Tampilkan postingan dengan label sepak bola piala dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepak bola piala dunia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 Juni 2022
Yuk Kenalan dengan Stephanie Frappart, Wasit Wanita Pertama di Piala Dunia 2022
Minggu, 25 Mei 2014
Poster Bintang & Julukan Tim Piala Dunia 2014
ESPN meminta seniman dan desainer grafis Brasil Cristiano Siqueira untuk membuat poster spesial guna menyambut datangnya Piala Dunia 2014.
Karyanya berupa gambar unik tentang ke-32 negara kontestan lengkap dengan nama julukan dan bintang-bintang utama mereka.
GRUP A
Brasil

Kroasia

Meksiko

Kamerun

GRUP B
Spanyol

Belanda

Chile

Australia

GRUP C
Kolombia

Yunani

Pantai Gading

Jepang

GRUP D
Uruguay

Kosta Rika

Inggris

Italia

GRUP E
Swiss

Ekuador

Prancis

Honduras

GRUP F
Argentina

Bosnia-Herzegovina

Iran

Nigeria

GRUP G
Jerman

Ghana

Amerika Serikat

Portugal

GRUP H
Belgia

Aljazair

Rusia

Korea Selatan

Karyanya berupa gambar unik tentang ke-32 negara kontestan lengkap dengan nama julukan dan bintang-bintang utama mereka.
GRUP A
Brasil
Kroasia
Meksiko
Kamerun
GRUP B
Spanyol
Belanda
Chile
Australia
GRUP C
Kolombia
Yunani
Pantai Gading
Jepang
GRUP D
Uruguay
Kosta Rika
Inggris
Italia
GRUP E
Swiss
Ekuador
Prancis
Honduras
GRUP F
Argentina
Bosnia-Herzegovina
Iran
Nigeria
GRUP G
Jerman
Ghana
Amerika Serikat
Portugal
GRUP H
Belgia
Aljazair
Rusia
Korea Selatan
Minggu, 16 Maret 2014
Gol-gol Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia
Arie Haan: Belanda vs Italia - 1978
Sebuah tendangan cannon ball yang luar biasa dari legenda Belanda ini. Sepakan kerasnya dari jarak sekitar 33 meter meluncur deras tanpa bisa dihalau kiper lawan.
Jurgen Klinsmann: Jerman vs Korea Selatan
Gol ini menunjukkan insting 'membunuh' yang luar biasa dari legenda Jerman tersebut. Ia sudah tahu ke mana akan menempatkan bola kendati posisinya membelakangi gawang lawan.
Roberto Baggio: Italia vs Cekoslovakia 1990
Gol ini membutuhkan kecepatan, dribel yang tentunya bagus, dan ketenangan. Dan Baggio memiliki semua hal tersebut. Mungkin, gaya Cristiano Ronaldo mencetak gol juga terinspirasi dari aksi legenda Italia ini.
Pele: Brasil vs Swedia - 1958
Cerdik. Itulah alasan Pele bisa mencetak gol ini. Selain itu, ia juga ditunjang dengan teknik yang mumpuni. Satu hal lagi, legenda Selecao ini juga tak cengeng ketika kaki lawan mendarat di tubuhnya. Padahal ia bisa saja jatuh dan mengerang kesakitan agar sang lawan diberi kartu merah, plus penalti.
Diego Maradona: Argentina vs Yunani - 1994
Gol dari Maradona sendiri tergolong biasa. Namun, yang menjadi perhatian adalah kerjasama tim yang cantik. Atau yang lazim dikenal dengan Tiki-Taka saat ini. Kelihatannya memang mudah melakukan trik tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya, sulit melakukan hal tersebut jika tak ditunjuang dengan kecepatan, olah bola yang bagus dan kerjasama tim yang rapi.
Manuel Negrete Arias: Meksiko vs Bulgaria - 1-0
Proses terjadinya gol bagus. Namun, penyelesaian akhirnyalah yang sempurna. Sebuah tendangan gunting yang akurat membuat kiper lawan tak berkutik. Reaksi yang bagus dari Negrete saat melihat bola tersebut tengah melayang. Jika ia memutuskan untuk mengontrol bola, mungkin ia tak akan punya kesempatan mengancam gawang lawan karena para defender sudah siap menutup pergerakannya.
Michael Owen: Inggris vs Argentina - 1998
Bisa melakukan solo goal di Piala Dunia? Maka pemain tersebut patut diacungi jempol. Mencetak gol dengan bantuan rekan setim saja tak mudah, apalagi melakukannya seorang diri. Kecepatan menjadi senjata utama Owen mencetak gol ini. Namun, yang paling penting adalah visi dan ketenangannya-nya. Ia sudah menentukan ke arah mana ia bakal berlari dan menentukan titik di mana ia akan menendang si kulit bundar. Ia bahkan tak membiarkan dirinya terjatuh saat ada pemain yang menempelnya dengan ketat.
Archie Gemmill: Skotlandia vs Belanda - 1978
Sekali lagi, solo goal yang indah tercipta. Beda dengan Owen, Gemmil tak terlalu mengandalkan kecepatan. Timing, dribel, dan kecerdikannya yang berbicara di sini. Terlebih, ia harus melewati hadangan 3 pemain lawan yang ganas. Para defender Belanda mencoba merebut bola dengan tekel keras dan agresif, namun bisa dihindari dengan elegan oleh Gemmil. Finishingnya pun sempurna.
Diego Maradona: Argentina vs Belgia 1986
Maradona mengiris pertahanan lawan dengan mudah. Empat pemain, lima plus kiper, berhasil ia pecundangi dengan kecepatan dan dribel-nya yang lengket. Ia layaknya bermain melawan bek-bek pemula.
Dennis Bergkamp: Belanda vs Argentina - 1998
Hanya butuh tiga sentuhan bagi Bergkamp untuk bisa mencetak gol ke gawang Argentina ini. Kejasama tim yang sempurna, plus teknik, visi, ketenangan dan kecerdikan terangkum menjadi satu sehingga gol ini tercipta. Sentuhan pertamanya saat menerima bola hasil umpan jauh dari De Boer menjadi kunci terciptanya gol ini. Kecerdikan membuatnya berhasil mengamankan bola dari sergapan musuh, dan ketenangan berhasil membuatnya melakukan finishing yang sempurna.
Saeed Al-Owairan: Arab Saudi vs Belgia - 1994
Bukan hanya Maradona yang bisa mencetak gol solo melewati banyak orang. Pemain yang satu ini bisa juga melakukannya. Bahkan, ia sukses melewati hadangan enam pemain. Ia bisa mencetak gol ini karena ada momentum yang mendukung. Walau demikian, tak bisa dikesampingkan bahwa faktor kecepatan dan dribelnya turut berperan dalam mencetak gol indah ini.
Diego Maradona: Argentina vs Inggris - 1986
Kecerdikan, visi yang yahud, dribel yang sempurna, plus kepercayaan diri yang tinggi mendukung terciptanya gol yang paling indah di Piala Dunia ini.
Berlari sendirian dan menari-nari melewati hadangan enam pemain sebelum akhirnya mencetak gol tampak mustahil dilakukan jika bukan oleh pemain dengan skill tingkat dewa. terlebih, lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan, melainkan tim sekelas Inggris. Bahkan, Lionel Messi sendiri mungkin saja bakal kesulitan mencetak gol macam ini di ajang Piala Dunia.
Sebuah tendangan cannon ball yang luar biasa dari legenda Belanda ini. Sepakan kerasnya dari jarak sekitar 33 meter meluncur deras tanpa bisa dihalau kiper lawan.
Jurgen Klinsmann: Jerman vs Korea Selatan
Gol ini menunjukkan insting 'membunuh' yang luar biasa dari legenda Jerman tersebut. Ia sudah tahu ke mana akan menempatkan bola kendati posisinya membelakangi gawang lawan.
Roberto Baggio: Italia vs Cekoslovakia 1990
Gol ini membutuhkan kecepatan, dribel yang tentunya bagus, dan ketenangan. Dan Baggio memiliki semua hal tersebut. Mungkin, gaya Cristiano Ronaldo mencetak gol juga terinspirasi dari aksi legenda Italia ini.
Pele: Brasil vs Swedia - 1958
Cerdik. Itulah alasan Pele bisa mencetak gol ini. Selain itu, ia juga ditunjang dengan teknik yang mumpuni. Satu hal lagi, legenda Selecao ini juga tak cengeng ketika kaki lawan mendarat di tubuhnya. Padahal ia bisa saja jatuh dan mengerang kesakitan agar sang lawan diberi kartu merah, plus penalti.
Diego Maradona: Argentina vs Yunani - 1994
Gol dari Maradona sendiri tergolong biasa. Namun, yang menjadi perhatian adalah kerjasama tim yang cantik. Atau yang lazim dikenal dengan Tiki-Taka saat ini. Kelihatannya memang mudah melakukan trik tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya, sulit melakukan hal tersebut jika tak ditunjuang dengan kecepatan, olah bola yang bagus dan kerjasama tim yang rapi.
Manuel Negrete Arias: Meksiko vs Bulgaria - 1-0
Proses terjadinya gol bagus. Namun, penyelesaian akhirnyalah yang sempurna. Sebuah tendangan gunting yang akurat membuat kiper lawan tak berkutik. Reaksi yang bagus dari Negrete saat melihat bola tersebut tengah melayang. Jika ia memutuskan untuk mengontrol bola, mungkin ia tak akan punya kesempatan mengancam gawang lawan karena para defender sudah siap menutup pergerakannya.
Michael Owen: Inggris vs Argentina - 1998
Bisa melakukan solo goal di Piala Dunia? Maka pemain tersebut patut diacungi jempol. Mencetak gol dengan bantuan rekan setim saja tak mudah, apalagi melakukannya seorang diri. Kecepatan menjadi senjata utama Owen mencetak gol ini. Namun, yang paling penting adalah visi dan ketenangannya-nya. Ia sudah menentukan ke arah mana ia bakal berlari dan menentukan titik di mana ia akan menendang si kulit bundar. Ia bahkan tak membiarkan dirinya terjatuh saat ada pemain yang menempelnya dengan ketat.
Archie Gemmill: Skotlandia vs Belanda - 1978
Sekali lagi, solo goal yang indah tercipta. Beda dengan Owen, Gemmil tak terlalu mengandalkan kecepatan. Timing, dribel, dan kecerdikannya yang berbicara di sini. Terlebih, ia harus melewati hadangan 3 pemain lawan yang ganas. Para defender Belanda mencoba merebut bola dengan tekel keras dan agresif, namun bisa dihindari dengan elegan oleh Gemmil. Finishingnya pun sempurna.
Diego Maradona: Argentina vs Belgia 1986
Maradona mengiris pertahanan lawan dengan mudah. Empat pemain, lima plus kiper, berhasil ia pecundangi dengan kecepatan dan dribel-nya yang lengket. Ia layaknya bermain melawan bek-bek pemula.
Dennis Bergkamp: Belanda vs Argentina - 1998
Hanya butuh tiga sentuhan bagi Bergkamp untuk bisa mencetak gol ke gawang Argentina ini. Kejasama tim yang sempurna, plus teknik, visi, ketenangan dan kecerdikan terangkum menjadi satu sehingga gol ini tercipta. Sentuhan pertamanya saat menerima bola hasil umpan jauh dari De Boer menjadi kunci terciptanya gol ini. Kecerdikan membuatnya berhasil mengamankan bola dari sergapan musuh, dan ketenangan berhasil membuatnya melakukan finishing yang sempurna.
Saeed Al-Owairan: Arab Saudi vs Belgia - 1994
Bukan hanya Maradona yang bisa mencetak gol solo melewati banyak orang. Pemain yang satu ini bisa juga melakukannya. Bahkan, ia sukses melewati hadangan enam pemain. Ia bisa mencetak gol ini karena ada momentum yang mendukung. Walau demikian, tak bisa dikesampingkan bahwa faktor kecepatan dan dribelnya turut berperan dalam mencetak gol indah ini.
Diego Maradona: Argentina vs Inggris - 1986
Kecerdikan, visi yang yahud, dribel yang sempurna, plus kepercayaan diri yang tinggi mendukung terciptanya gol yang paling indah di Piala Dunia ini.
Berlari sendirian dan menari-nari melewati hadangan enam pemain sebelum akhirnya mencetak gol tampak mustahil dilakukan jika bukan oleh pemain dengan skill tingkat dewa. terlebih, lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan, melainkan tim sekelas Inggris. Bahkan, Lionel Messi sendiri mungkin saja bakal kesulitan mencetak gol macam ini di ajang Piala Dunia.
Rabu, 05 Maret 2014
Rekor Usia Tua Di Piala Dunia
Usia tak menjadi halangan seseorang untuk menorehkan prestasi. Bagi pemain sepakbola usia bisa menjadi faktor penting untuk mendukung performa di atas lapangan. Tak banyak pemain sudah punya usia senja bisa bermain di turnamen sekelas Piala Dunia.
Ada beberapa pemain yang malah menjadi bintang negaranya saat bermain di Piala Dunia meski sudah tua. Mereka seakan tau kalah dengan para juniornya yang siap menggantikan peran mereka. Punya pengalaman dan mental yang matang menjadikan mereka diajak bermain di turnamen tertinggi empat tahunan ini.
Banyak rekor yang diciptakan di Piala Dunia meski mereka sudah tidak muda lagi. Siapa saja yang memecahkan rekor dalam hal usia tertua? Berikut tim Bola.net sajikan daftarnya.
Wasit Tertua
Beralih ke sang pengadil pertandingan atau yang biasa disebut wasit. Wasit menjadi salah satu komponen penting di pertandingan sepakbola. Seperti halnya George Reader yang bertugas sebagai wasit di Piala Dunia 1950. Pria asal Inggris ini memimpin tiga pertandingan selama di turnamen ini. Dua laga grup: Brazil vs Meksiko dan Uruguay vs Boliviaserta satu partai final Uruguay vs Brazil yang dimenangkan Uruguay. Di partai final ini, Reader saat itu berusia 53 tahun 236 hari sehingga namanya otomatis tercatat sebagai wasit tertua di Piala Dunia.
Ada beberapa pemain yang malah menjadi bintang negaranya saat bermain di Piala Dunia meski sudah tua. Mereka seakan tau kalah dengan para juniornya yang siap menggantikan peran mereka. Punya pengalaman dan mental yang matang menjadikan mereka diajak bermain di turnamen tertinggi empat tahunan ini.
Banyak rekor yang diciptakan di Piala Dunia meski mereka sudah tidak muda lagi. Siapa saja yang memecahkan rekor dalam hal usia tertua? Berikut tim Bola.net sajikan daftarnya.
Wasit Tertua
Beralih ke sang pengadil pertandingan atau yang biasa disebut wasit. Wasit menjadi salah satu komponen penting di pertandingan sepakbola. Seperti halnya George Reader yang bertugas sebagai wasit di Piala Dunia 1950. Pria asal Inggris ini memimpin tiga pertandingan selama di turnamen ini. Dua laga grup: Brazil vs Meksiko dan Uruguay vs Boliviaserta satu partai final Uruguay vs Brazil yang dimenangkan Uruguay. Di partai final ini, Reader saat itu berusia 53 tahun 236 hari sehingga namanya otomatis tercatat sebagai wasit tertua di Piala Dunia.
Senin, 20 Januari 2014
Sejarah Hari Ini (17 Januari): Ulang Tahun Top Skor Pertama Piala Dunia
Guillermo Stabile, pesepakbola asal Argentina, yang meraih kesuksesan dalam karirnya sebagai pemain dan pelatih.
Lebih dari satu abad silam, atau tepatnya pada tanggal 17 Januari 1905, lahir sosok Guillermo Stabile, striker asal Argentina yang akan terus dikenang namanya karena menjadi top skor Piala Dunia pertama dan prestasinya saat membesut timnas Tango.
Pemain jebolan akademi Sportivo Metan ini mengawali karir profesionalnya bersama Huracan, yang ia bawa ke kasta tertinggi sepakbola Argentina. Performa impresifnya di Huracan membuat ia terpilih untuk memperkuat Argentina di Piala Dunia 1930.
Dan di pesta akbar sepakbola pertama itu, ia semakin mengharumkan namanya. Laga debutnya diwarnai dengan hat-trick sensasional ketika mengalahkan Meksiko dengan skor telak 6-3. Ia kemudian terus menghiasi papan skor pertandingan, Stabile mencetak dua gol ketika Argentina menang 3-1 atas Cili di partai penentuan babak grup. Kemudian ia menyumbang dua gol untuk timnas Tango ketika melibas Amerika Serikat di semi-final.
Di laga final melawan tuan rumah Uruguay, Stabile terus tampil konsisten. Di paruh pertama, Stabile mencetak gol ketika kedudukan imbang 1-1, sehingga Argentina memasuki jeda pertandingan dengan unggul 2-1. Bagaimanapun juga, mereka akhirnya menyerah dengan skor 4-2.
Meski kalah di partai puncak, Stabile telah mencetak sejarah hanya dalam empat pertandingan, ia menjadi top skor pertama Piala Dunia dengan rata-rata mencetak dua gol dalam setiap laga. sayang setelah itu, ia tidak pernah bermain lagi untuk timnas.
Di level klub, pamornya semakin terkatrol berkat prestasinya di Piala Dunia, ia kemudian bertualang di Italia dengan memperkuat Genoa dan Napoli, sebelum pensiun di klub Red Star Paris.
Setelah karir pemain sepakbolanya berakhir, ia banting setir ke posisi manajerial. Berbekal pengalaman menjadi asisten pelatih di Genoa, dan juga pelatih sekaligus pemain di Red Star, Stabile kemudian dipercaya untuk menangani timnas Argentina.
Kepercayaan itu dibayar tuntas oleh Stabile dengan mempersembahkan gelar juara Copa America sebanyak enam kali (1941, 1945, 1946, 1947, 1955, 1957), dan ia juga mencetak rekor sebagai salah satu dari sedikit pelatih yang melatih sebanyak lebih dari 100 kali, yaitu 123 pertandingan dengan 83 pertandingan berakhir dengan kemenangan.
Karir kepelatihannya di Argentina sempat mandek setelah ia gagal membawa timnas Tango melewati babak pertama Piala Dunia 1958, termasuk kalah dengan skor 6-1 dari Cekoslwakia. Tetapi ia kembali dipanggil timnas pada tahun 1960.
Saat menjabat pelatih timnas, ia juga melatih klub, bahkan ada beberapa klub yang ia latihm, termasuk klub pertamanya Huracan dan Racing Club. Bersama Racing ia meraih tiga gelar liga secara beruntun pada tahun 1949 hingga 1951.
Stabile pensiun dari dunia kepelatihan pada tahun 1960 dan kemudian digeser menjadi salah satu direktur timnas Argentina sebelum meninggal dunia pada tahun 1966.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (17 Januari): Ulang Tahun Top Skor Pertama Piala Dunia
Lebih dari satu abad silam, atau tepatnya pada tanggal 17 Januari 1905, lahir sosok Guillermo Stabile, striker asal Argentina yang akan terus dikenang namanya karena menjadi top skor Piala Dunia pertama dan prestasinya saat membesut timnas Tango.
Pemain jebolan akademi Sportivo Metan ini mengawali karir profesionalnya bersama Huracan, yang ia bawa ke kasta tertinggi sepakbola Argentina. Performa impresifnya di Huracan membuat ia terpilih untuk memperkuat Argentina di Piala Dunia 1930.
Dan di pesta akbar sepakbola pertama itu, ia semakin mengharumkan namanya. Laga debutnya diwarnai dengan hat-trick sensasional ketika mengalahkan Meksiko dengan skor telak 6-3. Ia kemudian terus menghiasi papan skor pertandingan, Stabile mencetak dua gol ketika Argentina menang 3-1 atas Cili di partai penentuan babak grup. Kemudian ia menyumbang dua gol untuk timnas Tango ketika melibas Amerika Serikat di semi-final.
Di laga final melawan tuan rumah Uruguay, Stabile terus tampil konsisten. Di paruh pertama, Stabile mencetak gol ketika kedudukan imbang 1-1, sehingga Argentina memasuki jeda pertandingan dengan unggul 2-1. Bagaimanapun juga, mereka akhirnya menyerah dengan skor 4-2.
Meski kalah di partai puncak, Stabile telah mencetak sejarah hanya dalam empat pertandingan, ia menjadi top skor pertama Piala Dunia dengan rata-rata mencetak dua gol dalam setiap laga. sayang setelah itu, ia tidak pernah bermain lagi untuk timnas.
Di level klub, pamornya semakin terkatrol berkat prestasinya di Piala Dunia, ia kemudian bertualang di Italia dengan memperkuat Genoa dan Napoli, sebelum pensiun di klub Red Star Paris.
Setelah karir pemain sepakbolanya berakhir, ia banting setir ke posisi manajerial. Berbekal pengalaman menjadi asisten pelatih di Genoa, dan juga pelatih sekaligus pemain di Red Star, Stabile kemudian dipercaya untuk menangani timnas Argentina.
Kepercayaan itu dibayar tuntas oleh Stabile dengan mempersembahkan gelar juara Copa America sebanyak enam kali (1941, 1945, 1946, 1947, 1955, 1957), dan ia juga mencetak rekor sebagai salah satu dari sedikit pelatih yang melatih sebanyak lebih dari 100 kali, yaitu 123 pertandingan dengan 83 pertandingan berakhir dengan kemenangan.
Karir kepelatihannya di Argentina sempat mandek setelah ia gagal membawa timnas Tango melewati babak pertama Piala Dunia 1958, termasuk kalah dengan skor 6-1 dari Cekoslwakia. Tetapi ia kembali dipanggil timnas pada tahun 1960.
Saat menjabat pelatih timnas, ia juga melatih klub, bahkan ada beberapa klub yang ia latihm, termasuk klub pertamanya Huracan dan Racing Club. Bersama Racing ia meraih tiga gelar liga secara beruntun pada tahun 1949 hingga 1951.
Stabile pensiun dari dunia kepelatihan pada tahun 1960 dan kemudian digeser menjadi salah satu direktur timnas Argentina sebelum meninggal dunia pada tahun 1966.
| GUILLERMO STABILE |
| Nama lengkap: Guillermo Stábile Tempat, tanggal lahir: Buenos Aires, Argentina, 17 Januari 1905 - 26 Desember 1966 Karier pemain: - Huracan (1924-30) - Genoa (1930-34) - Napoli (1934-35) - Genoa (1935-36) - Red Star Paris (1936-39) - Argentina (1930) Karir pelatih: - Genoa (co-manajer) (1931-32) - Red Star Paris (Pemain-Pelatih) (1937-39) - San Lorenzo (1939-40) - Huracan (1940-49) - Estudiantes (1940-41) - Racing Club (1949-60) - Argentina (1939-60) | Koleksi Gelar : Pemain: Huracan Liga Primer Argentina (2): 1925, 1928 Pelatih: Racing Club Liga Primer Argentina (3): 1949, 1950, 1951 Argentina Copa America (6): 1941, 1945, 1946, 1947, 1955, 1957 Kejuaraan Panama: 1960 |
Jumat, 19 Juli 2013
Sejarah Hari Ini (13 Juli): Partai Pertama Piala Dunia
Langganan:
Postingan (Atom)













