# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label juventus legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label juventus legend. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2021

Andrea Pirlo Tak Butuh Pekerjaan di Juventus untuk Jadi Kaya Raya

Andrea Pirlo tidak butuh pekerjaan di Juventus hanya untuk menghidupi dirinya. 

 

Sebab, sejak kecil, pria berumur 41 tahun tersebut sudah berada dalam lingkungan keluarga yang kaya raya.

 

Kekayaan itu juga tidak datang dari karirnya sebagai pemain dulu. 

 

Pada tahun 1982, Luigi selaku ayah Pirlo mendirikan sebuah perusahaan perdagangan logam bernama Elg Steel. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu yang tersukses di Italia.

 

Klaim tersebut tidak sembarangan. Menurut laporan, Elg Steel mampu menghasilkan pendapatan sebesar 60 juta pounds per tahun. Dan Pirlo memiliki saham di perusahaan tersebut.

 

Luigi sangat berharap Pirlo bisa melanjutkan bisnis keluarga. 

 

Namun, setelah bergabung dengan akademi Brescia di tahun 1994, Pirlo jadi semakin yakin untuk melanjutkan karirnya di dunia sepak bola.


Punya Kebun Anggur

 

Elg Steel bukanlah satu-satunya perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Pirlo. Selain itu, mereka juga memiliki kebun anggur bernama Pratum Coller yang terletak di bagian utara Italia.

 

Keuntungan yang dihasilkan dari kebun anggur ini tidak main-main. 

 

Bahkan, diketahui bahwa unit usaha yang satu ini bisa menghasilkan sekitar 15 ribu hingga 20 ribu botol anggur per tahunnya.

 

Tanpa sepakbola sekalipun, Pirlo bisa menghidupi dirinya beserta keluarga tanpa masalah. 

 

Namun apa boleh buat, passion-nya di dunia sepak bola terlalu besar hingga dirinya bisa melupakan harta di depan mata.


Kebun Anggur Bisa Menunggu

 

Sebenarnya, pada tahun 2013 lalu, Pirlo pernah mengatakan bahwa dirinya ingin menghabiskan waktunya di kebun anggur miliknya setelah karir sebagai pemain berakhir. 

 

"Sudah pasti bahwa saya akan menghabiskan waktu di kebun anggur," ucapnya, dikutip dari Daily Star.

 

Di tahun 2017, Pirlo memutuskan gantung sepatu. Namanya tidak terdengar selama dua tahun sampai dirinya diketahui menjalani kursus kepelatihan di Coverciano.

 

Setelah menimba ilmu selama satu tahun, Pirlo akhirnya mendapatkan lisensi kepelatihan UEFA. 

 

Ketika menerima lisensi tersebut, Pirlo sudah berstatus sebagai pelatih utama Juventus menggantikan Maurizio Sarri.

 

Kiprahnya sebagai pelatih di Juventus sejauh ini belum meyakinkan, tapi cukup menjanjikan. Kebun anggur bisa menunggu, sebab kisah Pirlo dengan sepak bola belum berakhir.

baca keseluruhan - Andrea Pirlo Tak Butuh Pekerjaan di Juventus untuk Jadi Kaya Raya

Kamis, 23 April 2020

Serial No.10 Juventus: Liam Brady dan Perpisahan yang Menyakitkan Hati

Bicara soal No.10 seharusnya tidak melulu soal legenda paling tersohor Juventus, Alessandro Del Piero

Dari rekam sejarah, Liam Brady pun pernah mengenakan angka keramat itu meski dalam waktu singkat.

Pria kelahiran Dublin, Irlandia, tersebut dikenal sebagai salah satu sosok penting dalam dunia sepak bola. 

Kebintangannya mulai terpapar sejak dirinya memperkuat Arsenal selama tujuh musim.

Ia mengakhiri perjalanannya yang indah di Highbury tepat pada tahun 1980, hanya demi memenuhi pinangan Juventus. 

Atau lebih tepatnya untuk mengikuti langkah sang pendahulu, Keevin Keegan.

Meskipun singkat, Brady berhasil mendapatkan tempat khusus di hati penggemar Juventus.

Sayangnya, Brady pergi dengan sedikit rasa pahit di hatinya karena tergantikan oleh sosok lain.

Scroll ke bawah untuk membaca informasi selengkapnya

Mencapai Puncak Bersama Arsenal

 

Brady merupakan salah satu pemain binaan tim akademi dan sudah bergabung dengan Arsenal sejak masih berusia 15 tahun. 

Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 1973, ia mendapatkan kesempatan untuk melakoni laga debutnya melawan Birmingham City.

Brady harus jatuh bangun untuk mendapatkan tempat di skuat inti Arsenal. Musim perdananya berlangsung cukup buruk. 

Namun, ia berhasil menunjukkan secercah talenta miliknya pada musim berikutnya.

Ia menjadi senjata utama Arsenal pada saat itu. Para penyerang the Gunners, seperti Malcolm Macdonald dan Frank Stapleton, dibuat terbuai oleh umpan-umpannya yang memanjakan.

Kehadiran Brady dalam skuat membuat Arsenal berhasil memenangkan satu dari tiga partai final FA Cup dalam kurun waktu tiga musim berturut-turut, mulai dari 1978 hingga 1980.

Pada musim 1979/80, Brady bertemu dengan Juventus sebagai lawan di babak semi-final Cup Winners' Cup. 

Performanya membuat Bianconeri terkesima dan tanpa pikir panjang langsung merekrutnya dengan nilai transfer 500 ribu pounds.

Brady, dengan berat hati, harus berpisah dengan Arsenal yang telah mengorbitkan namanya.

Namun ia punya alasan yang jelas. Pertama adalah masalah finansial, di mana Arsenal pada saat itu merekrut pemain baru dan rela membayarnya tiga kali lipat dari Brady.

"Terdengar konyol sekarang, tapi saya dibayar senilai 200 pounds per pekan. 

Dan ada pemain baru - saya takkan menyebut nama - yang dibayar tiga kali lipat lebih besar," ujar Brady dalam sebuah wawancara, dikutip dari Balls.ie.

"Juventus mau membayar saya 10 kali lipat dari nilai bayaran saya di Inggris," lanjutnya.


Mengikuti Jejak Kevin Keegan

 

Dan seperti yang diketahui, Brady bergabung dengan Juventus pada tahun 1980. 

Ia langsung diberi nomor punggung 10 yang pernah dikenakan sosok legendaris berdarah Argentina, Omar Sivori.

Keputusan Brady untuk keluar dari Inggris, apalagi hanya untuk ke Serie A yang kala itu belum sepopuler sekarang, membuat publik mengernyitkan dahi. 

Namun ambisi Brady untuk mengikuti langkah Kevin Keegan membuatnya yakin untuk bertolak ke Italia.

"Pada waktu itu, Kevin Keegan pindah ke Hamburg. Dia menjuarai Bundesliga bersama Hamburg. 

Mereka adalah klub papan atas. Dan Keegan adalah sosok yang sangat besar dalam sepak bola Inggris," ingatnya.

"Ada pemberitaan dengan jumlah yang besar soal dirinya pergi. Mereka mengikutnya ke sana dan menunjukkan gaya hidupnya."

Pada awalnya, Brady benar-benar ingin mengikuti langkah Keegan secara persis. Ia sudah memilih Jerman sebagai destinasi berikutnya. 

Dan kala itu, ia hampir bergabung dengan Bayern Munchen. Namun karena suatu alasan, kedua belah pihak gagal menemukan kata sepakat.

Baru setelahnya, Brady memutuskan untuk bergabung dengan Juventus yang kala itu dipegang pengusaha kaya bernama Gianni Agnelli. 

Inilah awal mula kisah pahit dari seorang Brady di Italia.

Kisah Perpisahan yang Pahit

 

Perjalanan Brady terbilang sangat singkat, yakni selama dua musim saja, walaupun performanya tak bisa dibilang buruk. 

Malah sebaliknya, ia turut membantu Juventus meraih Scudetto di dua musim itu.

Brady juga berhasil mendapatkan tempat di hati fans Juventus pada waktu itu. Uang pun tidak jadi masalah. Lantas, apa yang membuatnya harus pergi?

Pada musim debutnya, Brady tidak hanya mempersembahkan trofi Serie A kepada Juventus. Ia pun menjadi gelandang dengan gol terbanyak. 

Tidak, ia tidak menorehkan jumlah gol fantastis. Delapan gol untuk satu musim dirasa normal kala itu. Tetapi, itu sudah cukup untuk membuat fans Juventus terpana.

Performa Brady pada musim berikutnya menunjukkan sedikit penurunan, tapi tidak memengaruhi prestasi Juventus. 

Ya, Bianconeri tetap mampu menutup musim 1981/82 dengan raihan Scudetto.

Namun itu tidak cukup untuk membuat Brady bertahan di Juventus. Brady tidak menginginkan kepindahan ini. Tapi Bianconeri juga tak memiliki pilihan.

Saat itu Juventus sangat kepincut dengan pemain asal Prancis, Michel Platini. Membawanya ke Turin bukanlah masalah besar. 

Namun, regulasi ketat kompetisi yang membatasi jumlah pemain asing di sebuah klub membuat Juventus harus membuat keputusan berat.

Brady tahu bahwa karirnya di Juventus akan berakhir. Meski begitu, ia tetap profesional dan membantu Juve sampai pertandingan terakhir melawan Piacenza. 

Bahkan, ia sukses mengkonversi penalti menjadi gol di partai tersebut. Sebelum pergi, Brady memberikan sedikit bumbu drama sebagai memento perpisahannya kepada manajemen tim.

"Berita ini terkuak di surat kabar saat liga tinggal menyisakan tiga pertandingan. Mereka punya lima surat kabar sepak bola dan mereka tahu apa yang terjadi. 

Mereka mendapatkan bocoran informasi," ungkap Brady.

"Pelatihnya pada saat itu adalah [Giovanni] Trappatoni. Saya mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan 'mereka akan merekrut Platini'. 

Dan saya bilang 'Tidak, tidak, tidak,' Kemudian saya menutup telepon dan berpikir 'apakah mungkin...' Jadi saya mengunjungi Trap usai latihan pagi itu. 

Dan dia bilang 'tidak, tidak, tidak...' tapi saya tahu dia berbohong. Saya bisa lihat itu di wajahnya. Dia berada di posisi yang sulit."

"Saya pulang usai latihan dan mendapatkan panggilan untuk kembali ke klub. Dan [Giampiero] Boniperti, dengan gaya Italia yang khas, berkata, 'sungguh berat hati tapi... kami telah membuat keputusan ini. 

Bila kami mempertahankan anda kami bakalan... ini adalah aturan konyol, bahwa anda hanya bisa memiliki satu atau dua pemain asing."

Brady menjawabnya dengan perkataan yang cukup keras. Lantas, Boniperti berkata: "Tidak, kita sedang mengejar trofi, tinggal tiga pertandingan tersisa! Anda harus profesional!".

Tentu saja, Brady hanya mencoba memanas-manasi legenda Juventus tersebut. Pada akhirnya, Brady tetap melakoni pertandingan sisa dan menunjukkan sisi profesionalnya.

Pada pertandingan terakhir, yakni melawan Piacenza, Juventus butuh tiga poin. Mereka mendapatkan penalti pada menit-menit akhir. 

Brady maju untuk mengeksekusi, sambil diselimuti rasa kekhawatiran fans Juventus yang menduga bahwa Brady akan menggagalkan penalti tersebut. 

Setelah semua drama itu, Brady melesakkan bola ke gawang Piacenza tanpa ragu. Penonton Juventus bersorak dan berterimakasih kepada Brady.

Pasca Meninggalkan Juventus

 

Brady masih bertahan di Italia pasca meninggalkan Juventus di tahun 1982. 

Setelah angkat kaki dari Turin, ia bergabung dengan Sampdoria yang merupakan tim promosi dari divisi Serie B. 

Perlu diketahui bahwa Sampdoria, kala itu, baru diakusisi oleh pengusaha kaya.

Bisa dikatakan, Brady datang di waktu yang tidak tepat. Ia bermain selama dua tahun. Dan pada waktu itu, Samp sedang merintis perjalanan menjadi salah satu kekuatan terbesar di Italia.

Mereka kemudian meraih Scudetto di musim 1990/91 serta finalis European Cup [sekarang Liga Champions], atau tujuh tahun setelah kepergiannya.

Walau begitu, kiprah Brady di Sampdoria tidak begitu buruk. Ia turut membantu mereka menempati peringkat ke-7 dan enam di masing-masing musim. 

Sebuah langkah yang bagus untuk klub promosi seperti Sampdoria.

Setelah itu, Brady memilih bergabung dengan Inter Milan. Ia bertahan selama dua musim, dan berhasil mengantar klub berjuluk Nerazzurri tersebut finis di peringkat ketiga Serie A. 

Tidak hanya itu, ia juga ikut membantu Inter jadi semifinalis di UEFA Cup.

Brady lalu melanjutkan karirnya di Ascoli selama satu musim dengan catatan 17 penampilan tanpa mencetak gol. 

Pada tahun 1987, ia pulang ke London untuk bergabung dengan West Ham United dan gantung sepatu tiga musim berikutnya.
baca keseluruhan - Serial No.10 Juventus: Liam Brady dan Perpisahan yang Menyakitkan Hati

Minggu, 16 Maret 2014

Sejarah Hari Ini (13 Maret): Ulang Tahun 'Si Anjing Gila'

Tepat hari ini salah satu mantan pesepakbola paling ikonik di dunia merayakan hari jadinya yang ke-41 tahun.

Menyebut nama Edgar Davids, siapa yang tak mengenal dirinya? Ya, masa keemasannya memang ada pada mendio 90-an hingga awal milenium, tapi sosoknya yang unik membuatnya sulit dilupakan. 

Jika banyak pesepakbola ingin menonjol melalui aksesoris macam bandana,  helm pelindung kepala, hingga plester yang sengaja ditempel di hidung, Davids tampil beda dengan kacamata tebalnya! Konon dirinya memang memiliki masalah pada pada retina matanya sehingga terpaksa menggunakan kacamata untuk menopang pengelihatannya di lapangan.

Memulai karier di akademi Ajax Amsterdam, Pitbull masuk dalam generasi emas angakatan 1990 bersama Clarence Seedorf, Nwankwo Kanu, Edwin Van der Sar, hingga Patrick Kluivert. Bersama-sama mereka membawa Ajax ke puncak dunia dengan gelar Piala Belanda, Eredivisie, Piala UEFA, Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga memuncak di Piala Interkonental.

Puas bergelimang trofi selama lima musim, Davids kemudian memutuskan untuk berpetualang ke liga terbaik di dunia saat itu, Serie A Italia, dengan bergabung bersama AC Milan. Digadang-gadang jadi penerus trio Belanda dalam The Dream Team, Davids berada di waktu dan tempat yang salah. 

Pasca sukses di awal 90-an, I Rossonerri sedang didera masa instabilitas. Performa Davids pun tak sesuai ekspektasi. Fabio Capello lantas menendangnya keluar setelah berseteru hebat dengan Alessandro Costacurta, baik di dalam maupun luar lapangan.

Ia kemudian ditampung raksasa Italia lainnya, Juventus. Di sinilah Davids bangkit kembali dan menemukan sentuhannya. Kolaborasinya dengan Zinedine Zidane amat ditakuti di Italia dan Eropa kala itu. Gelar scudetto 1997/98 dan Piala Intertoto 1999 jadi persembahan awalnya untuk Si Nyonya Tua. Ketika ledakan performanya sedikit lagi terjadi, petaka malah menghampiri Bulldog. FIFA menjatuhi hukaman padanya karena melakukan doping pada 2001.

Kembali ke lapangan di medio 2002, tak ada cacat sedikitpun yang hadir dari skill tingginya. Dua musim terakhirnya di Juve dilalui dengan sepasang gelar scudetto dan Piala Super Italia. Penurunan performa dan masalah cedera akhirnya memisahkan Davids dengan Bianconeri pada Januari 2004.

Keluar dari Delle Alpi, namanya tak pernah lagi seharum dahulu. Performanya naik-turun ketika melanglang buana ke Barcelona, FC Internazionale, Tottenham Hotspur, kembali ke Ajax, hingga Crystal Palace. Usia membuat kualitasnya terus terkikis. Pada akhirnya Piranha memutuskan untuk pensiun sebagai pesepakbola di klub amatir, Barnet, pada Desember 2013.

EDGAR DAVIDS


Nama: Edgar Davids
Julukan: Pitbull, Bulldog, Mad Dog, Piranha
Tempat, Tanggal Lahir: Paramaribo, Suriname, 13 Maret 1973
Klub:
 Ajax Amsterdam (1991-96/2006-08)
AC Milan (1996-97)
Juventus (1997-04)
Barcelona (2004)
FC Internazionale (2004-05)
Tottenham Hotspur (2005-06)
Crystal Palace (2010)
Barnet (2012-14)
Timnas Belanda: 74 caps/6 gol
Koleksi Gelar Klub:

Ajax Amsterdam:
Eredivisie (3): !993/94, 1994/95, 1995/96
Piala Belanda (2): 1992/93, 2006/07
Piala UEFA: 1992/93
Piala Super Eropa: 1995
Liga Champions: 1994/95
Piala Interkonental: 1995
Juventus:Serie A (3): 1997/98, 2001/02, 2002/03
Supercoppa Italiana (2): 2002, 2003
Piala Intertoto: 1999

FC Internazionale:

Piala Italia: 2004/05 

Sebagai seorang Belanda, kontribusinya pada Timnas juga terhitung manis. Membela De Oranje sejak 1994 hingga 2005, catatan 74 caps dengan torehan enam gol ia persembahkan. Davids bahkan masuk dalam tim terbaik di turnamen Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Ya, pria temperamental ini memang kontroversial. Tapi percayalah, akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan lagi sosok nyentrik, berkepribadian unik, namun penuh perestasi dalam sepakbola modern ini.

Selamat ulang tahun Edgar Davids!
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (13 Maret): Ulang Tahun 'Si Anjing Gila'

Kamis, 26 Desember 2013

Sejarah Hari Ini (24 Desember): Rekor Hat-Trick Ballon D'Or Michel Platini

Michel Platini, sang peraih hat-trick beruntun pertama Ballon d'Or edisi 1985

Legenda besar Juventus itu mencatat sejarah sebagai satu-satunya pemain sebelum era Lionel Messi yang mampu meraih gelar Ballon d'Or hat-trick secara berturut-turut.
Sejarah besar ditorehkan sang legenda Michel Platini bagi sepakbola Prancis kala dirinya meraih gelar Ballon d'Or edisi 1985, tepat hari ini di tahun itu. 

Raihan ini menjadi historis, sebab menempatkan nama Platini sebagai satu-satunya pesepakbola yang mampu meraih titel Ballon d'Or secara hat-trick berturut-turut - 1983, 1984 dan 1985.

Hat-trick Ballon d'Or ini pun mengukuhkan status Platini sebagai pemain kedua dalam sejarah sepakbola setelah Johan Cruyff -- 1971, 1973, 1974 -- atau satu-satunya pemain Prancis yang pernah mengoleksi tiga gelar trofi yang dulunya bernama European Footballer of the Year tersebut.

Pada edisi 1985 ini, Platini ketika itu memperkuat Juventus. Platini sukses meraih vote tertinggi, mengalahkan 38 kandidat lainnya. Preben Elkjaer-Larsen, Bernd Schuster, Michael Laudrup dan Karl-Heinz Rummenigge adalah para pemain yang digadang-gadang juga berpeluang besar memenangkan Ballon d'Or di tahun itu. Tapi, sinar terang Platini rupanya tak terbantahkan.

Perwakilan jurnalis olahraga dari 26 negara yang bernaung di bawah bendera Benua Eropa didapuk menjadi voters. Secara format, pengumpulan suara dalam sistem masa lampau diklasifikasikan berdasarkan tempat: Posisi pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Hasilnya telak, 23 voters menempatkan nama Platini di posisi pertama, sementara pesaing terdekatnya, Preban dan Schuster, hanya mendapatkan voting sebanyak satu dan dua di tempat tersebut. 

Secara total, Platini mendapatkan 26 vote -- tiga lainnya menempatkan dia di posisi kedua -- dengan rengkuhan 127 poin. Adapun Preban mencuri 19 votes -- 13 suara di posisi kedua, empat suara di posisi ketiga, dan satu suara di posisi keempat -- dengan nilai 71. Disusul Schuster 15 votes -- tiga suara di posisi kedua, lima suara di posisi ketiga, empat suara di posisi keempat dan satu suara di posisi kelima -- dengan 46 poin.

Raihan hat-trick Ballon d'Or di tahun 1985 ini merupakan buah dari performa gemilang Platini sepanjang setahun sebelumnya, di mana dia membawa Juventus Scudetto, mendulang gelar Piala Winner, Piala Super Eropa dan disempurnakan dengan dirinya yang menjadi topskor di Serie A. Di tahun yang sama, Platini juga didaulat oleh majalah World Soccer sebagai Player of the Year. 

Di masa kini, catatan hat-trick sang presiden UEFA itu sudah dilampaui megabintang sepakbola dunia, Lionel Messi, yang bersama Barcelona-nya sukses membuat quat-trick Ballon d'Or secara konsekutif -- 2009, 2010, 2011 dan 2012.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (24 Desember): Rekor Hat-Trick Ballon D'Or Michel Platini

Senin, 02 Desember 2013

Sejarah Hari Ini (29 November): Rekor 250 Gol Alessandro Del Piero Untuk Juventus

Dalam salah satu musim terbaiknya, Alessandro Del Piero mengukir rekor 250 gol untuk Juventus.

29 November lima tahun silam mungkin jadi salah satu hari yang paling dikenang oleh legenda terbesar Juventus, Alessandro Del Piero. 

Gol pamungkas yang ia cetak dalam kemenangan 4-0 Si Nyonya Tua atas tamunya Reggina, jadi torehan ke 250-nya bagi I Bianconeri. Rekor tersebut menempatkannya di urutan ketiga daftar pencetak gol terbanyak bagi satu klub di Liga Italia. Kala itu di atasnya masih ada Angelo Schiavo dengan 252 gol untuk Bologna dan Giuseppe Meazza sebagai pemuncak lewat torehan 282 gol bagi FC Internazionale.

Adapun laga yang tersaji di Stadio Olimpico Turin ini merupakan lanjutan Serie A Italia gionarta 14 musim 2008/09 . Meski diguyur salju, Juve tampil terengginas di depan 21.389 penonton yang hadir. Dominasi permainan mutlak berada di kaki-kaki para Juventino, berbagai peluang untuk tuan rumah pun jadi warna seperempat jam jalannya laga.

Tak sampai setengah jam Juve berhasil unggul, Mauro German Camoranesi membuka keran gol pada menit ke 28 memanfaatkan sodoran manis Pavel Nedved. Carvalho Amauri kemudian menggandakan keadaan lewat kemelut di depan gawang satu menit sebelum turun minum.

                                                       Alessandro Del Piero | Legenda terbesar Juventus

Memasuki paruh kedua La Vecchia Omcidi sama sekali tak menyurutkan sengatannya. Serangan demi serangan dilakukan hingga Giorgio Chiellini memperbesar keadaan menjadi 3-0 pada menit 62. 

Momen bersejarah bagi King Alex akhirnya tiba 12 menit berselang. Marco Marchionni yang melakukan penetrasi dari sisi kanan pertahanan Reggina harus dijatuhkan dalam kotak penalti. Tak ayal, wasit kemudian memberikan hadiah tendangan 12 pas untuk tuan rumah. Del Piero jadi eksekutor otomatis Juventus.

Tanpa kesulitan berarti Il Pinturicchio sukses menaklukkan kiper utama tim lawan, Andrea Campagnolo. Skor berubah menjadi 4-0 dan bertahan hingga 90 menit usai. Tak hanya terhibur dengan raihan kemenangan tim kesayangannya, Juventini tentu bangga dengan torehan 250 gol milik pemain pujaannya.

Hingga musim terakhirnya di Juventus pada 2011/2, Del Piero kemudian berhasil menggeser Meazza dari puncak lewat raihan 290 gol dari 705 penampilannya bersama La Fidanzata d'Italia. Satu lagi torehan manis maestro sepakbola dalam perjalanan kariernya.
baca keseluruhan - Sejarah Hari Ini (29 November): Rekor 250 Gol Alessandro Del Piero Untuk Juventus

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense