Tampilkan postingan dengan label real madrid legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label real madrid legend. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Mei 2021
Jadi 'Petugas KPPS', Marcelo Absen di Leg Kedua Semi Final Liga Champions?
Kamis, 02 April 2020
5 Pemain dengan Penampilan Terbanyak di Real Madrid, Ada Nama Cristiano Ronaldo?
Cristiano Ronaldo merupakan nama yang akan dikenang dengan tinta emas dalam sejarah Real Madrid.
Namun, siapa sangka Cristiano Ronaldo tidak masuk dalam daftar 5 besar pemain dengan penampilan terbanyak di Real Madrid.
Cristiano
Ronaldo pernah membela Real Madrid selam sembilan tahun, 2009 hingga
2018. Real Madrid membelinya dari Manchester United. Ronaldo tampil
sangat bagus ketika berseragam Real Madrid.
Pemain asal Portugal
tersebut bahkan tercatat sebagai top skor sepanjang masa klub dengan 450
gol. Hebatnya, dia memainkan lebih sedikit laga dari jumlah golnya.
Ronaldo hanya memainkan 438 laga di semua kompetisi.
Dengan 438
laga, Ronaldo tidak masuk dalam daftar pemain dengan penampilan
terbanyak di Real Madrid.
Bukan hanya lima besar, bahkan namanya tidak
masuk dalam 10 besar.
Lantas, siapa lima besar pemain dengan caps terbanyak di Real Madrid? Simak selengkapnya di bawah ini ya.
5. Sergio Ramos
Sergio Ramos memulai karirnya di Real Madrid pada 2005, ketika dibeli dari Sevilla. Sejak tahun pertama, pilar timnas Spanyol tersebut langsung mendapat tempat di tim utama dan hingga kini tidak tergantikan.
4. Santillana
Santillana memainkan 645 laga untuk Real Madrid pada periode 1971 hingga 1988. Santillana juga masuk dalam lima besar top skor sepanjang masa Real Madrid. Santillana mencetak 290 gol.
Andai musim 2019/2020 berlanjut, rekor penampilan Santillana sangat mungkin dipatahkan Sergio Ramos.
3. Manuel Sanchis
Manuel Sanchis merupakan jebolan akademi Real Madrid.
Manuel Sanchis mencatatkan 710 laga untuk Real Madrid di semua kompetisi. Pria asal Spanyol membela Real Madrid pada 1983 hingga 2001 silam. Manuel Sanchis memberikan delapan gelar La Liga dan dua Liga Champions.
2. Iker Casillas
Dia menjadi salah satu penjaga gawang terbaik di Real Madrid.
Total laga yang dimainkan Iker Casillas bersama Real Madrid mencapai 725 laga.
Iker Casillas membela Real Madrid pada 1999 hingga 2005.
Sebenarnya, Iker Casillas ingin mengakhiri karir di Real Madrid. Namun, dia keinginan itu tidak terwujud dan harus pindah ke FC Porto.
1. Raul Gonzalez
Hanya saja, dia sempat 'mampir' ke tim junior Atletico Madrid sebelum akhirnya menjadi legenda di Real Madrid.
Sebelum pindah ke Schalke pada 2010, Raul Gonzalez telah memainkan 741 laga. Sampai saat ini, catatan itu menjadi rekor penampilan terbanyak di Real Madrid. Sulit melihat rekor Raul Gonzalez bakal dipatahkan pemain lainnya.
Mengaku Fans Sejati Real Madrid, Siapa 5 Besar Top Skor Sepanjang Masa Klub?
Real Madrid punya sejarah
panjang dalam sepak bola Eropa.
Klub yang berjuluk Los Blancos ini telah
melewati banyak fase, baik era kejayaan maupun periode sulit.
Real
Madrid kini tercatat sebagai klub dengan raihan gelar juara Liga
Champions paling banyak.
Real Madrid juga menjadi klub dengan kesuksesan
yang sangat tinggi di level domestik.
Sepanjang sejarah klub,
Real Madrid juga pernah diperkuat banyak pencetak gol handal. Madrid
pernah diperkuat Ronaldo -Il Penomeno- juga Cristiano Ronaldo dari Portugal.
Ada juga sosok yang legendaris seperti Raul Gonzalez, Parco Gento, dan Alfredo Di Stefano.
Lantas, siapa 5 top skor sepanjang masa Real Madrid? Simak di bawah ini ya.
5. Ferenc Puskas
Ferenc Puskas merupakan legenda besar bagi Real
Madrid, begitu juga untuk negara asalnya: Hungaria.
Ferenc Puskas
mewakili era emas sepak bola Hungaria pada era 1940 hingga 50-an. Ferenc
Puskas merupakan penyerang yang tajam.
Ferenc Puskas bermain
untuk Real Madrid pada periode 1958 hingga 1966. Mantan pemain Budapest
Honved mampu mencetak 242 gol dari 262 laga untuk Real Madrid. Ferenc
Puskas paling sering mencetak gol di La Liga, 156 gol.
Namun, rekor gol Ferenc Puskas kini berada dalam ancaman. Sebab, Karim Benzema kini mengintai dengan 241 gol.
4. Santillana
Setelah era Ferenc Puskas berakhir, Real Madrid
memiliki sosok Santillana yang menjadi mesin gol.
Pria asal Spanyol
tersebut mampu mencetak 290 gol dari 645 pertandingan di semua
kompetisi. Santillana mencetak 186 gol di La Liga.
Santillana
bermain untuk Real Madrid pada 1971 hingga 1988. Bukan hanya mencetak
banyak gol, Santillana juga memberikan sembilan gelar juara La Liga
untuk Real Madrid. Namun, tak ada gelar Liga Champions yang diraih.
Karir Santillana di timnas Spanyol tak cukup bagus. Dari 56 kali tampil di tim utama, Santillana hanya mampu menyumbang 15 gol.
3. Alfredo Di Stefano
Nama Alfredo Di Stefano melegenda di Real Madrid. Dia
bermain untuk klub asal ibukota Spanyol pada periode 1953 hingga 1964.
Pria yang lahir di Argentina tersebut mampu mencetak 308 gol selama
bermain di Real Madrid.
Alfredo Di Stefano menjadi bagian dari
skuad Real Madrid ketika meraih lima gelar Liga Champions pada periode
1955 hingga 1960 secara beruntun.
Di pentas internasional, karir
Alfredo Di Stefano bisa dikatakan cukup kontroversial. Sebab, Alfredo Di
Stefano pernah membela tiga tim nasional. Selain membela timnas
Argentina, dia juga pembela Kolombia dan Spanyol.
2. Raul Gonzalez
Raul Gonzalez Blanco merupakan idola sekaligus ikon
Real Madrid pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.
Walau sempat membela
Real Madrid saat masih junior, Raul Gonzalez adalah jebolan akademi Real
Madrid yang sukses di tim utama.
Raul Gonzalez mencetak 323 gol
untuk Real Madrid sepanjang karirnya. Dia sempat dijagokan bakal membela
Los Blancos hingga pensiun. Akan tetapi, Raul Gonzalez akhirnya harus
pindah ke Schalke pada 2010.
Sebelum kehadiran Cristiano Ronaldo, sosok Raul Gonzalez begitu identik dengan nomor punggung 7.
1. Cristiano Ronaldo
Cristiano Ronaldo membela Real Madrid untuk waktu
sembilan tahun. Dia memainkan 438 laga, jauh lebih sedikit dari Raul
Gonzalez [741].
Akan tetapi, jumlah gol Cristiano Ronaldo melampuai
Raul. Cristiano Ronaldo mencetak 450 gol.
Cristiano Ronaldo
menjaringkan 311 gol di pentas La Liga. Namun, catatan gemilang diukir
di Liga Champions. Sebab, pemain asal Portugal tersebut mampu mencetak
105 gol dari 101 laga di pentas Eropa.
Sejauh ini, Cristiano
Ronaldo masih menjadi top skor sepanjang masa Real Madrid. Pemain aktif
dengan catatan gol terdekat dengan Ronaldo adalah Karim Benzema [241].
Jumat, 15 Agustus 2014
Ternyata Ada Pemain Real Madrid Yang Lebih Brutal dari Pepe!
Anda yang lahir pada tahun 1970-an hingga 1980-an, pasti mengenal Lothar Matthaeus. Kecuali Anda hidup di planet Mars, Anda pun pastinya sepakat bahwa libero Jerman ini adalah salah satu pemain terbaik di generasinya.
Matthaeus yang juga dipuja oleh jutaan wanita penggila bola, pernah menjadi korban kebrutalan pemain Real Madrid, Juanito. Bahkan, aksi Juanito mungkin 10 kali lipat lebih kejam daripada aksi kriminal Pepe terhadap Lionel Messi.
Laga 8 April 1987 menjadi kenangan terpahit bagi Matthaeus. Klubnya, Bayern Muenchen bertemu dengan Los Blancos. Matthaeus terjatuh dalam duel menghadapi Miguel Porlán Noguera atau lebih dikenal dengan nama Chendo, bek kanan Real Madrid. Saat sang libero terjatuh itulah Juanito datang dan menendang rusuk Matthaeus dengan keras dan penuh kesengajaan.
Belum cukup, Juanito juga menghajar muka Matthaeus dengan sepatu sepakbolanya! Bahkan, kejadian itu berlangsung meski wasit berusaha menghalau sang penyerang Real Madrid.
Akibat ulahnya ini, Juanito terkena hukuman beberapa pertandingan. Pasca tindakan konyolnya, kelak Juanito meminta maaf kepada Lothar Matthaeus.
Pertanyaannya, apakah Pepe melihat rekaman video aksi Juanito ini sebelum menginjak tangan Messi? Jawabannya tentu tidak. Hanya, kebetulan, keduanya sama-sama pemain Real Madrid.
Senin, 20 Januari 2014
Zidane Tertipu Dengan 'Cedera' Pepe
Aktor dalam insiden ini adalah Pepe dan Marcelo. Ketika sedang berlatih, tiba-tiba Pepe terjatuh dan mengerang kesakitan. Akting Pepe tersebut didukung oleh Marcelo yang berpura-pura syok sambil melihat kondisi Pepe
Akibatnya, asisten manajer Madrid, Zinedine Zidane langsung mendekat guna melihat apa yang sebenarnya terjadi. Prank! Zidane pun tertipu dengan aksi jahil duo Madrid tersebut.
Selasa, 10 Desember 2013
Sejarah Hari Ini (10 Desember): Selamat Ulang Tahun Gonzalo Higuain!
Minggu, 25 Agustus 2013
Panggung Untuk Raul di Bernabeu
![]() |
| Trofeo Bernabeu edisi ke-35 antara Real Madrid melawan klub Qatar Al-Sadd menjadi sebuah arena spesial di ibu kota Spanyol. Laga ini terbilang istimewa karena menjadi arena kembalinya sang nomor 7 abadi Real Madrid, Raul Gonzalez. Dengan seragam kebesaran Los Blancos, yang pernah melekat di badannya selama bertahun-tahun silam, Raul mencetak satu dari lima gol kemenangan El Real. Real Madrid keluar sebagai juara setelah menundukkan Al-Sadd, klub Raul sekarang, di Santiago Bernabeu, Jumat (23/8), dengan skor 5-0. Raul, yang bermain untuk kedua kubu di masing-masing babak, mencetak gol pembuka Real Madrid pada paruh pertama, tepatnya di menit 23. Di paruh kedua, Real Madrid memastikan diri merengkuh trofinya yang ke-24 di turnamen persahabatan ini berkat gol-gol tambahan dari Isco (59'), penalti Karim Benzema (79'), dan dua penutup dari Jese Rodriguez (82', 88'). Raul, yang oleh situs resmi Real Madrid disebut sebagai 'Madrid Eternal Number 7', mengenakan ban kapten dan nomor punggung 7 di laga spesial ini. 'Pemiliknya' yang sekarang, Cristiano Ronaldo, memakai nomor 11. Satu gol dari Raul menjadi awal pesta Real Madrid. Gol yang diawaliassist diagonal nan brilian dari Angel Di Maria itu tak hanya membawa Real Madrid memimpin, tapi juga membuat seisi stadion bergemuruh menyambutnya. Rasanya, seperti deja vu saja. |
![]() |
| Memasuki babak kedua, terjadi sejumlah pergantian pemain, termasuk Raul yang kembali berganti seragam dan mengambil alih tempat Yusef Ali di skuad Al-Sadd. Sementara itu, di kubu Real Madrid, David Mateos, Diego Lopez, Daniel Carvajal, Isco, Mesut Ozil, Benzema, Pepe, Jese, serta Alvaro Morata masuk menggantikan Sergio Ramos, Iker Casillas, Alvaro Arbeloa, Luka Modric, Kaka, Alvaro Morata, Marcelo, Di Maria, dan Ronaldo. Gol kedua lalu tercipta setelah Isco menyundul masuk crossing Carvajal. Skor kemudian berubah jadi 3-0 setelah eksekusi penalti Benzema akibat pelanggaran Magid Hassan terhadap Carvajal bersarang di gawang Al-Sadd. Jese lalu memperlebar selisih skor jadi 4-0 berkat assist Isco, dan memastikan Real Madrid menang 5-0 dengan tendangan kaki kanannya di penghujung laga. Real Madrid keluar sebagai juara. Namun, gegap gempita yang sebenarnya mungkin tercipta di tengah laga, yaitu saat sang pemegang rekor penampilan (741) dan pencetak gol terbanyak (323) dalam sejarah mereka, Raul, berlari membentangkan kedua tangannya sambil menatap langit Bernabeu di menit 23. Aplaus untuk Raul di akhir laga pun seolah menjadi penutup sempurna momen istimewa di ibu kota. |
Kamis, 01 Agustus 2013
Sejarah Hari Ini (1 Agustus): Roberto Carlos Pensiun
![]() | |||
| Genap setahun sudah pecinta sepakbola tidak lagi menyaksikan aksi sang legenda Madrid di pertandingan resmi.Siapa tak kenal Roberto Carlos, legenda sepakbola asal Brasil yang berdedikasi terhadap dunia sepakbola selama dua dekade terakhir, sebelum akhirnya memutuskan pensiun 1 Agustus 2012, genap setahun yang lalu.
Berposisi di garis pertahanan, Carlos bukanlah bek biasa. Pemain kelahiran 10 April 1973 ini dikenal sebagai bek kiri paling ofensif sepanjang sejarah sepakbola.
Agresivitas Carlos dalam membantu serangan bisa dilihat dari rekor 101 gol di 820 pertandingan sepanjang kariernya. Angka yang cukup fantastis buat seorang bek. Lalu, apa yang membuat Carlos memiliki naluri menyerang yang begitu tinggi? Ternyata, pemain yang menyabet Piala Dunia 2002 bersama Selecao ini justru mengawali kariernya sebagai penyerang. Ditambah dengan tendangan bebas keras dan terukur (169km/jam) serta kecepatan lari yang mumpuni, tidak heran jika Carlos kemudian disebut-sebut sebagai bek sayap terbaik yang pernah dimiliki Brasil.
Selama 21 tahun malang melintang di lapangan hijau, boleh dibilang kariernya bersama Real Madrid yang paling mentereng. Carlos gabung ke Santiago Bernabeu pada 1996 dan menjadi pilihan utama Los Blancos di bek kiri hingga 11 tahun kemudian. Selama berseragam Madrid, dia melakoni 584 pertandingan di semua kompetisi dengan torehan 71 gol. Carlos juga menjadi pemain asing dengan penampilan terbanyak di La Liga dengan 370 penampilan, setelah memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Alfredo di Stefano (329 pertandingan) pada Januari 2006.
Tergabung dalam era Los Galacticos dalam era kepemimpinan Florentino Perez, pemain dengan tinggi badan 168 cm ini menyabet serentet gelar, mulai dari empat trofi La Liga, tiga Piala Super Spanyol, tiga Liga Champions, dua Piala Interkontinental dan sebiji Piala Super Uefa pada 2002.
![]()
Melihat sederet medali yang berhasil direbut Carlos, bukan berarti karier sepakbolanya selalu berjalan mulus. Saat di Inter misalnya, kebersamaan Carlos dengan Biru Hitam cuma bertahan semusim sejak hijrah ke Giuseppe Meazza dari Palmeiras pada 1995. Perbedaan pendapat dengan arsitek Inter ketika itu, Roy Hodgson, memaksa Carlos pergi ke Bernabeu untuk memulai era keemasannya.
Selepas membela Madrid Carlos menjajakan kakinya ke klub lain, Fenerbahce (2007-2009), Corinthians (2010-2011) sampai akhirnya berlabuh ke klub kaya Anzhi Makhachkala. Sebuah insiden rasisme sempat menimpa Carlos bersama tim asal Rusia pada pertandingan versus Zenit St. Petersburg pada Maret 2011. Sebuah pisang dilemparkan penonton ke dekat Carlos.
Insiden serupa terjadi tiga bulan kemudian pada laga tandang di Krylia Soveto v Samara. Dalam insiden rasisme ini, pemain 38 tahun melempar balik pisang ke pinggir lapangan, kemudian meninggalkan area pertandingan sebelum peluit akhir dan mengacungkan dua jari ke arah penonton, sebagai indikasi ini untuk kedua kalinya kasus rasisme ditujukkan kepadanya.
Prestasi Carlos bersama timnas tidak kalah bagus dengan level klub. Carlos sempat mencicipi manisnya gelar Piala Dunia 2002 usai membekuk Jerman di partai puncak. Salah satu highlight kariernya bersama Selecao adalah tendangan bebas ke gawang Prancis di laga pembuka Tournoi de France, 3 Juni 1997. Dia melepaskan tembakan keras dari jarak 35 meter di sisi kanan dengan menggunakan kaki kiri. Bola meluncur deras dan tampak akan meninggalkan lapangan, tapi yang terjadi justru di luar dugaan. Si kulit bundar melengkung ke sisi kiri dan berhasil merobek jala Fabien Barthez.
Carlos lebih dulu memutuskan pensiun dari level timnas setelah Selecao kalah 1-0 dari Prancis di perempat-final Piala Dunia 2006.
|
Kamis, 11 Juli 2013
Sejarah Hari Ini (11 Juli): HUT Hugo Sanchez
![]() | |||
| Hugo Sanchez masih menjadi satu-satunya pemain yang pernah mencetak gol terbanyak dalam empat musim berturut-turut di La Liga.Hugo Sanchez, legenda Real Madrid asal Meksiko, genap berulang tahun yang ke-55 pada hari ini. Selamat hari jadi, Pentapichichi! Sanchez lahir pada 11 Juli 1958 di Mexico City, Meksiko. Ia punya karir cemerlang di Eropa dengan membela empat klub di benua biru, salah satunya Real Madrid. Ia juga punya kontribusi besar di tim nasional Meksiko, dengan tampil di tiga Piala Dunia. Sanchez dikenal sebagai striker yang haus akan gol. Caranya mencetak gol terbilang tidak biasa. Ia bisa membaca bola dengan cepat, diimbangi dengan kakinya yang juga sangat cepat. Ia punya tendangan jarak jauh yang mematikan, dan pernah melakukan tendangan salto yang sangat indah. Saat baru berusia 16 tahun, Sanchez sudah dipercaya membela timnas Meksiko pada 1976 di ajang Olimpiade. Karir awal yang gemilang di akademi UNAM Pumas, tim yang mewakili National University, Meksiko, pada 1972-1975, membuat dirinya masuk ke skuat timnas. Pada 1976, ia mulai masuk ke tim senior UNAM. Pada tahun itu juga, timnya mampu meraih gelar Liga Sepakbola Meksiko yang pertama, dan dua tahun kemudian, Sanchez tercatat sebagai pencetak gol terbanyak dengan torehan 26 gol dalam satu musim. Pada 1979 dan 1980, Sanchez sempat dipinjamkan ke San Diego Sockers, yang bermain di North American Soccer League (NASL). Dari 19 penampilan, ia mampu mencetak 13 gol. Di musim terakhirnya, ketika kembali ke UNAM, ia berhasil meraih gelar kedua di liga bersama tim pada 1981. Lima tahun karirnya bersama UNAM terbilang cemerlang, yakni dibuktikan dengan dua gelar liga, satu CONCACAF Champions Cup, dan satu Copa Interamericana. Selama lima tahun di Meksiko, total 99 gol ia torehkan, Fakta itu rupanya mendorong dirinya melanjutkan karir ke Eropa. Klub Eropa pertama yang disinggahinya adalah klub Spanyol, Atletico Madrid. Empat musim (1981-1985) ia berkarir di sana, dan di musim akhirnya pada 1984/85, ia mampu membawa klub menjuarai Copa del Rey, finis di posisi kedua Primera Liga Spanyol, dan memenangi Piala Super Spanyol. Tidak itu saja, ia bahkan meraih Pichichi, sebagai pencetak gol terbanyak di La Liga. Pada 1985, Sanchez menyeberang ke klub rival, Real Madrid. Selama tujuh tahun ia berkarir di sana. Alsannya pindah ke Santiago bernabeu karena ia merasa semua orang di klub, bahkan termasuk tukang-tukang bersihnya, punya ambisi yang bsar untuk menjadi juara. Kedatangan sang striker membawa pengaruh cukup besar untuk tim. Selama lima tahun berturut-turut, Los Blancos mampu memenangi gelar La Liga (dari musim 1985/86 hingga 1989/90). Bersama Sanchez, El Real juga meraih gelar Copa del Rey pada 1989 dan Piala UEFA pada 1986. Di Real Madrid, Sanchez menorehkan sejumlah catatan bagus. Ia mampu meraih gelar Pichichi sebanyak empat kali berturut-turut saat Real Madrid lima tahun beruntun menjuarai liga. Catatan ini menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pemain di sepakbola Spanyol yang melakukan itu tanpa diselingi di tahun juara. 253 gol ia cetak dalam 283 pertandingan. Ia juga mampu mencetak 27 gol atau lebih dalam empat musim berturut-turut antara 1986 dan 1990, termasuk 38 gol pada musim 1989/90 (juga meraih Golden Boot Eropa). Meski gagal menjuarai Piala Eropa (sebelum bernama Liga Champions), namun ia mencetak gol yang luar biasa, 47 gol dari 45 pertandingan! Sanchez terpilih ke dalam tim Real Madrid Abad 20 bersama legenda-legenda lainnya, Francisco Gento, Emiliano Butragueno, dan Alfredo Di Stefano. Sanchez akhirnya kembali ke Meksiko pada 1992 dan membela klub America. Setelah satu tahun berkarir di sana, ia kemudian melalanglang buana, yakni ke Spanyol (Rayo Vallecano), Austria, dan Amerika Serikat. 29 Mei 1997, ia mengakhiri karir sebagai pemain sepakbola profesional. Klub yang terakhir ia bela adalah Atlético Celaya, bersama Butragueño dan MÃchel, mantan rekannya di Real Madrid. Di timnas, Sanchez bermain antara 1977 dan 1994 dengan mencetak 29 gol dari 58 pertandingan yang resmi (sah). Sejak 2000 hingga kini ia melatih sejumlah klub, yakni UNAM, Necaxa, Mexico, Almeria, dan Pachuca, CF La Piedad, dan Santos Laguna.
![]()
|
Sabtu, 15 Juni 2013
Pertarungan Para Legenda
Legenda Real Madrid menang 2-1 atas legenda Juventus dalam laga amal Corazon Classic Match 2013.
![]() |
| Roberto Carlos |
![]() |
| Zinedine Zidane |
![]() |
| Real Madrid membuka keunggulan lewat gol Luis Figo di menit ke-6. Figo merayakannya bersama Zinedine Zidane |
![]() |
| Edgar Davids (kiri) vs Zinedine Zidane |
![]() |
| Zinedine Zidane (kiri) vs Pavel Nedved |
![]() |
| Jose Emilio Amavisca melompat menghindari terjangan Stefano Tacconi |
![]() |
| Jose Emilio Amavisca (kanan) vs Moreno Torricelli |
![]() |
| Moreno Torricelli (kiri) vs Jose Emilio Amavisca |
![]() |
| Paolo Montero (kiri) vs Jesus Enrique Velasco |
![]() |
| Angelo Peruzzi (kanan) mencegah bola sampai ke kepala Luis Figo |
![]() |
| Zinedine Zidane (kiri) vs Paolo Montero |
![]() |
| Tim Juventus Legend merayakan gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Paolo Montero (kanan) di menit 67 |
![]() |
| Paolo Montero |
![]() |
| Ivan Perez, pencetak gol kemenangan Real Madrid Legend di menit 72 |
![]() |
| Salah satu aksi Zinedine Zidane (kiri) dalam Corazon Classic Match 2013 |
![]() |
| Emilio Butragueno |
![]() |
| Zinedine Zidane merayakan kemenangan 2-1 Real Madrid Legend atas Juventus Legend |
Langganan:
Postingan (Atom)































