Tampilkan postingan dengan label kesehatan untuk penyakit jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan untuk penyakit jantung. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Oktober 2013
Pemberian Vaksin Flu Dapat Mencegah Penyakit Jantung
Studi terbaru menemukan bahwa vaksin flu dapat menguragi risiko serangan jantung dan stroke. Dikutip Times of India, persentase penurunan risiko hingga lebih dari 50 persen. Hal ini menjadi kabar baik bagi orang-orang yang berisiko memiliki riwayat serangan jantung.
Kesimpulan ini diambil setelah peneliti melakukan kajian terhadap enam uji klinis kesehatan jantung pada relawan yang telah menerima vaksin flu. Di dalamnya termasuk 6.700 pasien yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit jantung.
Dalam analisanya, peneliti mendapati bahwa vaksin flu menurunkan risiko masalah jantung utama sebesar 36 persen pada satu tahun kemudian. Masalah antung tersebut meliputi serangan jantung, stroke, gagal jantung, atau kematian yang berhubungan dengan jantung.
Di samping itu, mereka juga memiliki 55 persen lebih rendah untuk mendapatkan risiko serangan jantung baru bagi yang pernah mengalaminya. Dan, dimungkinkan mereka meninggal bukan karena masalah pada jantung.
Dr Jacob Udell, peneliti di Universitas Toronto, ini, juga mengatakan orang-orang mungkin akan semakin berkurang risiko terkena masalah jantung ketika vaksin flu yang diberikan lebih kuat dibanding vaksin-vaksin flu standar. Dan, ini memberikan dampak positif bagi pasien.
Studi tersebut dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association.
Minggu, 13 Oktober 2013
Duduk Terlalu Lama Bisa Kena Serangan Jantung
Jika Anda lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk, sempatkan dalam sekian waktu tertentu untuk berdiri dan menggerakkan badan. Pasalnya, kebanyakan duduk memicu pembekuan darah. Saat kondisinya makin fatal bisa berujung pada serangan jantung.
Dikutip dari Times of India, daerah pertama yang diserang pembekuan darah adalah kaki. Kasus sepeti ini disebut dengan deep vein thrombosis (DVT), yaitu bentuk bekuan darah di pembuluh darah dalam di kaki atau panggul.
” Duduk di posisi yang sama selama berjam-jam dapat menyebabkan pembekuan darah di kaki yang bisa berakibat fatal jika tidak diobati pada waktunya,” kata Dr Anil Bansal, Kardiolog Interventional di Rumah Sakit Columbia Asia.
Sementara itu duduk berjam-jam membuat bekuan darah mencoba mencari jalan untuk membebaskan diri dari posisi mereka saat itu. Masalahnya, perjalanan darah akan melewati pembuluh darah yangmengarah pada paru-paru di sebelah kanan. Kejadian ini bisa menimbulkan emboli paru.
Penyumbatan pada arteri utama paru-paru ini lantas melakukan perjalanan lagi ke bagian tubuh lain melalui aliran darah. Penyumbatan yang makin meluas ini membuat aliran oksigen yang salah satunya harus dipasok ke jantung menjadi berkurang. Inilah kemudian yang akan memicu serangan jantung.
” Jika tubuh Anda atau bagian dari tubuh tidak bergerak untuk waktu yang lama, ini menghambat sirkulasi darah. Jika darah berkumpul di satu tempat di kaki, trombosit cenderung menempel satu dengan yang lain dan membentuk bekuan , ” kata Bansal.
Bagi Anda yang menjalani pekerjaan dengan lebih banyak duduk, ada baiknya mengatur waktu setiap beberapa waktu sekali melakukan relaksasi tubuh. Anda bisa berdiri dan berjalan-jalan sebentar untuk menghindari bekuan darah
Minggu, 29 September 2013
Pria Dengan Testosteron Rendah Berisiko Mengalami Penyakit Jantung
Pria yang memiliki kadar hormon testosteron dalam tubuhnya bukan hanya berisiko mengalami ketidaksuburan. Studi baru yang dilakukan Ghent University Hospital di Belgia juga menemukan, pria dengan testosteron rendah juga berpeluang mengalami dan meninggal karena penyakit jantung. Demikian dikuti dari Times of India.
Testosteron merupakan hormon seks untuk pria. Keberadaannya membantu pria tetap terjaga gairah seksualnya, memproduksi sperma, dan menjaga kesehatan tulang. Sementara itu, menurunnya kadar hormon dapat ditandai dengan meningkatnya lemak, hilangnya rambut di tubuh, dan menurunnya massa otot.
Studi yang dipimpin Johannes Ruige, MD, PhD tersebut meneliti sejumlah studi yang pernah dilakukan. Hasilnya antara hubungan antara testosteron dengan penyakit kardiovaskuler. Studi ini menjadi bukti hubungan sederhana di antara keduanya. Peneliti juga mengatakan bahwa rendahnya testosteron dan penyakit jantung bisa pula disebabkan oleh menurunnya tingkat kesehatan secara keseluruhan.
“Sebuah patogenesis tertentu tidak terlihat. Namun kejadian yang mungkin jarang diselidiki bisa saja memainkan peran, seperti trombosis (yang membuat) bekuan darah berkembang dalam sistem peredaran darah atau aritmia, sehingga ada masalah dengan tingkat atau denyut jantung,” kata Ruige.
Penelitian ini akan diterbitkan dalam The Endocrine Society’s Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism (JCEM).
Rabu, 11 September 2013
Sakit Gusi Bisa Memicu Penyakit Jantung
Penyakit gusi tidak boleh disepelekan. Pasalnya, sebagian orang-orang yang mempunyai penyakit jantung sebelumnya memiliki masalah periodontal atau gusi menurut sebuah studi. Diduga ada kaitan erat antara penyakit gusi dengan penyakit jantung . Demikian dikutip dari Times of India.
Kebanyakan penyakit yang berhubungan dengan jantung terjadi lantaran terjadi penyempitan pembuluh darah. Penyebabnya banyak penumpukan plak yang menjejali saluran peredaran darah. Plak membuat nutrisi yang seharusnya dipasok untuk jantung menjadi terhambat. Kondisi jantung yang “lapar” tersebut memicu serangan jantung ketika nutrisi sama sekali tidak ada yang masuk ke jantung.
Namun perlu dipahami, penyempitan juga dapat terjadi karena masuknya bakteri penyebab penyakit. Bakteri ini awalnya berada mulut yang ikut terbawa ke pembuluh darah ketika seseorang mengalami sakit gusi. Jalur peredaran darah dari mulut ke jantung berhubungan secara langsung. Saat penyakit gusi tidak segera diatasi, akan makin banyak bakteri yang masuk. Bakteri mengumpul di dinding pembuluh darah.
Diduga kuat, tubuh akan merespons hadirnya benda asing ini dengan memberikan efek peradangan atau inflamasin. Karena pembuluh darah membengkak dan menimbulkan perlengketan, maka kondisinya makin menyempit. Nutrisi untuk jantung jadi ikut terhambat. Walhasil risiko terjadinya serangan jantung tidak terhindarkan.
Selain masalah jantung, sakit gusi juga bisa menjalar untuk menimbulkan penyakit lain. Di antaranya adalah diabetes, kelahiran dengan berat bada rendah, perut ulkus, infeksi paru-paru, dan disfungsi ereksi. Oleh karena itu, rawatlah gigi dan gusi Anda secara teratur dan kunjungi dokter gigi setiap enam bulan sekali untuk melihat kondisi terakhir kesehatan rongga mulut.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Rahasia Ngeri di Balik Sesendok Gula
Gula merupakan bumbu pemanis yang dapat membuat berbagai jenis minuman dan penganan menjadi lebih nikmat disantap. Sayangnya, ada fakta-fakta merugikan yang diakibatkan oleh gula dan tak diketahui oleh banyak orang.
Apa saja rahasia mengerikan yang ada di balik sesendok gula yang Anda konsumsi? Berikut ini di antaranya seperti dilansir oleh Huffington Post:
- Menyebabkan penyakit jantung
Sebuah studi yang dipublikasikan pada Journal of American Heart Association 2013 menemukan molekul dari gula atau sari patinya bernama glukosa metabolit glukosa 6-fosfat (G6P) yang ternyata membuat perubahan pada protein jantung. Perubahan protein itu bila terjadi dalam waktu lama akan menimbulkan gagal jantung.
- Melemahkan otak
Konsumsi gula yang berlebihan diyakini memiliki hubungan dengan peristiwa penuaan sel yang menyebabkan terjadinya penuaan dini (keriput). Pada beberapa kasus, penyakit kronis pun terjadi karena konsumsi gula yang berlebih. Penuaan sel itu tak hanya melanda sel kulit, namun termasuk juga sel otak. Akibatnya, memori dan kesehatan kognitif manusia menjadi berkurang dan otak melemah.
- Obesitas
Konsumsi gula yang berbentuk fruktosa dapat membuat tubuh mengalami resistensi leptin. Padahal leptin berfungsi sebagai penanda bahwa Anda sudah cukup kenyang dan asupan makanannya telah memadai. Bila tubuh resisten terhadap leptin, maka Anda cenderung makan terus dan ini berakibat pada obesitas.
- Efek merusak hati, seperti alkohol
Penelitian tahun 2012 yang dipublikasikan dalam Journal Nature menemukan bahwa fruktosa dan glukosa punya efek toksik pada hati atau meracuni hati. Itu akibat metabolisme etanol yang terjadi di organ tubuh tersebut, mirip dengan yang terjadi saat mengonsumsi alkohol.
Nah, fakta mengerikan tersebut ada baiknya membuat Anda pertimbangkan kembali keinginan mengonsumsi gula berlebih.
Kamis, 01 Agustus 2013
Buah Zakar Besar, Sehat atau Tidak?
Penelitian baru mengungkapkan bahwa pria dengan ukuran testis besar ternyata lebih berisiko terhadap penyakit jantung, darah tinggi, dan menjadi peminum berat alkohol.
Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada pria yang terdapat pula pada hewan. Pria memiliki dua buah testis yang dibungkus dengan skrotum. Fungsi dari testis itu sendiri adalah sebagai sistem reproduksi dan sistem endokrin yang berperan memproduksi sperma dan hormon seks pada pria seperti testosteron.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa memiliki ukuran testis yang besar berarti memiliki reproduksi yang baik dan sehat. Namun baru-baru ini sebuah penelitian baru menemukan bahwa pria yang memiliki ukuran testis besar cenderung lebih rentan terkena penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan juga menjadi peminum berat alkohol.
Para peneliti dari University of Florence, Italia, percaya bahwa memiliki testis yang besar adalah salah satu tanda gangguan kesehatan sehingga bisa mambantu para dokter untuk memprediksi risiko penyakit jantung seseorang.
“Meskipun secara umum diasumsikan bahwa memiliki ukuran testis yang besar dapat memprediksi kebugaran reproduksi, namun hasil penelitian kami memberikan wawasan yang lebih luas tentang kesehatan secara keseluruhan dan risiko penyakit kardiovaskular,” kata Giulia Rasterelli, MD, PhD. pemimpin penelitian ini kepada The Telegraph.
Para peneliti mempelajari 2.809 pria yang mengunjungi klinik kesehatan seksual, lalu mereka mencatat ukuran testis dan kemudian menguji kadar hormon mereka sebelum menganalisa kesehatan 1.395 pria selama tujuh tahun.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa pria dengan ukuran testis besar ternyata lebih rentan untuk terkena penyakit jantung dibanding dengan mereka yang memiliki ukuran testis kecil. Selain itu mereka juga menemukan bahwa para pria pemilik testis besar memiliki level luteinizing hormone(hormon pengontrol produksi testosteron) yang tinggi sehingga memengaruhi ukuran testis dan dapat mengganggu sistem kardiovaskular.
Para peneliti menyatakan bahwa penelitian mereka didasarkan pada pria yang memiliki masalah dengan disfungsi seksual, oleh karena itu temuan mereka ini tidak berlaku bagi semua orang.
“Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memperjelas determinan dan mekanisme pembesaran testis yang bisa memediasi peningkatan risiko penyakit kardiovaskular,” tutup para peneliti. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam The Journal of Sexual Medicine.
Minggu, 16 Juni 2013
10 Kebiasaan yang Dapat Memicu Penyakit Jantung
Penyakit jantung seringkali muncul karena kebiasaan tidak sehat yang dilakukan selama bertahun-tahun. Faktor risikonya menumpuk lalu terjadilah serangan yang tidak diharapkan tersebut. Dikutip dari Times of India, berikut ini 10 kebiasaan yang dapat memicu penyakit jantung:
- Suka menonton teve. Duduk di depan teve lebih dari empat sehai akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan arteri sebesar 80 persen. Termasuk, Anda akan memiliki gula darah dan kolesterol yang kurang terkontrol akibat ngemil saat melihat teve.
- Sering stres dan depresi. Dua emosi ini sangat tidak baik bagi kesehatan jantung. Tekanan darah Anda naik dan jantung memompa darah dengan lebih cepat.
- Mendengkur. Suara dengur bukan berarti tanda tidur nyenyak. Sebaliknya, mendengkur dikaitkan dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yag ditandai dengan terganggunya pernafasan saat tidur. Penderitanya memiliki risiko empat kali lebih tinggi untuk terkena masalah kardiovaskular.
- Mengabaikan kesehatan gigi. Gigi berlubang atau penyakit gusi bisa menjadi jalan masuk bakteri ke dalam pembuluh darah. Rongga mulut cukup banyak bakteri. Jika Bakteri patogen masuk ke pembuluh darah yang menuju jantung, mungkin akan membawa masalah buat jantung Anda.
- Memutuskan hidup menyendiri. Ada sebagian orang yang enggan bersosialisasi. Dia hanya menyenangi kehidupannya sendiri. Orang seperti ini lebih mudah untuk mengalami depresi.
- Terlalu sering minum alkohol. Alkohol tidak hanya buruk untuk liver. Kelebihan kadar alkohol dalam tubuh akan meningkatkan tekanan darah, meninggikan kolesterol, dan memudahkan terjadinya gagal jantung.
- Obesitas. Kelebihan berat badan yang artinya juga kelebihan beben lemak, menjadi pemicu umum terjadinya masalah jantung. Penyandang obesitas cenderung memiliki kolesterol tinggi dan tekanan darah yang juga tinggi. Dia rentan terkena masalah jantung sekaligus stroke. Oleh karena itu, jaga tubuh Anda agar memiliki berat ideal dan sehat.
- Merokok atau menjadi perokok aktif. Baik perokok atau orang lain yang menghisap asapnya, sama-sama berpeluang mengalami masalah serangan jantung. Merokok akan memicu pembekuan darah yang dapat memblokir aliran darah ke jantung. Selian itu, merokok memberikan kontribusi terbentuknya plak dalam arteri.
- Jarang makan buah dan sayur. Sebuah studi menyatakan, orang yang makan lima porsi buah dan sayuran dalam sehari memiliki risiko 20 persen lebih rendah untuk mengalami sakit jantung atau stroke dibanding yang jarang mengonsumsi.
- Suka makan yang asin. Garam dapat meningkatkan tekanan darah. Ini menjadi modal dalam terjadinya stroke, gagal ginjal, dan serangan jantung. Makanan asin biasa terdapat pada fast food.
Selasa, 11 Juni 2013
Wanita Tidur Kurang dari 6 Jam Berisiko Jantung Koroner
Menurut sebuah hasil penelitian baru-baru ini, seorang wanita yang waktu tidur malamnya tidak cukup, hingga kurang dari 6 jam, berisiko terkena serangan jantung koroner.
Penelitian yang melibatkan 700 orang selama 5 tahun di Amerika Srikat ini telah menunjukan, bahwa tidur malam kurang dari 6 jam dan bangun terlalu dini memiliki peran signifikan dalam meningkatkan peradangan pada wanita dengan penyakit jantung koroner. Sayangnya, hubungan antara kurang tidur dan penyakit jantung koroner tidak diamati pada pria dalam penelitian ini.
Temuan penelitian yang dipublikasikan secara online oleh Journal of Psychiatric Research di Amerika Serikat ini bisa memberikan bukti tentang bagaimana kurang tidur berkontribusi terhadap perkembangan penyakit jantung pada wanita. Semua peserta dalam penelitian ini memiliki penyakit jantung koroner. Mereka ditanya tentang kualitas tidur mereka pada saat pertama mendaftar menjadi peserta penelitian hingga 5 tahun terakhir.
“Peradangan adalah pendanda yang akurat akan kesehatan jantung, dan sekarang kita telah memiliki bukti bahwa kurang tidur tampaknya berperan lebih besar, dari yang kita pikirkan sebelumnya, dalam mendorong peningkatan peradangan jangka panjang dan berkontribusi pada kosekuensi negatif seperti penyakit jantung koroner,” kata Dr. Aric A. Prather, Ph.D, pemimpin penulis penelitian ini dan psikolog kesehatan klinis serta asisten profesor psikiatri dari University of California, San Francisco.
Para peneliti dari Johns Hopkins University di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat, juga mengumumkan bahwa mereka telah menemukan 4 kebiasaan sehat yang dapat membantu melindungi Anda dari penyakit jantung. Menurut mereka, perubahan gaya hidup sederhana dapat meningkatkan kesehatan dan mengurangi risiko kematian sebesar 80% selama 8 tahun.
Adapun 4 gaya hidup yang mereka maksud adalah berolahraga, diet sehat, menjaga berat badan, dan yang paling penting yaitu tidak merokok.
Adapun 4 gaya hidup yang mereka maksud adalah berolahraga, diet sehat, menjaga berat badan, dan yang paling penting yaitu tidak merokok.
Dr. Haitham M. Ahmed, MD., ketua penelitian dari Ciccarone Center for the Prevention of Heart Disease di Johns Hopkins University, mengatakan, “Untuk pengetahuan kita, ini adalah studi pertama yang menemukan hubungan antara faktor gaya hidup, penyakit jantung koroner, dan kematian, dalam evaluasi longitudinal tunggal.”
Jangan lupa fitness mania, selain tidur cukup, berolahraga dan diet sehat tetap menjadi faktor penting dalam kesehatan tubuh Anda! So, give the best for your body!
Rabu, 29 Mei 2013
Insomnia Berpengaruh Terhadap Gagal Jantung
Jaga diri Anda dari insomnia. Sebab, penyakit sulit tidur ini bila terus berlarut bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah. Studi terbaru mengatakan ada hubungan antara insomnia dengan gagal jantung. Perlu dipahami, gagal jantung telah merenggut kematian sebanyak 55 ribu orang setiap tahunnya di AS menurut laporan Centers for Disease Control.
Dikutip dari Huffington Post, studi di Norwegia menemukan kaitan insomnia dan gagal jantung. Bahkan, gejala-gejala yang muncul dari insomnia cukup mampu mengembangkan risiko gagal jantung secara signifikan. Gejala tersebut adalah sulit tidur, sering terbangun saat tidur, dan merasa badan tidak segar saat bangun tidur.
Studi melibatkan 54 ribu pria dan wanita berusia 20-89 tahun. Di awal studi, tidak ada dari mereka yang diketahui memiliki gejala atau masalah gagal jantung. Para peneliti lantas mengumpulkan data tentang tidur mereka dan rincian terkait gejala umum dari insomnia. Peneliti juga mengumpulkan data lain terkait aspek lain dari kesehatan, termasuk faktor risiko penyakit kardiovaskular. Penelitian pun berlangsung selama 11 tahun.
Hasilnya, selama periode penelitian, lebih dari 1.400 orang mengalami gagal jantung. Peneliiti lantas melihat kemungkinan adanya hubungan antara kejadian tersebut terhadap gejala insomnia, beserta faktor lain yang berpengaruh terhadap risiko penyakit jantung. Peneliti berkesimpulan, insomnia ternyata memiliki kaitan terhadap risiko yang lebih tinggi pada terjadinya gagal jantung.
Kabar buruknya, jika seseorang memiliki gejala insomnia lebih dari satu, maka semakin tinggi pula risiko gagal jantung yang dimilikinya. Orang yang punya tiga gejala insomnia, risikonya paling tinggi dibanding orang dengan satu atau dua gejala. Namun, studi ini masih memerlukan studi tambahan untuk melihat sejauhmana insomnia bisa langsung mengakibatkan gagal jantung.
Sabtu, 25 Mei 2013
Alasan Mengapa Makan Oatmeal Itu Sangat Sehat
Rabu, 15 Mei 2013
Kandungan PFOA dalam Popcorn Picu Sakit Jantung?
Nonton bioskop rasanya tidak lengkap jika tidak ditemani sekantung popcorn. Selain enak dan gurih, popcorn juga bisa didapatkan dengan harga terjangkau.
Namun siapa sangka makanan enak yang satu ini ternyata rentan terpapar bahan kimia yang dapat meningkatkan risiko sakit jantung.
Tim peneliti dari West Virginia University (WVU) School of Public Health, Morgantown, AS, menemukan kandungan perfluorooctanoic acid (PFOA) dalam popcorn, sebuah zat kimia yang biasanya terkandung dalam alat masak antilengket, kemasan atau bungkus makanan.
Zat inilah yang dikhawatirkan dapat memicu penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Peneliti memeriksa lebih dari 1.000 orang Amerika untuk mengetahui kadar PFOA dalam darah dan kaitannya dengan penyakit jantung yang diderita para partisipan. Dari pemeriksaan tersebut diketahui bahwa semakin tinggi kadar PFOA dalam darah makan semakin tinggi risiko terkena penyakit kardivaskular.
Bahkan risiko ini kian diperparah oleh faktor-faktor lain seperti, merokok, kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi dan kondisi medis lainnya.
Dr. Anoop Shankar, kepala departemen epidemiologi di WVU School of Public Health menyatakan, “ Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui dampak langsung PFOA dan penyakit jantung. Keduanya bisa saja berkaitan secara tak langsung, misal orang-orang yang mengidap penyakit kardiovaskular cenderung mengandung lebih banyak PFOA di dalam darahnya.” seperti dilansir Foxnews.
Hingga berita ini diturunkan, Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika menyebutkan jika saat ini masih banyak kantung popcorn yang mengandung PFOA dengan kadar tinggi di Amerika.
Nah, bagaimana dengan kantung popcorn di Indonesia?
Jumat, 03 Mei 2013
Telur Bisa Perbanyak Bakteri Usus Penyebab Serangan Jantung
Telur kerap dituding menjadi salah satu pemicu masalah kardiovaskular. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol cukup tinggi. Tapi, tahukah Anda? Ternyata telur juga bisa mempengaruhi risiko terjadinya penyakit jantung dari jalan yang berbeda. Ada kaitan antara mengonsumsi telur dengan peningkatan jumlah bakteri yang ada di perut. Aktivitas bakteri inilah yang turut meningkatkan risiko penyakit jantung. Demikian menurut studi yang dimuat New England Journal of Medicine, seperti dikutip She Knows.
Pemicunya tetap pada kuning telur. Pada bagian ini terdapat zat bernama lecithin.Lecithin mempengaruhi peningkatan bakteri usus dan memicu risiko penyakit jantung. Saat tubuh mencerna lecithin, akan memunculkan reaksi kimia dan membentuk kolin. Bakteri usus segera memetabolisme kolin dan memicu pelepasan zat trimetilamina N-oksida (TMAO). Zat TMAO inilah yang meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan stroke saat jumlahnya tinggi.
Dari temuan ini peneliti menduga kuat bahwa penyebab penyakit jantung memiliki jalur yang lain, yaitu pengaruh dari aktivitas bakteri di usus. Oleh karena itu, mengurangi masuknya kuning telur mungkin menjadi salah satu cara mencegah penyakit kardiovaskular tersebut.
“Penyakit jantung mungkin melibatkan mikroba dalam usus kita,” kata Dr Stanley Hazen, pemimpin studi tersebut, yang juga chairman of the department of cellular and molecular medicine di Cleveland Clinic Lerner Research Institute.
Peneliti mengharapkan hasil studi ini bisa dijadikan langkah awal untuk membuat obat yang berperan untuk menurunkan angka TMAO dalam mengatasi masalah jantung. Dan, hasil ini turut menguatkan teori bahwa mengurangi makanan berlemak itu perlu dilakukan demi menjaga kesehatan kardiovaskular setiap orang.
Senin, 04 Maret 2013
Diet Mediterania Kurangi Risiko Sakit Jantung
Tuangkan minyak zaitun pada ikan dan sayuran!
Salah satu tes terpanjang dan paling ilmiah pada menu Mediterania menunjukkan, gaya makan dapat mengurangi risiko masalah yang terkait jantung, terutama stroke, pada orang tua.
Penelitian tersebut berlangsung selama lima tahun dan melibatkan sekitar 7.500 orang di Spanyol. Mereka yang makan dengan gaya Mediterania (dengan banyak minyak zaitun atau kacang) memiliki risiko masalah kardiovaskular 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang diminta untuk menjalani diet rendah lemak tapi yang dalam kenyataannya, tidak banyak mengurangi lemak.
Makanan Mediterania mengandung banyak buah, ikan, ayam, kacang-kacangan, saus tomat, salad, wine, makanan panggang dan pastry.
Diet Mediterania telah lama disebut-sebut sangat sehat bagi jantung, tapi itu didasarkan pada pengamatan yang tidak dapat membuktikan hal tersebut. Penelitian baru ini jauh lebih kuat karena orang ditugaskan untuk mengikuti diet dalam waktu yang lama dan dipantau secara hati-hati. Dokter bahkan melakukan tes laboratorium untuk memastikan bahwa orang-orang yang menjalani diet Mediterania mengonsumsi lebih banyak minyak zaitun atau kacang seperti yang direkomendasikan.
Sebagian besar dari orang-orang tersebut mengonsumsi obat untuk kolesterol dan tekanan darah tinggi, dan peneliti tidak mengubah pengobatan tersebut, ujar salah satu pemimpin studi, Dr Ramon Estruch dari Hospital Clinic di Barcelona.
Namun sebagai langkah pertama untuk mencegah masalah jantung, "Kami berpendapat diet lebih baik daripada obat" karena obat memiliki beberapa efek samping, ujar Estruch. "Diet bermanfaat."
Hasilnya dipublikasikan pada Senin secara online oleh “New England Journal of Medicine” dan dibahas pada konferensi nutrisi di Loma Linda, California
Orang-orang dalam penelitian itu tidak diberikan menu yang kaku atau target kalori karena penurunan berat badan bukanlah tujuannya. Itu bisa menjadi alasan mengapa mereka menemukan "diet" yang mudah untuk dijalani — hanya sekitar 7 persen peserta yang mundur dalam waktu dua tahun. Jumlah yang dua kali lebih banyak muncul pada kelompok yang menjalani diet rendah lemak dibandingkan mereka makan dengan gaya Mediterania.
Para peneliti juga menyediakan kacang-kacangan dan minyak zaitun, sehingga peserta tidak mengeluarkan biaya apa pun untuk menggunakan bahan-bahan yang relatif mahal. Jenis minyaknya mungkin punya peran penting — mereka menggunakan minyak zaitun extra-virgin, yang diproses secara minimal dan lebih kaya dari minyak zaitun biasa atau minyak zaitun ringan dalam bahan kimia dan nutrisi yang pada studi sebelumnya menunjukkan jika hal itu bisa bermanfaat.
Penelitian tersebut melibatkan orang pada usia 55-80, lebih dari setengahnya adalah wanita. Semua bebas dari penyakit jantung pada awalnya tetapi berada pada risiko tinggi karena masalah kesehatan. Setengahnya menderita diabetes dan sebagian besar kelebihan berat badan dan memiliki kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi.
Mereka ditugaskan untuk salah satu dari tiga kelompok: Dua mengikuti diet Mediterania yang dilengkapi dengan minyak zaitun extra-virgin (4 sendok makan per hari) atau dengan walnut, hazelnut, dan almond (dengan porsi segenggam tangan setiap hari). Kelompok ketiga didorong untuk diet rendah lemak dengan roti, kentang, pasta, beras, buah-buahan, sayuran dan ikan dan sejumlah kecil makanan panggang, kacang-kacangan, minyak dan daging merah.
Pemantau independen menghentikan studi setelah hampir lima tahun ketika mereka melihat masalah yang lebih sedikit dalam dua kelompok dengan diet Mediterania.
Dokter mencatat gabungan angka kematian akibat serangan jantung, stroke atau penyakit jantung. Dengan jumlah 96 kejadian dalam kelompok diet Mediterania dengan minyak zaitun, 83 dalam kelompok diet Mediterania dengan kacang dan 109 pada kelompok diet rendah lemak.
Dilihat secara individual, stroke adalah satu-satunya masalah yang sangat dipengaruhi oleh jenis diet yang dijalani. Diet tidak berpengaruh pada tingkat kematian secara keseluruhan.
Diet Mediterania terbukti lebih baik meskipun pengikutnya makan sekitar 200 kalori lebih banyak dalam setiap harinya dibandingkan dengan yang dilakukan kelompok diet rendah lemak. Para pemimpin studi sekarang sedang menganalisis bagaimana masing-masing diet mempengaruhi berat badan atau berkurangnya indeks massa tubuh.
Lembaga penelitian kesehatan pemerintah Spanyol memulai dan membiayai penelitian tersebut, dan makanannya disediakan oleh produsen minyak zaitun dan kacang di Spanyol dan California Walnut Commission. Para sponsor tidak terlibat dalam merancang penelitian atau menganalisis dan melaporkan hasilnya.
Rachel Johnson, dari profesor University of Vermont yang mengepalai komite nutrisi American Heart Association, mengatakan penelitian tersebut sangat kuat karena tes laboratorium untuk menguji konsumsi minyak dan kacang dan karena peneliti melacak serangan jantung, stroke, dan kematian yang sebenarnya — bukan hanya perubahan faktor risiko seperti kolesterol tinggi.
"Pada akhirnya, yang kita pedulikan adalah apakah penyakit tersebut berkembang atau tidak," ujar. "Studi tersebut sangatlah penting."
Salah satu tes terpanjang dan paling ilmiah pada menu Mediterania menunjukkan, gaya makan dapat mengurangi risiko masalah yang terkait jantung, terutama stroke, pada orang tua.
Penelitian tersebut berlangsung selama lima tahun dan melibatkan sekitar 7.500 orang di Spanyol. Mereka yang makan dengan gaya Mediterania (dengan banyak minyak zaitun atau kacang) memiliki risiko masalah kardiovaskular 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang diminta untuk menjalani diet rendah lemak tapi yang dalam kenyataannya, tidak banyak mengurangi lemak.
Makanan Mediterania mengandung banyak buah, ikan, ayam, kacang-kacangan, saus tomat, salad, wine, makanan panggang dan pastry.
Diet Mediterania telah lama disebut-sebut sangat sehat bagi jantung, tapi itu didasarkan pada pengamatan yang tidak dapat membuktikan hal tersebut. Penelitian baru ini jauh lebih kuat karena orang ditugaskan untuk mengikuti diet dalam waktu yang lama dan dipantau secara hati-hati. Dokter bahkan melakukan tes laboratorium untuk memastikan bahwa orang-orang yang menjalani diet Mediterania mengonsumsi lebih banyak minyak zaitun atau kacang seperti yang direkomendasikan.
Sebagian besar dari orang-orang tersebut mengonsumsi obat untuk kolesterol dan tekanan darah tinggi, dan peneliti tidak mengubah pengobatan tersebut, ujar salah satu pemimpin studi, Dr Ramon Estruch dari Hospital Clinic di Barcelona.
Namun sebagai langkah pertama untuk mencegah masalah jantung, "Kami berpendapat diet lebih baik daripada obat" karena obat memiliki beberapa efek samping, ujar Estruch. "Diet bermanfaat."
Hasilnya dipublikasikan pada Senin secara online oleh “New England Journal of Medicine” dan dibahas pada konferensi nutrisi di Loma Linda, California
Orang-orang dalam penelitian itu tidak diberikan menu yang kaku atau target kalori karena penurunan berat badan bukanlah tujuannya. Itu bisa menjadi alasan mengapa mereka menemukan "diet" yang mudah untuk dijalani — hanya sekitar 7 persen peserta yang mundur dalam waktu dua tahun. Jumlah yang dua kali lebih banyak muncul pada kelompok yang menjalani diet rendah lemak dibandingkan mereka makan dengan gaya Mediterania.
Para peneliti juga menyediakan kacang-kacangan dan minyak zaitun, sehingga peserta tidak mengeluarkan biaya apa pun untuk menggunakan bahan-bahan yang relatif mahal. Jenis minyaknya mungkin punya peran penting — mereka menggunakan minyak zaitun extra-virgin, yang diproses secara minimal dan lebih kaya dari minyak zaitun biasa atau minyak zaitun ringan dalam bahan kimia dan nutrisi yang pada studi sebelumnya menunjukkan jika hal itu bisa bermanfaat.
Penelitian tersebut melibatkan orang pada usia 55-80, lebih dari setengahnya adalah wanita. Semua bebas dari penyakit jantung pada awalnya tetapi berada pada risiko tinggi karena masalah kesehatan. Setengahnya menderita diabetes dan sebagian besar kelebihan berat badan dan memiliki kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi.
Mereka ditugaskan untuk salah satu dari tiga kelompok: Dua mengikuti diet Mediterania yang dilengkapi dengan minyak zaitun extra-virgin (4 sendok makan per hari) atau dengan walnut, hazelnut, dan almond (dengan porsi segenggam tangan setiap hari). Kelompok ketiga didorong untuk diet rendah lemak dengan roti, kentang, pasta, beras, buah-buahan, sayuran dan ikan dan sejumlah kecil makanan panggang, kacang-kacangan, minyak dan daging merah.
Pemantau independen menghentikan studi setelah hampir lima tahun ketika mereka melihat masalah yang lebih sedikit dalam dua kelompok dengan diet Mediterania.
Dokter mencatat gabungan angka kematian akibat serangan jantung, stroke atau penyakit jantung. Dengan jumlah 96 kejadian dalam kelompok diet Mediterania dengan minyak zaitun, 83 dalam kelompok diet Mediterania dengan kacang dan 109 pada kelompok diet rendah lemak.
Dilihat secara individual, stroke adalah satu-satunya masalah yang sangat dipengaruhi oleh jenis diet yang dijalani. Diet tidak berpengaruh pada tingkat kematian secara keseluruhan.
Diet Mediterania terbukti lebih baik meskipun pengikutnya makan sekitar 200 kalori lebih banyak dalam setiap harinya dibandingkan dengan yang dilakukan kelompok diet rendah lemak. Para pemimpin studi sekarang sedang menganalisis bagaimana masing-masing diet mempengaruhi berat badan atau berkurangnya indeks massa tubuh.
Lembaga penelitian kesehatan pemerintah Spanyol memulai dan membiayai penelitian tersebut, dan makanannya disediakan oleh produsen minyak zaitun dan kacang di Spanyol dan California Walnut Commission. Para sponsor tidak terlibat dalam merancang penelitian atau menganalisis dan melaporkan hasilnya.
Rachel Johnson, dari profesor University of Vermont yang mengepalai komite nutrisi American Heart Association, mengatakan penelitian tersebut sangat kuat karena tes laboratorium untuk menguji konsumsi minyak dan kacang dan karena peneliti melacak serangan jantung, stroke, dan kematian yang sebenarnya — bukan hanya perubahan faktor risiko seperti kolesterol tinggi.
"Pada akhirnya, yang kita pedulikan adalah apakah penyakit tersebut berkembang atau tidak," ujar. "Studi tersebut sangatlah penting."
Selasa, 26 Februari 2013
Tanda-Tanda Serangan Jantung pada Wanita
Tanda-tanda yang mengiringi terjadinya serangan jantung pada wanita tidaklah seekstrim yang dialami pria. Bahkan, seringkali gejala yang muncul seperti halnya penyakit lain seperti mual, sakit kepala, atau sakit di lengan. Seringkali hal tersebut tidak terlalu diperhatikan. Dikutip dari She Knows, berikut ini tanda-tanda serangan jantung pada wanita:
- Nyeri dada yang terasa halus. Salah satu gejala yang tampak dari serangan jantung adalah nyeri di dada sebelah kiri. Pada wanita, gejala ini seringkali muncul dengan tingkatan rasa yang ringan dan tidak terlalu menyakitkan. Gejala juga muncul dari ketidak nyamanan yang dirasakan, seperti sakit pada lengan, tidak enak di bagian pencernaan, hingga sesak napas. Lebih ringannya rasa sakit, seringkali membuat wanita menganggapnya hanya sakit biasa.
- Mengalami kelelahan yang tidak biasa. Kelelahan ini muncul tanpa alasan yang jelas, seperti karena kerja terlalu berat, tidak cukup tidur, dan sebagainya. Lebih dari 70 persen wanita dalam survey yang dilakukanNational Institutes of Health (NIH), ditemukan mengalami serangan jantung setelah merasa kelelahan beberapa hari atau minggu sebelumnya.
- Mengalami masalah dalam pola tidur. Menurut studi dari NIH, wanita yang mengalami serangan jantung kerap ditemui mengalami insomnia atau susah tidur dalam beberapa hari atau minggu sebelum terjadinya serangan.
- Sebagian warna kulit tiba-tiba menjadi kusam dan berwarna pucat abu-abu. Ini bisa menjadi tanda dari masalah jantung. Untuk memastikannya, sebaiknya segera mengunjungi dokter.
- Merasa seperti mendapat serangan flu. Tanda ini mungkin agak sulit dideteksi apakah menjadi bagian dari tanda serangan jantung atau tidak. Namun, banyak ditemukan wanita yang merasa seperti terkena flu sebelum terkena serangan jantung. Selain itu juga ditemukan sesak nafas tidak jelas alasannya, pusing, mual, muntah, hingga pingsan.
Oleh karena itu, sebaiknya sedari dini mencegah serangan jantung. Berjalan cepat 30 menit setiap hari dapat menurunkan risiko ini. Dan, bila mendapati tanda-tanda serangan jantung, sebaiknya segera mendatangi dokter untuk penegakan diagnosa yang tepat.
Sabtu, 16 Februari 2013
Waspada! Ini Tanda Jantung Anda Bermasalah
Kesehatan jantung adalah hal penting yang harus selalu diperhatikan. Sebagai organ vital, masalah sekecil apapun yang dialami oleh jantung harus sesegera mungkin diobati.
Karena itu, Anda sebaiknya mengenali gejala kelainan jantung yang menjadi asal mula munculnya penyakit serius. Dikutip oleh Merdeka dari situs Ucsfhealth, berikut ini adalah tanda-tanda bahwa jantung Anda bermasalah:
- 1. Mudah lelah
Jika Anda kerap merasa mudah lelah jika melakukan hal-hal yang dulunya sanggup Anda lakukan dengan mudah, maka sebaiknya Anda waspada. Ototjantung yang mulai lemah tidak mampu memompa darah ke seluruh anggota tubuh, dan memprioritaskan ke otak dan jantung saja. akibatnya anggota tubuh lain seperti tangan dan kaki kurang mendapat pasokan darah dan oksigen. Sehingga menjadi kurang bertenaga dan mudah lelah.
- 2. Sesak nafas
Saat pembuluh darah yang seharusnya memompa oksigen dari paru-paru ke jantung tak mampu melakukan tugas karena lemah, maka darah akan masuk kembali ke pembuluh darah tersebut. Akibatnya penderita akan menderita sesak nafas.
- 3. Batuk berkepanjangan.
Batuk berkepanjangan bisa menandakan jantung Anda bermasalah. Ini terjadi sebab pada paru-paru menumpuk lendir yang membuat pasokan oksigen ke seluruh tubuh kurang, termasuk juga ke organ vital seperti jantung.
- 4. Detak jantung tak teratur
Saat memompa darah ke seluruh tubuh dan organ jantung merasa tak mampu mencapai seluruh tubuh, maka secara otomatis ia akan mempercepat denyutnya. Karena itu terkadang denyut jantung menjadi cepat dan melambat secara tak teratur.
- 5. Mudah lupa
Karena aliran darah ke otak berkurang, maka kemampuan kerja otak pun sedikit menurun. Akibatnya seseorang menjadi mudah lupa atau mengalai disorientasi.
Senin, 22 Oktober 2012
Penelitian: Operasi Obesitas Baik untuk Kesehatan
Operasi bariatrik rupanya dapat membantu penderita obesitas menurunkan risiko penyakit jantung, menurut sebuah tinjauan yang dipublikasikan pada Rabu dalam jurnal spesialis, Heart.
Pembatasan pada perut atau pembedahan untuk memotong bagian dari saluran pencernaan terkadang digunakan untuk membantu pasien obesitas mengurangi berat badan, ketika obat-obatan atau perubahan pola makan serta olah raga gagal mengurangi berat badan mereka.
Para peneliti di Klinik Cleveland di Cleveland, Ohio, mengeluarkan sebuah database untuk memilih 73 studi sebelumnya, yang mencakup hampir 20.000 orang, mendata masalah berat badan serta masalah kesehatan lainnya sebelum dan setelah operasi bariatrik.
Tiga perempat pasien adalah wanita, yang rata-rata berusia 41 tahun.
Setelah operasi, para peserta operasi rata-rata kehilangan 54 persen kelebihan berat badan mereka, dari penghitungan yang berkisar dari 16 menjadi 87 persen.
Tekanan darah tinggi membaik pada 63 persen pasien, diabetes pada 73 persen dan kolesterol darah pada 65 persen dari mereka.
Sebuah studi lebih lanjut, yang meliputi 713 orang lainnya, menemukan bahwa operasi tersebut membawa perbaikan dalam fungsi jantung, seperti kemampuannya memompa dan mengisi ulang darah.
Jumat, 27 Juli 2012
Nyeri Dada Bukan Berarti Sakit Jantung
Nyeri dada yang berat sering menjadi alasan banyak orang untuk datang ke unit gawat darurat karena khawatir itu merupakan gejala serangan jantung. Padahal, nyeri dada yang parah tidak selalu berarti serangan jantung atau mycocardial infarction.
Kendati demikian, nyeri dada yang ringan jangan pula diabaikan karena ternyata hal itu juga bisa menjadi penanda adanya masalah pada jantung.
"Jika nyeri dada terasa tak terlalu berat, hal itu juga tidak berarti bukan serangan jantung," kata Dr. Anna Marie Chang, peneliti dan juga dokter di bagian unit gawat darurat (UGD) Rumah Sakit Universitas Pennsylvania.
Ia melakukan penelitian terhadap 3.300 pasien yang datang ke UGD. Menggunakan skala 0-10, dengan 0 mendeskripsikan tidak ada sakit dan 10 sebagai sangat sakit. Chang dan timnya lalu mengamati kesehatan pasien selama 30 hari untuk mengetahui apakah ada kejadian terkait penyakit jantung.
Pasien yang menderita nyeri dada parah ternyata tidak menderita serangan jantung atau mengalaminya dalam satu bulan ke depan dibanding pasien yang nyerinya lebih ringan. Nyeri yang tetap dirasakan hingga satu jam juga bukan indikator serangan jantung.
Nyeri dada memang harus diwaspadai. Nyeri merupakan alarm adanya gangguan kesehatan serius, misalnya tukak lambung atau adanya robekan di aorta yang merupakan pembuluh utama pada jantung.
"Penyebab nyeri dada mungkin bukan serangan jantung tapi bisa menjadi sesuatu yang serius," kata Dr. James Feldman, dokter di bagian UGD Boston Medical Center.
Gejala serangan jantung klasik meliputi nyeri di dada atau rasa tertekan, tetapi gejala lainnya adalah sesak napas, mual, muntah, dan pingsan. Selain itu nyeri akibat serangan jantung tidak selalu ada di bagian dada.
"Nyeri bisa timbul di bagian dada, lengan, rahang, punggung atau perut dan bisa berbeda-beda pada setiap pasien," kata Dr.Rajiv Gulati, ahli kardiologi dari Mayo Clinic.
Walau hasil penelitian Chang tidak menunjukkan nyeri dada merupakan gejala serangan jantung, namun nyeri dada yang tidak bisa dipahami bisa menjadi gejala serius. "Pertolongan pertama bisa menyelamatkan nyawa," kata Gulati.
Kamis, 26 Juli 2012
Ini Dia Pekerjaan yang Bikin Anda Kena Serangan Jantung (2)
Meski banyak orang tidak yakin penyakit jantung terkait dengan urusan pekerjaan, ternyata faktanya tidak begitu. Rupanya, karakteristik kerja juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah lain. Sejumlah aktivitas pekerjaan seperti duduk terlalu lama, jam kerja yang terlalu panjang, dan terpaan bahan kimia tertentu dapat mengancam jantung kita. Berikut adalah pekerjaan dan karakteristik kerja yang dapat berisiko terhadap jantung.
Pekerja bangunan
Dalam satu studi terungkap, pekerja bangunan juga berisiko mengalami kematian yang terkait dengan jantung. Ini karena pekerja tersebut terkena terpaan karbonmonoksida yang lebih tinggi. Hasil studi juga menyebutkan, polusi udara memacu serangan jantung dan stroke.
Dalam satu studi terungkap, pekerja bangunan juga berisiko mengalami kematian yang terkait dengan jantung. Ini karena pekerja tersebut terkena terpaan karbonmonoksida yang lebih tinggi. Hasil studi juga menyebutkan, polusi udara memacu serangan jantung dan stroke.
Tinggi tuntutan, pemenuhan hak rendah
Orang yang bekerja di pabrik atau pekerjaan lain yang menuntut jam kerja panjang namun pemenuhan hak-hak yang rendah juga dapat memicu risiko sakit jantung. Ketika kita tidak mampu memenuhi keinginan dari tempat kerja, inilah yang menjadi pemicu utama penyakit jantung.
Orang yang bekerja di pabrik atau pekerjaan lain yang menuntut jam kerja panjang namun pemenuhan hak-hak yang rendah juga dapat memicu risiko sakit jantung. Ketika kita tidak mampu memenuhi keinginan dari tempat kerja, inilah yang menjadi pemicu utama penyakit jantung.
Jam kerja panjang
Karyawan dengan jam kerja panjang juga berisiko. Satu studi menyebutkan para pegawai pemerintah Inggris mengalami peningkatan sekitar 67 persen mengalami sakit jantung, terutama mereka yang bekerja lebih dari 11 jam dibandingkan dengan yang bekerja 7-8 jam saja. Lagi-lagi, jika tidak dapat mengurangi jam kerja, kita dapat bersiasat mengurangi risiko dengan memakan banyak buah dan sayuran, cukup tidur, dan berolahraga.
Karyawan dengan jam kerja panjang juga berisiko. Satu studi menyebutkan para pegawai pemerintah Inggris mengalami peningkatan sekitar 67 persen mengalami sakit jantung, terutama mereka yang bekerja lebih dari 11 jam dibandingkan dengan yang bekerja 7-8 jam saja. Lagi-lagi, jika tidak dapat mengurangi jam kerja, kita dapat bersiasat mengurangi risiko dengan memakan banyak buah dan sayuran, cukup tidur, dan berolahraga.
Pekerjaan tanpa asuransi kesehatan
Tak ada fasilitas asuransi kesehatan berpengaruh pada memburuknya kesehatan secara menyeluruh dan penyakit jantung khususnya.
Tak ada fasilitas asuransi kesehatan berpengaruh pada memburuknya kesehatan secara menyeluruh dan penyakit jantung khususnya.
Kehilangan pekerjaan
Ketika punya pekerjaan berisiko terhadap jantung, kehilangan pekerjaan juga berisiko. Karyawan yang sudah berumur dan terpaksa kehilangan pekerjaan tanpa ada kesalahan berarti bisa memicu peningkatan risiko terkena stroke hingga dua kali lipat. Studi yang dilakukan Harvard pada 2009 mengungkapkan, orang yang kena PHK juga bisa mengalami masalah baru seperti tekanan darah yang tinggi, diabetes, penyakit jantung. Karena itulah ketika terkena PHK bisa berdampak secara psikologis dan finansial, ada baiknya jaga kesehatan sesuai dengan kemampuan kita.
Ketika punya pekerjaan berisiko terhadap jantung, kehilangan pekerjaan juga berisiko. Karyawan yang sudah berumur dan terpaksa kehilangan pekerjaan tanpa ada kesalahan berarti bisa memicu peningkatan risiko terkena stroke hingga dua kali lipat. Studi yang dilakukan Harvard pada 2009 mengungkapkan, orang yang kena PHK juga bisa mengalami masalah baru seperti tekanan darah yang tinggi, diabetes, penyakit jantung. Karena itulah ketika terkena PHK bisa berdampak secara psikologis dan finansial, ada baiknya jaga kesehatan sesuai dengan kemampuan kita.
Ini Dia Pekerjaan yang Bikin Anda Kena Serangan Jantung (1)
Meski banyak orang tidak yakin penyakit jantung terkait dengan urusan pekerjaan, ternyata faktanya tidak begitu. Rupanya, karakteristik kerja juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah lain. Sejumlah aktivitas pekerjaan seperti duduk terlalu lama, jam kerja yang terlalu panjang, dan terpaan bahan kimia tertentu dapat mengancam jantung kita. Berikut adalah pekerjaan dan karakteristik kerja yang dapat berisiko terhadap jantung.
Bekerja yang menuntut duduk terlalu lama
Pekerja yang terlalu lama duduk berisiko mengalami masalah jantung lebih ketimbang daripada mereka yang aktif. Ini karena duduk terlalu lama dapat memicu penurunan sensitivitas insulin dan enzim yang biasanya dapat mengurai lemak. Disarankan, berdiri dan berkeliling sesekali ketika bekerja.
Pekerja yang terlalu lama duduk berisiko mengalami masalah jantung lebih ketimbang daripada mereka yang aktif. Ini karena duduk terlalu lama dapat memicu penurunan sensitivitas insulin dan enzim yang biasanya dapat mengurai lemak. Disarankan, berdiri dan berkeliling sesekali ketika bekerja.
Pekerja penyelamat
Pekerjaan yang merupakan aktivitas tingkat tinggi seperti polisi atau pemadam kebakaran juga berisiko. Sekitar 22 persen petugas polisi dan 45 persen petugas pemadam kebakaran mengalami kematian mendadak saat kerja akibat jantung. Bandingkan dengan angka 15 persen yang terjadi pada pekerjaan lain.
Jam kerja yang panjang, pola makan tak sehat, stres, terpaan karbonmonoksida turut berperan memicu risiko. Bila Anda tidak mungkin mengganti pekerjaan, cobalah untuk fokus pada makanan sehat, olahraga teratur dan upaya menurunkan tekanan darah.
Pekerjaan yang merupakan aktivitas tingkat tinggi seperti polisi atau pemadam kebakaran juga berisiko. Sekitar 22 persen petugas polisi dan 45 persen petugas pemadam kebakaran mengalami kematian mendadak saat kerja akibat jantung. Bandingkan dengan angka 15 persen yang terjadi pada pekerjaan lain.
Jam kerja yang panjang, pola makan tak sehat, stres, terpaan karbonmonoksida turut berperan memicu risiko. Bila Anda tidak mungkin mengganti pekerjaan, cobalah untuk fokus pada makanan sehat, olahraga teratur dan upaya menurunkan tekanan darah.
Sopir bus
Pekerjaan mengemudi seperti ini boleh dibilang berisiko mengalami hipertensi ketimbang pekerja lian. Boleh jadi ini karena mereka harus duduk lama yang membutuhkan kewaspadaan agar terhindar dari kecelakaan dan memikirkan keamanan penumpang. Inilah yang memicu stres.
Dalam satu riset terungkap, 56 persen sopir bus di Taipei mengalami hipertensi ketimbang 31 persen pekerja dari sektor lain. Mereka juga mengalami peningkatan kolesterol, tambah berat badan, dan serangan jantung.
Pekerjaan mengemudi seperti ini boleh dibilang berisiko mengalami hipertensi ketimbang pekerja lian. Boleh jadi ini karena mereka harus duduk lama yang membutuhkan kewaspadaan agar terhindar dari kecelakaan dan memikirkan keamanan penumpang. Inilah yang memicu stres.
Dalam satu riset terungkap, 56 persen sopir bus di Taipei mengalami hipertensi ketimbang 31 persen pekerja dari sektor lain. Mereka juga mengalami peningkatan kolesterol, tambah berat badan, dan serangan jantung.
Pekerja dengan shift
Perubahan jam kerja seperti yang dialami oleh dokter, perawat, dan lainnya juga bisa berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Pekerjaan dengan shift bisa mengganggu ritme jam tubuh yang berperan penting untuk mengatur gula darah, tekanan darah, dan insulin.
Namun, gaya hidup juga berpengaruh. Pekerja di malam hari cenderung lebih banyak merokok. Jam tidur yang lebih pendek juga berisiko mengalami sakit jantung.
Perubahan jam kerja seperti yang dialami oleh dokter, perawat, dan lainnya juga bisa berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Pekerjaan dengan shift bisa mengganggu ritme jam tubuh yang berperan penting untuk mengatur gula darah, tekanan darah, dan insulin.
Namun, gaya hidup juga berpengaruh. Pekerja di malam hari cenderung lebih banyak merokok. Jam tidur yang lebih pendek juga berisiko mengalami sakit jantung.
Bartender
Berada di tempat yang biasanya disesaki asap rokok seperti bar atau kafe, para pekerja di sana seperti bartender pasti berisiko menjadi perokok aktif atau pasif. Bahkan, perokok pasif malah lebih berisiko terkena serangan jantung. Untuk membantu mengatasi masalah ini, sistem ventilasi yang baik bisa jadi solusi.
Berada di tempat yang biasanya disesaki asap rokok seperti bar atau kafe, para pekerja di sana seperti bartender pasti berisiko menjadi perokok aktif atau pasif. Bahkan, perokok pasif malah lebih berisiko terkena serangan jantung. Untuk membantu mengatasi masalah ini, sistem ventilasi yang baik bisa jadi solusi.
Selasa, 03 Juli 2012
Ingat! Makanan Tak Sehat Picu Penyakit Jantung
Penyakit jantung koroner masih menjadi pembunuh manusia nomor satu di Indonesia bahkan di dunia. Data terakhir dari WHO menyebutkan 60 persen dari seluruh kematian adalah akibat jantung koroner dan serangan jantung mendadak.
"Jantung koroner merupakan kasus yang terbesar selain gagal jantung, yang menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit juga membuat pasiennya harus bolak-balik ke rumah sakit," kata dr. Pradana Tedjasukmana SpJP.FIHA, dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Premier Jatinegara Jakarta Timur alam seminar awam "Penyakit Jantung Koroner Bisa Diobati di Jakarta.
Dikatakannya, penyebab jantung koroner adalah penumpukan zat lemak secara berlebihan di lapisan dinding nadi pembuluh koroner, yang dipengaruhi oleh pola makan yang kurang sehat. Pengobatan untuk penyakit ini dapat dilakukan dengan berbagai cara.
"Intinya semua pengobatan yang ada untuk jantung koroner berfungsi untuk memperlebar jalur arteri (pembuluh darah) sehingga aliran darah bisa kembali lancar," paparnya.
Seseorang bisa terhindar dari rIsiko penyakit jantung koroner bisa dihindari dengan mengurangi makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi, mengurangi atau bahkan berhenti sama sekali dari merokok dan minum kopi terlalu sering serta berolahraga secara teratur.
Seminar awam ini dilaksanakan RS Premier Jatinegara dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dalam Jakarta Cardiovaskular Summit 2012.
Seminar awam ini dilaksanakan RS Premier Jatinegara dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dalam Jakarta Cardiovaskular Summit 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)



