# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label sejarah indonesian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah indonesian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juni 2021

FOTO: Terimbas Proyek MRT, Menara Jam Thamrin Bakal Direlokasi Sementara

PT MRT Jakarta (Perseroda) akan merelokasi Menara Jam Thamrin yang terletak di perempatan antara Jalan MH Thamrin dan Jalan Kebon Sirih pada Juli 2021. 

 

Relokasi benda cagar budaya itu merupakan imbas pembangunan Stasiun MRT Thamrin.

 








baca keseluruhan - FOTO: Terimbas Proyek MRT, Menara Jam Thamrin Bakal Direlokasi Sementara

Selasa, 31 Desember 2013

Banda-Naira, Tempat Indah Pembuangan Hatta-Sjahrir

Laut baru saja membiru kala kapal Pelni Tidar yang ditumpangi Tim Tempo (penulis Agung Sedayu dan fotografer Ayu Ambong) bersandar di pelabuhan Neira, Senin, 14 Oktober lalu. Airnya jernih, tenang, dan berkilau bagai cermin. Bayangan gunung api Banda di seberang dermaga ikut terpantul di sana. Di dermaga yang sama, pada 1 Februari 1936, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir turun dari kapal Fommel Haut yang mengantar mereka dari pengasingan Boven Digul, Papua, yang keras. Di Neira mereka melanjutkan masa pengasingan hingga 1942. Saya lantas berfikir apa kira-kira tujuan Belanda menjadikan pulau seindah ini sebagai tempat buangan.
Lamunan saya buyar kala terdengar pengumuman supaya penumpang segera turun. Di antara ratusan penumpang yang menghambur keluar tampak Meutia Farida Hatta Swasono berjalan perlahan menuruni tangga kapal yang licin berembun. Tanpa sengaja kami bertemu dan menumpang kapal yang sama dengan anak Wakil Presiden Indonesia pertama itu. Meutia ke Neira untuk menghadiri acara wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan Hatta-Sjahrir, satu-satunya sekolah tinggi di Banda. »Belanda sengaja mengasingkan bung Hatta dan Sjahrir di tempat yang indah ini agar sikap melunak pada pemerintah. Tapi upaya Belanda itu gagal,” ujar perempuan 66 tahun menjawab pertanyaan saya.
Meutia menginap di Hotel Maulana yang berada tepat di samping kanan dermaga. Hotel dua lantai bergaya Belanda itu dibangun Des Alwi Abubakar, tokoh Banda yang juga anak angkat Hatta dan Sjahrir. Seluruh kamarnya menghadap selat dan gunung api Banda. Pada 1993 Sarah Ferguson, menantu Ratu Inggris, dan dua anaknya pernah berkunjung ke Banda dan menginap di hotel itu. Begitu juga tokoh selam dunia Jacques Yves Costeau serta vokalis grup Rolling Stones Mick Jagger. »Mereka semua menempati kamar 214,” ujar Tanya Marinka, putri Des Alwi, yang kini menjadi pengelola hotel itu.
Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau utama di kepulauan Banda dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Kecamatan Banda memiliki 12 pulau dengan luas total sekitar 172 kilometer persegi. Hampir tidak ada mobil di sini. Selama empat hari kami hanya menjumpai 3 mobil dan semuanya tidak terawat. »Kami lebih suka jalan kaki dan naik sepeda, apalagi bensin di sini sering langka,” ujar Lukman Ang, warga lokal yang menjadi pemandu kami. Berjalan kaki di Neira menyenangkan. Jalanan bersih dan asri, di kiri-kanan jalan berderet bangunan-bangunan bergaya kolonial.
baca keseluruhan - Banda-Naira, Tempat Indah Pembuangan Hatta-Sjahrir

Jumat, 22 November 2013

Cerita kelihaian Bung Karno hadapi spionase asing

Menyikapi penyadapan Australia terhadap telepon selulernya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nampaknya harus belajar banyak dari Bung Karno. Ponsel Bung Karno memang tidak pernah disadap (karena sampai matinya, alat komunikasi model begitu belum ada) tetapi sang proklamator menjadi orang yang sampai senjakala kekuasaannya selalu dimatai-matai asing, khususnya Amerika Serikat (AS).

Bahkan tuduhan bahwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) adalah puncak dari kudeta merangkak yang dilakukan Soeharto, semakin jelas dengan adanya dokumen Central Intelligence Agency (CIA), agen rahasia AS. Telegram rahasia dari Kedubes AS di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri AS, sehari pasca-penerbitan Supersemar, menyatakan: "Indonesia baru saja melancarkan sebuah kudeta militer (military coup)."

Oleh kudeta merangkak, Bung Karno memang akhirnya jatuh dari kursi kekuasaannya. Namun, soal menghadapi spionase CIA, pemimpin besar revolusi itu jagonya.
Pernah pada 1958, saat pemberontakan PRRI/Permesta bergolak, Bung Karno menunjukkan kelihaiannya dalam mengelola konflik dengan AS akibat tertangkapnya Allen Lawrence Pope, agen CIA yang membantu para perongrong republik.
Pope tertangkap dalam usahanya mengebom armada gabungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dengan pesawat pembom B-26 Invader Auref (Angkatan Udara Revolusioner), tujuh mil lepas pantai Tanjung Alang, tak jauh dari Kota Ambon. Pemboman itu gagal. Pope berhasil ditembak jatuh, meski akhirnya selamat berkat parasut yang mengembang dan kemudian ditangkap tentara republik.

Tidak seperti agen CIA lain, dalam aksinya Pope sengaja membawa sejumlah identitas dalam pesawat. Pelanggaran prosedur CIA oleh Pope ini akhirnya yang justru memudahkan ABRI membuktikan bahwa ada Amerika di balik aksi sang mata-mata.

Tahu agennya tertangkap dalam keadaan tidak 'bersih', AS mulai cuci tangan agar tidak kehilangan muka dari Bung Karno, yang dikenal tidak berpihak ke Blok Timur maupun Barat. Semua cara dilakukan pemerintahan AS di bawah Presiden Eisenhower untuk membantah keterlibatan negaranya dalam spionase itu, meski semua bukti akhirnya berkata lain.

Melihat hal itu, Bung Karno justru memanfaatkan kondisi Amerika yang lagi gelagapan. Bung Karno bahkan menyebutkan adanya kemungkinan bantuan dari sukarelawan-sukarelawan penerbang Cina, musuh AS dan mencuatnya Perang Dunia III.

Gertakan Bung Karno itu terbukti ampuh. Washington akhirnya bersikap ramah terhadap republik. Dalam waktu lima hari, permintaan Indonesia agar dapat mengimpor beras dengan pembayaran rupiah, disetujui.

Tidak hanya itu, bola politik pun benar-benar dimainkan oleh Bung Karno. Penahanan Pope bahkan diulur untuk mendapatkan manfaat keramahtamahan diplomasi AS.

Hasilnya, embargo senjata terhadap republik dicabut. Kemudian, AS juga segera menyetujui pembelian senjata juga berbagai suku cadang yang dibutuhkan ABRI termasuk suku cadang pesawat terbang AURI. Seketika itu juga dukungan AS terhadap pemberontak PRRI/Permesta dihapuskan.

Yang tak kalah menarik dari kisah Pope ini adalah ucapan si penerbang ketika dia ditangkap: "Biasanya negara saya menang, tapi kali ini kalian menang."

'Menang' selalu ada di halaman depan kamus Bung Karno. Lalu, bisakah Presiden SBY menang melawan spionase asing (Australia) yang telah menyadapnya?
baca keseluruhan - Cerita kelihaian Bung Karno hadapi spionase asing

Senin, 09 September 2013

Kisah Si Pitung dan makamnya yang terbengkalai

Tidak ada perbedaan yang mencolok dari sebuah makam yang berada di depan halaman kantor Telkom, Jalan Raya Kebayoran Lama, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Seperti layaknya makam-makam di Jakarta, makam yang ditumbuhi pohom bambu tersebut juga diberikan kumpulan batu bata merah di sekelilingnya, sebagai tanda bahwa di lokasi tersebut disemayamkan sebuah jasad.
Namun berbeda dengan makam lain, yang memiliki batu nisan, yang memberikan informasi tentang tubuh siapa yang dikebumikan, di makam yang hanya dipisahkan saluran air dengan lebar satu meter dari jalan raya itu, dengan pagar berukuran sekitar 5X5 meter yang mengelilinginya, tidak terdapat tanda bahwa di sana disemayamkan seorang legenda Betawi, Pitung.
"Ya di situ makam Pitung, pahlawan asli Rawabelong. Di depan kantor Telkom itu," jelas sesepuh Rawabelong, Nur Ali Akbar (65) saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Jalan Yahya, RT 2, RW, 7, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Lebih lanjut, meski tidak ada bukti otentik, semisal batu nisan yang memberikan informasi tentang siapa yang dimakamkan, pria yang juga ahli beladiri Betawi, Cingkrik ini yakin jika yang dikebumikan itu adalah si Pitung, Robin Hood Betawi.
"Dari cerita bapaknya kakek pak haji nih, di makam itu, Pitung dimakamkan."
Meski tidak mengetahui tanggal dan tahun kapan pastinya Pitung meninggal dunia, Haji Nunung membantah jika Pitung memiliki ilmu Rawa Rontek, seperti yang selama ini beredar. Karena menurutnya ilmu Rawa Rontek adalah ajaran agama Hindu.
Melihat kondisi makam yang mengenaskan. Dari pantauan merdeka.com, seperti kondisi makam yang dijelaskan di atas, peristirahatan Pitung itu juga tidak memiliki pengurus makam. Bahkan untuk membersihkan daun-daun bambu yang berguguran, terkadang petugas Telkom berinisiatif sendiri untuk membersihkannya.
Untuk itu, Haji Nunung berharap kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta khususnya, pemerintah kota Jakarta Barat untuk memberikan perhatian terhadap makam Pitung. Perhatian yang diharapkannya, pemerintah mau mendirikan semacam monumen.
"Apalagi wali kota (Jakarta Barat) sekarang, si Fatahillah kan orang Betawi asli. Aturannya dia bisa bagusin makam Pitung," ujar Haji Nunung.
Dia juga meminta, jika nantinya pemerintah kota Jakarta Barat berniat untuk memugar makam pitung dan mendirikan prasasti, kakek yang humoris ini juga menyarankan agar ditempatkan seorang penjaga makam. Penjaga makam itu juga wajib mengetahui sejarah warga Rawabelong itu.
"Jadi nantinya, yang jaga makam itu bisa ngasih tahu sejarah pasti Pitung," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang petugas keamanan Telkom, Rulli (45) mengatakan, di makam yang dipercaya sebagai makam Pitung itu, di waktu tertentu sering didatangi orang yang berkeinginan untuk berziarah. Bahkan tidak hanya satu, dua orang yang berziarah, bisa satu bus orang berziarah ke makam dikelilingi pagar setinggi satu meter itu.
baca keseluruhan - Kisah Si Pitung dan makamnya yang terbengkalai

Rabu, 26 Juni 2013

Kisah Ratna Djuami, anak angkat Soekarno-Inggit

Pagi tadi, Ratna Djuami, putri angkat Soekarno -Inggit Ganarsih berpulang di rumahnya, Kompleks Cibolerang D-34, Bandung, Jawa Barat. Artinya, satu lagi saksi sejarah kehidupan Soekarno berkurang.
Sebab selama ini, Ratna menjadi salah satu sumber sejarah beratnya kehidupan Soekarno ketika berada di tempat pembuangan, Ende Flores hingga Bengkulu pada 1934 silam.
Dia diangakat menjadi anak pasangan Soekarno -Inggit ketika masih berumur 40 hari, pada Juni 1923. Artinya, Ratna sudah berumur 11 tahun ketika pembuangan itu.
Sejak saat diangkat menjadi anak, Ratna turut mengisi hari-hari Presiden Pertama RI dan istri keduanya itu. Ratna Djuami lahir di Bandung pada 4 Mei 1923 dari pasangan Sumarta dan Murtasih. Murtasih adalah kakak dari Ibu Inggit Garnasih.

Awalnya permintaan Inggit untuk mengadopsi Ratna diabaikan Murtasih. Namun karena kesungguhan Inggit, akhirnya kakaknya itu luluh juga. Ratna akhirnya berpindah tangan, dan menjadi anak angkat Soekarno -Inggit.

Dalam foto-foto bersejarah di pengasingan itu memperlihatkan kehadiran gadis kecil diapit Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasih. Dialah Ratna Djuami itu. Meski dia hanya anak angkat, Soekarno sangat menyayanginya.

Bahkan ketika mendekam di penjara Sukamiskin Bandung, Sukarno kerap kangen dan merasa resah ketika mendengar Ratna sakit. Tapi Inggit selalu bisa menentramkan gundah Sukarno dengan mengatakan tak ada apa-apa dengan Ratna.

"Kusno (panggilan Inggit untuk Soekarno ) tampak senang pula dan menaruh sayang kepadanya (Ratna). Lagi pula ia memang suka sama anak-anak kecil," kata Inggit seperti ditulis dalam buku yang ditulis Ramadhan KH berjudul: "Kuantar ke Gerbang".

Pada hari-hari pertama di keluarga Soekarno , bayi 40 hari itu sering rewel dan sakit. Karena itu Soekarno ankhirnya mengganti namanya menjadi Ratna Djuami, yang akrab dipanggil Omi.

Itulah sepenggal kisah Ratna Djuami bersama Soekarno dan Inggit. Ratna meninggal karena faktor usia. Dia meninggal di usia 90 tahun.
baca keseluruhan - Kisah Ratna Djuami, anak angkat Soekarno-Inggit

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense