Rabu, 15 April 2020
Secercah Harapan! Obat Ini Diklaim Cegah COVID-19 Tahap Awal
Tim internasional yang dipimpin oleh peneliti dari University of
British Columbia Dr Josef Penninger menemukan obat percobaan yang
dipercaya bisa secara efektif memblok SARS-CoV-2 -- nama lain virus corona -- untuk menginfeksi inang.
Penemuan ini dipublikasikan di Cell, 2 April 2020.
Pengobatan
ini dipercaya bisa mengatasi infeksi awal virus corona, dan menurut
data per 2 April ini sudah menunjukkan efek positif kepada lebih dari
981 ribu orang.
Studi ini tentunya menjadi secercah harapan di tengah pandemi virus corona
yang terjadi di dunia sejak pertama kali merebak di Wuhan, China dan
bisa membantu ilmuwan memahami lebih lanjut soal virus yang menyebabkan COVID-19, interaksinya pada tingkat sel, serta bagaimana virus dapat menginfeksi pembuluh darah dan ginjal.
"Kami berharap hasil kami memiliki implikasi untuk pengembangan obat
baru guna pengobatan pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini,"
kata Penninger, profesor fakultas kedokteran UBC, direktur Life Sciences
Institute dan Canada 150 Research Chair in Functional Genetics di UBC.
Ia
menambahkan, pekerjaan ini adalah hasil dari kolaborasi antara peneliti
dan perusahaan akademis, termasuk kelompok gastrointestinal Dr Ryan
Conder dari STEMCELL Technologies di Vancouver, Nuria Montserrat asal
Spanyol, Drs Haibo Zhang dan Art Slutsky dari Toronto, serta tim biologi
infeksius Ali Mirazimi di Swedia.
"(Tim -- red) telah bekerja
tanpa kenal lelah siang dan malam selama berminggu-minggu untuk lebih
memahami patologi penyakit ini dan untuk memberikan terobosan pilihan
terapi," ucapnya. Demikian dikutip dari Eurekalert.
Facebook Pernah Mau Beli Spyware Pegasus untuk WhatsApp?
Facebook menggugat
NSO Group, perusahaan spyware Israel karena diduga meretas layanan pesan
instan WhatsApp.
Namun, belakangan terselip fakta bahwa Facebook pernah
mencoba membeli perusahaan tersebut.
NSO Group menghadapi tuduhan bahwa perusahaannya mencoba meretas WhatsApp dan membantu pemerintah yang berwenang untuk memata-matai pengguna.
Seperti dikutip dari Business Insider, NSO Group mengungkapkan Facebook pernah mendekatinya dan ingin membeli teknologi spyware pegasus yang mereka lirik pada 2017 lalu.
"Facebook ingin menggunakan kemampuan yang ada di Pegasus untuk memantau pengguna di perangkat Apple," klaim NSO Group.
NSO
Group mengatakan mereka menolak tawaran Facebook karena mereka hanya
menjual softwarenya kepada pemerintah atau lembaga pemerintahan yang
berdaulat.
Pernyataan perusahaan Israel itu ditanggapi Facebook.
Menurut Facebook, apa yang dikatakan NSO Group sebagai upaya mengalihkan
isu.
"(NSO Group) berusaha mengalihkan perhatian dari fakta," kata juru bicara Facebook.
Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini menjelaskan kalau NSO
Group salah mengartikan pembicaraan antara kedua perusahaan ketika itu.
"Upaya
mereka untuk menghindari tanggung jawab termasuk representasi yang
tidak akurat tentang spyware mereka dan diskusi dengan orang-orang yang
bekerja di Facebook," tuturnya.
Cara Ini Cegah Kamu Salah Kamar Saat Mau Zoom Meeting
Link URL untuk meeting Zoom
terlihat sama.
Jadi kita tidak tahu kalau link tersebut mengarahkan
kita ke Zoom meeting yang mana.
Bisa saja kan kita salah kamar masuk ke
meeting Zoom yang bukan seharusnya.
Kalian terpikir tidak,
seandainya link URL meeting Zoom yang dibagikan bisa menampilkan preview
headline dan gambar orang yang akan berbicara dengan kita? Nah, ternyata ada layanan bernama ZmURL.com yang mengakomodir itu.
ZmURL
adalah tool gratis yang memungkinkan kalian menyesuaikan URL undangan
meeting Zoom dengan menambahkan judul, penjelasan dan foto.
Keterangan
ini nantinya akan muncul sebagai preview ketika kalian share URL
link-nya.
Seperti dikutip dari Tech Crunch, ZmURL juga bisa diatur
untuk menyertakan email orang-orang yang diundang meeting online.
Jadi
kamu bisa memutuskan siapa yang akan diterima masuk ke dalam rapat. Cara
ini juga mencegah terjadinya orang tidak dikenal atau pelaku Zoom bombing menyusup di meeting Zoom.
"Kami
membuat zmurl.com untuk memudahkan orang tetap dekat meski berjauhan
secara fisik. Kami harap ini bisa menjadi bagian dari tool berguna untuk
tetap terhubung di masa karantina seperti sekarang," kata co-founder
ZmURL Victor Pontis.
Zoom sejatinya memang tidak dibuat untuk
diskusi publik terbuka. Tetapi dengan banyaknya orang-orang berdiam di
rumah selama masa pandemi COVID-19, jumlah pengguna hariannya meningkat
signifikan dari 10 juta menjadi 200 juta.
Seiring semakin banyak
orang menggunakan Zoom, maka semakin banyak pula ancaman cyber yang
menyasarnya. Salah satunya Zoom bombing yang disebutkan sebelumnya.
Zoom
bombing merupakan serangan berupa gangguan dari luar yang membajak
video konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau ujaran
kebencian disertai ancaman, sehingga menghentikan segala interaksi
sosial online yang sedang dilakukan. Serangan ini diketahui semakin
meningkat secara signifikan selama pandemi.
Kehadiran ZmURL
diharapkan bisa membantu masalah ini.
Untuk menggunakan tool ini, kamu
hanya perlu mengunjungi ZmURL.com, masukkan link URL Zoom meeting yang
ingin dibagikan, lalu upload foto, beri nama Zoom meeting, jangan lupa sertakan deskripsi dan waktu serta tanggal Zoom meeting dimulai.
ZmURL kemudian akan membuatkan URL untuk kamu bagikan. Saat kamu membagi
URL ini ke aplikasi chat atau media sosial, orang yang akan klik link
tersebut akan melihat deskripsi tersebut sehingga yakin mereka tidak
akan salah kamar.
Selasa, 14 April 2020
Beda dari Zoom, Skype Rilis Fitur Video Conference Tanpa Registrasi
Zoom
saat ini menjadi layanan konferensi video yang paling banyak digunakan
disaat pandemi virus corona melanda dunia.
Namun aplikasi tersebut
sedang diterpa soal keamanan data pengguna.
Seolah menjawab kegundahan pengguna, Skype pun merilis fitur yang dianggap aman karena diklaim tak memerlukan data pengguna.
Dilansir dari Tech Radar, fitur
tersebut dinamai Meet Now.
Fitur ini diklaim aman karena karena
pengguna tak perlu repot log-in alias mendaftar akun, mengunduh ataupun
menginstal aplikasi apapun sehingga pengguna pun tak perlu mengisi data
pribadi.
Pengguna atau host (tuan rumah) yang memulai video conference bisa
mengakses layanan tersebut tanpa harus daftar ataupun menginstall
aplikasi apapun.
Pengguna cukup mengunjungi halaman situs Skype dan
untuk memulai rapat hanya melakukan beberapa klik saja sesuai dengan
arahan situs tersebut.
Lalu bagi pengguna yang sudah memiliki
aplikasi Skype di smartphone, pengguna dapat memulai konferensi dengan
mengundang daftar kontak Skype yang diinginkan meski mereka yang tidak
punya akun Skype.
Fitur Meet Now juga memungkinkan tautan undangan
video conference yang dibagikan tidak kedaluwarsa, dan panggilan video
tidak terbatas sesuai dengan fungsi yang disediakan.
Selain itu, terdapat fitur chat dan tombol reaksi, dan pengguna juga
bisa memblur tampilan latar belakang yang berguna ketika pengguna malu
memperlihatkan ruangannya yang berantakan saat rapat online dimulai.
Tambahan
lainnya, pengguna dapat membagikan layar ketika video conference
berlangsung untuk keperluan pekerjaan atau pengajaran bahkan juga dapat
melakukan rekaman panggilan di mana rekaman akan disimpan dalam jangka
waktu 30 hari.
Kisah Miris Visa Amerika Pendiri Zoom Ditolak 8 Kali
Mendapatkan visa Amerika Serikat adalah perkara susah-susah gampang.
Tak sedikit yang mendapat banyak penolakan, termasuk pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan, ketika dia mencoba mencari peruntungan ke Negeri Paman Sam.
Kala
itu di tahun 1990-an, Eric yang lahir di China sebenarnya sudah sempat
bekerja di Jepang.
Akan tetapi ia melihat ada peluang besar di Amerika
karena bisnis internet sedang melonjak.
"Saya memutuskan datang ke
AS di pertengahan 1990-an karena internet, yang saya tahu adalah
gelombang masa depan," kata Eric yang dikutip dari Authority Magazine.
"Pertama kali saya mendaftarkan visa AS, saya ditolak.
Saya terus
mengajukan lagi dan lagi dalam kurun waktu dua tahun dan akhirnya
menerima visa pada percobaan kesembilan," cetusnya.
Artinya, visa
AS Eric sempat ditolak sampai 8 kali. Ia datang ke Silicon Valley pada
tahun 1997 dan diterima bekerja di WebEx, saat itu masih perusahaan
kecil. WebEx tumbuh pesat dan diakuisisi Cisco pada 2007.
Eric pun
menanjak karirnya dan menjadi Vice President Cisco. Pada tahun 2012, ia
punya ide perusahaan sendiri yang bergerak di bidang komunikasi video
dan memutuskan keluar dari Cisco. Tahun 2012, resmilah Eric mendirikan
Zoom.
"Saya pertama kali punya ide saat baru masuk kuliah di China
dan kadang pergi 10 jam naik kereta untuk mengunjungi pacar.
Saya
mengimajinasikan cara lain untuk bisa mendatanginya tanpa harus
bepergian.
Impian itulah yang menjadi dasar dari Zoom," kisahnya.
Zoom
sudah menjadi perusahaan besar dan telah berjualan saham perdana atau
IPO tahun silam.
Di masa pandemik virus corona saat ini, banyak yang
memanfaatkan Zoom untuk bekerja dari rumah sehingga popularitasnya
meroket.
Zoom Akui Sejumlah Video Call Tak Sengaja Terkirim ke China
Seiring makin banyak pengguna Zoom,
kian tajam pula sorotan tertuju pada aplikasi video conference ini.
Pekan ini, Zoom disorot terkait dengan isu keamanan data dan privasi
penggunanya.
Selain kasus zoom bombing,
dituding mengirimkan data pengguna ke Facebook, dan diam-diam menggali
data LinkedIn, Zoom juga harus menghadapi tuduhan mengirimkan panggilan
video call pengguna ke China.
Temuan terbaru dari peneliti
keamanan di Citizen Lab menyebutkan, sejumlah panggilan video call Zoom
yang dilakukan di Amerika Utara dialihkan melalui China seperti halnya
kunci enkripsi yang digunakan untuk mengamankan panggilan.
Terlepas
dari klaim Zoom sebelumnya bahwa percakapan di platform mereka aman,
disebutkan Citizen Lab, percakapan Zoom sama sekali tidak terenkripsi.
Artinya, Zoom mengontrol kunci enkripsi dan karenanya, dapat mengakses
konten panggilan pelanggannya.
Sebelumnya Zoom mengatakan lewat
postingan blognya bahwa mereka telah menerapkan kontrol internal yang
kuat dan tervalidasi untuk mencegah akses tidak sah ke konten apa pun
yang dibagikan pengguna selama rapat.
Namun, hal serupa tidak bisa
diterapkan untuk otoritas China yang bisa menuntut Zoom menyerahkan
kunci enkripsi apa pun pada servernya di China, untuk memfasilitasi
dekripsi konten panggilan terenkripsi.
Dikutip dari Tech Crunch,
Zoom mengakui bahwa dalam upayanya meningkatkan kapasitas server untuk
mengakomodasi tingginya trafik selama masa pandemi COVID-19,
platformnya telah secara tidak sengaja memungkinkan dua pusat datanya
di China menerima panggilan sebagai backup jika terjadi kemacetan
jaringan.
Respons ini disampaikan langsung oleh CEO Zoom Eric Yuan.
Dijelaskan Eric, selama operasional normal, klien Zoom berusaha untuk
terhubung ke serangkaian pusat data utama di/dekat wilayah pengguna.
Jika
beberapa upaya koneksi gagal karena kemacetan jaringan atau masalah
lain, klien akan menjangkau dua pusat data sekunder dari daftar beberapa
pusat data sekunder sebagai jembatan koneksi cadangan potensial ke
platform Zoom.
"Dalam semua kasus, klien Zoom diberikan daftar
pusat data yang sesuai dengan wilayah mereka.
Sistem ini sangat penting
untuk keandalan merek dagang Zoom, khususnya selama masa akses traffic
internet yang masif seperti sekarang," ujarnya.
China,
bagaimanapun, harusnya menjadi pengecualian.
Sebagian besar karena ini
terkait dengan masalah privasi di antara perusahaan-perusahaan barat.
Namun undang-undang dan peraturan China sendiri mengamanatkan bahwa
perusahaan yang beroperasi di negaranya harus menyimpan data warga di
dalam wilayah perbatasannya.
Zoom mengatakan pada Februari lalu
pihaknya menambah kapasitas ke wilayah China untuk menangani permintaan,
yang juga dimasukkan dalam daftar putih internasional pusat data
cadangan.
Artinya, pengguna non-China dalam beberapa kasus terhubung ke
server China ketika pusat data di wilayah lain kelebihan kapasitas.
Saat
ini, dikatakan Zoom bahwa daftar putih tersebut telah dikoreksi.
Zoom
juga mengatakan bahwa pengguna yang terkait dengan rencana pemerintah
tidak akan terpengaruh oleh pengalihan rute yang tidak disengaja.
Pihak
Zoom tampaknya bekerja lebih keras menangani berbagai masalah yang
menerpa aplikasinya sang CEO Eric Yuan menyatakan tidak akan ada
penambahan fitur baru di Zoom selama 90 hari ke depan demi fokus
memperbaiki isu-isu privasi dan keamanan.
Duh! Data dari Ratusan Akun Zoom Disebarkan di Dark Web
Zoom belakangan
ini banyak ditimpa masalah privasi dan keamanan sejak popularitasnya
menanjak. Kini mereka juga harus berurusan dengan masalah lainnya yang
menyangkut dark web.
Firma keamanan siber Sixgill baru-baru ini menemukan kumpulan 352 akun Zoom yang telah dibobol.
Dikutip dari Mashable, akun ini dibagikan di forum dark web oleh seorang pengguna anonim.
Informasi yang dibagikan mencakup alamat email yang digunakan,
password ID rapat, host key dan nama host.
Informasi yang dicuri ini
bahkan diberi label sesuai tipe akunnya, artinya beberapa informasi yang
dicuri ini milik pengguna berbayar.
Dalam postingan di forum tersebut, kolom komentar di bawahnya
berisi beberapa orang yang berterima kasih kepada si pengunggah
informasi.
Salah satunya bahkan berniat untuk nge-troll rapat-rapat
tersebut.
Tapi, trolling online bukan satu-satunya tindakan tidak
bertanggung jawab yang bisa dilakukan orang-orang ini dengan informasi
akun Zoom tersebut.
"Akun
ini tentu bisa digunakan untuk troll pemilik akun atau siapa saja yang
mengikuti panggilannya, tapi kredensial ini juga bisa digunakan untuk
menguping perusahaan atau pribadi, pencurian identitas dan tindakan
jahat lainnya," kata Security Research Lead Sixgill, Dov Lerner dalam
keterangan resminya.
Hal ini semakin mengkhawatirkan karena
Sixgill menemukan akun-akun yang datanya dibobol ini bukan hanya akun
pribadi tapi juga akun milik bisnis kecil dan institusi pendidikan.
Salah satu akun yang dibobol juga milik penyedia layanan kesehatan besar
di Amerika Serikat.
Temuan ini tentu menjadi masalah baru bagi Zoom yang
sudah kewalahan menghadapi berbagai masalah keamanan.
Dalam beberapa
minggu terakhir mereka harus berurusan dengan data pengguna yang
dibagikan ke Facebook, Zoom Bombing dan data yang tidak sengaja
dialihkan lewat China.
Pendiri dan CEO Zoom Eric Yuan bahkan sudah
dua kali meminta maaf pada penggunanya. Ia juga bertekad untuk
menangani semua masalah keamanan dengan serius.
Layar 10bit Akan Jadi Standar Ponsel Masa Depan
Oppo Find X2 series yang diperkenalkan Maret lalu menggebrak dengan layar 10bit.
Diyakini fitur ini akan jadi standar ponsel masa depan
Dominikus Susanto, Senior Manager Business Development Qualcomm mengatakan ketika ponsel dirilis dua dekade lalu, layarnya masih hitam putih.
Kemudian berkembang menghadirkan 256 warna.
Mengikuti kemajuan teknologi, layar ponsel pun meningkat menjadi 65
ribu warna. Selanjutnya menjadi 16 juta (8bit) warna yang kemudian
menjadi standar ponsel sampai saat ini.
"Dan sekarang dengan adanya teknologi yang memungkinkan layar
10bit, saya yakin akan menjadi standar.
Mungkin kalau saat ini masih
diterapkan flagship, ini seperti awal-awal 8 bit juga diterapkan di high
end," kata Dominikus saat berbicara di Qualcomm Snapdragon Academy.
Sementara itu PR Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto
mengemukakan kenapa pihaknya mengadopsi layar 10bit di saat belum ada
vendor lain yang menerapkannya.
Menurutnya saat ini 90% aktivitas di
smartphone ada di layar, itulah kenapa pihaknya begitu fokus pada layar
di Find X2 Series.
"Kenapa 10bit? Karena sesuai dengan target marketnya.
Perangkat inikan perangkat 5G
Ready nantinya perangkat ini optimal ketika jaringan 5G sudah berjalan
di mana banyak konten bersifat streaming dan video dan itulah kenapa
kami menyajikan layar yang terbaik," katanya di acara yang sama.
Untuk diketahui kedalaman bit menentukan jumlah warna yang dapat tersaji di gambar diam ataupun video.
Jadi
setiap gambar terdiri dari saluran dasar merah, hijau, dan biru. Setiap
saluran dapat menampilkan berbagai corak warna yang sesuai.
Jumlah
warna menentukan kedalaman bit gambar.
Gambar kedalaman 1 bit
berarti hanya ada dua corak warna per saluran warna.
Untuk gambar
kedalaman 3 bit ada dua pangkat tiga informasi warna atau total delapan
warna per saluran.
Sementara gambar 8-bit berarti dua pangkat delapan warna untuk merah,
hijau, dan biru atau ada 256 warna per saluran.
Saat menggabungkan
saluran-saluran itu kita dapat memiliki 256 x 256 x 256 kombinasi warna
yang berbeda, atau kira-kira 16 juta.
Nah gambar 10-bit dapat menampilkan 1.024 nuansa warna per saluran. Bila dikombinasikan ada 1 miliar lebih warna yang tersaji.
Diare Salah Satu Gejala pada Pasien COVID-19 Level Ringan
Sebuah studi yang dipublikasikan The American Journal of
Gastroenterology menganalisis gejala masalah pencernaan dilaporkan oleh
banyak pasien COVID-19 dengan kondisi ringan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kondisi sedang atau kritis.
Studi yang dipublikasikan pada 30 Maret 2020 ini juga menemukan kelompok dengan kondisi ringan biasanya mengalami diare.
Para
penulis dari Union Hospital and Tongji Medical College di Wuhan, China
mengatakan ketika orang yang mengidap kondisi ringan akibat virus
corona, mereka bisa jadi atau tidak sama sekali mengalami masalah
pernapasan atau demam.
Dikutip dari Coronavirus Today, diarenya sendiri berdurasi selama lima hari dengan frekuensi 4 kali buang air besar dalam satu harinya.
Analisis ini dilakukan pada 206 pasien dengan tingkat keparahan yang rendah dari infeksi virus corona.
48 Orang di antaranya mengalami masalah pencernaan, 69 mengalami
masalah pencernaan dan pernapasan, dan 89 hanya mengalami gejala masalah
pernapasan.
Dari dua kelompok dengan gejala pencernaan, 67% mengalami diare dan
20% dari angka tersebut mengalami diare sebagai gejala pertama mereka
saat penyakitnya muncul.
Sementara itu, demam ditemukan pada 62%
pasien dengan masalah pencernaan, yang mana berarti hampir sepertiganya
tidak mengalami demam.
"Studi ini penting karena merepresentasikan
80% pasien atau lebih yang tidak memiliki kondisi parah atau kritis,"
kata Brennan MR Spiegel, MD, MSHS, FACG, Co-Editor-in-Chief The American
Journal of Gastroenterology.
Spiegel menambahkan, semakin umum orang yang kemungkinan mengalami COVID-19 dengan tanda awal diare, mual, dan muntah.
Prototipe Test Kit qPCR COVID-19 Buatan Indonesia Rampung
Penyempurnaan prototipe NUSANTARA TFRIC-19 diperkirakan selesai dalam 2-3 hari setelah sampel didapatkan.
"Validasi dengan strain virus Asia menunjukkan bahwa NUSANTARA TFRIC-19 mampu mendiagnosis COVID-19 dengan akurat.
Namun, kami akan menyempurnakannya dengan menggunakan informasi genomic virus lokal.
Ini alasannya, kenapa sampel strain lokal sangat penting.
Setelah mendapatkan sampel lokal, kami akan melakukan validasi akurasi NUSANTARA TFRIC-19 dengan strain Indonesia.
Setelah itu, kita bisa masuk ke tahap produksi massal," kata CEO Nusantics Sharlini Eriza Putri.
Untuk diketahui, pembuatan prototipe test kita qPCR COVID-19 merupakan bagian dari gerakan Indonesia Pasti Bisa, yang diinisiasi oleh East Ventures.
Gerakan tersebut melakukan menggalang pendanaan Rp 10 miliar untuk mendukung upaya Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 dalam mengembangkan dan memproduksi test kit COVID-19 buatan Indonesia.
Rencananya, test kit hasil pengembangan Nusantics akan diproduksi massal oleh BPPT, Bio Farma, dan Indonesia International Institute for Life Science.
Dana yang dikumpulkan melalui gerakan Indonesia PASTI BISA akan digunakan untuk membiayai pembelian material dan bahan baku untuk memproduksi 100.000 test kit qPCR.
Sabtu, 11 April 2020
Dapat Petunjuk Lewat Mimpi, Pria Asal Bangka Ini Sebut Daun Leben Sebagai Obat Corona
Video Marsudi, warga Nelayan 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi
Bangka Belitung (Babel) membuat heboh di tengah pandemi virus Corona
(COVID-19).
Pasalnya, lewat mimpi, dia mendapatkan petunjuk soal obat yang
kemungkinan dapat menyembuhkan pasien dari penyakit mematikan tersebut.
Obat tersebut adalah pucuk daun leben (vitex pinatta).
“Mimpi tiga kali malam Jumat, kedatangan orang tua yang menyebutkan
obat penyakit Corona adalah pucuk leben.
Direbus secukupnya, air tiga
gelas jadi satu gelas. Pada Jumat kedua, isi mimpinya sama dan di Jumat
ketiga, mimpi lagi, kenapa gak coba pucuk daun leben, saya bilang tidak
kena Corona,” sebut Marsudi dalam video berdurasi 2 menit 37 detik
tersebut.
Perihal mimpi tersebut, dia juga mengaku sudah menceritakan
kepada temannya yang bernama Memet.
Dari pengakuan Memet, ada temannya
yang mengalami batuk kemudian sembuh setelah minum air rebusan daun
pucuk leben.
Namun begitu, Marsudi enggan videonya soal informasi obat Corona
dikategorikan sebagai hoaks.
Menurutnya, hal itu adalah mimpi yang harus
dibuktikan benar atau tidak. Dia meminta kepada dokter untuk
membuktikan apakah daun leben bisa menyembuhkan pasien Corona sesuai
mimpinya.
“Tolong dokter dicek benar tidak pucuk daun leben bisa jadi obat
Corona, apakah mimpi saya benar atau salah. Itu saja.
Jangan lupa jika
mau mencoba daun pucuk leben baca doa dulu. Tuhan itu maha pengasih maha
penyayang, untuk agama lain sesuai kepercayaannya
masing-masing,”katanya.
Kata China Tentang Obat Avigan Yang Dipesan Jokowi Untuk Obati Virus Corona
Jumat, 10 April 2020
Asal Usul Virus Corona Berasal, dari Mana Sebenarnya?
COVID-19 atau virus corona tengah menyebar dan menginfeksi lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia. Namun, sebenarnya virus corona berasal dari mana?
Kemunculan
virus corona mulai terdeteksi pertama kali di negara China pada awal
Desember 2019.
Kala itu, sejumlah pasien berdatangan ke rumah sakit di
Wuhan dengan gejala penyakit yang tak dikenal.
Dikutip dari CNN, coronavirus sebenarnya sudah ada sejak lama.
Namun, virus tersebut biasa ditemukan pada hewan, seperti kucing,
anjing, babi, sapi, kalkun, ayam, tikus, kelinci, dan kelelawar.
Namun, virus corona
pada hewan hanya dapat menyebar antara binatang yang satu dengan
binatang yang lain.
Bahkan, sebagian hanya bertahan pada inang aslinya
saja dan tidak menyebar.
"Biasanya virus dari satu hewan tidak
menular ke spesies hewan lain, atau ke manusia," kata Kepala Divisi
Penyakit Menular Anak-anak di Rumah Sakit Anak Pittsburgh University
Center Medical Pittsburgh, Dr. John Williams.
"Jadi biasanya jika
virus berpindah dari hewan ke manusia, itu seperti jalan buntu. Orang
itu sakit tetapi tidak menyebar lebih lanjut," sambungnya.
Kemudian, sebuah penelitian yang diterbitkan bulan Februari
menyebutkan bahwa tampaknya virus corona berasal dari kelelawar.
Virus
tersebut berhasil bermutasi dari tubuh sang inang.
Penelitian
tersebut menemukan coronavirus pada kelelawar memiliki 96% genetik yang
mirip dengan virus corona yang saat ini menginfeksi orang di seluruh
dunia.
Namun, virus corona bukan infeksi langsung dari kelelawar,
melainkan dari spesies lain yang terinfeksi dari kelelawar dan akhirnya
menyerang tubuh manusia.
Namun, penelitian baru-baru ini juga
menyebutkan 13 dari 41 pasien yang terinfeksi tidak memiliki hubungan
dengan pasar yang menjual hewan liar.
Sehingga, para peneliti belum
mengetahui betul virus corona berasal dari mana.
Sabtu, 04 April 2020
Cegah Tamu Tak Diundang Susupi Meeting, Ini Tindakan Zoom
Penggunaan Zoom meroket
dan tak diperkirakan oleh perusahaan, yang diakibatkan banyaknya warga
diam di rumah mencegah penularan COVID-19.
Salah satu isu yang
memusingkan mereka adalah fenomena Zoom Bombing tapi kini, solusi agaknya telah ditemukan.
Dalam
pengumumannya, Zoom menyebut bahwa fitur waiting room akan diaktifkan
secara default.
Artinya, pihak yang mengorganisir meeting dapat
mengontrol siapa partisipan yang dapat memasuki sesi rapat.
"Waiting
Room adalah seperti bunyinya, area virtual yang mencegah orang
bergabung dalam meeting sampai tuan rumah siap," papar Zoom, dikutip dari CNBC.
Sebelumnya, waiting room harus diaktifkan terlebih dahulu, bukan langsung ada. Sekarang, Zoom menjadikannya langsung tersedia.
Upaya
perlindungan lainnya, Zoom mewajibkan peserta meeting yang bergabung
dalam sesi secara manual untuk memasukkan password.
Sedangkan mereka
yang menerima undangan masih akan bisa bergabung cukup dengan klik link
yang tersedia.
Zoom Bombing sendiri merupakan serangan berupa
gangguan dari luar yang membajak video konferensi dengan mengirim
gambar-gambar porno atau ujaran kebencian disertai ancaman, sehingga
menghentikan segala interaksi sosial online yang sedang dilakukan.
Serangan
ini diketahui semakin meningkat secara signifikan selama pandemi. Hal
itu seiring meroketnya penggunaan Zoom dengan 200 juta meeting digelar
per hari pada bulan Maret silam.
Zoom Bombing Bikin Berang Pejabat Pemerintah
Pejabat hukum di sedikitnya 3 negara bagian di Amerika Serikat menyelidiki aplikasi konferensi video Zoom soal privasi dan keamanan.
Itu dilakukan karena ada pejabat pemerintah yang terkena Zoom Bombing.
Zoom
Bombing merupakan istilah bagi serangan berupa gangguan dari luar yang
membajak video konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau
ujaran kebencian disertai ancaman.
Hal ini membuat keamanan Zoom
dipertanyakan, khususnya saat menggelar rapat penting.
Dikutip dari CNBC, kejaksaan negara bagian Connecticut, New York dan Florida
menyelidiki Zoom dan kemungkinan ada negara bagian lain yang akan ikut
bergabung.
Jaksa Agung Connecticut, William Tong, adalah pejabat yang jadi
korban Zoom Bombing saat beberapa waktu lalu berkomunikasi dengan
Gubernur Connecticut, Susan Bysiewicz. Pesan-pesan tidak pantas
membanjirinya di chat box.
"Kami waspada dengan insiden Zoom
Bombing dan mencari lebih banyak informasi dari perusahaan tentang upaya
privasi dan keamanan mereka serta berkoordinasi dengan jaksa lain,"
cetus Tong.
Bysiewicz mengaku sudah beberapa kali mengalami Zoom
Bombing.
"Sangat bikin frustrasi melihat hal-hal kebencian dan bully itu
berada di sisi layar," katanya, dikutip dari CNBC.
Zoom
sendiri mengaku berusaha memperbaiki masalah yang menjadikan mereka
sasaran kritik.
"Kami memperlakukan privasi, sekuriti dan kepercayaan
user dengan sangat serius," sebut juru bicara Zoom.
'Pikir Dua Kali Dulu Sebelum Pakai Zoom'
Makin banyak yang menguliti aplikasi Zoom seiring banyaknya orang dari segala kalangan memakainya buat meeting online di tengah wabah virus corona.
Salah satunya lembaga pengawas internet Citizen Lab yang berbasis di
Kanada, menyarankan agar orang pikir-pikir sebelum pakai Zoom.
Peringatan
itu mereka sampaikan khususnya jika user membicarakan sesuatu yang
sensitif. Sebab, sistem keamanan Zoom menurut mereka tidak dirancang
untuk melindungi pembicaraan penting.
Zoom memakai penyandian atau
enkripsi yang tidak standar sehingga punya kelemahan.
"Zoom
membuat kesalahan klasik dalam mendesain dan mengimplementasikan skema
enkripsi mereka sendiri ketimbang memakai standar eksisting buat
menyandi konten foto dan video," kata Bill Marczak, periset di Citizen
Lab.
"Memang penyandian Zoom lebih baik daripada tak ada sama sekali, tapi
pengguna yang mengharapkan meeting Zoom mereka akan aman dari
penyadapan harus berpikir dua kali sebelum memakai aplikasi ini untuk
mendiskusikan informasi sensitif," tegasnya.
Dikutip dari CTV News, peringatan itu disampaikan saat penggunaan Zoom marak
bukan hanya di kalangan biasa, tapi juga pemerintahan.
Politisi termasuk
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengandalkan Zoom buat meeting
di saat dia diisolasi karena kena corona.
Peneliti Citizen Lab
juga mencemaskan beberapa kunci penyandian Zoom didistribusikan melalui
server di China, meskipun semua partisipan dalam meeting berada di luar
China.
"Perusahaan yang secara khusus melayani klien di Amerika
Utara dan mendistribusikan kunci enkripsi lewat server di China sangat
mencemaskan karena Zoom mungkin wajib mengungkap kunci itu ke otoritas
di China," cetus Citizen Lab.
Pihak Zoom sendiri mencoba makin
serius menangani masalah yang menerpa aplikasinya.
Pendiri dan sang CEO,
Eric Yuan, telah menyatakan tidak akan ada penambahan fitur baru di
Zoom selama 90 hari untuk memperbaiki isu-isu privasi dan keamanan.
CEO Zoom Layangkan Permintaan Maaf Pada Pengguna, Kenapa?
Seiring makin banyak digunakan orang, aplikasi konferensi video Zoom
makin disorot. Belakangan, mereka diterpa isu soal privasi ataupun
keamanan lantaran ada kasus orang tak dikenal nimbrung saat meeting. CEO
Zoom, Eric Yuan pun meminta maaf.
"Kami menyadari tidak mencapai
harapan soal privasi dan keamanan baik dari masyarakat maupun kami
sendiri. Untuk itu, saya benar-benar minta maaf," kata Eric yang dikutip dari CNN.
Untuk 90 hari ke depan, Zoom
menurut Eric tidak akan menambahkan fitur baru untuk fokus memperbaiki
masalah yang ada. Mereka telah menghentikan fungsi pengiriman data ke
Facebook yang dipersoalkan banyak pihak.
Pandemi virus corona
membuat Zoom banyak diandalkan pegawai maupun pejabat lantaran mudah
digunakan saat ingin meeting jarak jauh.
Eric mengklaim pada bulan
Maret, setiap harinya ada 200 juta meeting digelar melalui Zoom.
Minggu
ini saja, Zoom diselidik oleh FBI karena dikhawatirkan kurang aman
dengan isu penyusupan hacker. Lalu ada gugatan dilayangkan terkait
pembagian data ke Facebook.
Eric membela diri bahwa Zoom dibuat
terutama untuk institusi besar dengan dukungan TI penuh seperti
universitas, badan pemerintahan atau lembaga keuangan.
Meledaknya
pemakaian individu tampaknya kurang mereka antisipasi.
"Kami tidak
mendesain produk dengan perkiraan bahwa, dalam hitungan minggu, setiap
orang di dunia mendadak bekerja, belajar dan bersosialisasi di rumah.
Kami sekarang punya pengguna yang jauh lebih luas, menghadirkan
tantangan yang tidak kami antisipasi," cetus Eric.
Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn Pengguna
Zoom menjadi salah satu aplikasi yang populer di era social distancing. Tapi semakin banyak digunakan, semakin banyak celah keamanan dan privasi yang ditemukan di aplikasi panggilan video tersebut.
Kali ini Zoom ketahuan menggali data dari LinkedIn penggunanya secara diam-diam. Dikutip dari
The Verge, Zoom rupanya memiliki fitur yang bisa
mencocokkan nama dan email yang digunakan seseorang untuk sign in dengan
profil LinkedIn mereka.
Jika pengguna lain di rapat online Zoom berlangganan layanan LinkedIn
Sales Navigator, mereka bisa mengakses profil LinkedIn milik partisipan
lain dengan mengklik ikon di samping namanya.
Informasi ini bisa
mencakup nama asli pengguna, tempat kerja dan lokasi.
Hal ini menjadi masalah karena Zoom melakukan
hal ini tanpa sepengetahuan pengguna atau meminta izin dari mereka.
Bahkan ketika pengguna tidak menggunakan nama aslinya di Zoom, platform
tersebut tetap bisa mencocokkan mereka dengan akun LinkedIn-nya.
Untungnya,
Zoom mengatakan fitur yang mengancam privasi pengguna ini telah
dinonaktifkan. LinkedIn juga mengatakan bahwa mereka akan menangguhkan
integrasi layanan dengan Zoom sembari menginvestigasi kejadian ini.
Sejak popularitasnya menanjak karena menjadi aplikasi pilihan untuk rapat dan bertatap muka secara online, Zoom telah diwarnai beberapa isu privasi.
Sebelumnya mereka diketahui diam-diam mengirimkan data pengguna ke Facebook.
CEO
Zoom, Eric S. Yuan pun meminta maaf kepada seluruh penggunanya. Ia juga
mengumumkan bahwa Zoom akan menangguhkan update fitur baru selama 90
hari untuk fokus dalam memperbaiki masalah privasi dan keamanan.
Dokter Ai Fen, Pengungkap Pertama Virus Corona, Dikabarkan Menghilang
![]() |
| Dokter Ai Fen, direktur departemen darurat Rumah Sakit Wuhan yang buka suara bagaimana dia dibungkam karena menyebarkan informasi mengenai virus corona. |
Ai Fen, dokter di Wuhan, China, yang pertama kali mengungkap virus
corona, dilaporkan menghilang dengan kekhawatiran dia ditahan.
Dia
menjadi perhatian dunia pada Maret, setelah mengutarakan apa yang
dialaminya ketika pertama kali menyuarakan keberadaan patogen baru itu
di akhir Desember 2019.
Dokter Ai Fen menuturkan, dia menghadapi
"teguran keras yang tak pernah terjadi sebelumnya" dari komisi disiplin
Rumah Sakit Pusat Wuhan.
Sebabnya pada 30 Desember 2019, dia mengunggah hasil diagnosa seorang
pasien di WeChat dan memberikan keterangan "virus corona SARS".
Gambar
itu segera menyebar, dengan mendiang dokter Li Wenliang menyuarakan
kekhawatirannya akan virus yang kini membunuh lebih dari 47.000 orang di
dunia.
Li, yang meninggal karena wabah itu pada 7 Februari,
sempat diperingatkan otoritas setempat karena dianggap "menyebarkan
informasi tidak benar".
Dikabarkan 60 Minutes Australia, Dokter Ai tidak terlihat lagi setelah memberikan wawancara kepada People yang mengkritik manajemen rumah sakit dalam merespons temuannya.
Tak lama setelah wawancara itu tayang, yang kemudian dihapus, Ai mengunggah sebuah gambar disertai keterangan di akun Weibo-nya.
"Sebuah sungai, jalan, jembatan, dan jam yang berdentang," kata Ai di Weibo seperti dikutip oleh RFA via Daily Mail.
Rumor dia menghilang terjadi setelah pemerintah China dikritik karena dianggap menutupi situasi tentang pandemi yang terjadi.
Beijing
disebut berusaha menutupi kabar terkait patogen tersebut dengan
menghukum tim medis yang menemukan dan menyebarluaskannya.
Kemudian
memberi penyangkalan bahwa Covid-19 tidak ada transmisi antar-manusia,
hingga menunda karantina di wilayah yang terdampak.
Bahkan hingga
saat ini, sejumlah kalangan, termasuk warga di Wuhan, menduga angka
sebenarnya infeksi virus SARS-Cov-2 itu jauh lebih tinggi dari yang
dipaparkan.
Dalam wawancara sebelum dia tidak terlihat lagi,
direktur departemen darurat itu mengaku menyesal tidak lebih berani
menyuarakannya lebih keras.
Sebabnya empat koleganya, termasuk
Dokter Li Wenliang, terpapar Covid-19 dan meninggal ketika berjuang
untuk merawat para pasien.
"JIka saya tahu akhirnya bakal seperti
ini, saya tak peduli akan hukuman. Saya akan terus menyuarakannya kepada
siapa pun," kata dia.
Sang Dokter menceritakan, semua terjadi
pada 30 Desember 2019, ketika dia melihat banyak pasien dengan gejala
mirip flu tak bisa ditangani dengan pengobatan biasa.
Dia kemudian
mendapatkan hasil laboratorium, dengan salah satunya mencantumkan
sebuah kalimat yang membuatnya berkeringat dingin, "SARS coronavirus".
Seketika
dia langsung melingkari kata SARS, mengambil foto, dan segera
mengirimkannya kepada mantan teman sekelas di jurusan kedokteran yang
bekerja di rumah sakit lain.
Dia juga sampai memanggil koleganya
dari departemen pernapasan yang kebetulan tengah melintas. "Saya katakan
salah satu pasiennya terinfeksi virus mirip SARS," kisahnya.
Segera
saja, foto tersebut menyebar di kalangan tenaga medis, termasuk oleh
dokter Li yang memberikan peringatan sebelum ditegur aparat.
Malamnya,
dia menuturkan menerima pesan dari rumah sakit yang menyatakan bahwa
informasi penyakit misterius itu harusnya tidak disebarluaskan.
Sebabnya,
kabar yang belum diketahui kebenarannya itu bisa menyebabkan kepanikan.
Dua hari kemudian, dia dipanggil komite disiplin RS.
Oleh kepala komite inspeksi disiplin, dia mendapat teguran karena dianggap "menyebarkan rumor" dan "merusak stabilitas".
"Pikiran
saya kosong. Dia tidak menegur karena saya tak bekerja keras. Saya
dianggap sudah merusak masa depan Wuhan. Saya putus asa," keluhnya.
Setelah
itu, setiap staf dilarang untuk saling membagikan gambar maupun pesan
yang berisi informasi mengenai virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu.
Ai
mengaku tidak bisa mengusahakan apa-apa, selain meminta para stafnya
untuk mengenakan pakaian pelindung dan masker meski tidak
diinstruksikan.
Kenalan dengan Pencipta Zoom yang Duitnya Bertambah Rp 66 Triliun
![]() |
| Eric Yuan pendiri Zoom |
Pandemi virus corona
membuat banyak pegawai kerja dari rumah dan salah satu aplikasi yang
mereka andalkan untuk meeting online adalah Zoom.
Popularitas Zoom
memang sangat melesat, begitu juga dengan harta pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan.
Dalam
3 bulan terakhir menurut Financial Times, kekayaan Eric bertambah USD 4
miliar atau di kisaran Rp 66 triliun.
Adapun harta totalnya diestimasi
sudah USD 7,5 miliar, berdasarkan kepemilikan saham di Zoom.
Eric
yang berusia 49 tahun ini lahir di provinsi Shandong, China. Orang
tuanya kerja di pertambangan.
Ia menyelesaikan kuliah di bidang
matematika dan teknik, lalu sempat bekerja 4 tahun di Jepang.
Waktu berlalu, Eric memutuskan pindah ke Silicon Valley untuk
bekerja di startup internet. Visa Amerika Eric sempat ditolak 8 kali
sebelum akhirnya lolos pada tahun 1997, saat itu usianya 27 tahun.
Bahasa Inggrisnya pun belum lancar.
"Pada beberapa tahun pertama, saya cuma menulis kode dan sangat
sibuk," tuturnya pada CNBC. Di waktu senggang, dia main sepakbola
sebagai hobi.
Karirnya ternyata, berkat kerja keras dan
kepandaian, makin moncer dan pernah menjadi Vice President di Cisco
Systems. Ia juga pernah bekerja di perusahaan konferensi video WebEx.
Saat
di China, Eric sudah punya pacar yang akhirnya jadi istrinya. Waktu
itu, mereka harus menjalani hubungan jarak jauh.
"Aku hanya bisa
menemuinya dua kali setahun dan butuh waktu lebih dari 10 jam untuk ke
sana dengan kereta," begitu kisahnya.
"Saat itu aku masih muda dan
berpikir fantastis jika di masa depan ada perangkat di mana cukup
menyentuh tombol dan bisa melihat serta bicara padanya," sambung Eric.
Eric mengusulkan teknologi konferensi video yang ramah smartphone
pada Cisco di 2011, tapi ia ditolak bosnya.
Maka ia memutuskan keluar
dan mendirikan Zoom karena yakin dengan idenya. Di masa awal itu, dia
sulit mendapatkan dana dan harus meminjam pada teman dan keluarga.
Istrinya
juga mempertanyakan kenapa dia keluar dari pekerjaan mapan di Cisco.
"Saya beritahu dia bahwa ini akan jadi perjalanan panjang dan sangat
sulit.
Tapi jika saya tak mencoba, saya bakal menyesal," cetusnya.
Keyakinannya membuahkan hasil, popularitas Zoom makin
meningkat. Pada 2014, jumlah penggunanya 10 juta kemudian naik jadi 40
juta pada 2015.
Pendanaan mengalir, antara lain sejumlah USD 30 juta
pada 2015 dari beberapa investor termasuk Horizons Ventures dan Qualcomm
Ventures.
Tahun 2017, Zoom menyandang status startup unicorn.
Akhirnya pada Maret 2019, mereka berjualan saham perdana atau IPO dengan
valuasi sekitar USD 16 miliar.
Tahun 2020 ini dipastikan ketenaran Zoom makin bertambah. Dari
pegawai sampai pejabat banyak mengandalkannya untuk membahas berbagai
hal secara online.
Bahkan valuasinya kini sudah USD 35 miliar.
Mereka
mendapat uang dari klien korporat, dengan jumlah sekitar 30 ribu.
Raksasa seperti Samsung, Uber sampai Walmart kabarnya menggunakan Zoom.
Belakangan
seiring naiknya popularitas, Zoom mulai disorot karena tudingan
mengirim data tanpa izin ke Facebook ataupun rentan disusupi hacker.
Namun demikian sejauh ini, Zoom masih jadi favorit.
Eric sendiri
mengaku tetap bekerja keras dan rendah hati. Ia termasuk CEO paling
disukai karyawan. Hasil review Glasdoor, 99% karyawan senang dengan
kepemimpinannya di Zoom.
Awas Zoom Bombing! Ini Tips Aman Meeting Online Pakai Zoom
Zoom jadi salah satu
platform yang sedang naik daun saat ini. Berbagai instansi pemerintahan,
perusahaan, universitas hingga sekolah di berbagai negara serentak
menggunakannya untuk menunjang aktivitas bekerja dan belajar dari rumah.
Sayangnya,
aplikasi ini memiliki masalah yang bisa mengganggu penggunanya. IT
Security Consultant PT Prosperita - ESET Indonesia Yudhi Kukuh
mengatakan, segala hal yang terkait dengan dunia maya pasti memiliki
risiko, termasuk menggunakan Zoom.
"Dalam kasus Zoom, ancaman Zoom
Bombing bisa menjadi masalah besar bagi banyak pihak, untuk mengatasi
masalah ini dibutuhkan pengaturan yang tepat untuk mencegah terjadinya
pembajakan," kata Yudhi seperti dikutip dari keterangan resminya.
Zoom Bombing
merupakan serangan berupa gangguan dari luar yang membajak video
konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau ujaran kebencian
disertai ancaman, sehingga menghentikan segala interaksi sosial online
yang sedang dilakukan.
Serangan ini diketahui semakin meningkat secara
signifikan selama pandemi.
Nah, bagaimana caranya agar tetap aman?
Pencegahan merupakan cara terbaik untuk mengatasinya.
Sebelum Zoom
Bombing menimpa, Yudhi membeberkan tips untuk mengamankan jaringan dari
serangan serupa.
Zoom memiliki hidden tool untuk mencegah
pengeboman Zoom yang disebut sebagai 'Waiting Room' atau ruang tunggu
yang memungkinkan mencegah tamu yang tidak diundang mengambil alih.
Berikut adalah langkah-langkah mengaktifkan Waiting Room :
![]() |
1. Buka account management dan pengaturan akun, dan scroll ke bawah ke opsi 'Waiting Room' lalu aktifkan |
![]() |
3. Setelah diaktifkan, Waiting Room juga dapat diatur untuk pertemuan tertentu.Untuk melakukan ini, jadwalkan pertemuan terlebih dahulu di opsi 'Schedule Meeting' |
![]() |
4. Untuk melihat pertemuan berikutnya tinggal klik 'Upcoming Meeting'. |
![]() |
5. Di sana, periksa untuk mengaktifkan 'Waiting Room' untuk pertemuan khusus/tertentu |
![]() |
6. Kamu juga bisa mengaktifkan 'Waiting Room' untuk semua rapat dengan ID rapat pribadi kamu.Ini dapat dilakukan dengan cara, dari opsi 'Meeting' kemudian pilih opsi 'Personal Meeting Room'. |
![]() |
7. Klik 'Edit this Meeting'8. Pastikan mengaktifkan 'Waiting Room' dengan dicentang, lalu tekan save/simpan.9. Inilah yang akan dilihat peserta rapat saat berada di 'Waiting Room' |
10. Host dapat kendalikan Waiting Room dengan memilih 'Manage Participants' |
![]() |
11. Sementara opsi 'More' akan memberikan beberapa opsi, termasuk memasukkan seseorang ke 'Waiting Room' |
![]() |
12. Setelah pertemuan dimulai, calon peserta rapat dapat diterima dari daftar tunggu di bawah 'Manage participants' (kelola peserta). |
![]() |
13. Atau, seluruh yang ada di 'Waiting Room' dapat diterima sekaligus |
![]() |
14. Dengan mengklik 'More' pada 'Video Participants' mereka dapat dikirim ke 'Waiting Room' selama panggilan. |
Mencegah lebih baik daripada mengobati atau sedia payung sebelum hujan, dua pepatah ini sangat akrab di telinga kita sebagai orang Indonesia, kedua ungkapan tersebut sangat cocok dalam situasi Zoom terkini.
Semoga tips langkah-langkah pengamanan Zoom di atas dapat bermanfaat untuk para penggunanya.
Jumat, 03 April 2020
Asik! Panggilan Video Google Duo Bisa 12 Orang
Aplikasi panggilan video makin banyak digunakan saat #JagaJarakDulu dilakukan demi mencegah meluasnya wabah virus corona.
Apa lagi bila aplikasi tersebut bisa menampung banyak orang di dalamnya.
Mungkin Google
sadar akan adanya kebutuhan itu.
Karenanya raksasa pencarian internet
itu meningkatkan jumlah partisipan pada aplikasi video callnya, Google Duo.
"Kami
bersyukur bahwa Duo membantu penggunanya melihat orang yang mereka
cintai di seluruh dunia.
Kami menyadari panggilan grup sangat penting
saat ini. Kami telah meningkatkan panggilan grup dari 8 menjadi 12
peserta efektif hari ini," kata Sanaz Ahari Lemelson, Senior Director of
Product and Design Google di akun Twitternya.
Ini kali kedua Google menambah jumlah partisipan dalam panggilan video
grup di Duo. Saat dirilis, aplikasi ini hanya bisa mendukung empat
orang, selang sebulan jumlahnya dibuat dua kali lipatnya alias 8 orang.
Dengan jumlah 12 orang tentu melakukan group video call lewat Google
Duo jadi lebih seru. Tapi memang bila dibandingkan platform lain terpaut
jauh.
FaceTime misalnya, layanan panggilan video call kepunyaan Apple ini mendukung hingga 32 orang.
Skype bisa sampai 50 orang, dan Zoom yang banyak digunakan saat ini mendukung hingga 100 orang untuk layanan gratisnya.
Tapi mungkin memang Google tidak merancang Duo untuk melakukan video
conference. Sebab bila ingin partisipan lebih banyak mereka punya
layanan Google Hangout yang mendukung hingga 250 peserta.
Aplikasi Zoom Versi iOS Diam-Diam Kirim Data Pengguna ke Facebook
Semakin mewabahnya dan guna memutus rangkaian penyebaran virus
corona, berbagai negara meminta masyarakat untuk menghabiskan waktu
mereka di rumah masing-masing.
Terpisah dari orang lain, komunikasi jarak jauh melalui group video
call untuk bekerja, sekolah, atau kuliah pun menjadi sarana penting di
tengah penyakit menular ini.
Dari sekian banyak layanan, aplikasi group video call yang saat ini naik populeritasnya saat ini adalah Zoom.
Semakin tenar dan jadi pilihan di berbagai negara, ternyata Zoom
(versi iOS) kedapatan mengirim data ke Facebook tanpa sepengetahuan
pengguna.
Dikutip dari laporan analisis jaringan Motherboard, data yang dikirim Zoom ke Facebook mencakup sejumlah informasi detail tentang pengguna.
Adapun informasi yang dikirim Zoom,
termasuk ketika membuka aplikasi, model ponsel, lokasi pengguna,
operator selular dipakai, dan ID khusus yang dapat digunakan oleh
pengiklan atau pihak ketiga untuk mengirim iklan tertarget.
Lebih lanjut, praktik yang dilakukan Zoom versi iOS ini tidak diungkap oleh pengembang di dalam halaman kebijakan pengguna.
Kepada Motherboard, juru bicara Facebook mengatakan pengembang untuk menggunakan SDK perusahaan.
Tak hanya itu, pengembang aplikasi juga harus transparan dan secara
jelas dengan pengguna mereka prihal data yang dikirim kembali ke
Facebook.
Langganan:
Postingan (Atom)























