Tampilkan postingan dengan label ac milan legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ac milan legend. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Januari 2021
Dinasti Maldini Capai 1000 Laga di Serie A untuk AC Milan: Dari Sang Kakek hingga Cucu
baca keseluruhan - Dinasti Maldini Capai 1000 Laga di Serie A untuk AC Milan: Dari Sang Kakek hingga Cucu
Rabu, 22 April 2020
AC Milan 1993/1994: Scudetto Walau Hanya Cetak 35 Gol dan Juara Liga Champions!
AC Milan sukses meraih scudetto pada Serie A
musim 1993/1994 yang lalu.
Menariknya, Rossoneri sukses meraih gelar
juara walau hanya mencetak 36 gol dari 34 laga yang dimainkan.
Milan
juga juara Liga Champions pada musim ini.
Di
era sepak bola modern, mencetak gol dianggap sebagai faktor penting
bagi sebuah tim untuk menang.
Makin banyak mencetak gol, peluang menang
pun diklaim makin besar. Makin sering menang, juara makin dekat.
Pada
musim 2019/2020 ini misalnya, Lazio secara mengejutkan mampu bersaing
di papan atas. Tajamnya lini depan Lazio yang dikomandoi Ciro Immobile
menjadi kunci.
Lazio mencetak 60 gol dari 26 laga dan berada di posisi
kedua klasemen.
Namun, yang terjadi pada Serie A musim 1993/1994
berbeda dengan wajah sepak bola saat itu. Ketika itu, tim-tim di Serie A
memprioritaskan lini belakang dan AC Milan adalah contoh paling
sempurna.
Persaingan Serie A Musim 1993/1994
Serie A musim 1993/1994 menampilkan persaingan yang
sangat sengit. AC Milan masih menjadi kekuatan utama Serie A usai sukses
meraih scudetto pada musim 1991/1992 dan 1992/1993. Milan punya skuad
yang hebat.
Lalu, ada Inter Milan yang menjadi runner-up pada
musim 1992/1993.
Kala itu, Inter Milan punya pemain top seperti Dennis
Bergkamp, Ruben Sosa, Giuseppe Bergomi, dan Walter Zenga.
Juventus
juga menjadi penantang kuat scudetto. Roberto Baggio menjadi andalan
bagi Si Nyonya Tua.
Pada musim 1993/1994, pemain yang dikenal dengan
gaya ramput kuda tersebut mencetak 17 gol di Serie A.
Selain itu,
masih ada kekuatan lama seperti Parma dan Sampdoria. Parma ketika itu
punya pemain andalan Gianfranco Zola dan Faustino Asprilla.
Sedangkan,
Sampdoria punya Roberto Mancini dan Ruud Gullit.
RT footballremind: A REMINDER:— ️️️️ D🔙 🔛 🔝 🔜 (@DWTQ) August 29, 2017
Giuseppe Signori was top scorer in Serie A in 1992/93, 1993/94 and 1995/96. A qual… pic.twitter.com/vWm3ANmXYV
Lazio
juga meramaikan persaingan papan atas klasemen. Klub asal ibukota punya
mesin gol bernama Giuseppe Signori. Pada musim ini, Giuseppe Signori
sukses mencetak 23 gol dan menjadi top skor Serie A.
Milan Scudetto Musim 1993/1994
Fabio Capello yang menjadi pelatih AC Milan dibekali
banyak pemain bintang pada musim 1993/1994.
Khususnya di lini belakang.
Fabio Capello bisa menerapkan taktik bertahan atau Catenaccio dengan
sangat leluasa bermodal pemain yang ada di skuad.
Fabio Capello
masih punya sosok yang berpengaruh yakni Franco Baresi di lini belakang.
Selain itu, ada juga dua pemain muda yang performanya menanjak yakni
Alessandro Costacurta dan Paolo Maldini.
Milan juga memiliki Filippo Galli, Mauro Tassotti, dan Christian Panucci.
Di
lini tengah, Milan punya Marcel Desailly, Demetrio Albertini, Roberto
Donadoni, Brian Laudrup, dan Zvonimir Boban.
Kinerja apik mereka
menopang duet Daniele Massaro dan Jean-Pierre Papin di lini depan.
🔴⚫️ 1994 winner & AC Milan legend Zvonimir Boban is 50 today! 🎉🎉🎉#UCL @acmilan pic.twitter.com/k4sLwJ31lT— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) October 8, 2018
Dengan
materi pemain tersebut, Milan tampil sangat perkasa di Serie A. Milan
meraih scudetto musim 1993/1994.
Milan menutup kompetisi dengan meraih
50 poin dari 34 laga. Milan unggul tiga poin dari Juventus yang berada
di posisi kedua.
Catenaccio Racikan Fabio Capello
Lini pertahanan menjadi kunci dari sukses AC Milan
meraih scudetto pada musim 1993/1994.
AC Milan memang hanya mencetak 36
gol, tetapi mereka juga kebobolan sangat sedikit. Milan hanya kebobolan
15 gol dari 34 laga yang dimainkan.
AC Milan menjadi tim dengan
tingkat kebobolan paling sedikit dibanding tim Serie A lainnya. Juventus
yang berada di posisi kedua kebobolan 25 gol.
Jumlah gol Milan
memang sedikit, hanya 36 gol. Jumlah tersebut kalah jauh dari Juventus
yang mencetak 58 gol.
Bahkan, Inter Milan yang berada di posisi ke-13
mampu mencetak 46 gol. Sampdoria yang berada di posisi ketiga menjadi
tim paling produktif dengan 64 gol.
Namun, pertahanan adalah kunci
bagi AC Milan. Milan hanya dua kebobolan lebih dari satu gol dalam satu
laga.
AC Milan mengalami momen itu ketika kalah dengan skor 3-2 dari
Sampdoria pada laga pekan ke-10 dan imbang 2-2 lawan Udinese pada pekan
ke-32.
A.C. Milan won the league in 1994 by scoring just 36 goals in 34 games and conceding 15 goals.— 90s Football (@90sfootball) April 13, 2020
Defence wins titles. pic.twitter.com/6WmnuMoa0w
Milan
bahkan tidak kebobolan pada tujuh laga awal secara beruntun. Mauro
Tassotti dan kawan-kawan tercatat 22 kali cleansheet dalam satu musim.
Capaian yang luar biasa.
Cattenacio vs Total Voetbal di Liga Champions
Bukan hanya berjaya di Serie A, AC Milan juga meraih
kejayaan di Liga Champions. Rossoneri mampu melaju ke final dan berjumpa
Barcelona pada laga yang digelar di Stadion Olimpiade, Athena, 18 Mei
1994.
Saat itu, Barcelona punya trio lini depan top pada sosok
Txiki Begiristain, Romario, dan Hristo Stoichkov. Klub asal Catalan juga
dilatih sosok yang begitu sohor dengan taktik 'total voetbal' yakni
Johan Cruyff.
🏆 1994 Champions League Final - AC Milan Starting XI#footballmemories #forzamilan #rossoneri #MilanBologna #MilBol #calcio #maldini #boban #paolomaldini #savicevic #seriea #ucl #championsleague #uefachampionsleague #ilcalcioèdichiloama #serieaoperazionenostalgia #machenesanno pic.twitter.com/yjgCYGYbH4— Football Memories (@FM_Twittah) May 4, 2019
Namun,
yang terjadi pada laga final justru antiklimaks. Barcelona dengan gaya
bermain menyerangnya tidak mampu mencetak gol.
Josep Guardiola di lini
tengah tidak mampu menghadapi duet Albertini dan Desailly di pihak AC
Milan.
AC Milan menang dengan skor 4-0 atas Barcelona di final
Liga Champions 1993/1994. Daniele Massaro mencetak dua gol untuk AC
Milan.
Sedangkan, dua gol lainnya dicetak Dejan Savicevic dan Marcel
Desailly.
Highlights from the 1994 Champions League final, where AC Milan beat Barcelona 4-0.https://t.co/TPF8tp9PJ2— 90s Football (@90sfootball) October 4, 2016
Forza Milan!
Senin, 20 Januari 2014
Sejarah Hari Ini (20 Januari): Debut Paolo Maldini
Paolo Maldini membuat satu lompatan masif, tepat hari ini 29 tahun yang lalu, yakni melakoni debutnya sebagai pemain profesional bersama AC Milan di usia yang sangat belia: 16 tahun. Dalam debutnya tersebut, Maldini masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua.
Maldini mengikuti jejak ayahnya, Cesare, yang bermain di posisi bertahan. Dalam kurun 1954 hingga 1966, sang ayah memenangkan empat gelar Serie A dan European Cup - nama lawas dari Liga Champions - edisi 1963. Rupanya, sejarah hebat yang pernah dilukiskan sang bapak tertular pada sang anak.
Maldini lahir pada 1968 silam dan bergabung ke tim Muda Milan di usia 10 tahun. Di periode 1985, dia mendapatkan tempat di bench sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk mengukir momen paling membanggakan dalam hidupnya. Untuk kali pertama dengan seragam Rossoneri, dia melakoni penampilan perdananya dengan masuk sebagai pemain pengganti di paruh kedua laga kontra Udinese. Pertandingan itu berakhir imbang dan penampilan itu sekaligus menjadi satu-satunya kesempatan dia unjuk gigi di sebuah laga resmi Milan pada musim tersebut.
Seiring performa Maldini yang terus berkembang pesat, dia kemudian dipercaya untuk menjadi pemain reguler di musim selanjutnya. Dia pun mampu menorehkan total 40 penampilan di semua kompetisi.
Abdinya bagi Milan tercatat dalam 25 musim tanpa sekalipun pernah menanggalkan seragam Merah-Hitam. Dalam kurun waktu itu, dia telah memenangkan tujuh Scudetto dan lima trofi European Cup/Liga Champions.
Salah satu supremasi terbaik yang pernah ditancapkan Maldini bagi Milan ketika dia mampu mengantar Si Setan Merah merengkuh gelar ganda: Serie A dan Liga Champions di muism 1993/94. Catatan bersejarah itu berlanjut dengan kegemilangan sang bek legendaris membawa timnas Italia menjadi runner-up Piala Dunia 1994 - kalah adu penalti dari Brasil.
Atas kinerja luar biasanya itu, World Soccer Magazine tak ragu menempatkan namanya untuk merengkuh anugerah World Player of the Year pada 1994 - pertama kalinya penghargaan diberikan buat seorang defender.
Nama Maldini tak akan pernah lekang dengan sejarah besar Milan. Bicara Maldini, berarti bicara Rossoneri. Ketika dia telah jatuh-bangun dan pasang-surut dalam catatan 902 laga - rekor jumlah penampil terbanyak dalam sejarah klub - yang dilakoninya bagi Milan, maka pantas bila berbagai pihak akan selalu hormat terhadap pria 45 tahun ini.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (20 Januari): Debut Paolo Maldini
Maldini mengikuti jejak ayahnya, Cesare, yang bermain di posisi bertahan. Dalam kurun 1954 hingga 1966, sang ayah memenangkan empat gelar Serie A dan European Cup - nama lawas dari Liga Champions - edisi 1963. Rupanya, sejarah hebat yang pernah dilukiskan sang bapak tertular pada sang anak.
Maldini lahir pada 1968 silam dan bergabung ke tim Muda Milan di usia 10 tahun. Di periode 1985, dia mendapatkan tempat di bench sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk mengukir momen paling membanggakan dalam hidupnya. Untuk kali pertama dengan seragam Rossoneri, dia melakoni penampilan perdananya dengan masuk sebagai pemain pengganti di paruh kedua laga kontra Udinese. Pertandingan itu berakhir imbang dan penampilan itu sekaligus menjadi satu-satunya kesempatan dia unjuk gigi di sebuah laga resmi Milan pada musim tersebut.
Seiring performa Maldini yang terus berkembang pesat, dia kemudian dipercaya untuk menjadi pemain reguler di musim selanjutnya. Dia pun mampu menorehkan total 40 penampilan di semua kompetisi.
Abdinya bagi Milan tercatat dalam 25 musim tanpa sekalipun pernah menanggalkan seragam Merah-Hitam. Dalam kurun waktu itu, dia telah memenangkan tujuh Scudetto dan lima trofi European Cup/Liga Champions.
Salah satu supremasi terbaik yang pernah ditancapkan Maldini bagi Milan ketika dia mampu mengantar Si Setan Merah merengkuh gelar ganda: Serie A dan Liga Champions di muism 1993/94. Catatan bersejarah itu berlanjut dengan kegemilangan sang bek legendaris membawa timnas Italia menjadi runner-up Piala Dunia 1994 - kalah adu penalti dari Brasil.
Atas kinerja luar biasanya itu, World Soccer Magazine tak ragu menempatkan namanya untuk merengkuh anugerah World Player of the Year pada 1994 - pertama kalinya penghargaan diberikan buat seorang defender.
Nama Maldini tak akan pernah lekang dengan sejarah besar Milan. Bicara Maldini, berarti bicara Rossoneri. Ketika dia telah jatuh-bangun dan pasang-surut dalam catatan 902 laga - rekor jumlah penampil terbanyak dalam sejarah klub - yang dilakoninya bagi Milan, maka pantas bila berbagai pihak akan selalu hormat terhadap pria 45 tahun ini.
Kamis, 03 Oktober 2013
Sejarah Hari Ini (29 September): Ulang Tahun Andriy Shevchenko
Jumat, 21 Desember 2012
10 Pemain Legendaris AC Milan
AC Milan merupakan salah satu klub tersukses di jagad sepakbola. Status itu tak lepas dari peran besar para talenta luar biasa yang pernah bermain untuk mereka.
Dari dahulu hingga sekarang, banyak pemain hebat di kubu merah-hitam kota Milan, tapi hanya beberapa yang pantas disebut legenda.
Berikut ini sepuluh pemain paling legendaris dalam sejarah Milan.
Dari dahulu hingga sekarang, banyak pemain hebat di kubu merah-hitam kota Milan, tapi hanya beberapa yang pantas disebut legenda.
Berikut ini sepuluh pemain paling legendaris dalam sejarah Milan.
![]() |
Cesare adalah perintis dinasti Maldini di Milan. Dia bergabung dengan AC Milan dari Triestina pada 1954 silam. Tahukah Anda? Cesare juga seorang pemain belakang. Berkat Cesare pula, AC Milan mendapatkan kapten terhebat sepanjang masanya, Paolo Maldini.
|
![]() |
Kaka mendarat di Milan dari Sao Paulo pada 2003 dengan biaya transfer sebesar 8,5 juta Euro. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan tempat di starting line-up dan 'melempar' si jenius Manuel Rui Costa ke bangku cadangan. Kaka telah memberi kontribusi besar selama 2003 hingga 2009. Dia adalah inspirator Milan ketika menjuarai Liga Champions 2006-2007 sebagai top scorer turnamen sekaligus best player. Pada 2009, Kaka meninggalkan San Siro menuju Santiago Bernabeu dengan transfer senilai 65 juta Euro. Banyak pihak mengharap Kaka bisa menjadi kapten Milan, tapi dia ingin bermain untuk Real Madrid, dan harapannya terkabulkan.
|
![]() |
| Marco Van Basten adalah salah satu pemain hebat yang pernah ada. Pada Maret 2007, Sky Sports menempatkan Van Basten di posisi teratas dalam daftar pesepakbola terbaik dengan karier singkat. Cedera memang menghancurkan sang legenda Belanda, tapi dia telah menunjukkan kepada dunia sebuah permainan yang luar biasa. |
![]() |
Gunnar Nordahl dianggap sebagai pemain terbaik dalam sejarah persepakbolaan Swedia. Namun yang membuat Nordahl masuk daftar legenda Milan bukanlah itu, akan tetapi karena rekor golnya untuk Milan yang hingga kini belum terpecahkan. Dia masih menyandang status top scorer abadi Milan dengan 221 gol dalam 268 penampilan (1949-1956). Torehan yang luar biasa! Dia juga, sampai sekarang, masih tercatat sebagai pemain tersubur kedua sepanjang sejarah Serie A dengan 225 gol, 210 bersama Milan dan 15 bersama Roma, setingkat di bawah Silvio Piola (274 gol).
|
![]() |
Mauro Tassotti bermain selama 17 tahun untuk Milan. Selama periode 1980-1997, bek sayap yang sangat hebat dalam menjelajah sektor kanan lapangan itu telah ikut membantu Milan memenangi sederet trofi bergengsi. Tiga trofi European Cup/Liga Champions, tiga Piala Super Eropa, dua Piala Interkontinental, lima Scudetto Serie A dan empat mahkota Supercoppa Italiana merupakan sumbangsih Tassotti untuk Milan. Tasssotti membukukan total 583 penampilan dan 10 gol bersama Milan.
|
![]() |
Andriy Shevchenko Salah satu mesin gol terbaik yang pernah ada. Pria yang menempati urutan kedua dalam daftar top scorer sepanjang masa Milan. Sheva dikenal karena kemampuan finishing-nya yang luar biasa. Dia mengukir 175 gol dalam 322 penampilannya untuk Milan. Legenda Ukraina eksekutor penalti penentu kemenangan atas Juventus di final Liga Champions 2003 itu menghiasi kariernya di Milan dengan sejumlah penghargaan individual, dan yang paling bergengsi adalah Ballon d'Or 2004.
|
![]() |
Costacurta adalah bek sentral tangguh dan merupakan salah satu jebolan terbaik akademi Milan. Bersama Baresi, Tassotti dan Maldini, Costacurta menciptakan barisan pertahanan terhebat di Serie A serta Eropa selama era 1990-an. Dia memperkuat Milan dari 1986 hingga 2007 dan turut memenangi tujuh Scudetto. 19 Mei 2007 adalah penampilan terakhirnya di San Siro ketika Milan dikalahkan Udinese 2-3. Dia mencetak satu gol dari titik putih. Dia ditarik keluar pada penghujung laga dan mendapatkan standing ovation dari para tifosi setia Milan.
|
![]() |
Gianni Rivera dijuluki the Golden Boy persepakbolaan Italia. Dia memperkuat Milan sejak 1960 sampai 1979 dan mencetak total 164 gol dalam 658 penampilan. Gelandang kelahiran Alessandria itu merupakan salah satu peraih Ballon d'Or sebagai pemain Milan, yaitu ketika dia memenanginya pada 1969 silam. Tiga gelar Serie A dan dua European Cup ikut disumbangkannya untuk sang raksasa Italia.
|
![]() |
Franco Baresi adalah salah satu bek terbaik dalam sejarah. Dia merupakan tembok baja di lini pertahanan Milan dan timnas Italia selama hampir lebih dari dua dekade. Baresi sempat diajak Giuseppe, saudaranya yang kemudian menjadi legenda Inter Milan dan kini menjabat asisten pelatih sang rival sekota, untuk menjalani trial di Inter, tapi dia ditolak. Baresi tidak menyerah dan menjajal 'adu nasib' ke tim primavera Milan. Dia diterima, lalu berhasil menciptakan legendanya sendiri. Selama 1977 hingga 1997, Baresi mencatatkan total 719 penampilan serta 33 gol bersama Milan, dan telah memenangi segalanya.
|
![]() |
Salah satu pemain paling loyal dalam sejarah Milan. Dianggap sebagai pemimpin paling hebat oleh para koleganya sesama pesepakbola, dan itu membuat dia mendapatkan julukan Il Capitano. Dia adalah pemain dengan masa pengabdian terlama di Milan, yaitu 24 tahun dan 132 hari (dari 20 Januari 1985 sampai 31 Mei 2009). Dia adalah pria yang membukukan penampilan terbanyak untuk Milan, yaitu 902. Dia adalah pemenang tujuh Scudetto, satu Coppa Italia, lima Supercoppa Italiana, lima European Cup/Liga Champions, lima Piala Super Eropa, dua Piala Interkontinental dan satu Piala Dunia Antarklub FIFA. Dia adalah Paolo Maldini, simbol, legenda Milan, dan salah satu bek terbaik yang pernah ada.
|
Langganan:
Postingan (Atom)

















