Tampilkan postingan dengan label application zoom ceo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label application zoom ceo. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Mei 2021
Pendiri Zoom Alihkan 40 Persen Saham Senilai Rp 86 Triliun, Mengapa?
baca keseluruhan - Pendiri Zoom Alihkan 40 Persen Saham Senilai Rp 86 Triliun, Mengapa?
Jumat, 22 Mei 2020
Ada Orang Terkaya Hong Kong di Balik Zoom
Rabu, 15 April 2020
Punya Rp 92 Triliun, Pendiri Zoom Masuk Daftar Orang Super Kaya
Forbes baru saja merilis daftar orang terkaya di dunia, dengan harta
mencapai miliaran dolar. Ada 2.095 orang masuk di dalamnya, 278 di
antaranya merupakan sosok baru.
Salah satu sosok baru itu adalah pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan. Ya, seiring melesatnya penggunaan Zoom di tengah pandemi corona dibarengi kenaikan harga saham, Yuan makin berlimpah harta.
Menurut
Forbes, harta terkini dari pria kelahiran China itu adalah USD 5,7
miliar atau di kisaran Rp 92 triliun.
Zoom sendiri telah berjualan saham
sejak tahun 2019 dan telah membuatnya kaya raya, tapi kini lebih tajir
lagi.
Saat ini, nilai perusahaan Zoom menurut Business Insider sekitar USD
31 miliar. Penggunaannya melesat tajam di mana Yuan menyatakan pada
bulan Maret, ada 200 juta meeting berlangsung tiap hari di Zoom.
Aplikasi
konferensi video itu di tengah popularitasnya juga tengah mendapat
banyak sorotan terkait privasi dan keamanannya.
Terutama kasus zoom
bombing di mana pesan tak dikenal bisa nimbrung ke dalam percakapan.
Semua
bermula di tahun 1990-an, Eric yang lahir di China sebenarnya sudah
sempat bekerja di Jepang.
Akan tetapi ia melihat ada peluang besar di
Amerika karena bisnis internet sedang melonjak.
"Pertama kali saya
mendaftarkan visa AS, saya ditolak. Saya terus mengajukan lagi dan lagi
dalam kurun waktu dua tahun dan akhirnya menerima visa pada percobaan
kesembilan," cetusnya.
Artinya, visa AS Eric sempat ditolak sampai 8 kali. Ia datang ke
Silicon Valley pada tahun 1997 dan diterima bekerja di WebEx, saat itu
masih perusahaan kecil.
WebEx tumbuh pesat dan diakuisisi Cisco pada
2007.
Eric pun menanjak karirnya dan menjadi Vice President Cisco.
Pada tahun 2011, ia punya ide perusahaan sendiri yang bergerak di
bidang komunikasi video dan memutuskan keluar dari Cisco. Tahun 2012,
resmilah Eric mendirikan Zoom.
Selasa, 14 April 2020
Kisah Miris Visa Amerika Pendiri Zoom Ditolak 8 Kali
Mendapatkan visa Amerika Serikat adalah perkara susah-susah gampang.
Tak sedikit yang mendapat banyak penolakan, termasuk pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan, ketika dia mencoba mencari peruntungan ke Negeri Paman Sam.
Kala
itu di tahun 1990-an, Eric yang lahir di China sebenarnya sudah sempat
bekerja di Jepang.
Akan tetapi ia melihat ada peluang besar di Amerika
karena bisnis internet sedang melonjak.
"Saya memutuskan datang ke
AS di pertengahan 1990-an karena internet, yang saya tahu adalah
gelombang masa depan," kata Eric yang dikutip dari Authority Magazine.
"Pertama kali saya mendaftarkan visa AS, saya ditolak.
Saya terus
mengajukan lagi dan lagi dalam kurun waktu dua tahun dan akhirnya
menerima visa pada percobaan kesembilan," cetusnya.
Artinya, visa
AS Eric sempat ditolak sampai 8 kali. Ia datang ke Silicon Valley pada
tahun 1997 dan diterima bekerja di WebEx, saat itu masih perusahaan
kecil. WebEx tumbuh pesat dan diakuisisi Cisco pada 2007.
Eric pun
menanjak karirnya dan menjadi Vice President Cisco. Pada tahun 2012, ia
punya ide perusahaan sendiri yang bergerak di bidang komunikasi video
dan memutuskan keluar dari Cisco. Tahun 2012, resmilah Eric mendirikan
Zoom.
"Saya pertama kali punya ide saat baru masuk kuliah di China
dan kadang pergi 10 jam naik kereta untuk mengunjungi pacar.
Saya
mengimajinasikan cara lain untuk bisa mendatanginya tanpa harus
bepergian.
Impian itulah yang menjadi dasar dari Zoom," kisahnya.
Zoom
sudah menjadi perusahaan besar dan telah berjualan saham perdana atau
IPO tahun silam.
Di masa pandemik virus corona saat ini, banyak yang
memanfaatkan Zoom untuk bekerja dari rumah sehingga popularitasnya
meroket.
Sabtu, 04 April 2020
CEO Zoom Layangkan Permintaan Maaf Pada Pengguna, Kenapa?
Seiring makin banyak digunakan orang, aplikasi konferensi video Zoom
makin disorot. Belakangan, mereka diterpa isu soal privasi ataupun
keamanan lantaran ada kasus orang tak dikenal nimbrung saat meeting. CEO
Zoom, Eric Yuan pun meminta maaf.
"Kami menyadari tidak mencapai
harapan soal privasi dan keamanan baik dari masyarakat maupun kami
sendiri. Untuk itu, saya benar-benar minta maaf," kata Eric yang dikutip dari CNN.
Untuk 90 hari ke depan, Zoom
menurut Eric tidak akan menambahkan fitur baru untuk fokus memperbaiki
masalah yang ada. Mereka telah menghentikan fungsi pengiriman data ke
Facebook yang dipersoalkan banyak pihak.
Pandemi virus corona
membuat Zoom banyak diandalkan pegawai maupun pejabat lantaran mudah
digunakan saat ingin meeting jarak jauh.
Eric mengklaim pada bulan
Maret, setiap harinya ada 200 juta meeting digelar melalui Zoom.
Minggu
ini saja, Zoom diselidik oleh FBI karena dikhawatirkan kurang aman
dengan isu penyusupan hacker. Lalu ada gugatan dilayangkan terkait
pembagian data ke Facebook.
Eric membela diri bahwa Zoom dibuat
terutama untuk institusi besar dengan dukungan TI penuh seperti
universitas, badan pemerintahan atau lembaga keuangan.
Meledaknya
pemakaian individu tampaknya kurang mereka antisipasi.
"Kami tidak
mendesain produk dengan perkiraan bahwa, dalam hitungan minggu, setiap
orang di dunia mendadak bekerja, belajar dan bersosialisasi di rumah.
Kami sekarang punya pengguna yang jauh lebih luas, menghadirkan
tantangan yang tidak kami antisipasi," cetus Eric.
Kenalan dengan Pencipta Zoom yang Duitnya Bertambah Rp 66 Triliun
![]() |
| Eric Yuan pendiri Zoom |
Pandemi virus corona
membuat banyak pegawai kerja dari rumah dan salah satu aplikasi yang
mereka andalkan untuk meeting online adalah Zoom.
Popularitas Zoom
memang sangat melesat, begitu juga dengan harta pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan.
Dalam
3 bulan terakhir menurut Financial Times, kekayaan Eric bertambah USD 4
miliar atau di kisaran Rp 66 triliun.
Adapun harta totalnya diestimasi
sudah USD 7,5 miliar, berdasarkan kepemilikan saham di Zoom.
Eric
yang berusia 49 tahun ini lahir di provinsi Shandong, China. Orang
tuanya kerja di pertambangan.
Ia menyelesaikan kuliah di bidang
matematika dan teknik, lalu sempat bekerja 4 tahun di Jepang.
Waktu berlalu, Eric memutuskan pindah ke Silicon Valley untuk
bekerja di startup internet. Visa Amerika Eric sempat ditolak 8 kali
sebelum akhirnya lolos pada tahun 1997, saat itu usianya 27 tahun.
Bahasa Inggrisnya pun belum lancar.
"Pada beberapa tahun pertama, saya cuma menulis kode dan sangat
sibuk," tuturnya pada CNBC. Di waktu senggang, dia main sepakbola
sebagai hobi.
Karirnya ternyata, berkat kerja keras dan
kepandaian, makin moncer dan pernah menjadi Vice President di Cisco
Systems. Ia juga pernah bekerja di perusahaan konferensi video WebEx.
Saat
di China, Eric sudah punya pacar yang akhirnya jadi istrinya. Waktu
itu, mereka harus menjalani hubungan jarak jauh.
"Aku hanya bisa
menemuinya dua kali setahun dan butuh waktu lebih dari 10 jam untuk ke
sana dengan kereta," begitu kisahnya.
"Saat itu aku masih muda dan
berpikir fantastis jika di masa depan ada perangkat di mana cukup
menyentuh tombol dan bisa melihat serta bicara padanya," sambung Eric.
Eric mengusulkan teknologi konferensi video yang ramah smartphone
pada Cisco di 2011, tapi ia ditolak bosnya.
Maka ia memutuskan keluar
dan mendirikan Zoom karena yakin dengan idenya. Di masa awal itu, dia
sulit mendapatkan dana dan harus meminjam pada teman dan keluarga.
Istrinya
juga mempertanyakan kenapa dia keluar dari pekerjaan mapan di Cisco.
"Saya beritahu dia bahwa ini akan jadi perjalanan panjang dan sangat
sulit.
Tapi jika saya tak mencoba, saya bakal menyesal," cetusnya.
Keyakinannya membuahkan hasil, popularitas Zoom makin
meningkat. Pada 2014, jumlah penggunanya 10 juta kemudian naik jadi 40
juta pada 2015.
Pendanaan mengalir, antara lain sejumlah USD 30 juta
pada 2015 dari beberapa investor termasuk Horizons Ventures dan Qualcomm
Ventures.
Tahun 2017, Zoom menyandang status startup unicorn.
Akhirnya pada Maret 2019, mereka berjualan saham perdana atau IPO dengan
valuasi sekitar USD 16 miliar.
Tahun 2020 ini dipastikan ketenaran Zoom makin bertambah. Dari
pegawai sampai pejabat banyak mengandalkannya untuk membahas berbagai
hal secara online.
Bahkan valuasinya kini sudah USD 35 miliar.
Mereka
mendapat uang dari klien korporat, dengan jumlah sekitar 30 ribu.
Raksasa seperti Samsung, Uber sampai Walmart kabarnya menggunakan Zoom.
Belakangan
seiring naiknya popularitas, Zoom mulai disorot karena tudingan
mengirim data tanpa izin ke Facebook ataupun rentan disusupi hacker.
Namun demikian sejauh ini, Zoom masih jadi favorit.
Eric sendiri
mengaku tetap bekerja keras dan rendah hati. Ia termasuk CEO paling
disukai karyawan. Hasil review Glasdoor, 99% karyawan senang dengan
kepemimpinannya di Zoom.
Langganan:
Postingan (Atom)





