab, Milan kalah dengan skor 1-3 dari Juventus pada laga yang digelar di San Siro, Kamis (7/1/2021) dini hari WIB itu.

 

Bagi Milan ini adalah kekalahan pertama yang dialami pada musim 2020/2021 di Serie A. Lebih jauh, ini adalah kekalahan pertama Rossoneri dalam 304 hari atau setelah 27 laga beruntun.

 

Namun, di balik hasil buruk itu, ada sejarah besar yang sukses dicetak dinasti Maldini.


1.000 Laga dari Dinasti Maldini

 

Seperti dikutip dari Opta, ada sejarah penting yang tercipta pada laga AC Milan vs Juventus. 

 

Momen itu terjadi saat Daniel Maldini dimainkan pada menit ke-80, menggantikan Davide Calabria.

 

Pemain berusia 19 tahun itu pun mencatatkan penampilan ke-6 di Serie A. Semuanya untuk AC Milan.

Nah, jika digabung dengan caps sang ayah Poalo Maldini dan kakeknya Cesara Maldini, maka keluarga ini telah menatat 1.000 laga di Serie A. 

 

Cesare punya 347 penampilan dan Paolo punya 647 untuk AC Milan.

Dinasti Maldini bakal dicatat dalam sejarah AC Mmilan. Sebab, mereka menjadi klan dengan jumlah keterlibatan paling banyak di Milan. 

 

Sejauh ini, Milan telah memainkan 2.918 laga di Serie A dan dinasti Maldini ambil bagian pada seperti dari laga itu.


Simbol Kejayaan

 

Dinasti Maldini, khususnya Cesare dan Paolo, telah memberikan banyak hal untuk AC Milan. 

 

Bahkan, tidak berlebihan jika menyebut kedua pemain adalah simbol kejayaan bagi Rossoneri di masa lalu.

 

Sebagai pemain, Cesare memberikan empat gelar Serie A dan satu Liga Champions. Sebagai pelatih, Cesare memberikan gelar Coppa Italia, dan Piala Winners.

 

Paolo memberikan lebih banyak gelar dari sang ayah. 

 

Bek kiri ikonik Milan itu meraih tujuh scudetto, lima gelar Liga Champions, lima gelar UEFA Super Cup, satu Coppa Italia, dan lima Supercoppa Italiana.

 

Kini, giliran Daniel Maldini yang akan meneruskan tongkat estafet dari kakek dan ayahnya. 

 

Daniel diyakini punya bakat yang besar, walau sejauh ini belum bermain secara reguler.

baca keseluruhan - Dinasti Maldini Capai 1000 Laga di Serie A untuk AC Milan: Dari Sang Kakek hingga Cucu

Rabu, 22 April 2020

AC Milan 1993/1994: Scudetto Walau Hanya Cetak 35 Gol dan Juara Liga Champions!

AC Milan sukses meraih scudetto pada Serie A musim 1993/1994 yang lalu. 

Menariknya, Rossoneri sukses meraih gelar juara walau hanya mencetak 36 gol dari 34 laga yang dimainkan. 

Milan juga juara Liga Champions pada musim ini.

Di era sepak bola modern, mencetak gol dianggap sebagai faktor penting bagi sebuah tim untuk menang. 

Makin banyak mencetak gol, peluang menang pun diklaim makin besar. Makin sering menang, juara makin dekat.

Pada musim 2019/2020 ini misalnya, Lazio secara mengejutkan mampu bersaing di papan atas. Tajamnya lini depan Lazio yang dikomandoi Ciro Immobile menjadi kunci. 

Lazio mencetak 60 gol dari 26 laga dan berada di posisi kedua klasemen.

Namun, yang terjadi pada Serie A musim 1993/1994 berbeda dengan wajah sepak bola saat itu. Ketika itu, tim-tim di Serie A memprioritaskan lini belakang dan AC Milan adalah contoh paling sempurna.

Persaingan Serie A Musim 1993/1994

 

Serie A musim 1993/1994 menampilkan persaingan yang sangat sengit. AC Milan masih menjadi kekuatan utama Serie A usai sukses meraih scudetto pada musim 1991/1992 dan 1992/1993. Milan punya skuad yang hebat.

Lalu, ada Inter Milan yang menjadi runner-up pada musim 1992/1993. 

Kala itu, Inter Milan punya pemain top seperti Dennis Bergkamp, Ruben Sosa, Giuseppe Bergomi, dan Walter Zenga.

Juventus juga menjadi penantang kuat scudetto. Roberto Baggio menjadi andalan bagi Si Nyonya Tua. 

Pada musim 1993/1994, pemain yang dikenal dengan gaya ramput kuda tersebut mencetak 17 gol di Serie A.

Selain itu, masih ada kekuatan lama seperti Parma dan Sampdoria. Parma ketika itu punya pemain andalan Gianfranco Zola dan Faustino Asprilla. 

Sedangkan, Sampdoria punya Roberto Mancini dan Ruud Gullit.
Lazio juga meramaikan persaingan papan atas klasemen. Klub asal ibukota punya mesin gol bernama Giuseppe Signori. Pada musim ini, Giuseppe Signori sukses mencetak 23 gol dan menjadi top skor Serie A.

Milan Scudetto Musim 1993/1994

 

Fabio Capello yang menjadi pelatih AC Milan dibekali banyak pemain bintang pada musim 1993/1994. 

Khususnya di lini belakang. Fabio Capello bisa menerapkan taktik bertahan atau Catenaccio dengan sangat leluasa bermodal pemain yang ada di skuad.

Fabio Capello masih punya sosok yang berpengaruh yakni Franco Baresi di lini belakang. 

Selain itu, ada juga dua pemain muda yang performanya menanjak yakni Alessandro Costacurta dan Paolo Maldini.

Milan juga memiliki Filippo Galli, Mauro Tassotti, dan Christian Panucci.

Di lini tengah, Milan punya Marcel Desailly, Demetrio Albertini, Roberto Donadoni, Brian Laudrup, dan Zvonimir Boban. 

Kinerja apik mereka menopang duet Daniele Massaro dan Jean-Pierre Papin di lini depan.
Dengan materi pemain tersebut, Milan tampil sangat perkasa di Serie A. Milan meraih scudetto musim 1993/1994. 

Milan menutup kompetisi dengan meraih 50 poin dari 34 laga. Milan unggul tiga poin dari Juventus yang berada di posisi kedua.

Catenaccio Racikan Fabio Capello

 

Lini pertahanan menjadi kunci dari sukses AC Milan meraih scudetto pada musim 1993/1994.

AC Milan memang hanya mencetak 36 gol, tetapi mereka juga kebobolan sangat sedikit. Milan hanya kebobolan 15 gol dari 34 laga yang dimainkan.

AC Milan menjadi tim dengan tingkat kebobolan paling sedikit dibanding tim Serie A lainnya. Juventus yang berada di posisi kedua kebobolan 25 gol.

Jumlah gol Milan memang sedikit, hanya 36 gol. Jumlah tersebut kalah jauh dari Juventus yang mencetak 58 gol. 

Bahkan, Inter Milan yang berada di posisi ke-13 mampu mencetak 46 gol. Sampdoria yang berada di posisi ketiga menjadi tim paling produktif dengan 64 gol.

Namun, pertahanan adalah kunci bagi AC Milan. Milan hanya dua kebobolan lebih dari satu gol dalam satu laga. 

AC Milan mengalami momen itu ketika kalah dengan skor 3-2 dari Sampdoria pada laga pekan ke-10 dan imbang 2-2 lawan Udinese pada pekan ke-32.
Milan bahkan tidak kebobolan pada tujuh laga awal secara beruntun. Mauro Tassotti dan kawan-kawan tercatat 22 kali cleansheet dalam satu musim. Capaian yang luar biasa.

Cattenacio vs Total Voetbal di Liga Champions

 

Bukan hanya berjaya di Serie A, AC Milan juga meraih kejayaan di Liga Champions. Rossoneri mampu melaju ke final dan berjumpa Barcelona pada laga yang digelar di Stadion Olimpiade, Athena, 18 Mei 1994.

Saat itu, Barcelona punya trio lini depan top pada sosok Txiki Begiristain, Romario, dan Hristo Stoichkov. Klub asal Catalan juga dilatih sosok yang begitu sohor dengan taktik 'total voetbal' yakni Johan Cruyff.
Namun, yang terjadi pada laga final justru antiklimaks. Barcelona dengan gaya bermain menyerangnya tidak mampu mencetak gol. 

Josep Guardiola di lini tengah tidak mampu menghadapi duet Albertini dan Desailly di pihak AC Milan.

AC Milan menang dengan skor 4-0 atas Barcelona di final Liga Champions 1993/1994. Daniele Massaro mencetak dua gol untuk AC Milan. 

Sedangkan, dua gol lainnya dicetak Dejan Savicevic dan Marcel Desailly.
Forza Milan!
baca keseluruhan - AC Milan 1993/1994: Scudetto Walau Hanya Cetak 35 Gol dan Juara Liga Champions!

Senin, 20 Januari 2014

Sejarah Hari Ini (20 Januari): Debut Paolo Maldini

Paolo Maldini membuat satu lompatan masif, tepat hari ini 29 tahun yang lalu, yakni melakoni debutnya sebagai pemain profesional bersama AC Milan di usia yang sangat belia: 16 tahun. Dalam debutnya tersebut, Maldini masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua.

Maldini mengikuti jejak ayahnya, Cesare, yang bermain di posisi bertahan. Dalam kurun 1954 hingga 1966, sang ayah memenangkan empat gelar Serie A dan European Cup - nama lawas dari Liga Champions - edisi 1963. Rupanya, sejarah hebat yang pernah dilukiskan sang bapak tertular pada sang anak. 

Maldini lahir pada 1968 silam dan bergabung ke tim Muda Milan di usia 10 tahun. Di periode 1985, dia mendapatkan tempat di bench sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk mengukir momen paling membanggakan dalam hidupnya. Untuk kali pertama dengan seragam Rossoneri, dia melakoni penampilan perdananya dengan masuk sebagai pemain pengganti di paruh kedua laga kontra Udinese. Pertandingan itu berakhir imbang dan penampilan itu sekaligus menjadi satu-satunya kesempatan dia unjuk gigi di sebuah laga resmi Milan pada musim tersebut.

Seiring performa Maldini yang terus berkembang pesat, dia kemudian dipercaya untuk menjadi pemain reguler di musim selanjutnya. Dia pun mampu menorehkan total 40 penampilan di semua kompetisi. 

Abdinya bagi Milan tercatat dalam 25 musim tanpa sekalipun pernah menanggalkan seragam Merah-Hitam. Dalam kurun waktu itu, dia telah memenangkan tujuh Scudetto dan lima trofi European Cup/Liga Champions.

Salah satu supremasi terbaik yang pernah ditancapkan Maldini bagi Milan ketika dia mampu mengantar Si Setan Merah merengkuh gelar ganda: Serie A dan Liga Champions di muism 1993/94. Catatan bersejarah itu berlanjut dengan kegemilangan sang bek legendaris membawa timnas Italia menjadi runner-up Piala Dunia 1994 - kalah adu penalti dari Brasil.

Atas kinerja luar biasanya itu, World Soccer Magazine tak ragu menempatkan namanya untuk merengkuh anugerah World Player of the Year pada 1994 - pertama kalinya penghargaan diberikan buat seorang defender.  

Nama Maldini tak akan pernah lekang dengan sejarah besar Milan. Bicara Maldini, berarti bicara Rossoneri. Ketika dia telah jatuh-bangun dan pasang-surut dalam catatan 902 laga - rekor jumlah penampil terbanyak dalam sejarah klub - yang dilakoninya bagi Milan, maka pantas bila berbagai pihak akan selalu hormat terhadap pria 45 tahun ini.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (20 Januari): Debut Paolo Maldini

Kamis, 03 Oktober 2013

Sejarah Hari Ini (29 September): Ulang Tahun Andriy Shevchenko

Legenda Milan yang membawa I Rossoneri juara Liga Champions 2003 hari ini genap 37 tahun.Pada 29 September 1976, pemain internasional Ukrainan sekaligus peraih Ballon d'Or Andriy Shevchenko lahir di sebuah desa di Soviet Dvirkivsvhyna, yang berlokasi di provinsi Kiev, yang sekarang menjadi negara meredeka, Ukraina. Kecintaannya terhadap sepakbola, Sheva tumbuh sebagai salah satu striker berbahaya di Eropa. 

Shevchenko main di tim junio Dinamo Kiev dan menandatangani kontrak profesional pada 1994. Dalam debutnya di klub raksasa Ukraina, Sheva tampil di 23 pertandingan di semua kompetisi dan membukukan tiga gol. Hingga 1999, dia menjalani 166 penampilan dan mencetak 94 gol dalam proses tersebut. 

Lima tahun berseragam Kiev, Sheva berperan besar membantu tim memenangkan lima titel Liga Primer Ukraina secara konsekutif (1995-99), tiga Piala Ukraina (1996, 1998, 1999) dan tiga Commonwealth of Independent States Cup (1996-1998). 

Performa impresifnya ternyata membuat raksasa AC Milan kepincut, sampai mereka menggelontorkan mahar $25 juta demi memboyong Sheva ke San Siro. Tak butuh waktu lama baginya beradaptasi dengan Il Diavolo Rosso. Di musim perdana saja, Milan kebagian 24 golnya di Serie A setelah melakoni 32 pertandingan, sayang ketika itu tim gagal merebut Scudetto karena harus finis di belakang Lazio dan Juventus. 

Meski demikian, Sheva tetap menyuguhkan ketajamannya di depan gawang. Jadi tak heran jika dia menjadi idola baru di San Siro. Gelar pertamanya bersama Setan Merah diraih pada 2003, mengawinkan trofi Coppa Italia dan Liga Champions. Milan akhirnya merengkuh Scudetto setahun kemudian, dengan Sheva kembali finis sebagai capocannoniere dengan 24 golnya. 

2004 benar-benar menjadi tahun kejayaannya baginya, karena FIFA memberikan kompensasi atas kerja kerasnya di lapangan dengan sebuah penghargaan individu prestisius, Ballon d'Or. 

Sayang, di tengah euforia memiliki bintang, Milanisti kembali harus berduka. Pada 28 Mei 2006, I Rossoneri tak keberatan melepas idola tifosi kepada Chelsea yang 'menenteng' fulus £30,8 juta untuk tanda tangan pemain yang melakoni 296 pertandingan untuk Milan di semua kompetisi, mencetak 173 gol. Itu menjadi rekor tertinggi yang dibuat klub Inggris. 

Meski demikian, momennya bersama The Blues tak seindah saat berseragam Milan. Rangkaian cedera serta tidak sepaham dengan Jose Mourinho, lalu Avram Grant membuatnya tak mendapat banyak menit bermain. Sheva hanya bertahan dua musim di Stamford Bridge, sebelum akhirnya dipinjamkan ke Milan di musim 2008/09. 

Periode kedua Sheva di Milan juga tak berjalan mulus, gagal mencetak gol liga dan hanya mampu menyumbang dua gol dari total 26 penampilan, hanya sembilan diantaranya sebagai starter. Di akhir musim, Milan mengonfirmasi Shevchenko akan kembali ke Chelsea untuk menghabiskan sisa dari empat tahun kontraknya.

Sheva pun kembali ke klub masa lalunya, Dinamo Kiev, sebelum memutuskan pensiun pada 28 Juli 2012 dan memutuskan memasuki dunia politik. Dia mengikuti pemilihan Parlemen Ukraina pada Oktober 2012, namun partainya gagal memenangkan pemilihan tersebut. 

Sementara karier di timnas Ukraina, Sheva mencatat 111 caps dan mencetak 48 gol. Pencapaian terbaiknya adalah mengapteni The Yellow Blues hingga ke perempat-final Piala Dunia 2006. Setelah terjadi kontroversi di penyisihan Grup D Euro 2012 kontra Inggris, Sheva memutuskan pensiun dari timnas dan menolak tawaran federasi menukangi The Yellow Blues. 


ANDRIY SHEVCHENKO

Nama: Andriy Mykolayovych Shevchenko

Tempat, Tanggal Lahir: Kiev, 29 September 1976

Karier Pemain: Dinamo Kiev (1994–1999)
                         AC Milan (1999–2006)
                         Chelsea (2006–2009)
                         AC Milan-pinjaman (2008–2009)
                         Dinamo Kiev (2009–2012)
Koleksi Gelar
Dinamo Kiev: Liga Primer: 1995, 1996, 1997, 1998, 1999
Piala Ukraina: 1996, 1998, 1999
Piala Super Ukraina: 2011
CIS Cup: 1996, 1997, 1998

AC Milan: 

Serie A: 2003/04
Coppa Italia: 2003
Supercoppa Italiana: 2004
Liga Champions: 2003
Piala Super Eropa: 2003

Chelsea:
Piala FA: 2007
Piala Liga: 2007
Community Shield: 2009
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (29 September): Ulang Tahun Andriy Shevchenko

Jumat, 21 Desember 2012

10 Pemain Legendaris AC Milan

AC Milan merupakan salah satu klub tersukses di jagad sepakbola. Status itu tak lepas dari peran besar para talenta luar biasa yang pernah bermain untuk mereka.

Dari dahulu hingga sekarang, banyak pemain hebat di kubu merah-hitam kota Milan, tapi hanya beberapa yang pantas disebut legenda.

Berikut ini sepuluh pemain paling legendaris dalam sejarah Milan.

Cesare adalah perintis dinasti Maldini di Milan. Dia bergabung dengan AC Milan dari Triestina pada 1954 silam. Tahukah Anda? Cesare juga seorang pemain belakang. Berkat Cesare pula, AC Milan mendapatkan kapten terhebat sepanjang masanya, Paolo Maldini.
Kaka mendarat di Milan dari Sao Paulo pada 2003 dengan biaya transfer sebesar 8,5 juta Euro. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan tempat di starting line-up dan 'melempar' si jenius Manuel Rui Costa ke bangku cadangan. Kaka telah memberi kontribusi besar selama 2003 hingga 2009. Dia adalah inspirator Milan ketika menjuarai Liga Champions 2006-2007 sebagai top scorer turnamen sekaligus best playerPada 2009, Kaka meninggalkan San Siro menuju Santiago Bernabeu dengan transfer senilai 65 juta Euro. Banyak pihak mengharap Kaka bisa menjadi kapten Milan, tapi dia ingin bermain untuk Real Madrid, dan harapannya terkabulkan.
Marco Van Basten adalah salah satu pemain hebat yang pernah ada. Pada Maret 2007, Sky Sports menempatkan Van Basten di posisi teratas dalam daftar pesepakbola terbaik dengan karier singkat. Cedera memang menghancurkan sang legenda Belanda, tapi dia telah menunjukkan kepada dunia sebuah permainan yang luar biasa.
Gunnar Nordahl dianggap sebagai pemain terbaik dalam sejarah persepakbolaan Swedia. Namun yang membuat Nordahl masuk daftar legenda Milan bukanlah itu, akan tetapi karena rekor golnya untuk Milan yang hingga kini belum terpecahkan. Dia masih menyandang status top scorer abadi Milan dengan 221 gol dalam 268 penampilan (1949-1956). Torehan yang luar biasa! Dia juga, sampai sekarang, masih tercatat sebagai pemain tersubur kedua sepanjang sejarah Serie A dengan 225 gol, 210 bersama Milan dan 15 bersama Roma, setingkat di bawah Silvio Piola (274 gol).
Mauro Tassotti bermain selama 17 tahun untuk Milan. Selama periode 1980-1997, bek sayap yang sangat hebat dalam menjelajah sektor kanan lapangan itu telah ikut membantu Milan memenangi sederet trofi bergengsi. Tiga trofi European Cup/Liga Champions, tiga Piala Super Eropa, dua Piala Interkontinental, lima Scudetto Serie A dan empat mahkota Supercoppa Italiana merupakan sumbangsih Tassotti untuk Milan. Tasssotti membukukan total 583 penampilan dan 10 gol bersama Milan.
Andriy Shevchenko Salah satu mesin gol terbaik yang pernah ada. Pria yang menempati urutan kedua dalam daftar top scorer sepanjang masa Milan. Sheva dikenal karena kemampuan finishing-nya yang luar biasa. Dia mengukir 175 gol dalam 322 penampilannya untuk Milan. Legenda Ukraina eksekutor penalti penentu kemenangan atas Juventus di final Liga Champions 2003 itu menghiasi kariernya di Milan dengan sejumlah penghargaan individual, dan yang paling bergengsi adalah Ballon d'Or 2004.
Costacurta adalah bek sentral tangguh dan merupakan salah satu jebolan terbaik akademi Milan. Bersama Baresi, Tassotti dan Maldini, Costacurta menciptakan barisan pertahanan terhebat di Serie A serta Eropa selama era 1990-an. Dia memperkuat Milan dari 1986 hingga 2007 dan turut memenangi tujuh Scudetto. 19 Mei 2007 adalah penampilan terakhirnya di San Siro ketika Milan dikalahkan Udinese 2-3. Dia mencetak satu gol dari titik putih. Dia ditarik keluar pada penghujung laga dan mendapatkan standing ovation dari para tifosi setia Milan.
Gianni Rivera dijuluki the Golden Boy persepakbolaan Italia. Dia memperkuat Milan sejak 1960 sampai 1979 dan mencetak total 164 gol dalam 658 penampilan. Gelandang kelahiran Alessandria itu merupakan salah satu peraih Ballon d'Or sebagai pemain Milan, yaitu ketika dia memenanginya pada 1969 silam. Tiga gelar Serie A dan dua European Cup ikut disumbangkannya untuk sang raksasa Italia.
Franco Baresi adalah salah satu bek terbaik dalam sejarah. Dia merupakan tembok baja di lini pertahanan Milan dan timnas Italia selama hampir lebih dari dua dekade. Baresi sempat diajak Giuseppe, saudaranya yang kemudian menjadi legenda Inter Milan dan kini menjabat asisten pelatih sang rival sekota, untuk menjalani trial di Inter, tapi dia ditolak. Baresi tidak menyerah dan menjajal 'adu nasib' ke tim primavera Milan. Dia diterima, lalu berhasil menciptakan legendanya sendiri. Selama 1977 hingga 1997, Baresi mencatatkan total 719 penampilan serta 33 gol bersama Milan, dan telah memenangi segalanya.
Salah satu pemain paling loyal dalam sejarah Milan. Dianggap sebagai pemimpin paling hebat oleh para koleganya sesama pesepakbola, dan itu membuat dia mendapatkan julukan Il CapitanoDia adalah pemain dengan masa pengabdian terlama di Milan, yaitu 24 tahun dan 132 hari (dari 20 Januari 1985 sampai 31 Mei 2009). Dia adalah pria yang membukukan penampilan terbanyak untuk Milan, yaitu 902. Dia adalah pemenang tujuh Scudetto, satu Coppa Italia, lima Supercoppa Italiana, lima European Cup/Liga Champions, lima Piala Super Eropa, dua Piala Interkontinental dan satu Piala Dunia Antarklub FIFA. Dia adalah Paolo Maldini, simbol, legenda Milan, dan salah satu bek terbaik yang pernah ada.
baca keseluruhan - 10 Pemain Legendaris AC Milan

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense