Tampilkan postingan dengan label serba unix binatang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba unix binatang. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Desember 2013
Inilah Bentuk Asli dari Karakter Angry Bird
Game yang memperlihatkan kemarahan burung terhadap kawanan babi merupakan game yang sangat terkenal. Game yang dikenal dengan Angry Bird ini ternyata memiliki bentuk asli yang ada didunia nyata. Burung ini memiliki wajah dengan mata seakan-akan burung tersebut tengah marah.
Dilansir dari Odditycentral, ternyata burung tersebut memiliki penampilan yang sama persis ketika dilihat dari depan dan dikenal dengan nama silvereye. Mata burung tersebut memiliki motif lingkaran putih dan disatukan dengan garis hitam yang memberikan kesan galak.
Silvereye ini merupakan burung itu hidup di Selandia Baru, Australia maupun Kepulauan Pasifik, termasuk Fiji. Sementara itu, burung ini sendiri ditemukan oleh para peneliti pada tahun 1832 namun baru berkembang populasinya pada tahun 1856.
Burung imut berukuran 11-13 cm ini tercatat memiliki masa hidup hingga 12 tahun. Makanan mereka bermacam-macam mulai dari buah, sari bunga hingga serangga kecil.
Angry Bird merupakan game populer dimainkan di smartphone maupun tablet dengan beberapa seri. Game ini terkenal dengan karakternya yang berupa burung berbagai warna dengan ekspresi marah. Saking populernya, karakter burung pemarah itu sudah diubah jadi berbagai mainan dan boneka yang disukai anak-anak.
Rabu, 16 Oktober 2013
Snoopybabe, Kucing Paling Imut di Internet
Jumat, 20 September 2013
Spesies Siput Transparan Baru Ditemukan di Bawah Tanah
Sabtu, 24 Agustus 2013
Singa Ini Menggonggong Bukan Meraung, Kok Bisa?
Minggu, 23 Juni 2013
Semut Raspberry: Pemakan Alat Elektronik Merajalela
Rabu, 08 Mei 2013
Kambing Unik, Tidak Mengembik Namun Berkokok Seperti Ayam
Senin, 26 November 2012
Binatang dengan Kaki Terbanyak Ditemukan
Anda pasti pernah mendengar yang namanya binatang kaki seribu atau millipede. Salah satu jenisnya adalahTrigoniulus corallinus. Tentu saja jumlah kakinya tak sebanyak itu.
Tapi, saking banyaknya, ada dua pasang kaki per sekmen, kecuali sekmen pertama di belakang kepala. Untuk itu, binatang dari kelas Diplopoda ini diberi julukan kaki seribu.
Nah, para ilmuwan baru-baru ini menemukan jenis millipede dengan kaki terbanyak yang penah ada di dunia. Ia adalah Illacme plenipesdengan jumlah kaki mencapai 750 buah.
Binatang ini memiliki ruas tulang luar yang transparan dan ditumbuhi rambut sehalus sutra. Di bagian kepalanya terdapat antena untuk mendeteksi benda yang ada di sekitarnya. Sebab, binatang ini tak memiliki indra penglihatan.
Illacme plenipes, yang kini diklaim sebagai binatang dengan jumlah kaki terbanyak, meski jumlahnya tak sampai seribu, ditemukan di wilayah California, Amerika Serikat.
Tapi, saking banyaknya, ada dua pasang kaki per sekmen, kecuali sekmen pertama di belakang kepala. Untuk itu, binatang dari kelas Diplopoda ini diberi julukan kaki seribu.
Nah, para ilmuwan baru-baru ini menemukan jenis millipede dengan kaki terbanyak yang penah ada di dunia. Ia adalah Illacme plenipesdengan jumlah kaki mencapai 750 buah.
Binatang ini memiliki ruas tulang luar yang transparan dan ditumbuhi rambut sehalus sutra. Di bagian kepalanya terdapat antena untuk mendeteksi benda yang ada di sekitarnya. Sebab, binatang ini tak memiliki indra penglihatan.
Illacme plenipes, yang kini diklaim sebagai binatang dengan jumlah kaki terbanyak, meski jumlahnya tak sampai seribu, ditemukan di wilayah California, Amerika Serikat.
Sabtu, 17 November 2012
Delapan Ular Bertanduk Menetas di National Zoo
Untuk pertama kali dalam satu dasawarsa lebih, beberapa telur ular bertanduk menetas di National Zoo Smithsonian.
Delapan bayi ular, yang memiliki semacam tanduk peraba di hidung mereka, menetas pada 21 Oktober setelah empat tahun usaha pembiakan yang gagal, menurut pengumuman pihak kebun binatang pada Kamis (8 November).
Spesies air unik asal Asia Tenggara itu tidak terancam punah, tapi hanya ada sedikit informasi yang dimiliki tentang mereka. Hewan tersebut, yang memiliki nama ilmiah Erpeton tentaculatus, memiliki ukuran relatif kecil, sekitar 50-90 cm. Mereka adalah satu-satunya ular yang memiliki tanduk peraba di bagian kepala, yang memungkinkan reptil itu merasakan getaran ikan yang berenang di dekat mereka.
Ular bertanduk menghabiskan hidup mereka di air dan menggunakan ekor mereka untuk menstabilkan diri saat menunggu untuk menyerang mangsa. Penelitian terbaru yang dilakukan menitikberatkan pada cara ular itu menggunakan kemampuan berburu mereka untuk menangkap ikan ke dalam mulut.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal “PloS ONE” pada tahun 2010 menunjukkan bahwa predator yang mahir itu telah mengembangkan sebuah mekanisme untuk menangkap mangsa mereka yang ketakutan yang berakhir sejajar dengan kepala mereka, bukan di depan rahang ular yang terbuka. Rupanya, sistem saraf mereka memungkinkan untuk memperkirakan ke arah mana ikan akan berlari saat kaget.
Ular bertanduk itu juga berkembang dalam tingkat kecepatan yang menakjubkan, yang disaksikan secara langsung para staf di kebun binatang Washington, D.C.
“Beberapa jam setelah menetas, perilaku ular itu seperti ular dewasa,” menurut pernyataan Matt Evans, penjaga di Reptile Discovery Center Smithsonian. “Insting mengambil alih dan mereka berburu. Kami tidak tahu banyak tentang spesies ini, tapi kami sudah belajar banyak hanya dengan melihat mereka tumbuh.”
Bayi-bayi ular itu mungkin akan dikirim ke kebun binatang lain ketika mereka sudah dewasa, tutur staf Smithsonian. Sementara itu, empat ular bertanduk dewasa bisa dilihat di bagian Reptile Discovery Center kebun binatang tersebut.
Delapan bayi ular, yang memiliki semacam tanduk peraba di hidung mereka, menetas pada 21 Oktober setelah empat tahun usaha pembiakan yang gagal, menurut pengumuman pihak kebun binatang pada Kamis (8 November).
Spesies air unik asal Asia Tenggara itu tidak terancam punah, tapi hanya ada sedikit informasi yang dimiliki tentang mereka. Hewan tersebut, yang memiliki nama ilmiah Erpeton tentaculatus, memiliki ukuran relatif kecil, sekitar 50-90 cm. Mereka adalah satu-satunya ular yang memiliki tanduk peraba di bagian kepala, yang memungkinkan reptil itu merasakan getaran ikan yang berenang di dekat mereka.
Ular bertanduk menghabiskan hidup mereka di air dan menggunakan ekor mereka untuk menstabilkan diri saat menunggu untuk menyerang mangsa. Penelitian terbaru yang dilakukan menitikberatkan pada cara ular itu menggunakan kemampuan berburu mereka untuk menangkap ikan ke dalam mulut.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal “PloS ONE” pada tahun 2010 menunjukkan bahwa predator yang mahir itu telah mengembangkan sebuah mekanisme untuk menangkap mangsa mereka yang ketakutan yang berakhir sejajar dengan kepala mereka, bukan di depan rahang ular yang terbuka. Rupanya, sistem saraf mereka memungkinkan untuk memperkirakan ke arah mana ikan akan berlari saat kaget.
Ular bertanduk itu juga berkembang dalam tingkat kecepatan yang menakjubkan, yang disaksikan secara langsung para staf di kebun binatang Washington, D.C.
“Beberapa jam setelah menetas, perilaku ular itu seperti ular dewasa,” menurut pernyataan Matt Evans, penjaga di Reptile Discovery Center Smithsonian. “Insting mengambil alih dan mereka berburu. Kami tidak tahu banyak tentang spesies ini, tapi kami sudah belajar banyak hanya dengan melihat mereka tumbuh.”
Bayi-bayi ular itu mungkin akan dikirim ke kebun binatang lain ketika mereka sudah dewasa, tutur staf Smithsonian. Sementara itu, empat ular bertanduk dewasa bisa dilihat di bagian Reptile Discovery Center kebun binatang tersebut.
Minggu, 11 November 2012
Paus Beluga Jantan Tirukan Suara Manusia
Paus beluga jantan bernama Noc bisa menirukan suara manusia, demikian dilaporkan ilmuwan pada 23 Oktober 2012 di jurnal “Current Biology”.
Penemuan tersebut adalah yang pertama yang menunjukkan paus bisa menirukan suara manusia, dan membuat ilmuwan ingin meneliti kemampuan yang sama dari paus lain.
Paus beluga yang juga disebut paus putih, dijuluki “burung kenari laut” karena kemampuan vokalnya. Beluga adalah salah satu jenis paus yang paling kecil.
Noc yang mengagumkan
Pada 1984, iimuwan di National Marine Mammal Foundation di San Diego, mendengar suara yang tidak biasa dari tempat mereka menyimpan paus dan lumba-lumba. Suara tersebut terdengar seperti suara orang yang sedang berbincang dari kejauhan, namun tidak terdengar jelas karena jaraknya terlalu jauh.
Peneliti melacak asal suara tersebut dan mengetahui berasal dari paus putih jantan, Noc. Seorang penyelam menanyakan hal yang aneh pada rekannya: “Siapa yang menyuruhku keluar?” Peneliti menyimpulkan suara yang menyerupai kata “keluar” berasal dari Noc.
Ada banyak kesempatan bagi Noc untuk mendengar orang berbicara. Sebelumnya Noc mendengar orang berbicara di permukaan, dan juga dia mendengar orang berbicara dengan dengan alat yang memungkinkan mereka berbicara dengan para penyelam di dalam air.
Berita lucu yang menyebutkan mengenai paus putih yang bersuara seperti manusia pernah muncul di masa lalu. Contohnya penjaga Vancouver Aquarium, mengatakan bahwa seekor paus putih berusia 15 tahun pernah menyebut namanya, “Lagosi”.
Dalam sebuah tes yang lebih mendalam untuk mengetahui apakah Noc memang bisa menirukan suara manusia, ilmuwan memberikan Non makanan kecil untuk setiap suara yang dia keluarkan, dan memancing Noc agar terus membuat suara hingga ilmuwan bisa merekamnya.
Analisis suara Noc mengungkap irama yang mirip perkataan manusia. Mereka juga menampilkan frekuensi dasar yang beberapa oktaf lebih rendah dari suara paus dan lebih mendekati suara manusia.
“Kami sangat kagum — suaranya sangat mirip dengan manusia dan tidak seperti paus normal lainnya,” ujar peneliti Sam Ridgway, ahli neurobiologi, peneliti hewan, and ketua National Marine Mammal Foundation, pada LiveScience. "Kami tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya."
Paus yang memonyongkan mulutnya
Suara tersebut sangat mengejutkan karena paus biasanya membuat suara dengan cara yang sangat berbeda dari manusia. Mereka menggunakan saluran hidung, dan bukan rongga suara atau pangkal tenggorokan seperti manusia. Untuk membuat suara seperti manusia, Noc harus mengatur tekanan udara dalam saluran hidungnya sambil menyesuaikan katup yang seperti bibir dan mengembangkan kantung di bawah lubang semburnya.
“Usaha yang demikan besar menunjukkan motivasi untuk melakukan kontak” ujar Ridgway.
Suara Noc yang seperti manusia muncul hilang setelah sekitar empat tahun, setelah dia dewasa. Namun Noc masih cukup sering mengeluarkan suara selama 30 tahun setelahnya. (Noc sudah mati lima tahun lalu.)
Ridgway mengingatkan bahwa orang-orang “jangan berpikir paus bisa berkomunikasi dengan kita seperti percakapan biasa dari hasil penemuan ini.” Namun “masih diperlukan penelitian lanjut untuk memastikan apakah paus bisa berkomunikasi seperti percakapan biasa dengan manusia.”
Paus beluga sering kali dikurung dalam penangkaran dan peneliti ingin mengetahui apakah paus tersebut juga bisa menirukan suara manusia. “Penjaga akuarium harus sigap untuk perilaku paus yang seperti itu dan memastikan apakah kejadian tersebut dianalisis dengan metode akustik yang tepat.” ujar Ridgway.
Penemuan tersebut adalah yang pertama yang menunjukkan paus bisa menirukan suara manusia, dan membuat ilmuwan ingin meneliti kemampuan yang sama dari paus lain.
Paus beluga yang juga disebut paus putih, dijuluki “burung kenari laut” karena kemampuan vokalnya. Beluga adalah salah satu jenis paus yang paling kecil.
Noc yang mengagumkan
Pada 1984, iimuwan di National Marine Mammal Foundation di San Diego, mendengar suara yang tidak biasa dari tempat mereka menyimpan paus dan lumba-lumba. Suara tersebut terdengar seperti suara orang yang sedang berbincang dari kejauhan, namun tidak terdengar jelas karena jaraknya terlalu jauh.
Peneliti melacak asal suara tersebut dan mengetahui berasal dari paus putih jantan, Noc. Seorang penyelam menanyakan hal yang aneh pada rekannya: “Siapa yang menyuruhku keluar?” Peneliti menyimpulkan suara yang menyerupai kata “keluar” berasal dari Noc.
Ada banyak kesempatan bagi Noc untuk mendengar orang berbicara. Sebelumnya Noc mendengar orang berbicara di permukaan, dan juga dia mendengar orang berbicara dengan dengan alat yang memungkinkan mereka berbicara dengan para penyelam di dalam air.
Berita lucu yang menyebutkan mengenai paus putih yang bersuara seperti manusia pernah muncul di masa lalu. Contohnya penjaga Vancouver Aquarium, mengatakan bahwa seekor paus putih berusia 15 tahun pernah menyebut namanya, “Lagosi”.
Dalam sebuah tes yang lebih mendalam untuk mengetahui apakah Noc memang bisa menirukan suara manusia, ilmuwan memberikan Non makanan kecil untuk setiap suara yang dia keluarkan, dan memancing Noc agar terus membuat suara hingga ilmuwan bisa merekamnya.
Analisis suara Noc mengungkap irama yang mirip perkataan manusia. Mereka juga menampilkan frekuensi dasar yang beberapa oktaf lebih rendah dari suara paus dan lebih mendekati suara manusia.
“Kami sangat kagum — suaranya sangat mirip dengan manusia dan tidak seperti paus normal lainnya,” ujar peneliti Sam Ridgway, ahli neurobiologi, peneliti hewan, and ketua National Marine Mammal Foundation, pada LiveScience. "Kami tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya."
Paus yang memonyongkan mulutnya
Suara tersebut sangat mengejutkan karena paus biasanya membuat suara dengan cara yang sangat berbeda dari manusia. Mereka menggunakan saluran hidung, dan bukan rongga suara atau pangkal tenggorokan seperti manusia. Untuk membuat suara seperti manusia, Noc harus mengatur tekanan udara dalam saluran hidungnya sambil menyesuaikan katup yang seperti bibir dan mengembangkan kantung di bawah lubang semburnya.
“Usaha yang demikan besar menunjukkan motivasi untuk melakukan kontak” ujar Ridgway.
Suara Noc yang seperti manusia muncul hilang setelah sekitar empat tahun, setelah dia dewasa. Namun Noc masih cukup sering mengeluarkan suara selama 30 tahun setelahnya. (Noc sudah mati lima tahun lalu.)
Ridgway mengingatkan bahwa orang-orang “jangan berpikir paus bisa berkomunikasi dengan kita seperti percakapan biasa dari hasil penemuan ini.” Namun “masih diperlukan penelitian lanjut untuk memastikan apakah paus bisa berkomunikasi seperti percakapan biasa dengan manusia.”
Paus beluga sering kali dikurung dalam penangkaran dan peneliti ingin mengetahui apakah paus tersebut juga bisa menirukan suara manusia. “Penjaga akuarium harus sigap untuk perilaku paus yang seperti itu dan memastikan apakah kejadian tersebut dianalisis dengan metode akustik yang tepat.” ujar Ridgway.
Jumat, 05 Oktober 2012
Makin Canggih, Sapi Kini Bisa Kirim SMS
SMS kini tidak hanya dilakukan oleh sesama manusia. Di Swiss, sedang dilakukan riset agar seekor sapi bisa mengirimkan pesan singkat kepada pemiliknya.
Pesan yang dikirim itu akan menginformasikan bahwa sapi tersebut siap diperah. Jadi para peternak tak perlu lagi menerka-nerka kapan waktu yang tepat untuk memerah susu.
Hal tersebut sedang diuji coba oleh Christian Oesch, pemilik peternakan sapi di 44 Red Holstein dan Jersey. Ia coba memasukan sensor ke dalam beberapa sapi perah untuk mengetahui kondisinya.
Cara kerja alat tersebut tergolong simpel dan diklaim sangat akurat. Sensor akan mendeteksi tingkat kehangatan sapi, karena biasanya sapi yang sudah siap diperah memiliki suhu tubuh yang tinggi.
"Hasilnya adalah kombinasi dari algoritma, jika sapi dalam keadaan panas maka langsung mengirimkan SMS ke peternak. Tingkat akurasinya hingga 90%," klaim Claude Brielmann, spesialis komputer yang merancang sistem tersebut.
Sensor tersebut juga sudah dilengkapi dengan slot kartu SIM, dan bisa secara otomatis mengirim pesan dalam tiga bahasa utama di Swiss, yakni Jerman, Perancis dan Italia. Demikian dikutip dari New York Times.
Pesan yang dikirim itu akan menginformasikan bahwa sapi tersebut siap diperah. Jadi para peternak tak perlu lagi menerka-nerka kapan waktu yang tepat untuk memerah susu.
Hal tersebut sedang diuji coba oleh Christian Oesch, pemilik peternakan sapi di 44 Red Holstein dan Jersey. Ia coba memasukan sensor ke dalam beberapa sapi perah untuk mengetahui kondisinya.
Cara kerja alat tersebut tergolong simpel dan diklaim sangat akurat. Sensor akan mendeteksi tingkat kehangatan sapi, karena biasanya sapi yang sudah siap diperah memiliki suhu tubuh yang tinggi.
"Hasilnya adalah kombinasi dari algoritma, jika sapi dalam keadaan panas maka langsung mengirimkan SMS ke peternak. Tingkat akurasinya hingga 90%," klaim Claude Brielmann, spesialis komputer yang merancang sistem tersebut.
Sensor tersebut juga sudah dilengkapi dengan slot kartu SIM, dan bisa secara otomatis mengirim pesan dalam tiga bahasa utama di Swiss, yakni Jerman, Perancis dan Italia. Demikian dikutip dari New York Times.
Senin, 06 Agustus 2012
Ternyata Sotong Bisa Berpura-pura Jadi ‘Banci’
Sotong dikenal karena kemampuan penyamarannya yang luar biasa, berkat sel kulit khusus yang dapat membuat mereka berubah warna dalam sekejap. Kini penelitian menemukan bahwa moluska cerdas tersebut menggunakan kemampuan mengubah warnanya dengan cara yang kreatif: dengan berpura-pura menjadi betina.
Sebenarnya sih berpura-pura jadi setengah jantan, setengah betina.
Ketika sotong pejantan mencoba menarik betina, dia sering “menipu” dengan menggambar pola betina pada salah satu sisi tubuhnya, sementara sisi satunya lagi, yang menghadap betina, menunjukkan pola pejantan. Penyamaran jenis kelamin tersebut menipu pejantan saingan yang menganggap bahwa yang mereka lihat hanyalah beberapa ekor sotong betina yang sedang berkumpul.
Hal tersebut membuka kesempatan lebih besar bagi sang sotong penipu untuk kawin.
“Dengan menggunakan penampilan yang menipu tersebut, pejantan mengulur waktu yang lebih banyak untuk meyakinkan betina untuk kawin sebelum mereka dilihat oleh pejantan lainnya,” ujar peneliti Culum Brown, seorang ahli biologi di Macquarie University, Australia.
Sotong pintar
Sotong merupakan kerabat dekat cumi-cumi dan gurita. Meski dalam bahasa Inggris sotong disebut 'cuttlefish', ia bukanlah ikan melainkan moluska, filum yang sama dengan bekicot dan siput. Namun sotong sedikit lebih cerdas dari hewan-hewan penghuni taman tersebut. Mereka juga memiliki sistem penglihatan yang canggih yang membuat mereka dapat memilih penyamaran yang paling sempurna untuk berbagai situasi.
Brown dan koleganya pertama kali menemukan penyamaran “muka dua” sotong di laboratorium mereka, di mana sotong tersebut ditempatkan di kandang semi-alamiah. Para peneliti mempelajari perilaku anti-predator mereka ketika sekelompok Sepia plangon, atau sotong muram (karena area sekitar matanya agak biru seperti sedih), mulai kawin. Para peneliti menemukan bahwa pejantan kadang menunjukkan pembagian perubahan warna yang aneh. Pada sisi yang menghadap ke betina, mereka menunjukkan pola garis yang menggoda lawan jenis. Di sisi lainnya yang menghadap pejantan saingan, mereka menunjukkan pola bintik-bintik, seperti penampilan betina.
Para peneliti kemudian mempelajari foto-foto yang diambil di Sydney Harbor Australia, mencari contoh perilaku aneh tersebut di alam liar. Dari penelitian lainnya, mereka memiliki foto-foto dari 108 kumpulan sotong yang diambil selama lebih dari enam tahun, termasuk 138 pejantan penyendiri.
Melakukan penyamaran
Dalam 39 persen kelompok sotong yang difoto yang berisi pejantan, pejantan yang kawin menggunakan penyamaran jenis kelamin tersebut. Perilaku tersebut terjadi hanya pada kelompok di mana ada dua pejantan dan satu betina, ungkap penelitian tersebut.
Betina yang banyak dapat mengacaukan konsentrasi pejantan atau membuat pejantan sulit untuk melakukan penyamarannya dengan tepat, tulis mereka pada 3 Juli dalam jurnal Biology Letters.
Berubah warna saat terdapat lebih dari satu pejantan saingan mungkin dapat terlalu berisiko bagi sotong, ujar Brown pada LiveScience. Jika pejantan lain menyadari tipuan tersebut, dia akan mengajak berkelahi – dan perkelahian pasti membuat pejantan yang menyamar, biasanya lebih lemah, tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk kawin. Makin banyak pejantan yang berkumpul maka akan semakin sengit perkelahian tersebut.
Untuk binatang yang satu filum dengan siput, sotong jelas memamerkan kecerdasan mereka, ujar Brown.
“Fakta bahwa pejantan hanya melakukan penyamaran ini dalam konteks yang sangat tertentu, jelas menunjukkan bahwa mereka sangat sadar akan konteks sosial yang dihadapi mereka dan berperilaku sesuai lingkungan tersebut,” ujarnya.
Interaksi sosial yang kompleks sering dikaitkan tentang alasan mengapa primata dan burung menunjukkan kecerdasan mereka, dan mungkin ini sama halnya seperti yang terjadi pada sotong.
Sebenarnya sih berpura-pura jadi setengah jantan, setengah betina.
Ketika sotong pejantan mencoba menarik betina, dia sering “menipu” dengan menggambar pola betina pada salah satu sisi tubuhnya, sementara sisi satunya lagi, yang menghadap betina, menunjukkan pola pejantan. Penyamaran jenis kelamin tersebut menipu pejantan saingan yang menganggap bahwa yang mereka lihat hanyalah beberapa ekor sotong betina yang sedang berkumpul.
Hal tersebut membuka kesempatan lebih besar bagi sang sotong penipu untuk kawin.
| Sotong jantan (kanan) menunjukkan pola jantan di sisi tubuhnya yang menghadap ke sotong betina. Di sisi kanan, tubuhnya menunjukkan motif betina, demi menipu pejantan lainnya yang melihat dia. |
Sotong pintar
Sotong merupakan kerabat dekat cumi-cumi dan gurita. Meski dalam bahasa Inggris sotong disebut 'cuttlefish', ia bukanlah ikan melainkan moluska, filum yang sama dengan bekicot dan siput. Namun sotong sedikit lebih cerdas dari hewan-hewan penghuni taman tersebut. Mereka juga memiliki sistem penglihatan yang canggih yang membuat mereka dapat memilih penyamaran yang paling sempurna untuk berbagai situasi.
Brown dan koleganya pertama kali menemukan penyamaran “muka dua” sotong di laboratorium mereka, di mana sotong tersebut ditempatkan di kandang semi-alamiah. Para peneliti mempelajari perilaku anti-predator mereka ketika sekelompok Sepia plangon, atau sotong muram (karena area sekitar matanya agak biru seperti sedih), mulai kawin. Para peneliti menemukan bahwa pejantan kadang menunjukkan pembagian perubahan warna yang aneh. Pada sisi yang menghadap ke betina, mereka menunjukkan pola garis yang menggoda lawan jenis. Di sisi lainnya yang menghadap pejantan saingan, mereka menunjukkan pola bintik-bintik, seperti penampilan betina.
Para peneliti kemudian mempelajari foto-foto yang diambil di Sydney Harbor Australia, mencari contoh perilaku aneh tersebut di alam liar. Dari penelitian lainnya, mereka memiliki foto-foto dari 108 kumpulan sotong yang diambil selama lebih dari enam tahun, termasuk 138 pejantan penyendiri.
Melakukan penyamaran
Dalam 39 persen kelompok sotong yang difoto yang berisi pejantan, pejantan yang kawin menggunakan penyamaran jenis kelamin tersebut. Perilaku tersebut terjadi hanya pada kelompok di mana ada dua pejantan dan satu betina, ungkap penelitian tersebut.
Betina yang banyak dapat mengacaukan konsentrasi pejantan atau membuat pejantan sulit untuk melakukan penyamarannya dengan tepat, tulis mereka pada 3 Juli dalam jurnal Biology Letters.
| Sotong jantan (kiri) menunjukkan pola jantan di bagian kanan tubuhnya pada seekor sotong betina, sementara di sisi lain tubuhnya, ia menunjukkan pola betina. |
Untuk binatang yang satu filum dengan siput, sotong jelas memamerkan kecerdasan mereka, ujar Brown.
“Fakta bahwa pejantan hanya melakukan penyamaran ini dalam konteks yang sangat tertentu, jelas menunjukkan bahwa mereka sangat sadar akan konteks sosial yang dihadapi mereka dan berperilaku sesuai lingkungan tersebut,” ujarnya.
Interaksi sosial yang kompleks sering dikaitkan tentang alasan mengapa primata dan burung menunjukkan kecerdasan mereka, dan mungkin ini sama halnya seperti yang terjadi pada sotong.
Kamis, 02 Agustus 2012
Namaku Udang Bob Marley
Lembaga konservasi lingkungan, Amphibian Ark, memberikan nama kodok Pangeran Charles untuk jenis katak Hyloscirtus princecharlesi yang biasa hidup di hutan hujan Ekuador, awal Juli lalu. Dua pekan kemudian, giliran nama penyanyi reggae legendaris asal Jamaika, Bob Marley, yang disematkan pada sejenis udang parasit dari laut Karibia, Gnathia marleyi.
Paul Sikkel, biolog kelautan dari Arkansas State University yang menemukan udang karang itu mengatakan, inilah spesies anyar yang ditemukan di perairan itu setelah lebih dari dua puluh tahun kosong tanpa penemuan baru. “Aku menamainya Marley karena inilah keajaiban alam, seperti kekagumanku terhadap musik Bob Marley,” katanya, seperti dikutip DailyMail.
Selain itu, lanjutnya, spesies udang ini juga dianggap unik, seperti halnya dengan Bob Marley yang mendapat penghargaan Grammy sepanjang masa.
Spesies ini sebenarnya sudah lama diketahui para peneliti kelautan. Bakan sebenarnya, Sikkel sudah menemukan Gnathia marleyi ini sejak satu dekade lalu di Kepulauan Virgin, Amerika. Namun untuk tujuan akademik, udang parasit tersebut harus benar-benar bisa digambarkan dengan tepat.
Akhirnya Sikkel mengirimkan spesies tersebut ke anggota tim risetnya, Nico J. Smit dari North-West University di Afrika Selatan. Dari sinilah, Smit akhirnya mengonfirmasikan bahwa spesies tersebut yang dulu diabaikan oleh para ahli taksonomi.
Sifat udang parasit ini sangat unik. Biasanya, dia bersembunyi di antara karang dan kontan “menyerang” ikan yang lewat. Bukannya membunuh atau memangsa ikan itu, udang Bob Marley ini hanya menempel di ikan tersebut hingga akhir hidupnya.
Selama sisa hidupnya, sekitar tiga pekan, menurut Sikkel, udang ini sama sekali tak memakan sesuatu. “Dia akan mati setelah selesai bereproduksi,” katanya.
Dengan kondisi koral di perairan Karibia yang terus terdegradasi, seperti diklansir Discovery, populasi ikan yang menjadi induk semang udang-udangan Bob Marley ini pun semakin sedikit. Maka, induk semang yang tersisa, semakin dipenuhi dengan rupa-rupa parasit.
Udang parasit Bob Marley ini melengkapi daftar binatang yang diberi nama berdasarkan tokoh dunia, seperti Caloplaca obamae, sejenis lichen yang diberi nama Presiden Barack Obama. Ada pula sejenis serangga antropoda Mick Jagger yang telah punah, Aegrotocatellus Jaggeri.
Jika Jagger disematkan pada seekor serangga yang tentu saja tak memiliki bibir dower seperti vokalis Rolling Stones itu. Sedangkan nama penyanyi seksi Beyonce Knowles diberikan pada sejenis lalat, Scaptia beyonceae.
Paul Sikkel, biolog kelautan dari Arkansas State University yang menemukan udang karang itu mengatakan, inilah spesies anyar yang ditemukan di perairan itu setelah lebih dari dua puluh tahun kosong tanpa penemuan baru. “Aku menamainya Marley karena inilah keajaiban alam, seperti kekagumanku terhadap musik Bob Marley,” katanya, seperti dikutip DailyMail.
Selain itu, lanjutnya, spesies udang ini juga dianggap unik, seperti halnya dengan Bob Marley yang mendapat penghargaan Grammy sepanjang masa.
Spesies ini sebenarnya sudah lama diketahui para peneliti kelautan. Bakan sebenarnya, Sikkel sudah menemukan Gnathia marleyi ini sejak satu dekade lalu di Kepulauan Virgin, Amerika. Namun untuk tujuan akademik, udang parasit tersebut harus benar-benar bisa digambarkan dengan tepat.
Akhirnya Sikkel mengirimkan spesies tersebut ke anggota tim risetnya, Nico J. Smit dari North-West University di Afrika Selatan. Dari sinilah, Smit akhirnya mengonfirmasikan bahwa spesies tersebut yang dulu diabaikan oleh para ahli taksonomi.
Sifat udang parasit ini sangat unik. Biasanya, dia bersembunyi di antara karang dan kontan “menyerang” ikan yang lewat. Bukannya membunuh atau memangsa ikan itu, udang Bob Marley ini hanya menempel di ikan tersebut hingga akhir hidupnya.
Selama sisa hidupnya, sekitar tiga pekan, menurut Sikkel, udang ini sama sekali tak memakan sesuatu. “Dia akan mati setelah selesai bereproduksi,” katanya.
Dengan kondisi koral di perairan Karibia yang terus terdegradasi, seperti diklansir Discovery, populasi ikan yang menjadi induk semang udang-udangan Bob Marley ini pun semakin sedikit. Maka, induk semang yang tersisa, semakin dipenuhi dengan rupa-rupa parasit.
Udang parasit Bob Marley ini melengkapi daftar binatang yang diberi nama berdasarkan tokoh dunia, seperti Caloplaca obamae, sejenis lichen yang diberi nama Presiden Barack Obama. Ada pula sejenis serangga antropoda Mick Jagger yang telah punah, Aegrotocatellus Jaggeri.
Jika Jagger disematkan pada seekor serangga yang tentu saja tak memiliki bibir dower seperti vokalis Rolling Stones itu. Sedangkan nama penyanyi seksi Beyonce Knowles diberikan pada sejenis lalat, Scaptia beyonceae.
Langganan:
Postingan (Atom)


















