# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label sepak bola italia history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepak bola italia history. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 September 2021

Jorginho, Kapten Non-Pribumi Italia Pertama Sejak 1960

 

Sang bintang Chelsea mengikuti jejak Miguel Angel Montuori sebagai pemain keturunan yang memakai ban kapten Italia.

 

Jorginho mencatatkan namanya dalam buku sejarah sepakbola Italia setelah mengenakan ban kapten Gli Azzurri dalam laga kontra Lithuania.

 

Status sebagai pemimpin tim di lapangan menjadikan gelandang Chelsea itu sebagai pemain non-pribumi Italia pertama yang menjabat sebagai kapten tim sejak 1960.

 

Italia memang tampil tidak dengan kekuatan penuh saat menjamu Lithuania dalam lanjutan Grup C kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa di Mapei Stadium.

 

Jorginho menjadi salah satu pemain berpengalaman dan bagian dari skuad Italia yang menjuarai Euro 2020 kemarin, ia berperan bagus dalam membantu tim racikan Roberto Mancini meraih kemenangan telak 5-0 atas Lithuania, Kamis (9/9) dini hari WIB.

 

Ini juga pertama kali bagi Jorginho mengenakan ban kapten Italia dalam kariernya, selain juga membuat namanya menjadi pemain non-pribumi kedua yang memimpin skuad Nazionale.

 

Miguel Angel Montuori adalah pemain non-pribumi Italia pertama yang pernah menjabat sebagai kapten, yakni dua kali pada 1969 dan 1960.

 

Montuori lahir di Argentina dan menghabiskan sebagian besar kariernya bersama Fiorentina dari 1955 hingga pensiun pada 1961. 

 

Ia mencatatkan 12 caps bersama Italia dan menjadi kapten dalam laga uji coba versus Spanyol pada Februari 1959 dan Swiss pada Januari 1960.

 

Sementara Jorginho lahir di Brasil namun pindah ke Italia saat berusia 15 tahun. Ia mendapat paspor Italia karena memiliki garis keturunan dari kakek buyut dari pihak ayah.

 

"Saya senang menjadi kapten hari ini, tapi kami sebenarnya memiliki banyak kapten di tim ini," kata Jorginho kepada RAI Sport selepas laga.

 

"Pelatih bertanya bagaimana kabar saya, apakah saya bisa bermain dan saya menjawab ya. 

 

Kami di sini untuk target ini [menang] dan ketika kami harus memberikan segalanya, itulah yang kami lakukan. Tidak ada keraguan."

baca keseluruhan - Jorginho, Kapten Non-Pribumi Italia Pertama Sejak 1960

Jumat, 16 Juli 2021

Italia, Unbeaten 34 Pertandingan, Lanjutkan?

Italia mengalahkan Inggris lewat adu penalti dalam partai final Euro 2020 di Wembley. 

 

Dengan hasil itu, berarti tim besutan Roberto Mancini sudah melalui 34 pertandingan beruntun tanpa tersentuh kekalahan sama sekali.

 

Inggris unggul cepat lewat gol Luke Shaw di menit ke-2, tapi pasukan Gareth Southgate tak mampu mempertahankannya. 

 

Italia menyamakan skor lewat Leonardo Bonucci di menit 67, dan skor 1-1 tak berubah bahkan hingga habis waktu ekstra. Italia kemudian menang adu penalti 3-2.

 

Italia pun unbeaten 34 laga. Satu laga lagi, dan mereka akan menyamai rekor yang ada.

 

Terakhir Kali Kalah pada September 2018

 

Italia mulai ditangani Roberto Mancini sejak 14 Mei 2018. Dia ditunjuk menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2018.

 

Hasil kerjanya terbukti sangat memuaskan. Dengan hasil kontra Inggris di final Euro 2020, berarti Italia tak terkalahkan dalam 34 laga terakhirnya.

 

Gli Azzurri terakhir kali menelan kekalahan adalah 0-1 kontra Portugal di UEFA Nations League pada September 2018.

 

Satu Lagi Menuju Rekor Brasil dan Spanyol

 

Rekor unbeaten terpanjang di persepakbolaan internasional saat ini masih dipegang oleh Brasil dan Spanyol. Dua tim itu sama-sama pernah melalui 35 laga beruntun tanpa terkalahkan.

 

Brasil melakukannya antara 1993 dan 1996, sedangkan Spanyol menyamainya di periode 2007-2009.

 

Italia besutan Mancini kini tepat berada di bawah mereka dengan 34 laga tak terkalahkan. Italia hanya butuh satu lagi untuk menyamainya.

 

Dua pertandingan Italia berikutnya adalah melawan Bulgaria (kandang) dan Swiss (tandang) dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022. 

 

Dua laga itu akan digelar pada 2 dan 5 September 2021 waktu setempat.

 

Bisakah Italia menyamai rekor Brasil dan Spanyol, atau bahkan melanjutkannya hingga pertandingan ke-36 untuk mengukir sebuah rekor anyar?

baca keseluruhan - Italia, Unbeaten 34 Pertandingan, Lanjutkan?

4 Pertemuan Italia vs Inggris di Panggung Turnamen: Sepihak!

Turnamen akbar Euro 2020 akhirnya mencapai puncaknya. Wembley Stadium di London, Inggris, akan menjadi panggung perhelatan babak final, Senin (12/7/2021). 

 

Timnas Italia dan Timnas Inggris akan berduel dalam laga perebutan gelar juara.

 

Sebelum ini, Italia dan Inggris sudah empat kali bertemu di panggung turnamen mayor (major tournament). Hasilnya selalu berpihak ke Italia.

 

Bagaimanakah catatan pertemuan mereka itu? Simak rangkumannya berikut.

 

Euro 1980: Italia 1-0 Inggris

 

Pertemuan perdana Italia dan Inggris di major tournament tersaji di fase grup Euro 1980. Waktu itu, Italia bertindak sebagai tuan rumah.

 

Italia dan Inggris sama-sama bermain imbang dalam laga pertama mereka di Grup 2. Italia seri 0-0 dengan Spanyol, sedangkan Inggris seri 1-1 dengan Belgia.

 

Italia dan Inggris kemudian bertemu di laga kedua. Pertandingan itu digelar di Stadio Comunale, Turin.

 

Italia menang 1-0. Gol tunggal penentu kemenangan Azzurri dicetak oleh Marco Tardelli pada menit 79.

 

Piala Dunia 1990: Italia 2-1 Inggris

 

Piala Dunia 1990 digelar di Italia. Namun, Italia gagal menjadi juara. Mereka dikandaskan Argentina lewat adu penalti di semifinal.

 

Sementara itu, Inggris dihentikan Jerman Barat di babak yang sama, juga lewat adu penalti.

 

Italia dan Inggris kemudian bertemu di perebutan tempat ketiga. Main di Stadio San Nicola, Bari, Italia mengalahkan Inggris 2-1.

 

Italia unggul lewat gol Roberto Baggio di menit 71, dan Inggris sempat membalas lewat gol David Platt di menit 81. 

 

Italia kemudian memastikan kemenangan lewat penalti Salvatore Schillaci di menit 86.

 

Euro 2012: Inggris 0-0 Italia (Penalti 2-4)

 

Italia dan Inggris kemudian bertemu lagi di perempat final Euro 2012 di Polandia/Ukraina. Italia lagi-lagi keluar sebagai pemenang.

 

Italia dan Inggris bermain seri 0-0 hingga habis waktu normal serta extra time. 

 

Melihat jalannya pertandingan, di mana Italia begitu dominan dengan dimotori Andrea Pirlo di lini tengah, laga itu seharusnya bisa diselesaikan tanpa adu penalti.

 

Di babak adu penalti, Inggris sempat memimpin 2-1 setelah eksekusi Riccardo Montolivo melebar dari gawang Joe Hart. 

 

Namun, Italia bisa membalikkan keadaan, dan itu bermula dari gol dingin Pirlo dengan penalti ala Panenka untuk menyamakan kedudukan sebagai algojo ketiga Italia.

 

Dua algojo Inggris berikutnya, Ashley Young dan Ashley Cole, semua gagal.

 

Sebaliknya, Antonio Nocerino serta Alessandro Diamanti sukses menaklukkan Hart. Italia melenggang ke semifinal. Pirlo dinobatkan sebagai Man of the Match.

 

Piala Dunia 2014: Inggris 1-2 Italia

 

Dua tahun setelah Euro, mereka bertemu lagi di Piala Dunia2014 di Brasil. Mereka bertemu di laga pertama Grup D.

 

Italia unggul lewat gol Claudio Marchisio di menit 35, kemudian Inggris membalas melalui gol Daniel Sturridge di menit 37, dan Italia akhirnya menang berkat gol Mario Balotelli di menit 50.

 

Italia menang 2-1 dan meneruskan catatan superior mereka atas Inggris di major tournament.

 

Kali ini, Italia dan Inggris berjumpa di final Euro 2020. Bagaimanakah hasil akhirnya nanti?

baca keseluruhan - 4 Pertemuan Italia vs Inggris di Panggung Turnamen: Sepihak!

Minggu, 27 Juli 2014

Sejarah Hari Ini (9 Juli): Italia Jadi Raja Di Berlin

Tepat delapan tahun lalu, Italia sukses merengkuh gelar juara dunia keempatnya setelah mengalahkan Prancis di partai puncak, lewat babak adu penalti.

Piala Dunia 2006 Jerman akan selalu dikenang dengan segala kesuksesannya, baik dari segi teknis maupun ekonomi. Dan segalanya tercermin dari sengitnya partai puncak All European Final, antara Italia dan Prancis.Duel penentu gelar di Jerman diwarnai insiden kontroversi yang melibatkan legenda besar sepakbola.
Sejak babak penyisihan grup tak banyak kejutan terjadi. Korea Selatan yang tampil gemilang di Piala Dunia di rumah sendiri empat tahun sebelumnya, gagal mereplika kebrilianan karena gagal di fase grup, akibat kalah bersaing dengan Swiss dan Prancis.
Final Piala Dunia 2006
Italia 1 (5) - (3) 1 Prancis
9 Juli 2006
Olympiastadion, Berlin
Wasit:
 Horacio Elizondo (Argentina)
Gol: 0-1 Zinedine Zidane 7' (pen), 1-1 Marco Materazzi 19'
Adu Penalti: 1-0 Andrea Pirlo, 1-1 Sylvain Wiltord, 2-1 Marco Materazzi, 2-1 David Trezeguet, 3-1 Daniele De Rossi, 3-2 Erick Abidal, 4-2 Alessandro Del Piero, 4-3 Willy Sagnol; 5-3 Fabio Grosso
Italia: Gianluigi Buffon; Gianluca Zambrotta, Fabio Cannavaro, Marco Materazzi, Fabio Grosso; Mauro Camoranesi (Alessandro Del Piero 86'), Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Simone Perrotta (Daniele De Rossi 61'); Francesco Totti (Vicenzo Iaquinta 61'); Luca Toni
Pelatih: Marcelo Lippi

Prancis: Fabian Barthez; Willy Sagnol, Lilian Thuram, William Gallas, Erick Abidal; Patrick Vieira (Alou Diarra 56'), Claude Makelele; Franck Ribery (David Trezeguet 100'), Thierry Henry (Sylvain Wiltord)
Pelatih: Raymond Domenech
Salah satu perhatian utama di putaran awal adalah kesalahan fatal yang dilakukan wasit Graham Poll dalam mengeluarkan kartu kuning. Wasit asal Inggris, yang dijagokan bakal memimpin partai final, memberikan tiga kartu kuning kepada bek Kroasia, Josip Simunic, sebelum sang bek mendapat kartu merahnya dalam bentrok kontra Australia.
Performa para wasit memang jadi perhatian khusus dalam turnamen saat itu, dengan torehan 345 kartu kuning dan 28 kartu merah! Anda tentu masih ingat peperangan berdarah antara Belanda dan Portugal di Nuremberg. Segalanya tercermin di sana.
Prancis sebagai finalis yang sempat terseok di babak fase grup, melaju mulus hingga partai puncak. Dalam perjalanannya mereka sukses mengalahkan Spanyol, Brasil, dan Portugal, yang kesemuanya dilakukan dalam waktu normal 90 menit.
Sementara itu, langkah Italia ke partai puncak tampak lebih ringan. Setelah menang dramatis 1-0 atas Australia di babak 16 besar, Gli Azzurri lantas menghajar Ukraina tiga gol tanpa balas, sebelum akhirnya membuat tuan rumah Jerman menangis lewat perpanjangan waktu.
Final 2006 akhirnya tersaji di Olympiastadion, Berlin. 69 ribu penonton hadir untuk menyaksikan final ulangan Euro 2000 itu.
Peraih Bola Emas, Zinedine Zidane membuka skor dari titik putih ala Panenka di menit ketujuh, sebelum Marco Materazzi menyamakan kedudukan 12 menit berselang, melalui tandukan kerasnya.
Karena kedua tim tak mampu menambah gol di waktu normal, laga kemudian berlanjut ke babak perpanjangan waktu, dan insiden antara pencetak gol masing-masing tim jadi perhatian utamanya.
Sayangnya bukan hal positif, melainkan kontroversial. Keduanya terlibat adu mulut, sebelum legenda Prancis melancarkan tandukannya ke dada Matrix. Zidane langsung langsung dikeluarkan wasit laga, Horacio Elizondo, dan tanpa kehadirannya Les Bleus tak berkutik dalam drama adu penalti.
Kegagalan David Trezeguet melesatkan bola ke jala La Nazionale berakibat fatal, karena kelima penggawa Italia secara sempurna sukses melakukan eksekusi untuk memastikan gelar keempat tim Negeri Pizza.
Lini belakang Italia jadi sorotan atas kunci sukses menjadi kampiun, dengan sang juara cuma kebobolan dua gol sepanjang turnamen, yang merupakan rata-rata gol terendah sejak 1990.
Tak pelak sang kapten yang berposisi sebagai bek, Fabio Cannavaro, beberapa bulan kemudian dianugerahi pemain terbaik dunia.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (9 Juli): Italia Jadi Raja Di Berlin

Selasa, 01 Juli 2014

Sejarah Hari Ini (19 Juni): Italia Rebut Gelar Juara Dunia Kedua

Tepat 76 tahun yang lalu, Italia sukses jadi raja sepakbola melalui predikat sebagai negara pengoleksi gelar terbanyak Piala Dunia.


19 Juni 1938, Italia resmi mengukuhkan diri sebagai negara dengan koleksi gelar terbanyak Piala Dunia. Gli Azzurri bahkan melakukannya secara konsekutif, setelah jadi juara pada pagelaran 1934 di rumah sendiri. Di final kali ini mereka sukses menghempaskan Hungaria lewat skor 4-2, setelah dirumorkan mendapat ancaman pembunuhan dari sang diktator, Benito Mussolini, jika sampai kalah.

Italia yang pada turnamen sebelumnya menang atas Cekoslowakia lewat skor 2-1 di final, menurunkan tim yang sama sekali berbeda di 1938. Dari 11 pemain yang tampil mengalahkan Cekoslowakia dahulu, hanya Giuseppe Meazza yang kembali tampil di final melawan Hungaria. Namun Vittoria Pozzo tetap dipertahankan sebagai nakhoda Tim Biru Langit.
Final Piala Dunia 1938
Italia 4-2 Hungaria
19 Juni 1938
Olympique Yves-du-Manoir, Paris
Wasit:
 Georges Capdeville (Prancis)
Gol: 1-0 Gino Colaussi 6' 1-1 Pal Titkos 8' 2-1 Silvio Piola 16' 3-1 Gino Colaussi 16' 3-2 Gyorgy Sarosi 70' 4-2 Silvio Piola 82'
Italia: Aldo Olivieri; Alfredo Foni, Pietro Rava; Michele Andreolo, Giovanni Ferrari, Ugo Locatelli, Pietro Serantoni; Amedeo Biavati, Gino Colaussi, Giuseppe Meazza, Silvio Piola
Pelatih: Vittorio Pozzo

Hungaria: 
Antal Szabó; Sándor Bíró; Gyula Lázár, Gyula Polgár, Antal Szalay, György Szűcs; Dr. György Sárosi, Ferenc Sas, Pál Titkos, Jenö Vincze, Gyula Zsengellér
Pelatih: Alfréd Schaffer

Dalam perjalanan menuju final, Italia melaju dengan begitu mulus, meski selalu kebobolan satu gol. Di mulai dengan Norwegia (2-1), tuan rumah Prancis (3-1), dan Brasil (2-1). 

Partai melawan tim yang disebut terakhir begitu impresif. Hal itu terjadi karena pertahanan grendel Italia sukses mematikan sang top skor, Leonidas Da Silva, yang sebelumnya selalu mencetak gol sepanjang turnamen

Momen antiklimaks juga terjadi bagi Hungaria kala menghadapi Italia di partai final. Sang pencetak gol terbanyak tim, Gyula Zsengellér, jadi pesakitan di partai itu karena gagal menggetarkan jala lawan.

Padahal sang ujung tombak sukses menceploskan bola ke jala lawan sebanyak enam kali sebelum partai final.

Jadilah Italia tampil membabi buta di partai puncak. Sang kapten, Meazza, tampil melempem, tapi ada Silvio Piola di situ. Legenda Lazio ini sukses mencetak sepasang gol untuk membawa La Nazionale menang telak lewat skor 4-2.

Gol-gol Pat Titkos dan Gyorgy Sarosi yang sempat membuat jantung publik Negeri Pizza berdetak kencang, tetap tak mampu memenangkan  The Magical Magyars.
Pasca duel seru tersebut kiper Hungaria, Antal Szabo, membuat pernyataan mencengangkan dengan mengaku membiarkan empat gol Italia bersarang di gawangnya.

"Saya mungkin telah membiarkan empat gol bersarang di gawang saya, tapi setidaknya saya telah menyelamatkan nyawa mereka (penggawa Italia)," ungkap Szabo.

Rumor kemudian berhembus bahwa Mussolini telah mengirimkan sebuah telegram pada seluruh penggawa Italia yang bertuliskan, "Vincere o morire!", atau secara harafiah, "Menang atau mati!". Pada kenyataannya frase itu dipaksakan artinya menjadi, "Lakukan yang terbaik!".
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (19 Juni): Italia Rebut Gelar Juara Dunia Kedua

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense