# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label sepak bola piala dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepak bola piala dunia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2022

Yuk Kenalan dengan Stephanie Frappart, Wasit Wanita Pertama di Piala Dunia 2022

Untuk pertama kalinya, akan ada tim wasit wanita yang bertugas di Piala Dunia. FIFA mengumumkan akan ada tiga wasit wanita dan tiga asisten wasit wanita di Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar pada akhir tahun ini.

 

Stephanie Frappart menjadi satu dari enam perangkat pertandingan wanita yang akan bertugas di Qatar 2022. 

 

Wasit wanita asal Prancis itu telah bertugas di Kualifikasi Piala Dunia, Liga Champions, final Piala Dunia Wanita 2019, dan baru-baru ini menjadi wasit di Piala Prancis pada Mei lalu.

 

"Seperti biasa, kriteria yang kami gunakan adalah kualitas yang utama, dan wasit yang terpilih mewakili level tertinggi perwasitan di seluruh dunia," ujar Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina.

 

"Dengan cara ini, kami jelas menekankan bahwa kualitas menjadi yang lebih penting bagi kami, dan bukan masalah gender," lanjutnya mengenai penunjukan wasit wanita untuk Piala Dunia 2022.


Mengenal Sosok Stephanie Frappart

 

Stephanie Frappart tercatat memulai karier sebagai wasit profesional pada 2009. Pada 2011, ia memulai kariernya di Championnat National, atau divisi ketiga sepak bola Prancis.

 

Wasit berusia 38 tahun itu kemudian mendapatkan kesempatan menjadi wasit di Ligue 2 Prancis pada 2014 dan lima tahun berselang akhirnya memimpin duel di Ligue 1 Prancis.

 

Pertandingan pertamanya memimpin pertandingan Ligue 1 Prancis dilakukan pada 28 April 2019, di mana ia memimpin pertandingan antara SC Amiens vs RC Strasbourg. 

 

Pada tahun yang sama, ia ditugaskan UEFA di laga Piala Super Eropa antara Liverpool dan Chelsea.


Siapa Saja Wasit Wanita yang Bertugas di Piala Dunia 2022?

 

Selain Stephanie Frappart, dua wasit wanita lain yang akan bertugas di Piala Dunia 2022 adalah Salima Mukansanga dari Rwanda dan Yoshimi Yamashita dari Jepang. 

 

Ketiganya masuk dalam daftar 36 wasit yang dipersiapkan untuk memimpin 64 pertandingan di Piala Dunia 2022.

 

Sementara dari 69 asisten wasit yang bertugas, ada tiga asisten wasit wanita. 

 

Ketiganya adalah Neuza Back dari Brasil, Karen Diaz Medina dari Meksiko, dan Kathryn Nesbitt dari Amerika Serikat.

 

"Saya berharap pada masa yang akan datang terpilihnya perangkat pertandingan wanita untuk kompetisi penting sepak bola putra akan menjadi sesuatu yang normal dan tak lagi menjadi sebuah hal yang sensasional," ujar Collina.

 

Konsisten

 

Pierluigi Collina juga mengungkapkan apa yang menjadi faktor terpenting dalam pemilihan wasit untuk Piala Dunia, termasuk enam perangkat pertandingan wanita tersebut.

 

Menurutnya, keenamnya seperti wasit terpilih lain yang memperlihatkan performa konsisten saat memimpin pertandingan.

 

"Mereka layak untuk berada di Piala Dunia karena mereka konsisten tampil di level yang sangat tinggi dan itu yang menjadi faktor penting bagi kami," ujar Collina.


Berawal dari Bosan Main Bola


Pada masa kecil, Frappart tertarik dengan sepak bola dan mencoba untuk jadi pemain.

 

“Saya bermain sepak bola di rumah di Val d'Oise, kemudian sekitar pukul 13-14 saya menjadi tertarik dengan hukum permainan,” kata Frappart dalam wawancara dengan surat kabar Prancis, L’Express pada tahun 2014, dikutip dari talkSPORT.

 

Frappart pertama kali belajar peraturan pertandingan sepak bola saat masih remaja. Ia begitu menikmati pertandingan sepak bola. 

 

Namun, dia berhenti bermain pada usia 18 tahun untuk mengejar mimpinya menjadi seorang wasit.

 

Menurut dia, menjadi wasit akan lebih menantang dan memberikan pengalaman baru. Ia pun langsung fokus mengikuti kursus wasit dari level terendah.

 

“Saya pindah dan segera mulai menjadi wasit pertandingan. Sekitar 18-20 tahun, saya harus memilih antara sepak bola dan wasit," katanya.


baca keseluruhan - Yuk Kenalan dengan Stephanie Frappart, Wasit Wanita Pertama di Piala Dunia 2022

Minggu, 25 Mei 2014

Poster Bintang & Julukan Tim Piala Dunia 2014

ESPN meminta seniman dan desainer grafis Brasil Cristiano Siqueira untuk membuat poster spesial guna menyambut datangnya Piala Dunia 2014.

Karyanya berupa gambar unik tentang ke-32 negara kontestan lengkap dengan nama julukan dan bintang-bintang utama mereka.

GRUP A

Brasil


Kroasia


Meksiko


Kamerun


GRUP B

Spanyol


Belanda


Chile


Australia


GRUP C

Kolombia


Yunani


Pantai Gading


Jepang


GRUP D

Uruguay


Kosta Rika


Inggris


Italia


GRUP E

Swiss


Ekuador


Prancis


Honduras


GRUP F

Argentina


Bosnia-Herzegovina


Iran


Nigeria


GRUP G

Jerman


Ghana


Amerika Serikat


Portugal


GRUP H

Belgia


Aljazair


Rusia


Korea Selatan
baca keseluruhan - Poster Bintang & Julukan Tim Piala Dunia 2014

Minggu, 16 Maret 2014

Gol-gol Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Arie Haan: Belanda vs Italia - 1978
Sebuah tendangan cannon ball yang luar biasa dari legenda Belanda ini. Sepakan kerasnya dari jarak sekitar 33 meter meluncur deras tanpa bisa dihalau kiper lawan.



Jurgen Klinsmann: Jerman vs Korea Selatan
Gol ini menunjukkan insting 'membunuh' yang luar biasa dari legenda Jerman tersebut. Ia sudah tahu ke mana akan menempatkan bola kendati posisinya membelakangi gawang lawan.



Roberto Baggio: Italia vs Cekoslovakia 1990
Gol ini membutuhkan kecepatan, dribel yang tentunya bagus, dan ketenangan. Dan Baggio memiliki semua hal tersebut. Mungkin, gaya Cristiano Ronaldo mencetak gol juga terinspirasi dari aksi legenda Italia ini.



Pele: Brasil vs Swedia - 1958
Cerdik. Itulah alasan Pele bisa mencetak gol ini. Selain itu, ia juga ditunjang dengan teknik yang mumpuni. Satu hal lagi, legenda Selecao ini juga tak cengeng ketika kaki lawan mendarat di tubuhnya. Padahal ia bisa saja jatuh dan mengerang kesakitan agar sang lawan diberi kartu merah, plus penalti.



Diego Maradona: Argentina vs Yunani - 1994
Gol dari Maradona sendiri tergolong biasa. Namun, yang menjadi perhatian adalah kerjasama tim yang cantik. Atau yang lazim dikenal dengan Tiki-Taka saat ini. Kelihatannya memang mudah melakukan trik tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya, sulit melakukan hal tersebut jika tak ditunjuang dengan kecepatan, olah bola yang bagus dan kerjasama tim yang rapi.



Manuel Negrete Arias: Meksiko vs Bulgaria - 1-0
Proses terjadinya gol bagus. Namun, penyelesaian akhirnyalah yang sempurna. Sebuah tendangan gunting yang akurat membuat kiper lawan tak berkutik. Reaksi yang bagus dari Negrete saat melihat bola tersebut tengah melayang. Jika ia memutuskan untuk mengontrol bola, mungkin ia tak akan punya kesempatan mengancam gawang lawan karena para defender sudah siap menutup pergerakannya.



Michael Owen: Inggris vs Argentina - 1998
Bisa melakukan solo goal di Piala Dunia? Maka pemain tersebut patut diacungi jempol. Mencetak gol dengan bantuan rekan setim saja tak mudah, apalagi melakukannya seorang diri. Kecepatan menjadi senjata utama Owen mencetak gol ini. Namun, yang paling penting adalah visi dan ketenangannya-nya. Ia sudah menentukan ke arah mana ia bakal berlari dan menentukan titik di mana ia akan menendang si kulit bundar. Ia bahkan tak membiarkan dirinya terjatuh saat ada pemain yang menempelnya dengan ketat.



Archie Gemmill: Skotlandia vs Belanda - 1978
Sekali lagi, solo goal yang indah tercipta. Beda dengan Owen, Gemmil tak terlalu mengandalkan kecepatan. Timing, dribel, dan kecerdikannya yang berbicara di sini. Terlebih, ia harus melewati hadangan 3 pemain lawan yang ganas. Para defender Belanda mencoba merebut bola dengan tekel keras dan agresif, namun bisa dihindari dengan elegan oleh Gemmil. Finishingnya pun sempurna.



Diego Maradona: Argentina vs Belgia 1986
Maradona mengiris pertahanan lawan dengan mudah. Empat pemain, lima plus kiper, berhasil ia pecundangi dengan kecepatan dan dribel-nya yang lengket. Ia layaknya bermain melawan bek-bek pemula.



Dennis Bergkamp: Belanda vs Argentina - 1998
Hanya butuh tiga sentuhan bagi Bergkamp untuk bisa mencetak gol ke gawang Argentina ini. Kejasama tim yang sempurna, plus teknik, visi, ketenangan dan kecerdikan terangkum menjadi satu sehingga gol ini tercipta. Sentuhan pertamanya saat menerima bola hasil umpan jauh dari De Boer menjadi kunci terciptanya gol ini. Kecerdikan membuatnya berhasil mengamankan bola dari sergapan musuh, dan ketenangan berhasil membuatnya melakukan finishing yang sempurna.



Saeed Al-Owairan: Arab Saudi vs Belgia - 1994
Bukan hanya Maradona yang bisa mencetak gol solo melewati banyak orang. Pemain yang satu ini bisa juga melakukannya. Bahkan, ia sukses melewati hadangan enam pemain. Ia bisa mencetak gol ini karena ada momentum yang mendukung. Walau demikian, tak bisa dikesampingkan bahwa faktor kecepatan dan dribelnya turut berperan dalam mencetak gol indah ini.



Diego Maradona: Argentina vs Inggris - 1986

Kecerdikan, visi yang yahud, dribel yang sempurna, plus kepercayaan diri yang tinggi mendukung terciptanya gol yang paling indah di Piala Dunia ini.

Berlari sendirian dan menari-nari melewati hadangan enam pemain sebelum akhirnya mencetak gol tampak mustahil dilakukan jika bukan oleh pemain dengan skill tingkat dewa. terlebih, lawan yang dihadapi bukan tim sembarangan, melainkan tim sekelas Inggris. Bahkan, Lionel Messi sendiri mungkin saja bakal kesulitan mencetak gol macam ini di ajang Piala Dunia.


baca keseluruhan - Gol-gol Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Rabu, 05 Maret 2014

Rekor Usia Tua Di Piala Dunia

Usia tak menjadi halangan seseorang untuk menorehkan prestasi. Bagi pemain sepakbola usia bisa menjadi faktor penting untuk mendukung performa di atas lapangan. Tak banyak pemain sudah punya usia senja bisa bermain di turnamen sekelas Piala Dunia.

Ada beberapa pemain yang malah menjadi bintang negaranya saat bermain di Piala Dunia meski sudah tua. Mereka seakan tau kalah dengan para juniornya yang siap menggantikan peran mereka. Punya pengalaman dan mental yang matang menjadikan mereka diajak bermain di turnamen tertinggi empat tahunan ini.

Banyak rekor yang diciptakan di Piala Dunia meski mereka sudah tidak muda lagi. Siapa saja yang memecahkan rekor dalam hal usia tertua? Berikut tim Bola.net sajikan daftarnya. 

Debut Pemain Tertua

Usia senja tak menghalangi David James bermain di level tertinggi turnamen sepakbola. Fabio Capello yang kala itu menjadi pelatih tim nasional Inggris membawanya ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Di turnamen ini mantan kiper Portsmouth tersebut menjadi kiper tertua dari semua tim. Saat pertandingan perdana Inggris kontra Amerika Serikat, Capello lebih mempercayakan Robert Green. Setelah Green membuat kesalahan di pertandingan sebelumnya, kesempatan James untuk tampil pun datang saat melawan Algeria dan ia juga menciptakan clean sheetbuat timnya. Saat itu ia resmi tercatat sebagai pemain tertua yang membuat debut di Piala Dunia di usia 39 tahun 321 hari.
Pemain Tertua Rebut Piala Dunia

Di Piala Dunia 1982, Italia berhasil melenggang ke partai final untuk menantang Jerman Barat. Gawang Azzurri yang dikawal Dino Zoff kala itu tak menemui kesulitan untuk untuk mengangkat piala setelah menundukkan tim Panzer dengan skor menyakinkan 3-1. Paolo Rossi memang menjadi pahlawan Italia dengan deretan gol pentingnya sehingga berhasil menyabet sepatu emas, namun Zoff juga bisa berbangga sebab pemain tertua yang bisa merebut piala dunia disematkan atas namanya di usia 40 tahun 133 hari.
Pencetak Gol Tertua di Final

Dipimpin Nils Liedholm, tuan rumah Swedia mulus melaju ke partai final Piala Dunia 1958 dan harus melawan Brazil. Tim Samba kala itu diperkuat Pele yang berusia 17 tahun berhasil membantai Swedia dengan skor 5-2 dan berhak meraih Piala Dunia pertamanya. Liedholm yang saat itu berusia 35 tahun 263 hari mencetak gol pertama bagi negaranya. Nama mantan pemain AC Milan itu sampai saat ini masih dikenang sebagai pencetak gol tertua di final Piala Dunia.
Pemain Tertua

Tua-tua keladi. Itulah julukan yang pantas diberikan kepada Roger Milla. Striker asal Kamerun ini sebenarnya sudah resmi pensiun dari sepak bola internasional, tapi setelah menerima telepon dari presiden negaranya, dia bisa dibujuk untuk mengikuti Piala Dunia 1990 di Italia dan menjadi bintang sebelum disingkirkan Inggris di perempat final. Empat tahun berselang atau tepatnya di Piala Dunia 1994, ia kembali bermain di turnamen ini. Meski Kamerun menduduki juru kunci di grup, namun Milla berhasil memecahkan rekor sebagai pemain tertua Piala Dunia saat melawan Rusia di usia 42 tahun 39 hari.

Pencetak Gol Tertua

Selain tercatat sebagai pemain tertua di Piala Dunia, Roger Milla ternyata juga punya rekor lain. Meski bisa dibilang sudah cukup veteran, namun ketajamannya mencetak gol di Piala Dunia 1994 masih belum luntur. Terbukti gawang Rusia menjadi korbannya. Di usia 42 tahun 39 hari, striker yang pernah merumput di Indonesia bersama Pelita Jaya dan Putra Samarinda ini sukses menjebol gawang tim Beruang Merah walaupun timnya harus kemasukan enam gol. Pertandingan melawan Russia ini menjadi aksinya yang terakhir di turnamen Piala Dunia.
Kapten Tertua

Peran kapten di sebuah tim sepakbola memang sangat penting dalam memimpin rekan-rekannya di lapangan. Hal ini juga berlaku buat Peter Shilton saat memimpin tim nasional Inggris di Piala Dunia 1990. Di turnamen yang bertempat di Italia ini, perjalanan The Three Lions bisa sampai  ke perebutan tempat ketiga. Namun sayang Inggris harus mengakui ketangguhan Italia dengan skor 2-1. Meski kalah dari tuan rumah, mereka di anugerahi Fair Play Award karena tidak menerima baik kartu merah maupun kartu kuning sepanjang turnamen. Shilton pun tercatat sebagai pemain yang tertua yang di lengannya melingkar ban kapten dengan usia 40 tahun 292 hari.
Pencetak Hat-trick Tertua

Tore Keller menjadi salah satu pemain sepakbola yang bisa mencetak hat-trick di turnamen Piala Dunia. Striker asal Swedia ini mencetak tiga gol saat melawan Kuba di Piala Dunia 1938. Saat itu tim Kuba dihancurkan Swedia dengan skor telak 8-0. Nama Keller menjadi abadi karena tercatat sebagai pemain tertua pencetak hat-trick di Piala Dunia saat usia 33 tahun 159 hari.
Pelatih Tertua

Yunani ikut berpartisipasi di turnamen Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Salah satu aktor di balik kesuksesan ini adalah Otto Rehhagel. Perjalanan negeri para dewa di turnamen ini memang tidak terlalu istimewa. Mereka hanya menempati tempat ketiga di Grup B. Namun prestasi pelatih asal Jerman ini sudah terbilang sukses karena mampu membawa Yunani lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya di usia 71 tahun 317 hari. Setelah Piala Dunia 2010 ia memutuskan mundur dari tim nasional Yunani.
Wasit Tertua

Beralih ke sang pengadil pertandingan atau yang biasa disebut wasit. Wasit menjadi salah satu komponen penting di pertandingan sepakbola. Seperti halnya George Reader yang bertugas sebagai wasit di Piala Dunia 1950. Pria asal Inggris ini memimpin tiga pertandingan selama di turnamen ini. Dua laga grup: Brazil vs Meksiko dan Uruguay vs Boliviaserta satu partai final Uruguay vs Brazil yang dimenangkan Uruguay. Di partai final ini, Reader saat itu berusia 53 tahun 236 hari sehingga namanya otomatis tercatat sebagai wasit tertua di Piala Dunia.
baca keseluruhan - Rekor Usia Tua Di Piala Dunia

Senin, 20 Januari 2014

Sejarah Hari Ini (17 Januari): Ulang Tahun Top Skor Pertama Piala Dunia

Guillermo Stabile, pesepakbola asal Argentina, yang meraih kesuksesan dalam karirnya sebagai pemain dan pelatih.

Lebih dari satu abad silam, atau tepatnya pada tanggal 17 Januari 1905, lahir sosok Guillermo Stabile, striker asal Argentina yang akan terus dikenang namanya karena menjadi top skor Piala Dunia pertama dan prestasinya saat membesut timnas Tango.

Pemain jebolan akademi Sportivo Metan ini mengawali karir profesionalnya bersama Huracan, yang ia bawa ke kasta tertinggi sepakbola Argentina. Performa impresifnya di Huracan membuat ia terpilih untuk memperkuat Argentina di Piala Dunia 1930.

Dan di pesta akbar sepakbola pertama itu, ia semakin mengharumkan namanya. Laga debutnya diwarnai dengan hat-trick sensasional ketika mengalahkan Meksiko dengan skor telak 6-3. Ia kemudian terus menghiasi papan skor pertandingan, Stabile mencetak dua gol ketika Argentina menang 3-1 atas Cili di partai penentuan babak grup. Kemudian ia menyumbang dua gol untuk timnas Tango ketika melibas Amerika Serikat di semi-final.

Di laga final melawan tuan rumah Uruguay, Stabile terus tampil konsisten. Di paruh pertama, Stabile mencetak gol ketika kedudukan imbang 1-1, sehingga Argentina memasuki jeda pertandingan dengan unggul 2-1. Bagaimanapun juga, mereka akhirnya menyerah dengan skor 4-2.

Meski kalah di partai puncak, Stabile telah mencetak sejarah hanya dalam empat pertandingan, ia menjadi top skor pertama Piala Dunia dengan rata-rata mencetak dua gol dalam setiap laga. sayang setelah itu, ia tidak pernah bermain lagi untuk timnas.

Di level klub, pamornya semakin terkatrol berkat prestasinya di Piala Dunia, ia kemudian bertualang di Italia dengan memperkuat Genoa dan Napoli, sebelum pensiun di klub Red Star Paris.

Setelah karir pemain sepakbolanya berakhir, ia banting setir ke posisi manajerial. Berbekal pengalaman menjadi asisten pelatih di Genoa, dan juga pelatih sekaligus pemain di Red Star, Stabile kemudian dipercaya untuk menangani timnas Argentina.

Kepercayaan itu dibayar tuntas oleh Stabile dengan mempersembahkan gelar juara Copa America sebanyak enam kali (1941, 1945, 1946, 1947, 1955, 1957), dan ia juga mencetak rekor sebagai salah satu dari sedikit pelatih yang melatih sebanyak lebih dari 100 kali, yaitu 123 pertandingan dengan 83 pertandingan berakhir dengan kemenangan.

Karir kepelatihannya di Argentina sempat mandek setelah ia gagal membawa timnas Tango melewati babak pertama Piala Dunia 1958, termasuk kalah dengan skor 6-1 dari Cekoslwakia. Tetapi ia kembali dipanggil timnas pada tahun 1960.

Saat menjabat pelatih timnas, ia juga melatih klub, bahkan ada beberapa klub yang ia latihm, termasuk klub pertamanya Huracan dan Racing Club. Bersama Racing ia meraih tiga gelar liga secara beruntun pada tahun 1949 hingga 1951.

Stabile pensiun dari dunia kepelatihan pada tahun 1960 dan kemudian digeser menjadi salah satu direktur timnas Argentina sebelum meninggal dunia pada tahun 1966.


GUILLERMO STABILE

Nama lengkap: Guillermo Stábile

Tempat, tanggal lahir: Buenos Aires, Argentina, 17 Januari 1905 - 26 Desember 1966

Karier pemain:
 - Huracan (1924-30)
 - Genoa (1930-34)
 - Napoli (1934-35)
 - Genoa (1935-36)
 - Red Star Paris (1936-39)

 - Argentina (1930)

Karir pelatih:
 - Genoa (co-manajer) (1931-32)
 - Red Star Paris (Pemain-Pelatih) (1937-39)
 - San Lorenzo (1939-40)
 - Huracan (1940-49)
 - Estudiantes (1940-41)
 - Racing Club (1949-60)

 - Argentina (1939-60)

Koleksi Gelar :

Pemain:

Huracan

    Liga Primer Argentina (2): 1925, 1928

Pelatih:

Racing Club

   
 Liga Primer Argentina (3): 1949, 1950, 1951

Argentina
    
  
  Copa America (6): 1941, 1945, 1946, 1947, 1955, 1957
Kejuaraan Panama: 1960
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (17 Januari): Ulang Tahun Top Skor Pertama Piala Dunia

Jumat, 19 Juli 2013

Sejarah Hari Ini (13 Juli): Partai Pertama Piala Dunia

Pertandingan Prancis-Meksiko dan Amerika Serikat-Belgia pada tahun 1930 di Uruguay menjadi pertandingan pertama di Piala Dunia.Pada hari ini tepat 83 tahun silam, pertandingan turnamen sepakbola paling bergengsi yaitu Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar.

Saat itu Piala Dunia pertama pada tahun 1930, digelar di Uruguay, dengan dua partai pembuka di waktu yang bersamaan yaitu Prancis menghadapi Meksiko di Stadion Pocitos, sementara Amerika Serikat menghadapi Belgia di Stadion Parque Central.

PRANCIS 4-1 MEKSIKO
Stadion Pocitos, Montevideo, Uruguay
Wasit: Domingo Lombardi
Penonton: 4444
Prancis Alex Thepot, Alex Villaplane (c), Andre Maschinot, Augustin Chantrel, Edmond Delfour, Ernest Liberati, Etienne Mattler, Lucien Laurent, Marcel Capelle, Marcel Langiller, Marcel Pinel

Meksiko Oscar Bonfiglio, Alfredo Sanchez, Dionisio Mejia, Efrain Amezcua, Felipe Rosas, Hilario Lopez, Jose Ruiz, Juan Carreno, Luis Perez, Manuel Rosas, Rafael Garza (c)
Prancis yang berada di grup I bersama dengan tiga tim Amerika Latin yaitu Argentina, Meksiko dan Cili mengawali turnamen ini dengan sangat gemilang.

Les Bleus tampil istimewa di laga perdana dengan melibas skuat Meksiko dengan skor telak 4-1.

Pada menit ke-19, Lucien Laurent mencetak gol untuk membawa timnya unggul atas lawannya tersebut, dan gol itu tercatat sebagai gol pertama dalam sejarah Piala Dunia.

Seakan tidak puas, Prancis akhirnya menutup babak pertama dengan keunggulan 3-0 setelah Marcel Langiller dan Andre Maschinot mencetak gol tambahan di lima menit terakhir paruh pertama.

Di babak kedua, Meksiko yang tidak ingin dipermalukan oleh tim Eropa berusaha bangkit dan mampu mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-70 melalui gol Juan Carreno.

Namun, Prancis akhirnya berhasil menyegel kemenangan di laga perdana tersebut setelah Maschinot mencetak gol keduanya di menit ke-87.

Prancis berhasil meraih kemenangan telak tetapi mereka pada akhirnya tetap tersingkir di babak grup, setelah tidak mampu mengatasi perlawanan dari Argentina dan Cili di babak berikutnya. Les Bleus dipaksa menyerah dengan skor 1-0 di masing-masing pertandingan.

Begitu juga dengan Meksiko, mereka kembali menjadi lumbung gol bagi lawan-lawannya dengan dibekuk Cili 3-0 dan dijungkalkan Argentina dengan skor 6-3.

Di waktu yang sama, pertandingan antara Amerika Serikat dan Belgia di Grup IV juga digelar. Uniknya, jumlah penonton di laga tersebut jauh melebihi partai Prancis-Meksiko yang melibatkan tim Amerika Selatan. Laga di Parque Central disaksikan lebih dari 18 ribu penonton sementara Prancis-Meksiko hanya disaksikan kurang dari lima ribu penonton.

AMERIKA SERIKAT 3-0 BELGIA
Stadion Parque Central, Montevideo
Wasit: Jose Macias
Penonton: 18346
USA Jimmy Douglas, Alexander Wood, Andrew Auld, Bart McGhee, Bert Patenaude, Billy Gonsalvez, George Moorhouse, Jim Brown, Jimmy Gallaher, Ralph Tracy, Tom Florie (c)

Hongaria Arnold Badjou, Auguste Hellemans, Bernard Voorhoof, Fernand Adams, Jacques Moeschal, Jan Diddens, Jean De Clerq, Louis Versyp, Nikolaas Hoydonckx, Pierre Braine (c), Theodore Nouwens.
Amerika Serikat tampak lebih perkasa saat itu daripada Belgia. Skuat asuhan Bob Miller sukses mencetak keunggulan di menit ke-23 melalui gol Bart McGhee.

Ketika kedudukan 1-0 tampak akan bertahan hingga turun minum, kapten Tom Florie mencetak gol kedua timnya di menit ke-45 dan memastikan Amerika Serikat mengalami babak kedua dengan lebih tenang.

Belgia tidak mampu menembus lini belakang Amerika Serikat yang kokoh meski berusaha bangkit di babak kedua.

Bahkan, Amerika Serikat kembali berhasil memperlebar kedudukan menjadi 3-0 melalui gol Bart Patenaude di menit ke-69.

Hingga pertandingan berakhir, Belgia tetap tidak mampu mencetak gol, sehingga gawang Jimmy Douglas tercatat sebagai yang pertama untuk mendapatkan clean sheet.

Performa Amerika Serikat tidak berubah di pertandingan berikutnya. Menghadapi Paraguay, mereka kembali meraih kemenangan dengan skor 3-0 dan memastikan tiket ke semi-final. Sementara Belgia kembali menyerah saat meladeni Paraguay, dengan skor tipis 1-0.

Di empat besar, Amerika Serikat bertemu dengan Argentina yang menyingkirkan Prancis dan Meksiko. Tanpa disangka, Amerika Serikat tidak mampu membendung keperkasaan Argentina dan kalah 6-1. Piala Dunia pertama itu sendiri akhirnya dimenangkan oleh tuan rumah Uruguay, yang berhasil menundukkan tim Tango dengan skor 4-2.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (13 Juli): Partai Pertama Piala Dunia

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense