- Luka atau lesi dalam rongga mulut yang terkait HIV
Tanda atau gejala penyakit HIV yang muncul dalam rongga mulut biasanya berupa luka atau lesi, dan jenisnya antara lain Stomatitis nekrotika, infeksi virus Herpes Simpleks, infeksi Citomegalovirus, infeksi Varicella Zoster, Kandidiasis, ulserasi aftosa, Oral Hairy leukoplakia, Sarkoma Kaposi, Papiloma, penyakit periodontal HIV. - Lesi dalam mulut sebagai tanda awal infeksi HIV
Dari berbagai macam luka dan lesi yang timbul dalam rongga mulut akibat infeksi HIV, ada satu penyakit yang dapat dijadikan pertanda awal terjadinya infeksi virus HIV. Berdasarkan penelitian yang menemukan banyaknya kasus infeksi Oral Hairy Leukoplakia pada penderita HIV maka para ahli berkesimpulan bahwa ini merupakan manifestasi awal dari infeksi HIV. - Gambaran Oral Hairy Leukoplakia
OHL dalam mulut biasanya timbul pada lidah yaitu dibagian sampingnya, bisa hanya pada salah satu atau dikedua sisi, terkadang dapat pula pada bagian atas lidah, tetapi dapat timbul juga pada langit-langit mulut, bagian dalam pipi, bibir dan dasar mulut. Lesi OHL berwarna putih dan dapat berukuran sangat kecil tetapi bisa juga lesi ini berkumpul bahkan sampai menutupi lidah, bentuknya tidak teratur, agak menonjol dan permukaannya berombak seperti karpet berbulu kasar.
Tampilkan postingan dengan label kesehatan untuk penyakit hiv. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan untuk penyakit hiv. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Desember 2013
Gejala Awal HIV dalam Mulut
Penyakit HIV adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh masyarakat, sejak awal penemuannya penyakit ini terus berkembang terutama di negara berkembang seperti negara kita. Dalam perjalanannya terdapat berbagai macam gejala yang diidap oleh penderita HIV atau AIDS, termasuk gejala yang muncul dalam rongga mulut.
Luka dan lesi dalam rongga mulut tersebut dapat menjadi petunjuk dalam mendeteksi penyakit HIV, walaupun tidak berarti keberadaan lesi itu dapat selalu diartikan adanya infeksi HIV.
Namun keberadaan OHL ini tidak selalu dapat dikaitkan dengan tanda awal infeksi HIV, pada beberapa kondidi OHL juga dapat timbul, yaitu kondisi pasien yang mengalami immunosupresi seperti pada penyakit acute myeloblastic leukemia dan pada pasien transplantasi ginjal.
5 Gejala HIV/AIDS pada Orang Dewasa dan Anak-Anak
HIV/AIDS masih menjadi salah satu penyakit mematikan saat ini. Konon belum ada obat kimia yang mampu menyembuhkannya secara total. Penanganan dengan ARV sebatas membendung virus agar tidak berkembang terlalu liar. Namun dalam sisi lain, ada beberapa pihak yang mulai mengembangkan pengobatan HIV/AID dari jalan herbal.
Terkena virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) seringkali diakibatkan oleh perilaku seks berisiko. Berganti-ganti pasangan dan seks sesama jenis dianggap sebagai beberapa penyebabnya. Di samping itu, penggunaan jarum suntik yang sembarangan, cairan darah, sperma, hingga ASI dari penderita HIV juga bisa menjadi media penularan.
Gejala HIV bisa diamati dari tanda-tanda fisik. Antara orang dewasa dan anak-anak yang kena HIV, gejala yang muncul hampir sama. Pada orang dewasa, gejala dibagi antara mayor dan minor. Gejala mayornya adalah hilang berat badan tanpa sebab sebanyak 10 persen dalam waktu sekitar satu bulanan, diare berkepanjangan, dan demam secara kontinyu lebih dari satu bulan. Sementara tanda minornya yaitu:
- Batuk kering yang sulit sembuh
- Kulit gatal di sekujur badan
- Adanya infeksi jamur di mulut, lidah, atau tengorokan.
- Terjadi pembesaran kelenjar di area ketiak, selangkangan, dan leher.
- Terserang Herpes Zoster yang sulit sembuh.
Sementara pada anak-anak, gejala mayor dari serangan virus HIV adalah berat badan rendah, pertumbuhan terganggu, diare yang tidak sembuh selama dua minggu atau lebih, demam berkelanjutan lebih dari sebulan. Untuk gejala minornya adalah:
- Kulit gatal di semua bagian badan
- Pembengkakan di leher, ketiak, atau selangkangan.
- Serangan jamur di tenggorokan, lidah, atau mulut.
- Infeksi telinga, tenggorokan, atau organ lain.
- Batuk yang tidak mereda
Kamis, 19 September 2013
Sengat Lebah Mampu Membunuh Virus HIV: Studi Universitas Airlangga
Peneliti dari Universitas Airlangga menemukan cara membunuh virus HIV di dalam tubuh dengan menggunakan sengatan lebah. Sengat lebah menyalurkan nano molekuler ke dalam darah. Selanjutnya, bahan aktif ini memburu sel-sel yang telah terpapar virus HIV sekaligus membunuhnya tanpa memberikan kerusakan pada sel-sel yang sehat. Demikian dikutip dari Tempo.
“Saya optimistis dan yakin pengobatan sengat lebah ini bisa membunuh virus HIV,” kata Nasronuddin, peneliti yang juga Direktur Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga.
Menurut Nasronuddin, sengat pada tubuh lebah sama bermanfaatnya seperti halnya madu dan propolis. Bahkan, di dalam sengat lebuh juga terkandung propolis yang mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Saat ini akan dilakukan uji klinis. LPT Unair akan mengambil sejumlah relawan penderita HIV/AIDS untuk menerima terapi sengat lebah. Semua biaya dalam tahapan uji klinis dibiayai penderita karena mereka memang sangat berharap sembuh dengan metode baru ini.
Sementara itu, PT Bio Farma kemungkinan akan mengembangkan secara komersial bila nantinya pengobatan ini sukses menyembuhkan HIV/AIDS. Perusahaan farmasi milik negara ini siap memproduksi massal. Di lain sisi, Nasronuddin mengemukakan ada manfaat lain yang bisa diambil dari sengat lebat, yaitu gangguan tuli konduksi dan malaria
“Kami memang ada keterbatasan dana. Nah, ini ada pasien yang rela tes CD4 sendiri dan kami menyediakan dokter dan terapinya gratis,” kata Nasronuddin.
Temuan ini membuka peluang baru pengobatan HIV/AIDS. Penyakit menular seksual ini penularannya melalui seks bebas berisiko hingga terpapar melalui darah dari penderita ke korbannya.
Senin, 24 Juni 2013
Tumbuhan ini Bisa Langsingkan Tubuh Hingga Cegah HIV
Selain sebagai bahan pangan yang lezat saat disantap, jamur ternyata memiliki berbagai manfaat kesehatan yang cukup beragam. Mulai dari melangsingkan tubuh hingga mencegah infeksi virus HIV.
Nah, sebelum mengetahui bagaimana peran jamur dalam menjaga berat badan dan mencegah infeksi virus HIV, ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis jamur yang sehat untuk dikonsumsi.
Nah, sebelum mengetahui bagaimana peran jamur dalam menjaga berat badan dan mencegah infeksi virus HIV, ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis jamur yang sehat untuk dikonsumsi.
Jumat, 27 Juli 2012
Seketika HIV Dinyatakan Lenyap Setelah Operasi Ini
Barangkali operasi ini akan menjadi salah satu jalan keluar membendung penyebaran HIV/AIDS. Para peneliti di Brigham and Women’s Hospital di Boston telah menemukan bahwa setelah menjalani operasi transplantasi tulang sumsum, sel darah dua pria dengan HIV dinyatakan bebas dari virus mematikan itu.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa dengan memberikan pasien transplantasi, ketika mereka berada di terapi antiretroviral, mereka mungkin telah terbebas dari virus penyebab AIDS itu.
"Kami berharap HIV menghilang dari plasma pasien. Tetapi cukup mengejutkan bahwa kami tidak dapat menemukan jejak HIV dalam sel darah mereka," kata Dr Timothy Henrich, salah seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian. "Ini menunjukkan bahwa diam-diam, dengan terapi antiretroviral, sel-sel yang terkait sistem kekebalan pasien tampaknya dilindungi dari menjadi terinfeksi kembali dengan HIV."
Temuan tersebut disajikan hari Kamis dalam konferensi AIDS 2012 di Washington DC. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk membuktikan bahwa dua pasien itu benar-benar sembuh.
"Studi dari waktu ke waktu, termasuk biopsi jaringan limfatik, akan diperlukan," kata Dr Michael Saag, seorang ahli penyakit menular dari Universitas Alabama di Birmingham. Dia mengatakan, hanya waktu yang akan memberitahukan jika pasien tetap bebas HIV.
Secara terpisah, para ilmuwan mencoba untuk menggunakan terapi gen untuk mengubah sistem imun pasien untuk membebaskan mereka dari HIV. Sebagian besar penelitian di bidang ini masih sangat awal, tetapi para ilmuwan di Fred Hutchinson Cancer Research Center berusaha untuk melakukan transplantasi sistem sel dengan sel yang telah dimodifikasi secara genetik agar tahan terhadap HIV.
"Kami belum mentransplantasikannya pada setiap pasien sebagai bagian dari penelitian kami," kata Dr Hans-Peter Kiem dari Divisi Penelitian Klinis di Fred Hutchinson Cancer Research Center dan seorang dokter transplantasi di Seattle Cancer Care Alliance.
Selasa, 17 Juli 2012
FDA Setujui Obat Pencegah Infeksi HIV
Washington (ANTARA/Xinhua-OANA) - Badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) pada Senin menyetujui Truvada, obat pertama yang dilegalkan untuk mengurangi resiko infeksi HIV pada orang yang tidak terinfeksi namun mempunyai resiko terkena virus itu karena hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi HIV.
Obat berbentuk pil harian itu dibuat oleh perusahaan Gilead Sciences di California, menggabungkan dua jenis obat yang menghalangi reproduksi HIV.
Penggunaan obat tersebut harus dibarengi dengan hubungan sex yang aman untuk mengurangi resiko infeksi.
"Truvada seharusnya tidak digunakan untuk mencegah infeksi HIV dengan sendirinya," kata pejabat FDA Dr. Debra Birnkrant saat jumpa pers.
FDA sebelumnya menyetujui Truvada untuk digunakan dengan obat antiretroviral lain untuk penanganan orang dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun yang terinfeksi HIV.
FDA mengatakan orang-orang yang mengonsumsi Truvada harus menjalani tes untuk mengetahui adanya infeksi HIV setiap tiga bulan sehingga perawatan bisa segera dimulai jika infeksi terjadi.
"Izin tersebut menandai langkah penting dalam perang kita terhadap HIV," kata Komisioner FDA Margaret Hambur dalam pernyataannya.
"Setiap tahun, kurang lebih 50.000 orang dewasa dan remaja didiagnosis terinfeksi HIV.... Jenis perawatan dan metode pencegahan baru dibutuhkan untuk memerangi epidemic HIV di negara ini," kata dia.(rr)
Langganan:
Postingan (Atom)








