Ketika Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia kurang dari tiga belas tahun datang menghadap beliau.
Anak itu kelihatan cerdas, terampil, cermat, dan teliti. Di tangannya tergenggam sebuah pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya.
Dia berjalan tanpa ragu-ragu dan tanpa takut melewati barisan demi barisan menuju Rasulullah SAW. Begitu berada di depan Rasulullah, dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Engkau, wahai Rasulullah, izinkanlah saya pergi jihad bersama engkau, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panjimu.”
Rasulullah menengok anak itu dengan gembira dan takjub. Beliau menepuk-nepuk pundak anak itu tanda kasih dan simpati. Tetapi beliau menolak permintaan anak itu, karena usianya yang sangat muda.
Anak itu pulang kembali membawa pedangnya, tergesek-gesek menyentuh tanah. Dia sedih dan kecewa, lantaran permintaannya untuk menyertai Rasulullah dalam peperangan pertama yang akan dihadapi beliau, ditolak.
Ternyata dari kejauhan ibu anak itu, Nuwar binti Malik, mengikuti dari belakang. Ia pun tak kalah sedihnya. Dia ingin melihat anaknya berjuang di bawah panji-panji Rasulullah. Dalam angan-angannya terbayang, alangkah bahagianya ayah anak itu sekiranya dia masih hidup, melihat anaknya dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW, dan berjihad bersamanya.
Tetapi, anak Anshar yang cerdas dan pintar ini tidak lekas putus asa. Walaupun dia ditolak Rasulullah untuk menjadi prajurit karena usianya masih sangat muda, dia berpikir mencari jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya yang tajam segera menemukan jalan. Jalan itu ialah bidang ilmu dan hafalan.
Nuwar memberi tahu beberapa orang famili tentang keinginan yang akan ditempuh anaknya. Mereka setuju, lalu pergi menemui Rasulullah.
Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surah dari kitab Alquran. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Engkau. Di samping itu dia pandai pula membaca dan menulis Arab.”
“Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Engkau dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi Engkau selalu. Jika Engkau menghendaki silakan mendengarkan bacaannya.”
Rasulullah mendengarkan bacaan anak itu. Bacaannya ternyata memang bagus, betul dan fasih. Kalimat-kalimat Alquran bagaikan berkerlap-kerlip di bibirnya seperti bintang-gemintang di permukaan langit.
Bacaannya menimbulkan pengaruh dan berkesan. Waqaf-waqaf (tanda-tanda baca seperti titik koma dan lain-lain) dilaluinya dengan tepat, menunjukakan dia paham dan mengerti dengan baik apa yang dibacanya.
Rasulullah gembira karena apa yang dilihat dan didengarnya mengenai diri anak itu, ternyata melebihi apa yang dikatakan orang yang mengantarnya. Terlebih lagi, anak itu pandai pula membaca dan menulis.
Rasulullah menoleh kepadanya seraya berkata, “Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani. Aku tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut.”
Anak kecil itu menyanggupi. Dengan tekun ia mempelajari bahasa Ibrani. Karena kecemerlangan otaknya, dalam waktu singkat dia dapat menguasai bahasa tersebut dengan baik, berbicara, membaca dan menulis.
Apabila Rasulullah hendak menulis surat kepada orang-orang Yahudi, dialah yang dipanggil beliau menjadi sekretaris. Bila beliau menerima surat dari mereka, dia pula yang disuruh membacanya.
Kemudian, anak itu juga belajar tulis baca bahasa Suryani. Ia pun berhasil menguasai bahasa itu dalam tempo singkat, berbicara, membaca dan menulis, seperti penguasaannya terhadap bahasa Yahudi. Dan sejak usianya yang belia itu, ia dijadikan Rasulullah sebagai penerjemah kedua bahasa tersebut.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar