# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label the scientists luthfi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the scientists luthfi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juni 2012

Luthfi Nurfakhri, Jawara Sains di Amerika Asal Bogor

Muhammad Luthfi Nurfakhri tekun menyusun komponen yang berserakan di hadapannya. Ratusan kali gagal tak menyurutkan semangatnya. Tekadnya hanya satu, bagaimana semua komponen di hadapannya terangkai menjadi alat yang bisa membantu pekerjaan para petani di sekitar rumahnya.

"Kurang lebih 135 kali saya gagal," kata Luthfi, demikian dia akrab disapa, mengenang perjuangannya merakit perangkat bernama Digital Leaf Color Chart (DLCC).

Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bogor ini mengatakan satu-satunya kendala yang dihadapinya hanyalah terkait dengan persoalan teknis. Dia bersyukur, masalah lain bisa diatasi berkat dukungan dari keluarga dan sekolah yang membantunya fokus menggarap penelitian.

Berulang kali mengotak-atik DLCC menjadi pengalaman berkesan baginya. Setiap kegagalan tak mengusik semangatnya. Malah, tekad putra dari pasangan Iyus Hendrawan dan Endang Sri Rejeki ini kian membaja.

Modal 12 juta yang dikumpulkannya dari kemenangan Lomba Karya Ilmiah Remaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun lalu, dimaksimalkan untuk menggarap proyek ini. Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk mengerjakannya.

"Masalahnya lebih ke sisi teknis, sensornya beda-beda. Belum lagi terbakar, jadi rusak alatnya. Saya juga harus bolak balik ke Jakarta. Beli komponennya di Glodok," ujar pemuda kalem ini seraya tersenyum.

Juara di Amerika

Siapa sangka, perangkat inilah yang kemudian mengantarkannya mengharumkan nama Indonesia. Padahal semula, dia hanya ingin para petani di sekitar rumahnya bisa lebih efisien dalam menebar pupuk.

"Saya lihat di lingkungan sekitar rumah saya belum maksimal produksi padinya karena penyebaran pupuknya tanpa perhitungan," ujarnya.

Agar efektif, jumlah pupuk yang disebar harus dihitung. Memang, selama ini petani menggunakan metode Bagan Warna Daun (BWD), yaitu cara pemberian pupuk pada padi berdasarkan skala warna yang ditunjukkan BWD.

Namun cara ini punya kelemahan yakni jika warna padi tidak sesuai, maka akan dihitung dengan rata-rata, sehingga pemupukan dapat berlebihan atau bisa kekurangan.

Alat yang dikembangkannya, menggunakan fototransistor yang bisa mendeteksi warna daun padi. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC, ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar.

"Untuk pengukuran pemupukan satu hektar sawah, cukup ambil satu sampel daun," ujarnya sambil memamerkan alat buatannya.

Jadi, Digital Leaf Color Chart (DLCC) adalah perangkat digital pendeteksi warna daun untuk efisiensi pemupukan.

Sejauh ini, DLCC sudah diaplikasikan para petani di sekitar rumah Luthfi. Butuh keuletan juga memperkenalkan alat ini kepada para petani.

"Awalnya mereka gak mau, gak percaya karena penggunaan pupuknya jadi lebih sedikit. Tapi setelah dicoba, dilihat produksi padinya malah lebih optimal," kata Luthfi berseri-seri.



Digital Leaf Color Chart besutan M. Luthfi Nurfakhri
Perangkat yang aplikatif

DLCC menyabet juara tiga pada kompetisi International Science and Engineering Fair (ISEF), kategori teknik (elektris dan mekanik). Acara yang dihelat produsen chip Intel ini berlangsung 14-18 Mei 2012 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Nama Luthfi terpilih di urutan tiga besar dari 1.600 finalis yang berasal dari 70 negara.

Karya remaja kelahiran 6 Oktober 1995 ini rupanya dinilai aplikatif dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. "Jadi kami yang mengikuti kompetisi ini dilihat oleh juri, apakah teknologinya bisa digunakan bagi hajat hidup orang banyak," ujar Luthfi.

Luthfi tak lekas berpuas diri dengan apa yang baru dicapainya. Dia ingin terus mengembangkan alat ini, termasuk memperbaiki bentuknya agar lebih ramping sehingga ringan ditenteng. Dia juga ingin ada lebih banyak petani yang memanfaatkan DLCC.

Didukung oleh LIPI, pemuda yang bercita-cita belajar ilmu komputer di luar negeri ini sedang menantikan hak paten DLCC rampung, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar dan dijual ke luar negeri.

"Yang paling utama saya pengen bisa mengaplikasikan teknologi di masyarakat," pungkasnya.
baca keseluruhan - Luthfi Nurfakhri, Jawara Sains di Amerika Asal Bogor

Senin, 28 Mei 2012

Hebat! Pelajar 15 Tahun Ciptakan Pendeteksi Kanker Pankreas

Hebat! Itulah satu kata yang layak disematkan kepada Jack Andraka. Bagaimana tidak? Pelajar 15 tahun ini sukses menemukan metode baru yang dapat mendeteksi kanker pankreas.

Prestasi ABG asal Crownsville, Amerika Serikat ini pun dianugerahi juara pertama pada ajang Intel International Science and Engineering Fair 2012 sebagai bagian dari program Society for Science & the Public.

Dengan menggunakan medium berbasis kertas tes diabetes, Jack berhasil menciptakan sensor celup sederhana untuk menguji darah atau urine untuk menentukan apakah pasien mengidap kanker pankreas stadium awal.

Hasil kajian itu memiliki akurasi lebih dari 90 persen dan menunjukkan bahwa sensor ciptaannya yang akan segera dipatenkan ini 28 kali lebih cepat, 28 kali lebih murah dan 100 kali lebih sensitif dibandingkan perangkat tes yang telah ada saat ini.

Melalui pencapaiannya itu, Jack berhak menerima penghargaan Gordon E. Moore, sebuah penghargaaan senilai USD 75.000 yang diberikan untuk menghormati salah satu pendiri dan mantan CEO serta komisaris Intel.

Pelajar Indonesia juga tak kalah berprestasi di event serupa. Adalah Muhammad Luthfi Nurfakhri dari SMA Negeri 1 Bogor yang memenangkan peringkat ketiga dalam ketegori teknik (elektris dan mekanik) dan mendapatkan penghargaan sebesar USD 1.000 untuk proyeknya yang berjudul 'Digital Leaf Color Chart'.

Sementara dua orang mahasiswa, Nicholas Schiefer (17 tahun) dari Ontario, Kanada dan Ari Dyckovsky (18 tahun) dari Virginia, Amerika Serikat, masing-masing menerima penghargaan Young Scientist sebesar USD 50.000 dari Intel Foundation.

Nicholas mempelajari apa yang disebutnya 'microsearch' atau kemampuan pencarian pada media informasi yang paling pesat berkembang: informasi kecil/pendek, seperti tweet dan update status Facebook.

Melalui penelitiannya, Nicholas berharap dapat meningkatkan kemampuan mesin pencarian, yang pada gilirannya akan meningkatkan akses terhadap informasi.

Adapun Ari meneliti teleportasi kuantum. Ia menemukan bahwa setelah atom dihubungkan melalui proses yang disebut 'penggabungan', informasi dari satu atom akan muncul pada atom lain saat kondisi kuantum dari atom pertama dihancurkan.

Dengan menggunakan metode ini, organisasi yang memerlukan tingkat keamanan data yang tinggi, seperti Dewan Keamanan Nasional, dapat mengirim pesan terenkripsi tanpa risiko mengalami kebocoran karena informasi tidak akan melakukan perjalanan ke lokasi baru, melainkan hanya akan langsung muncul di sana.

"Kami mendukung penuh kegiatan Intel International Science and Engineering Fair karena kami sadar bahwa matematika dan ilmu pengetahuan merupakan faktor yang penting untuk pertumbuhan global di masa depan," kata Santhosh Viswanathan, Chief Representative Intel Indonesia, dalam keterangannya.

Pada tahun ini, lebih dari 1.500 ilmuwan muda turut bersaing dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair. Mereka ini dipilih dari 446 kompetisi serupa di sekitar 70 negara, wilayah dan teritori.

Selain para pemenang yang telah disebutkan di atas tadi, ada lebih dari 400 finalis lain yang telah menerima penghargaan dan hadiah untuk terobosan penelitian mereka. Termasuk pemenang 17 penghargaan 'Best of Category' yang masing-masing menerima hadiah senilai USD 5.000.
baca keseluruhan - Hebat! Pelajar 15 Tahun Ciptakan Pendeteksi Kanker Pankreas

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense