# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label tips n tricks for fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips n tricks for fotografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2020

Ini Cara Mengubah Foto Ukuran 3x4 Secara Online

Sebenarnya ada beberapa aplikasi yang bisa memudahkan kamu untuk mengubah ukuran pas foto.


Salah satunya adalah dengan Photoshop dan juga Paint. Namun jika tak memiliki aplikasi tersebut, kamu bisa mengedit foto secara online.


Pilihan website untuk mengubah ukuran foto antara lain PicResize dan ImageResizer.com.


Berikut ini cara merubah ukuran foto menjadi 3x4 secara online :


PicResize


Untuk kamu yang ingin mengedit foto dengan PicResize bisa dilakukan dengan cara ini:


1. Buka website PicResize.com


2. Setelah itu klik Browse atau buka file foto dan sorot ke kolom yang sudah tersedia. Jika sudah klik Continue.


3. Scroll ke bawah. Pilih Resize Your Picture, ubah opsi Make My Picture menjadi Custom Size. Pilih ukuran 354 x 472 pixels.


4. Klik I'm Done, Resize My Picture.


ResizeImage


Kamu juga bisa menggunakan ResizeImage dengan cara berikut ini:

1. Buka website ResizeImage.net


2. Upload foto yang ingin dirubah ukurannya menjadi 3x4


3. Pilih Resize your image dan ubah settingannya menjadi 3x4 (354x472px). Klik centang pada kolom Keep Aspect Ratio.


4. Geser ke bawah dan klik Resize Image.


5. Kamu juga bisa memilih format foto JPG, PNG hingga GIF.

baca keseluruhan - Ini Cara Mengubah Foto Ukuran 3x4 Secara Online

Kamis, 13 November 2014

Foto Hitam Putih: Beda Sumber, Beda Hasilnya


http://images.detik.com/content/2014/11/12/1353/131430_photogrid_1415772611190.jpgEnche Tjin
Jika ingin foto B&W, lebih baik pilih mode monochrome / B&W langsung jadi atau lebih baik foto warna biasa dulu?

Jawaban:

Sensor gambar kamera kita orisinalnya adalah sensor warna, jadi kalau kita pilih monochrome langsung, berarti semua informasi warna akan dihapus secara otomatis oleh kamera, menyisakan gradasi abu-abu.

Dalam proses konversi ini, keterangan warna hilang, sehingga saat kita ingin mengatur terang gelap berdasarkan warna sudah tidak bisa lagi.

Saran saya adalah selalu memotret dengan warna, dan kemudian diproses lewat software seperti Lightroom/Photoshop. Tapi jika kita ingin hasil yang instant juga, saran saya potretlah dengan setelan RAW+JPG di menu Image Quality.

Di layar monitor, yang terlihat adalah foto hitam putih, tapi saat diperiksa isi kartu memori, akan ada file RAW yang tetap menyimpan informasi warna dan bisa kita olah kembali. Siapkan memory card yang cukup besar karena file RAW memakan lebih banyak tempat di memory card.

Contoh :

Foto warna ini adalah file tangkapan kamera.



Foto hitam putih ini adalah hasil pemilihan proses foto menjadi monochrome langsung dari kamera.



Foto ini adalah hasil editing dari foto warna.



Kelebihan jika kita mengedit dengan foto warna menjadi monochrome adalah kita dapat mengendalikan terang gelap channel warna. Misalnya, warna orange saya buat lebih terang sehingga wajah orang tersebut jadi lebih terang. Selain itu warna biru saya gelapkan sehingga warna kemeja dan langit menjadi lebih gelap. 



Warna tertentu bisa kita atur gelap terangnya jika foto yang diedit adalah foto warna.

Jika kita tidak menyimpan foto dengan informasi warna, tentunya akan lebih repot untuk mengeditnya. Konversi otomatis dari kamera jarang menghasilkan foto yang ideal sesuai keinginan kita.
baca keseluruhan - Foto Hitam Putih: Beda Sumber, Beda Hasilnya

Kamis, 25 September 2014

Bisakah Mengkombinasi Filter Bundar dengan Kotak?


http://images.detik.com/content/2014/09/18/1353/114313_camerand.jpg(ilustrasi/GettyImages)
Apakah bisa seumpama saya beli filter ND yang bundar lalu saya ingin menambahkan holder pada lensa tersebut sehingga bisa dikombinasikan dengan filter GND kotak? Tolong pencerahannya saya harus membeli dua-duanya atau cukup salah satu saja

Jawaban:

Secara teknis bisa dilakukan, tapi tidak lazim dan berpotensi merepotkan. Dengan memasang ND sebelum GND kotak, maka sulit menentukan bagian mana yang gelap karena filter ND yang bundar membuat pandangan menjadi gelap.

Jika ingin mengunakan sistem filter kotak, sebaiknya mengunakan filter ND dan GND yang kotak juga.
baca keseluruhan - Bisakah Mengkombinasi Filter Bundar dengan Kotak?

Sabtu, 06 September 2014

Tips Memotret Bulan

Untuk memotret foto bulan, hasil yang sering saya dapatkan hanya hitam saja dan bulannya tampak seperti bola putih. Bagaimana seharusnya? 

Jawaban:

Hal ini permasalahan klasik. Penyebabnya adalah kamera mengukur sebagian besar area lingkungan yang gelap (langit) dan mengganggap pemandangan terlalu gelap sehingga menentukan setting yang terlalu terang dan bulan menjadi tidak berdetail. Hanya seperti bola putih saja.

Cara mengatasinya yaitu mengunakan mode manual, dan kemudian gelapkan foto sampai bulan tersebut terlihat jelas teksturnya. Cara menggelapkan yang praktis yaitu mempercepat shutter speed seperti contoh di bawah ini. Alternatif lain yang bisa dilakukan adalah menurunkan nilai ISO dan memperkecil bukaan.


Data foto pertama (7794) ISO 3200, f/2.8, 1/400 detik


Data foto kedua (7795) ISO 800, f/2.8, 1/400 detik


Data foto ketiga (7796) ISO 800, f/2.8, 1/500 detik
baca keseluruhan - Tips Memotret Bulan

Jumat, 15 Agustus 2014

Mengontrol Kamera DSLR Pakai Smartphone dengan CASE Remote


Mengontrol Kamera DSLR Pakai Smartphone dengan CASE Remote

Perkembangan aplikasi khususnya dalam dunia fotografi memang semakin mengagumkan, dimana salah satu aplikasi pada smartphone bahkan mampu mengontrol kamera digital professional sekelas DSLR. 

Teknologi ini dapat dilakukan melalui koneksi Wifi yang ada pada kamera dan smartphone kamu. Tapi bagaimana bila pada kamera digital DSLR kita adalah versi lama dan tidak memiliki koneksi Wifi?

CASE Remote adalah merupakan perangkat tambahan yang hadir untuk menanggulangi masalah tersebut dimana kamu cukup memasang perangkat ini pada Hotshoe kamera DSLR.

Setelah itu secara otomatis kamera DSLR versi lama kamu memiliki koneksi Wifi dan siap dioperasikan melalui smartphone.

Piranti ini diklaim kompatibel dengan segala hotshoe dari kamera Nikon dan Canon saja.
Fitur dan tampilan pada layar juga sangat familiar bagi pengguna kamera professional yang sudah ada. Setelah kamera dan smartphone terhubung maka kamu dapat melihat gambar yang tertangkap kamera sama dengan gambar di layar smartphone.

Selain itu, kamu juga dapat secara manual mengatur fokus dan memodifikasi hampir semua parameter dasar dalam pemotretan seperti diafragma, aperture, ISO dan white balance.  Dan tampilan pada layar smartphone juga memungkinkan untuk beberapa kustomisasi yang bisa kamu lakukan untuk kenyamanan dalam memotret.
Menurut Dpreview, Sistem kerjanya juga sangat simpel, setelah memotret maka thumbnail akan muncul di app. Lalu kamu mendapatkan pilihan untuk men-download gambar ke perangkat smartphone kamu yang disertai dengan data GPS lokasi pada saat melakukan pengambilan gambar.
Rencananya CASE Remote ini akan mulai dipasarkan pada awal September 2014 dengan kisaran harga US$ 99 sampai US$ 127. Dan buat kamu yang sudah tidak sabar ingin memilikinya bisa melakukan pre-order via online melalui indiegogo.com.
baca keseluruhan - Mengontrol Kamera DSLR Pakai Smartphone dengan CASE Remote

Bermain Efek High Contrast B&W di Street Photography


Street photography merupakan jenis fotografi yang cukup banyak diminati karena bisa dilakukan di mana saja.
Meski penafsiran batasan dan aturan street photography sering mengundang pendapat yang berbeda-beda bahkan sampai diperdebatkan, tapi tujuan utama dari street photography kurang lebih sama, yaitu fotografer mencoba menangkap potret kegiatan keseharian orang atau masyarakat di tempat umum/publik.

Ada yang senang menangkap portrait orang dengan cara candid dengan lensa telefoto, ada juga yang mengajak ngobrol terlebih dahulu, baru motret. 

Ada juga yang suka memotret interaksi antara orang dengan lingkungannya, dan ada juga yang suka memotret karena tertarik bentuk-bentuk, garis, pencahayaan dan sebagainya.

Sebenarnya gak masalah mau motret dengan gaya seperti apa karena setiap orang memiliki kepribadian dan kesukaan yang berbeda-beda. Yang menarik bagi saya tentang street photography adalah kita tidak tau apa yang kita akan dapat. 

Hal itu bisa menarik bagi sebagian fotografer, tapi bagi fotografer yang ingin sepenuhnya mengendalikan lighting, komposisi dll, jalanan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

Bagi saya, street photography paling menarik saat motret di pagi atau sore hari, karena saat itu cahayanya dramatis. Setelah matahari tenggelam juga sebenarnya masih menarik terutama di tengah kota yang terang dengan lampu jalan dan gedung-gedung.

Untuk olah foto street photography, B&W merupakan pilihan yang populer bagi street photographer. Tujuan utamanya biasanya adalah supaya pemirsa lebih fokus ke pencahayaan, bentuk, tekstur dan rasa/mood foto. 

Warna yang terlalu pekat bisa memecah fokus pemirsa. Foto hitam putih juga ada dua jenis, high contrast dan low contrastHigh contrast bagus untuk memberikan kesan yang misterius dan sedikit seram, sedangkan yang low contrast terlihat lebih damai dan aman.

Di dua foto di bawah, saya ubah fotonya ke hitam putih kontras tinggi dengan tujuan membuat foto terlihat lebih dramatis dan misterius.


ISO 25600, f/5.6, 1/40 detik, 16mm (di FF 24mm)

Di foto ini saya tertarik dengan sinar lampu motor yang menyinari jalanan, dan kebetulan ada orang yang sedang berjalan juga, tapi gelap karena sinarnya dari belakang sehingga jadi siluet dan menambahkan kesan misterius dalam foto ini.


ISO 6400, 1/25 detik, f/4, 19mm (di FF 28mm)

Di foto yang kedua, saya tertarik melihat seorang ibu-ibu berjalan dengan tubuh yang sedikit tertunduk dan sepertinya telah capai bekerja/berjualan seharian. Sepertinya dalam perjalanan pulang.

Saya melihat ada bayangan yang cukup panjang di belakangnya dan kemudian juga di sekitarnya kebetulan tidak ada orang yang melintas, jadi fokus pemirsa nantinya hanya ke ibu itu.

Kedua foto ini sebenarnya saya buat tanpa ada rencana terlebih dahulu, kebetulan kamera sudah siap buat foto jadi langsung jepret. Kalau kamera masih di tas yaaa, gak keburu. Kedua foto dibuat di kawasan Kota Tua Jakarta.

Ngomong-ngomong, kedua foto mengunakan ISO yang sangat tinggi karena matahari telah tenggelam, setelah dijadikan hitam putih masih terlihat lumayan oke, terutama kalau dicetak kecil atau ditampilkan untuk web saja.

Konversi B&W dan menaikkan kontras saya lakukan lewat Adobe Lightroom. Kalau ingin belajar, ada workshop dan buku untuk belajar Lightroom secara otodidak.

Kedua foto diatas dibuat dengan Sony A6000 dan 16-70mm f/4 OSS.
baca keseluruhan - Bermain Efek High Contrast B&W di Street Photography

Mengenal Kit Lens


http://images.detik.com/content/2014/08/13/1353/kitlenscanon.jpgilustrasi/getty images
Apa yang dimaksudkan dengan kit lens? Mengapa kit lens berbeda antar kamera yang satu dengan yang lain?

Jawaban:

Kit lens biasanya adalah lensa zoom yang dipadukan dengan kamera yang bisa ganti-ganti lensa seperti kamera DSLR/mirrorless. Kit lens biasanya cukup serbaguna untuk berbagai kondisi karena mencakup daerah yang cukup lebar dan cukup tele. Biasanya, lensa yang dipaketkan 18-55mm, atau ada juga yang lebih panjang dan lebar. 

Lensa kit bukan lensa yang spesialis, artinya dari kualitas dan focal length-nya bukan yang terbaik, tapi cukup baik untuk belajar fotografi terutama untuk pemula. Setelah memahami dasar fotografi dan ingin lebih berkonsentrasi ke jenis fotografi tertentu, dibutuhkan lensa yang lebih khusus.

Semakin canggih kameranya, biasanya lensa kit yang dipasangkan juga kualitasnya lebih bagus. Contohnya Canon 5D yang sensornya full frame biasanya dipaketkan dengan lensa kit Canon 24-105mm f/4 IS L, Olympus OMD EM1 dipasangkan dengan lensa pro 12-40mm f/2.8. Jadi banyak juga lensa kit yang kualitasnya bagus.

Fotografer yang sudah berpengalaman biasanya tidak membeli kamera dengan paket kit lens karena sudah memiliki lensa-lensa lain ataupun sudah mengetahui lensa yang lebih cocok untuk jenis fotografi yang digeluti. Untuk pemula, saran saya membeli dengan paket kit lens karena selain lebih ekonomis, biasanya lensa kit cukup serbaguna untuk pemakaian di berbagai jenis fotografi.
baca keseluruhan - Mengenal Kit Lens

Rabu, 30 Juli 2014

Kapan Sebaiknya Menghidupkan Stabilizer Lensa?

http://images.detik.com/content/2014/07/24/1353/stabilizercamera.jpg
Kapan sebaiknya menghidupkan stabilizer lensa?

Jawaban:

Fungsi dari IS (image stabilization) dan VR (vibration Reduction) atau OIS (optical Image stabilization) adalah untuk menstabilkan lensa saat memegang kamera dengan tanggan, akibatnya foto akan bisa lebih tajam.

Biasanya, IS/VR boleh dibiarkan pada kondisi on, Tapi ada beberapa kondisi dimana sebaiknya IS/VR/OIS dimatikan, antara lain:

Jangan menghidupkan stabilizer saat kamera diam saat didudukkan di tripod. Karena jika tidak mendeteksi adanya getaran, stabilizer akan bergetar dan membuat foto tidak tajam.

Jangan menghidupkan stabilizer saat menggunakan shutter speed yang cepat, kecuali mengunakan shutter speed yang lebih lambat dari 1/jarak fokal lensa. Contohnya, jika mengunakan lensa dengan jarak fokal 50mm, dan shutter speed yang diperoleh 1/100 detik, maka tidak perlu menghidupkan stabilizer. Sebaliknya, jika mendapatkan shutter speed 1/30 detik (30 < 50mm) maka, sebaiknya menghidupkan stabilizer.

Jangan langsung menekan tombol shutter secara penuh. Tekan tombol shutter setengah dulu, tunggu 1-2 detik sampai kamera/lensa memantapkan stabilizernya dulu baru tekan secara penuh.

Jangan mematikan kamera saat stabilizer masih bekerja.
baca keseluruhan - Kapan Sebaiknya Menghidupkan Stabilizer Lensa?

Selasa, 15 April 2014

Menghilangkan Bintik Hitam di Sensor

Saya punya kamera DSLR Canon 600D, saya sudah memakainya sejak tahun lalu. Minggu kemarin saya mencoba untuk mengecek debu/kotoran pada sensor kamera saya, dengan settingan F22, ISO 300-400. Setelah saya potret dengan menggunakan settingan itu, terlihat ada beberapa bintik hitam di hasil jepretan. Saya coba potret berkali kali, posisi bintik hitam tetap pada posisinya.

Bagaimana cara menghilangkan bintik hitam itu di sensor? Karena setahu saya, sensor pada kamera itu sangat sensitif. Apa perlu dibawa ke Datascript, distributor Canon di Indonesia?

Jawaban:

Debu atau partikel lain yang menempel di filter sensor memang menjengkelkan karena menimbulkan noda dan bercak di foto, terutama saat memotret dengan bukaan yang sangat kecil seperti f/22. Saran saya, coba aktifkan sensor cleaning di kamera. Sebagian besar kamera DSLR/mirrorless yang bisa ganti-ganti lensa memiliki fitur ini. 

Saat diaktifkan, mekanisme sensor akan bergetar dan mudah-mudahan debu atau partikel bisa lepas. Tapi kalau ternyata masih terdapat debu setelah sensor cleaning, maka sebaiknya kamera dibersihkan oleh teknisi berpengalaman/pusat servis. 

Jika garansi kamera masih berlaku, biasanya biaya servis ini gratis. Jika belum berkesempatan ke pusat servis, mengunakan bukaan yang lebih besar seperti f/8 akan mengurangi tampilnya debu.
baca keseluruhan - Menghilangkan Bintik Hitam di Sensor

Jumat, 04 April 2014

Bagaimana Memotret Bangunan Megastruktur?


http://images.detik.com/content/2014/04/04/1279/meg1.jpgGarden Bay the Bay Singapura difoto sebagian memberi efek seakan jembatan melayang.
Bangunan-bangunan super gede, dengan arsitektur yang atraktif dan detil yang rumit. Dari bandara super luas, stasiun kereta 20 peron hingga taman kota modern atau bangunan bersejarah dan kuno. Semua menarik di depan lensa, saat sepi atau sedang ramai.

Persoalannya, bagi yang datang sebagai traveler biasa seperti saya, tanpa persiapan matang seperti tim National Geographic, berdiri di depan bangunan-bangunan megastruktur tersebut membuat serba salah.

Mau motret keseluruhan tetapi akses dan waktu terbatas. Hendak mengambil yang detail namun sangat ramai oleh pengunjung. Belum lagi faktor cuaca, mepetnya waktu atau teman satu rombongan yang tidak terlalu suka menunggu Anda selesai memotret.

Dengan segala keterbatasan, bukan berarti membuat gentar. Sebaliknya, semakin tertantang.

Pertama, lakukan riset singkat tentang destinasi yang bakal dikunjungi. Perhatikan komposisi dan spot yang biasa menjadi langganan pemotretan. Juga waktu pemotretan apakah pagi, siang atau sore hingga malam. Sebab, pengaruh cahaya matahari sangat berdampak besar pada hasil foto, khususnya jatuhnya bayangan.

Kedua, pikirkan spot terbaik termasuk aksesnya. Kalau ada pilihan hotel yang menarik, carilah yang berlokasi di depan atau di seberang 'target' yang menghadap megastruktur. Jika ada opsi lebih spesifik lagi, usahakan mendapat kamar hotel di lantai tertinggi. Tiada lain supaya terlihat overview/landscapemegastruktur secara lengkap. Atau bisa mencari restoran cepat saji/kafe yang mempunyai view ke megastruktur.

Ketiga, untuk memperoleh gambaran keseluruhan, tak perlu terburu-buru memasuki bangunan megastruktur. Kalau bangunan itu memang berukuran jumbo, memotret dari jarak 200 hingga 300 meter sudah mewakili keseluruhan. Kalau perlu, lakukan 'orientasi medan' dengan berkeliling umtuk mencari spot terbaik.

Keempat, siapkan lensa lebar dengan focal lenght kurang dari 20mm (full frame). Lensa lebar sangat membantu saat spot memotret sangat sempit, kepentok tembok atau jalan raya. 

Yang patut dicermati, distorsi lensa lebar membuat efek melengkung (cembung) pada gambar yang dihasilkan. Akan terlihat sangat buruk untuk foto-foto arsitektur tentunya. Oh iya, banyak-banyaklah menggunakan diafragma kecil seperti f/8. f/9, f/11, dan seterusnya. Sebab, aperture yang luas akan membuat ruang tajam dari ujung ke ujung.

Kelima, bila sudah berada di dalam bangunan megastruktur, temukan sesuatu yang menarik dengan bermain persepsi dan efek ilusi visual. Syaratnya dapat bermain main cropping, mengambil bagian yang perlu dan menghilangkan bagian yang tidak penting.



Foto: Bandara Suvarnabhumi, Thailand. Seperti lorong waktu atau jaring laba-laba?

Dapat juga dengan membandingkan dengan sesuatu untuk mengontrol persepsi pembaca. Misalkan membandingkan satu orang yang sedang berdiri sendirian di bawah bangunan megastruktur yang biasanya di buat sangat teliti. Tujuannya supaya menghasilkan 'wow effect' tak berkesudahan.

Bila masih ada waktu, bisa diulangi lagi pada malam hari. Tiada lain untuk memotret suasana malam dan lampu kota di bangunan tersebut. Permainan speed lambat atau long exposure sangat tepat dilakukan. Syaratnya cukup membawa tripod supaya gambar stabil.

Keenam, carilah posisi tinggi untuk menghasilkan efek luas dan megah. Kalau banyak pengunjung, mainkan efek slow speed supaya terasa heboh dan kolosal. Selebihnya, bisa bermain komposisi yang menarik dengan memperhatikan garis garis ilusi.



Foto: Struktur yang rumit nan luas namun spot pemotretan terbatas membuat bagian bawah piramida Museum Louvre ini tidak mampu memberi gambaran sebenarnya.
baca keseluruhan - Bagaimana Memotret Bangunan Megastruktur?

Sabtu, 22 Maret 2014

Mengolah Foto RAW dari Kamera


http://images.detik.com/content/2014/03/17/1353/adobephotosop.jpgIlustrasi/Adobe Photoshop
Saya baru belajar fotografi. Awalnya, saya mensetting kamera menggunakan format RAW dengan harapan apabila foto yang didapat/dihasilkan kurang memuaskan dapat diolah/diedit lagi di PC. Dan ternyata benar saja foto-foto yang saya dapatkan ternyata tidak memuaskan, untuk itu saya ingin mengeditnya. Namun kendalanya saya tidak tahu harus mulai bagaimana dan darimana cara mengedit foto dengan format RAW. Mohon pencerahannya.

Jawaban:

Untuk mengolah foto RAW dari kamera, Anda membutuhkan software yang disebut RAW converter. Beberapa yang populer antara lain Adobe Camera RAW yang biasa dipaketkan dengan Adobe Photoshop. Yang populer lainnya yaitu Adobe Lightroom.

Saat membeli kamera, ada paket software yang diberikan secara gratis, misalnya Canon Digital Photo Professional atau Nikon Capture One. Keduanya mampu membaca file RAW dan memproses foto ke format lainnya, seperti JPG. Jika kamera lebih baru daripada versi softwarenya, maka kita tidak bisa membuka file tersebut.

Banyak hal yang bisa diedit di foto yang berformat RAW, misalnya setting White Balance, exposure, contrast, saturation, noise reduction, lens distortion, vignetting , Picture style/control dan lain-lain.

Sebagai awal, coba buka file RAW dengan software yang saya sarankan di atas, lalu cobalah utak-utik settingan yang bisa diatur. Selamat mencoba.
baca keseluruhan - Mengolah Foto RAW dari Kamera

Cara Mengetahui Ukuran Bit File RAW


http://images.detik.com/content/2014/03/18/1353/bitdepth.jpg(ilustrasi)
Bagaimana cara mengetahui file RAW itu 12 bit atau 14 bit?

Jawaban:

Bit depth adalah informasi jumlah warna yang ada di tiap pixel
(bagian terkecil yang menyusun gambar digital). Semakin besar angka bit depth maka semakin banyak informasi warna sehingga kualitas gambar semakin bagus.

Untuk file JPG, bit depthnya adalah 8. Pada umumnya, 8 bit depth sudah cukup baik untuk dilihat oleh mata manusia. Tapi untuk editing, semakin besar bit-depthnya, semakin fleksibel kita dalam mengedit foto tanpa mengurangi kualitas gambar itu sendiri.

Tidak mudah mengetahui asal file RAW dari 12 bit atau 14 bit karena setiap foto RAW yang dibuka di software biasanya diadaptasi menjadi 16 bit.

Cara praktisnya yaitu dengan memeriksa setting di menu kamera kita, apakah 12 atau 14 bit. Cara lainnya yaitu memeriksa ukuran filenya, jika lebih besar, berarti bitnya lebih besar juga. Sebenarnya dari 12 ke 14 bit sulit dibedakan kualitas gambarnya dengan mata manusia. Hanya jika kita mengolah foto secara ekstrim baru terlihat perbedaannya.
baca keseluruhan - Cara Mengetahui Ukuran Bit File RAW

Sabtu, 08 Februari 2014

Jurus Jitu Memotret Pantai

Indonesia beruntung memiliki garis pantai terpanjang di dunia yaitu 95.181 km. Dengan panjang pantai sejauh itu, banyak pantai-pantai indah yang cocok untuk difoto. Berikut ide-ide foto yang bisa dibuat di pantai.

1. Waktu yang bagus untuk memotret.

Untuk waktu memotret, yang paling ideal adalah sore dan pagi hari. Sekitar jam 16.00-18.00, langit berubah warna dengan sangat cepat dan sangat bervariasi. 

Matahari yang letaknya rendah di dekat garis horizon membuat bayangan yang panjang dan warna yang hangat dan lebih lembut daripada sinar matahari di tengah hari.


(Dua nelayan sedang menunggu untuk menjala ikan. ISO 100, f/16, 1/50 detik)

Pastikan tiba di lokasi setidaknya satu setengah jam sebelum matahari terbenam/terbit untuk mencari lokasi yang baik untuk memotret.

Tips pemula: Saat memotret sunrise/sunset: Jika cahaya sudah sudah agak gelap, gunakan mode P, naikkan ISO ke 400-800 dan kemudian atur terang gelap dengan mengunakan kompensasi exposure (biasanya ditandai dengan simbol +/-).

2. Teknik Slow Speed

Aliran ombak yang terlihat cukup kencang dan ganas, dapat diubah menjadi seperti kabut yang lembut saat memotret dengan teknik slow speed. 

Untuk membuat air menjadi lembut, dibutuhkan tripod supaya hasil foto tetap tajam. Gunakan shutter speed yang rendah (lebih dari 5 detik).


(Sesaat matahari tenggelam, kita dapat mencoba teknik slow speed. ISO 100, f/11, 30 detik, 35mm)

Saat yang mudah untuk mengunakan teknik ini adalah saat subuh sebelum matahari terbit dan sesaat setelah matahari terbenam.

Tidak dibutuhkan tripod jika memotret di kondisi cahaya yang agak gelap. Gunakan filter polarizer dan/atau ND untuk membatasi cahaya yang masuk sehingga memotret saat siang atau sore yang sangat terang tidak menjadi masalah.

Tips pemula: Jika tidak memiliki filter, tunggulah sampai cahaya sudah agak gelap, dudukkan kamera di tripod, gunakan mode Aperture Priority (A/Av), set ISO ke 100 atau paling rendah untuk mendapatkan kualitas foto tertinggi, kemudian set aperture/bukaan ke sekitar f/11. 

Jika hasil foto terlalu gelap, ubah bukaan menjadi f/8 atau f/5.6, sebaliknya jika hasil foto terlalu terang, kecilkan bukaan ke f/16 atau f/22. 

3. Masukkan objek atau manusia yang ada di sekitar pantai.


Memotret langit, laut, awan dan matahari sambil melihat perubahan dramatis saat sunset memang menyenangkan, tapi jangan lupa masukkan elemen-elemen lain seperti pepohonan, batu karang, dan manusia ke dalam pemandangan sebagai pelengkap. 

Aplikasikan aturan rule of thirds dengan menempatkan elemen-elemen tersebut di sebelah kanan/kiri dan tempatkan garis horizon 1/3 atau 2/3 dari bidang foto.


(Jangan lupa orientasi vertikal, tergantung subjek dan pemandangannya, kadang orientasi vertikal lebih menarik daripada horizontal/landscape. ISO 100, f/8, 1/200 detik)

Tips pemula: Pohon, ranting-ranting dan dedaunan dapat menjadi elemen foreground yang memberikan kesan tiga dimensi.

Banyak kan yang bisa dieksplorasi saat berkunjung di pantai? Selamat mencoba!


(Foto semacam ini tidak mudah karena kita harus mempertahankan supaya langit dan laut tidak terlalu terang. ISO 100, f/8, 1/200 detik)
baca keseluruhan - Jurus Jitu Memotret Pantai

Kiat Jitu Memotret Konser Musik

Bagaimana setting kamera yang sebaiknya digunakan saat memotret pada sebuah konser terutama dalam ruangan indoor?

Jawaban:

Setting kamera yang biasa saya gunakan adalah mode manual, alasannya supaya saya bisa mengendalikan gelap terang cahaya dengan lebih leluasa.

ISO kita set cukup tinggi karena biasanya konser indoor agak gelap, kurang lebih ISO 1600 atau 3200

Untuk bukaannya, usahakan mengunakan bukaan yang relatif besar, seperti f/2.8 atau f/4, supaya banyak cahaya yang bisa masuk ke dalam kamera.

Dan untuk shutter speednya amannya sekitar 1/200 detik atau lebih cepat, tapi kalau kondisi gelap sekali, atau pemusiknya gak banyak bergerak, 1/125 cukup. 

Kalau kurang terang, atau terlalu terang, coba diubah ISO-nya.

Setting penting lainnya yaitu mode autofokus. Gunakan AF-A (Nikon, Sony) atau AI Focus (Canon. Mode autofokus ini akan berusaha melacak subjek foto jika subjeknya berubah tempat saat kita menekan setengah tombol shutter.
baca keseluruhan - Kiat Jitu Memotret Konser Musik

Tips Singkat Menjepret Saat Lowlight

Bagaimana mensetting kamera beserta flashnya untuk suasana lowlight agar hasil foto tidak terlihat underexposure ataupun over?

Jawaban:

Untuk mendapatkan hasil foto yang sangat akurat sesuai keinginan, mode flash manual bisa digunakan. Untuk setting exposure kameranya sendiri, saya sarankan mode manual juga. Di kondisi gelap, memakai ISO yang agak tinggi akan membantu menyeimbangkan cahaya lingkungan dan flash. 

Misalnya ISO 800 atau 1600. Shutter speed berperan besar dalam memasukkan cahaya lingkungan. Jika ingin cahaya dalam ruangan agak terang atau seimbang dengan flash, gunakan shutter speed yang agak lambat tapi jangan terlalu lambat karena dapat menyebabkan subjek foto menjadi kurang tajam. Cobalah sekitar 1/30-1/60 detik.
baca keseluruhan - Tips Singkat Menjepret Saat Lowlight

Lebih Baik Memotret Pakai Mode ETTL atau M?

Saya belum lama membeli Canon Speedlite 430EX II, berhubung saya masih baru dalam mengggunakan flash external ingin bertanya dalam posisi indoor maupun outdoor, lebih baik memakai ETTL atau M ya? Dan bagaimana settingan yang bagus?

Jawaban:

Sebenarnya pakai ETTL atau M keduanya bisa saja membuat foto yang bagus. ETTL itu kata lainnya otomatis, jadi pengukur cahaya kamera dan flash bekerja sama menentukan seberapa kekuatan flash yang cocok untuk kondisi saat itu. Perhitungan itu sangat cepat/instan sehingga ETTL sering digunakan saat kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk menyetel kekuatan flash.

Kelemahan mode ETTL adalah kekuatan flash yang dipilih oleh kamera dan lensa mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita, misalnya terlalu terang atau terlalu gelap. Di saat demikian, mode manual lebih bagus untuk dipilih, karena kita bisa mengatur kekuatan flash yang berdampak terhadap terang-gelap subjek foto.
baca keseluruhan - Lebih Baik Memotret Pakai Mode ETTL atau M?

Senin, 27 Januari 2014

Resolusi dpi dan Cara Mengubahnya

untuk EOS 1100D, Horizontal dan Vertical di Exif cuma 72 dpi ya ? Bisa tidak di kamera tersebut menjadi 300 dpi? Setingannya dimana ya?

Jawaban:

Jangan khawatir tentang dpi yang ada di EXIF gambar. Yang penting adalah total resolusi megapixelnya, yang bisa diatur di menu kamera bagian image quality. 

Resolusi 72 dpi (dot per inch) hanya berlaku saat kita ingin mencetak foto. Jika ditampilkan di komputer, kualitas gambar tidak akan terpengaruh (pecah atau berukuran kecil) hanya karena resolusi cetaknya 72 dpi. Jika ingin mengubah dpinya, bisa melalui software. Misalnya di Adobe Photoshop di menu > image quality > Resolution.

Resolusi 72 dpi menandakan bahwa saat mencetak, dalam 1 x 1 inci, ada 72 pixel, sedangkan 300 dpi berarti dalam 1 x 1 inci, ada 300 pixel. Jika mencetak dengan resolusi cetak 300 pixel, maka foto yang dicetak akan sangat tajam meskipun dilihat dari jarak yang sangat dekat, sedangkan 72 dpi akan terlihat pecah/pixellated saat dilihat dari dekat. Tapi mencetak 300 dpi berarti gambar yang dicetak akan berukuran lebih kecil daripada mencetak 72 dpi.

Contoh, jika kamera Anda memiliki resolusi 18 MP, maka saat di set 300 dpi, maka Anda bisa mencetak dengan ukuran gambar kurang lebih 29 x 44 cm. Biarpun tidak begitu besar, tapi gambar akan terlihat sangat tajam meskipun dilihat dari sangat dekat.

Sedangkan jika di set 72 dpi, maka Anda bisa mencetak dengan ukuran gambar kurang lebih 122 x 183 cm. Besar bukan? tapi pecah gambarnya kalau dilihat dari dekat.
baca keseluruhan - Resolusi dpi dan Cara Mengubahnya

Senin, 25 November 2013

Imagechef, Buat Foto Lucu dan Unik di Situs Ini


Imagechef adalah situs internet yang memungkinkan pengguna kreasikan foto dan gambar lucu. Pengunjung situs ini bisa pula membuat Meme dengan kreasi suka-suka.
Sesuai namanya, ‘Imagechef’, mungkin miliki filosofi ‘juru racik gambar’. Situs ini bisa dibilang situs generator untuk gambar dan foto tertentu. Soal ‘tertentu’ yang dimaksud adalah gambar unik dan lucu.
Lantas, ada apa saja di situs ini? Foto dan gambar lucu jelas konten wajib yang disuguhkan. Namun ada pula layanan menarik lain yang dihadirkan. Sebut saja Timeline Cover dan Meme Maker.
Gambar Teks
Layanan ini mungkin adalah fitur utama dari Imagechef. Sebab, di landing pagesitus tersebut dijejali oleh template gambar bertulisan teks. Singkat cerita, pengguna bisa mengkreasikan foto ber-caption hanya dengan mengganti teks dengan tulisan suka-suka.
Kemudian untuk kategorinya jumlahnya cukup beragam. Situs ini dilengkapi fiturlogin dengan Facebook untuk kemudahan show up gambar teks yang telah diciptakan. Penggguna bisa dengan mudah mempamerkan antar user lain.
Meme Generator
Sesuai namanya, Imagechef hadirkan tool khusus untuk ciptakan ilustrasi Meme. Ada ratusan template yang bisa dipakai dengan cara mengedit teks yang ada atau dengan mengunggah foto dan menambahkan teks baru.
Timeline Cover
Kemudian ada Timeline Cover, adalah tool untuk ciptakan foto cover di laman Facebook Timeline Anda. Tak perlu repot lagi memasang foto cover dengan gaya dan posisi yang diinginkan. Tinggal klik fitur ini maka semua akan serba otomatisasi.
Masih banyak fitur Imagechef lainnya, sila Anda eksplorasi di situsnya. Kunjungi laman Imagechef di tautan berikut.
baca keseluruhan - Imagechef, Buat Foto Lucu dan Unik di Situs Ini

Kamis, 14 November 2013

4 Langkah Sederhana Memulai Foto Strobist yang Memukau

6 frame foto yang digabung menjadi satu frame di komputer. Lampu ditempatkan di atas kepala dengan mengontrol intensitas cahaya pada 1/16.

Strobist merupakan teknik memotret dengan melepaskan flash dari body kamera lalu ditempatkan sesuai kebutuhan dan dihubungkan dengan sinyal triger. Lebih murah dan efisien karena cukup menggunakan baterei AA sehingga dapat digunakan di lokasi pemotretan tanpa colokan listrik. 

Tidak heran, teknik ini semakin populer dalam 2 hingga 3 tahun belakangan karena teknologi digital sudah sangat mendukung. Apalagi hasilnya tidak kalah dari lampu 'betulan' yang besar dan berat.

Pertama, tentu membeli peralatan penunjang utama yakni flash, triger dan lightstand (atau flash shoe holder saja, lalu dihubungkan dengan tripod). Sementara payung, softbox dan flash kedua, ketiga dan seterusnya masih merupakan pilihan, tergantung kebutuhan foto.

Flash diperlukan untuk membuat cahaya rekayasa, baik sebagai sumber utama maupun cahaya pendukung bila pemotretan dilakukan di bawah sinar matahari yang terik. Banyak sedikitnya lampu flash yang diperlukan tergantung kebutuhan foto. 

Triger diperlukan untuk menghubungkan sinyal dari body kamera ke flash yang telah ditempatkan jauh dari kamera. Di beberapa merek kamera, telah ditanam pemantik khusus sehingga tidak diperlukan triger tambahan. Sebaiknya membaca buku manual terlebih dahulu, apakah kamera Anda sudah terpasang triger atau belum. 

Lighstand (tiang penopang lampu). Sebenarnya, tiang ini bisa diabaikan bila menemukan tempat pengganti yang memungkinkan menaruh flash sesuai yang diinginkan, seperti di atas lemari atau meja.

Namun pada praktiknya, tempat yang memungkinkan ini sulit dijumpai. Solusinya, meminta teman untuk memegangkan flash. Kalaupun sendirian, mau tidak mau menggunakan lighstand. Nah, untuk amannya, lebih baik memiliki setidaknya satu lighstand buat hasil yang maksimal.
(Sama-sama menggunakan 1 flash namun menghasilkan hasil berbeda dengan mengontrol intensitas cahaya baik di flash maupun body kamera. Foto kiri cahaya lebih menyebar dan foto kanan cahaya mengumpul)

Selain itu, ada peralatan pendukung lain seperti payung, softbox atau flash kedua, ketiga dan seterusnya. Peralatan pendukung ini dapat diabaikan atau justru sangat diperlukan tergantung kebutuhan foto. 

Kedua, seting kamera ditempatkan pada mode M alias Manual. Kenapa? karena dengan mode manual, intensitas cahaya yang masuk ke kamera (diafragma) dan kecepatan kamera bisa dimainkan secara maksimal. Alhasil, dapat menghasilkan efek bayangan yang berbeda-beda dan dicocokan dengan kebutuhan. 

Untuk ISO, lebih baik menggunakan ISO rendah antara 100 hingga 400. Bukan karena ISO tinggi tidak bagus, melainkan ISO rendah merupakan ISO 'ideal' untuk foto menggunakan tata lampu yang terukur. Sebagai contoh dalam foto pertama, saya menggunakan ISO 200, f/11 dan kecepatan 1/160. Power flash saya setel di 1/16 supaya tidak terlampau kencang dan hanya membuat cahaya kecil di permukaan wajah.

Dan untuk kualitas gambar, perbanyak menggunakan ukuran Large (L) atau dalam beberapa kasus, tidak ada salahnya menggunakan RAW. Menggunakan resolusi terbaik di kamera memungkinkan hasil lebih maksimal dan meminimalisir kekurangan 'data gambar' yang dihasilkan.

Ketiga, penempatan lampu (flash). Pakem standar memotret dengan lampu yakni lampu utama ditempatkan di atas jidat agak menyerong seperti cahaya matahari sekitar 40 derajat. Penempatan tersebut untuk menghasilkan bayangan paling alamiah dan paling populer dipergunakan.
Tetapi sekali lagi itu panduan dasar. Pada praktiknya, lampu utama bisa ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan fotografi. Bisa ditempatkan di atas frontal, di samping atau dari belakang subjek. Semua berdasar kebutuhan dan imajinasi fotografer hendak membuat foto seperti apa. 

Keempat, mensetting lampu. Di beberapa merek, terdapat mode flash otomatis maupun manual. Nah, ada baiknya menggunakan mode Manual di seting lampu flash. Sebab, intensitas cahaya dapat lebih mudah dikontrol dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Pada mode Manual, setidaknya terdapat 2 hal yang patut diperhatikan. Pertama power (kekuatan) lampu. Ditandai dengan hitungan 1/1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 dan 1/128. Hitungan 1/1, kekuatan cahaya paling terang. Sementara kekuatan 1/128, merupakan paling redup. Dengan bermain-main dengan hitungan ini, cahaya dan bayangan bisa dikendalikan sesuai kebutuhan fotografer, bukan? 

Kedua, selain power yakni intensitas tebaran cahaya. Biasanya menggunakan angka 24mm, 28mm, 35 mm, 50mm, 70mm, dst. Sederhananya, angka ini berfungsi untuk mengontrol cahaya apakah akan menebar luas ataukah sempit (fokus pada satu titik saja). Pada angka 24mm, cahaya yang tersebar luas. Kebalikannya pada angka 70mm, sebaran cahaya lebih sempit dan pada satu titik tertentu. 

Nah, hitung-hitungan kekuatan lampu dan sebaran cahaya sangat dipengaruhi pula oleh jarak lampu dengan subjek yang dipotret. Juga dipengaruhi pula oleh luasnya ruangan pemotretan. Hitung-hitungannya agak rumit dan menggunakan rumus tertentu.

Namun sederhananya, semua bisa disesuaikan di lapangan yakni dengan tes lighting terlebih dahulu. Juga trial error sederhana saat memulai pemotretan. 

Dengan 4 langkah singkat tersebut lalu ditunjang imajinasi fotografer yang kuat, maka foto strobist bakal maksimal. Terlebih ditopang dengan citarasa (taste) yang apik serta menggunakan bahasa visual yang komunikatif, maka foto yang Anda hasilkan akan jauh lebih menarik.

Selamat mencoba.
baca keseluruhan - 4 Langkah Sederhana Memulai Foto Strobist yang Memukau

Jumat, 20 September 2013

Menghasilkan Foto Tajam & Jernih di Kondisi Low Light

Salah satu momok besar bagi fotografer pemula adalah bagaimana membuat foto yang berkualitas tinggi di kondisi cahaya yang gelap seperti di dalam ruangan atau di malam hari. 

Seperti kita tahu, biasanya foto indoor/malam hari cenderung buruk dan tidak tajam karena munculnya noise/titik-titik pada foto. 

Noise timbul karena setting ISO tinggi. Di kamera DSLR atau compact, jika menggunakan ISO lebih tinggi dari 800, noise akan mulai muncul dan mengurangi kualitas gambar. Jika ISO diset rendah, akibatnya foto gelap atau blur akibat getaran tangan kita sendiri.

Untuk Objek Tidak Bergerak

Cara tradisional yang paling ampuh terutama untuk memotret objek yang tidak bergerak, adalah dengan tripod. Dengan mendudukkan kamera diatas tripod, kita bisa mengunakan shutter speed rendah dan ISO rendah. Akibatnya, kualitas foto jauh lebih baik. 

Cara lain yang tidak seampuh tripod, tapi lumayan baik adalah mengunakan lensa atau kamera yang memiliki stabilizer (kodenya biasanya IS, VR, VC, OS, OIS, SS, dll). 

Dengan stabilizer, kita dapat mengunakan shutter speed yang agak lambat untuk mengumpulkan cahaya lebih banyak tanpa 
menyebabkan foto blur. 

Getaran tangan kita saat membuat gambar diredam oleh mekanisme stabilizer. Mekanisme ini seperti mini tripod. Namun ada keterbatasan dari sistem stabilizer ini, yaitu tidak bisa menstabilkan kamera selama tripod. 

Setiap stabilizer berbeda-beda antara kamera dan lensa, ada baiknya mencoba sendiri efektivitas dari sistem ini. Contohnya, dengan lensa Nikkor 16-35mm f/4 VR, saya mampu membuat foto yang tajam dengan shutter speed sampai dengan 1/8 detik, dan kalau Canon 100mm f/2.8 IS L Macro, saya dapat mengunakan shutter speed 1/30 detik.

Cobalah mengunakan shutter speed lambat, dan temukan shutter speed yang paling minimum dimana foto yang dihasilkan tetap tajam. Jangan percaya gambar yang di monitor kamera, tapi periksalah di layar monitor komputer/laptop dan diperbesar (zoom 100%).

Objek Bergerak

Tripod dan stabilizer memang akan sangat membantu dalam pemotretan di kondisi cahaya yang kurang baik, tapi jika kita memotret objek yang bergerak tripod tidak berdaya, karena kita mengandalkan shutter speed lambat saat memakai tripod. Shutter speed lambat tidak bisa membekukan gerakan objek yang bergerak.

Untuk mengakali kondisi tersebut, kita dapat mengunakan lensa bukaan besar. Bukaan lensa yang besar mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada lensa dengan bukaan sedang atau kecil. 

Contoh lensa berbukaan besar yaitu Nikkor 35mm f/1.8, Canon 50mm f/1.4, Sigma 18-35mm f/1.8, Tamron 24-70mm
f/2.8 VC dan lain lain, semakin kecil angka yang mengikuti 'f', semakin besar bukaannya.

Taktik lain yang bisa digunakan yaitu mengunakan kamera DSLR bersensor full frame yang permukaannya sekitar 50% lebih besar. Permukaan yang lebih besar mampu menyerap lebih banyak cahaya lingkungan sehingga kualitas foto tidak terlalu jelek di ISO tinggi. 

Menurut pengalaman saya, kualitas foto di ISO 4000, setara dengan ISO 1600 di kamera DSLR biasa yang bersensor APS-C.

Satu taktik lagi yang bisa kita gunakan adalah dengan memanfaatkan flash/lampu kilat. Flash tidak bisa menjangkau daerah yang terlalu jauh atau luas seperti bukit/gunung yang jauh, tapi sangat efektif untuk menerangi objek yang dekat dengan kita seperti tanaman, manusia, flora dan fauna. 

Dengan mendapatkan cahaya tambahan flash, gambar yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. ISO pun tidak perlu diset tinggi. Di dalam ruangan yang memiliki langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, flash (external/speedlite) dapat diarahkan ke langit-langit untuk menghasilkan cahaya yang lembut ke objek.

Pada intinya:


1. ISO tinggi dan shutter speed lambat adalah cara kamera untuk membuat gambar di kondisi cahaya gelap, sebagai akibatnya foto tidak tajam dan jernih. 
2. Supaya hasil gambar tajam dan jernih, untuk objek tidak bergerak kita gunakan tripod atau stabilizer. Untuk objek bergerak, lensa bukaan besar dan flash kita gunakan.
3. Kesemuanya bertujuan agar kita dapat mengunakan ISO rendah.
baca keseluruhan - Menghasilkan Foto Tajam & Jernih di Kondisi Low Light

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense