# #

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Rabu, 15 April 2020

Secercah Harapan! Obat Ini Diklaim Cegah COVID-19 Tahap Awal

Tim internasional yang dipimpin oleh peneliti dari University of British Columbia Dr Josef Penninger menemukan obat percobaan yang dipercaya bisa secara efektif memblok SARS-CoV-2 -- nama lain virus corona -- untuk menginfeksi inang. 


Penemuan ini dipublikasikan di Cell, 2 April 2020.


Pengobatan ini dipercaya bisa mengatasi infeksi awal virus corona, dan menurut data per 2 April ini sudah menunjukkan efek positif kepada lebih dari 981 ribu orang.


Studi ini tentunya menjadi secercah harapan di tengah pandemi virus corona yang terjadi di dunia sejak pertama kali merebak di Wuhan, China dan bisa membantu ilmuwan memahami lebih lanjut soal virus yang menyebabkan COVID-19, interaksinya pada tingkat sel, serta bagaimana virus dapat menginfeksi pembuluh darah dan ginjal.


"Kami berharap hasil kami memiliki implikasi untuk pengembangan obat baru guna pengobatan pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini," kata Penninger, profesor fakultas kedokteran UBC, direktur Life Sciences Institute dan Canada 150 Research Chair in Functional Genetics di UBC.


Ia menambahkan, pekerjaan ini adalah hasil dari kolaborasi antara peneliti dan perusahaan akademis, termasuk kelompok gastrointestinal Dr Ryan Conder dari STEMCELL Technologies di Vancouver, Nuria Montserrat asal Spanyol, Drs Haibo Zhang dan Art Slutsky dari Toronto, serta tim biologi infeksius Ali Mirazimi di Swedia.


"(Tim -- red) telah bekerja tanpa kenal lelah siang dan malam selama berminggu-minggu untuk lebih memahami patologi penyakit ini dan untuk memberikan terobosan pilihan terapi," ucapnya. Demikian dikutip dari Eurekalert.
baca keseluruhan - Secercah Harapan! Obat Ini Diklaim Cegah COVID-19 Tahap Awal

Facebook Pernah Mau Beli Spyware Pegasus untuk WhatsApp?

Facebook menggugat NSO Group, perusahaan spyware Israel karena diduga meretas layanan pesan instan WhatsApp. 

Namun, belakangan terselip fakta bahwa Facebook pernah mencoba membeli perusahaan tersebut.

NSO Group menghadapi tuduhan bahwa perusahaannya mencoba meretas WhatsApp dan membantu pemerintah yang berwenang untuk memata-matai pengguna.

Seperti dikutip dari Business Insider, NSO Group mengungkapkan Facebook pernah mendekatinya dan ingin membeli teknologi spyware pegasus yang mereka lirik pada 2017 lalu.

"Facebook ingin menggunakan kemampuan yang ada di Pegasus untuk memantau pengguna di perangkat Apple," klaim NSO Group.

NSO Group mengatakan mereka menolak tawaran Facebook karena mereka hanya menjual softwarenya kepada pemerintah atau lembaga pemerintahan yang berdaulat.

Pernyataan perusahaan Israel itu ditanggapi Facebook. Menurut Facebook, apa yang dikatakan NSO Group sebagai upaya mengalihkan isu.

"(NSO Group) berusaha mengalihkan perhatian dari fakta," kata juru bicara Facebook.

Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini menjelaskan kalau NSO Group salah mengartikan pembicaraan antara kedua perusahaan ketika itu.

"Upaya mereka untuk menghindari tanggung jawab termasuk representasi yang tidak akurat tentang spyware mereka dan diskusi dengan orang-orang yang bekerja di Facebook," tuturnya.
baca keseluruhan - Facebook Pernah Mau Beli Spyware Pegasus untuk WhatsApp?

Cara Ini Cegah Kamu Salah Kamar Saat Mau Zoom Meeting

Link URL untuk meeting Zoom terlihat sama. 

Jadi kita tidak tahu kalau link tersebut mengarahkan kita ke Zoom meeting yang mana. 

Bisa saja kan kita salah kamar masuk ke meeting Zoom yang bukan seharusnya.

Kalian terpikir tidak, seandainya link URL meeting Zoom yang dibagikan bisa menampilkan preview headline dan gambar orang yang akan berbicara dengan kita? Nah, ternyata ada layanan bernama ZmURL.com yang mengakomodir itu.

ZmURL adalah tool gratis yang memungkinkan kalian menyesuaikan URL undangan meeting Zoom dengan menambahkan judul, penjelasan dan foto. 

Keterangan ini nantinya akan muncul sebagai preview ketika kalian share URL link-nya.

Seperti dikutip dari Tech Crunch, ZmURL juga bisa diatur untuk menyertakan email orang-orang yang diundang meeting online. 

Jadi kamu bisa memutuskan siapa yang akan diterima masuk ke dalam rapat. Cara ini juga mencegah terjadinya orang tidak dikenal atau pelaku Zoom bombing menyusup di meeting Zoom.

"Kami membuat zmurl.com untuk memudahkan orang tetap dekat meski berjauhan secara fisik. Kami harap ini bisa menjadi bagian dari tool berguna untuk tetap terhubung di masa karantina seperti sekarang," kata co-founder ZmURL Victor Pontis.

Zoom sejatinya memang tidak dibuat untuk diskusi publik terbuka. Tetapi dengan banyaknya orang-orang berdiam di rumah selama masa pandemi COVID-19, jumlah pengguna hariannya meningkat signifikan dari 10 juta menjadi 200 juta.

Seiring semakin banyak orang menggunakan Zoom, maka semakin banyak pula ancaman cyber yang menyasarnya. Salah satunya Zoom bombing yang disebutkan sebelumnya.

Zoom bombing merupakan serangan berupa gangguan dari luar yang membajak video konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau ujaran kebencian disertai ancaman, sehingga menghentikan segala interaksi sosial online yang sedang dilakukan. Serangan ini diketahui semakin meningkat secara signifikan selama pandemi.

Kehadiran ZmURL diharapkan bisa membantu masalah ini. 

Untuk menggunakan tool ini, kamu hanya perlu mengunjungi ZmURL.com, masukkan link URL Zoom meeting yang ingin dibagikan, lalu upload foto, beri nama Zoom meeting, jangan lupa sertakan deskripsi dan waktu serta tanggal Zoom meeting dimulai.

ZmURL kemudian akan membuatkan URL untuk kamu bagikan. Saat kamu membagi URL ini ke aplikasi chat atau media sosial, orang yang akan klik link tersebut akan melihat deskripsi tersebut sehingga yakin mereka tidak akan salah kamar.

baca keseluruhan - Cara Ini Cegah Kamu Salah Kamar Saat Mau Zoom Meeting

Selasa, 14 April 2020

Beda dari Zoom, Skype Rilis Fitur Video Conference Tanpa Registrasi

Zoom saat ini menjadi layanan konferensi video yang paling banyak digunakan disaat pandemi virus corona melanda dunia. 

Namun aplikasi tersebut sedang diterpa soal keamanan data pengguna.

Seolah menjawab kegundahan pengguna, Skype pun merilis fitur yang dianggap aman karena diklaim tak memerlukan data pengguna.

Dilansir dari Tech Radar, fitur tersebut dinamai Meet Now. 

Fitur ini diklaim aman karena karena pengguna tak perlu repot log-in alias mendaftar akun, mengunduh ataupun menginstal aplikasi apapun sehingga pengguna pun tak perlu mengisi data pribadi.

Pengguna atau host (tuan rumah) yang memulai video conference bisa mengakses layanan tersebut tanpa harus daftar ataupun menginstall aplikasi apapun. 

Pengguna cukup mengunjungi halaman situs Skype dan untuk memulai rapat hanya melakukan beberapa klik saja sesuai dengan arahan situs tersebut.

Lalu bagi pengguna yang sudah memiliki aplikasi Skype di smartphone, pengguna dapat memulai konferensi dengan mengundang daftar kontak Skype yang diinginkan meski mereka yang tidak punya akun Skype.

Fitur Meet Now juga memungkinkan tautan undangan video conference yang dibagikan tidak kedaluwarsa, dan panggilan video tidak terbatas sesuai dengan fungsi yang disediakan.

Selain itu, terdapat fitur chat dan tombol reaksi, dan pengguna juga bisa memblur tampilan latar belakang yang berguna ketika pengguna malu memperlihatkan ruangannya yang berantakan saat rapat online dimulai.

Tambahan lainnya, pengguna dapat membagikan layar ketika video conference berlangsung untuk keperluan pekerjaan atau pengajaran bahkan juga dapat melakukan rekaman panggilan di mana rekaman akan disimpan dalam jangka waktu 30 hari.
baca keseluruhan - Beda dari Zoom, Skype Rilis Fitur Video Conference Tanpa Registrasi

Kisah Miris Visa Amerika Pendiri Zoom Ditolak 8 Kali

Mendapatkan visa Amerika Serikat adalah perkara susah-susah gampang. 

Tak sedikit yang mendapat banyak penolakan, termasuk pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan, ketika dia mencoba mencari peruntungan ke Negeri Paman Sam.

Kala itu di tahun 1990-an, Eric yang lahir di China sebenarnya sudah sempat bekerja di Jepang. 

Akan tetapi ia melihat ada peluang besar di Amerika karena bisnis internet sedang melonjak.

"Saya memutuskan datang ke AS di pertengahan 1990-an karena internet, yang saya tahu adalah gelombang masa depan," kata Eric yang dikutip dari Authority Magazine.

"Pertama kali saya mendaftarkan visa AS, saya ditolak. 

Saya terus mengajukan lagi dan lagi dalam kurun waktu dua tahun dan akhirnya menerima visa pada percobaan kesembilan," cetusnya.

Artinya, visa AS Eric sempat ditolak sampai 8 kali. Ia datang ke Silicon Valley pada tahun 1997 dan diterima bekerja di WebEx, saat itu masih perusahaan kecil. WebEx tumbuh pesat dan diakuisisi Cisco pada 2007.

Eric pun menanjak karirnya dan menjadi Vice President Cisco. Pada tahun 2012, ia punya ide perusahaan sendiri yang bergerak di bidang komunikasi video dan memutuskan keluar dari Cisco. Tahun 2012, resmilah Eric mendirikan Zoom.

"Saya pertama kali punya ide saat baru masuk kuliah di China dan kadang pergi 10 jam naik kereta untuk mengunjungi pacar. 

Saya mengimajinasikan cara lain untuk bisa mendatanginya tanpa harus bepergian. 

Impian itulah yang menjadi dasar dari Zoom," kisahnya.

Zoom sudah menjadi perusahaan besar dan telah berjualan saham perdana atau IPO tahun silam. 

Di masa pandemik virus corona saat ini, banyak yang memanfaatkan Zoom untuk bekerja dari rumah sehingga popularitasnya meroket.
baca keseluruhan - Kisah Miris Visa Amerika Pendiri Zoom Ditolak 8 Kali

Zoom Akui Sejumlah Video Call Tak Sengaja Terkirim ke China

Seiring makin banyak pengguna Zoom, kian tajam pula sorotan tertuju pada aplikasi video conference ini. 

Pekan ini, Zoom disorot terkait dengan isu keamanan data dan privasi penggunanya.

Selain kasus zoom bombing, dituding mengirimkan data pengguna ke Facebook, dan diam-diam menggali data LinkedIn, Zoom juga harus menghadapi tuduhan mengirimkan panggilan video call pengguna ke China.

Temuan terbaru dari peneliti keamanan di Citizen Lab menyebutkan, sejumlah panggilan video call Zoom yang dilakukan di Amerika Utara dialihkan melalui China seperti halnya kunci enkripsi yang digunakan untuk mengamankan panggilan.

Terlepas dari klaim Zoom sebelumnya bahwa percakapan di platform mereka aman, disebutkan Citizen Lab, percakapan Zoom sama sekali tidak terenkripsi. 

Artinya, Zoom mengontrol kunci enkripsi dan karenanya, dapat mengakses konten panggilan pelanggannya.

Sebelumnya Zoom mengatakan lewat postingan blognya bahwa mereka telah menerapkan kontrol internal yang kuat dan tervalidasi untuk mencegah akses tidak sah ke konten apa pun yang dibagikan pengguna selama rapat.

Namun, hal serupa tidak bisa diterapkan untuk otoritas China yang bisa menuntut Zoom menyerahkan kunci enkripsi apa pun pada servernya di China, untuk memfasilitasi dekripsi konten panggilan terenkripsi.

Dikutip dari Tech Crunch, Zoom mengakui bahwa dalam upayanya meningkatkan kapasitas server untuk mengakomodasi tingginya trafik selama masa pandemi COVID-19, platformnya telah secara tidak sengaja memungkinkan dua pusat datanya di China menerima panggilan sebagai backup jika terjadi kemacetan jaringan.

Respons ini disampaikan langsung oleh CEO Zoom Eric Yuan. Dijelaskan Eric, selama operasional normal, klien Zoom berusaha untuk terhubung ke serangkaian pusat data utama di/dekat wilayah pengguna.

Jika beberapa upaya koneksi gagal karena kemacetan jaringan atau masalah lain, klien akan menjangkau dua pusat data sekunder dari daftar beberapa pusat data sekunder sebagai jembatan koneksi cadangan potensial ke platform Zoom.

"Dalam semua kasus, klien Zoom diberikan daftar pusat data yang sesuai dengan wilayah mereka. 

Sistem ini sangat penting untuk keandalan merek dagang Zoom, khususnya selama masa akses traffic internet yang masif seperti sekarang," ujarnya.

China, bagaimanapun, harusnya menjadi pengecualian. 

Sebagian besar karena ini terkait dengan masalah privasi di antara perusahaan-perusahaan barat. 

Namun undang-undang dan peraturan China sendiri mengamanatkan bahwa perusahaan yang beroperasi di negaranya harus menyimpan data warga di dalam wilayah perbatasannya.

Zoom mengatakan pada Februari lalu pihaknya menambah kapasitas ke wilayah China untuk menangani permintaan, yang juga dimasukkan dalam daftar putih internasional pusat data cadangan. 

Artinya, pengguna non-China dalam beberapa kasus terhubung ke server China ketika pusat data di wilayah lain kelebihan kapasitas.

Saat ini, dikatakan Zoom bahwa daftar putih tersebut telah dikoreksi. 

Zoom juga mengatakan bahwa pengguna yang terkait dengan rencana pemerintah tidak akan terpengaruh oleh pengalihan rute yang tidak disengaja.

Pihak Zoom tampaknya bekerja lebih keras menangani berbagai masalah yang menerpa aplikasinya sang CEO Eric Yuan menyatakan tidak akan ada penambahan fitur baru di Zoom selama 90 hari ke depan demi fokus memperbaiki isu-isu privasi dan keamanan.
baca keseluruhan - Zoom Akui Sejumlah Video Call Tak Sengaja Terkirim ke China

Duh! Data dari Ratusan Akun Zoom Disebarkan di Dark Web

Zoom belakangan ini banyak ditimpa masalah privasi dan keamanan sejak popularitasnya menanjak. Kini mereka juga harus berurusan dengan masalah lainnya yang menyangkut dark web.

Firma keamanan siber Sixgill baru-baru ini menemukan kumpulan 352 akun Zoom yang telah dibobol. 

Dikutip dari Mashable, akun ini dibagikan di forum dark web oleh seorang pengguna anonim.

Informasi yang dibagikan mencakup alamat email yang digunakan, password ID rapat, host key dan nama host. 

Informasi yang dicuri ini bahkan diberi label sesuai tipe akunnya, artinya beberapa informasi yang dicuri ini milik pengguna berbayar.

Dalam postingan di forum tersebut, kolom komentar di bawahnya berisi beberapa orang yang berterima kasih kepada si pengunggah informasi. 

Salah satunya bahkan berniat untuk nge-troll rapat-rapat tersebut.

Tapi, trolling online bukan satu-satunya tindakan tidak bertanggung jawab yang bisa dilakukan orang-orang ini dengan informasi akun Zoom tersebut.

"Akun ini tentu bisa digunakan untuk troll pemilik akun atau siapa saja yang mengikuti panggilannya, tapi kredensial ini juga bisa digunakan untuk menguping perusahaan atau pribadi, pencurian identitas dan tindakan jahat lainnya," kata Security Research Lead Sixgill, Dov Lerner dalam keterangan resminya.

Hal ini semakin mengkhawatirkan karena Sixgill menemukan akun-akun yang datanya dibobol ini bukan hanya akun pribadi tapi juga akun milik bisnis kecil dan institusi pendidikan. 

Salah satu akun yang dibobol juga milik penyedia layanan kesehatan besar di Amerika Serikat.

Temuan ini tentu menjadi masalah baru bagi Zoom yang sudah kewalahan menghadapi berbagai masalah keamanan. 

Dalam beberapa minggu terakhir mereka harus berurusan dengan data pengguna yang dibagikan ke Facebook, Zoom Bombing dan data yang tidak sengaja dialihkan lewat China.

Pendiri dan CEO Zoom Eric Yuan bahkan sudah dua kali meminta maaf pada penggunanya. Ia juga bertekad untuk menangani semua masalah keamanan dengan serius.
baca keseluruhan - Duh! Data dari Ratusan Akun Zoom Disebarkan di Dark Web

Layar 10bit Akan Jadi Standar Ponsel Masa Depan


Oppo Find X2 series yang diperkenalkan Maret lalu menggebrak dengan layar 10bit. 

Diyakini fitur ini akan jadi standar ponsel masa depan
Dominikus Susanto, Senior Manager Business Development Qualcomm mengatakan ketika ponsel dirilis dua dekade lalu, layarnya masih hitam putih. 

Kemudian berkembang menghadirkan 256 warna.

Mengikuti kemajuan teknologi, layar ponsel pun meningkat menjadi 65 ribu warna. Selanjutnya menjadi 16 juta (8bit) warna yang kemudian menjadi standar ponsel sampai saat ini.

"Dan sekarang dengan adanya teknologi yang memungkinkan layar 10bit, saya yakin akan menjadi standar. 

Mungkin kalau saat ini masih diterapkan flagship, ini seperti awal-awal 8 bit juga diterapkan di high end," kata Dominikus saat berbicara di Qualcomm Snapdragon Academy.

Sementara itu PR Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto mengemukakan kenapa pihaknya mengadopsi layar 10bit di saat belum ada vendor lain yang menerapkannya. 

Menurutnya saat ini 90% aktivitas di smartphone ada di layar, itulah kenapa pihaknya begitu fokus pada layar di Find X2 Series.

"Kenapa 10bit? Karena sesuai dengan target marketnya. 

Perangkat inikan perangkat 5G Ready nantinya perangkat ini optimal ketika jaringan 5G sudah berjalan di mana banyak konten bersifat streaming dan video dan itulah kenapa kami menyajikan layar yang terbaik," katanya di acara yang sama.

Untuk diketahui kedalaman bit menentukan jumlah warna yang dapat tersaji di gambar diam ataupun video.

Jadi setiap gambar terdiri dari saluran dasar merah, hijau, dan biru. Setiap saluran dapat menampilkan berbagai corak warna yang sesuai. 

Jumlah warna menentukan kedalaman bit gambar.

Gambar kedalaman 1 bit berarti hanya ada dua corak warna per saluran warna. 

Untuk gambar kedalaman 3 bit ada dua pangkat tiga informasi warna atau total delapan warna per saluran.

Sementara gambar 8-bit berarti dua pangkat delapan warna untuk merah, hijau, dan biru atau ada 256 warna per saluran. 

Saat menggabungkan saluran-saluran itu kita dapat memiliki 256 x 256 x 256 kombinasi warna yang berbeda, atau kira-kira 16 juta.

Nah gambar 10-bit dapat menampilkan 1.024 nuansa warna per saluran. Bila dikombinasikan ada 1 miliar lebih warna yang tersaji.
baca keseluruhan - Layar 10bit Akan Jadi Standar Ponsel Masa Depan

Diare Salah Satu Gejala pada Pasien COVID-19 Level Ringan

Sebuah studi yang dipublikasikan The American Journal of Gastroenterology menganalisis gejala masalah pencernaan dilaporkan oleh banyak pasien COVID-19 dengan kondisi ringan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kondisi sedang atau kritis.

Studi yang dipublikasikan pada 30 Maret 2020 ini juga menemukan kelompok dengan kondisi ringan biasanya mengalami diare.

Para penulis dari Union Hospital and Tongji Medical College di Wuhan, China mengatakan ketika orang yang mengidap kondisi ringan akibat virus corona, mereka bisa jadi atau tidak sama sekali mengalami masalah pernapasan atau demam.

Dikutip dari Coronavirus Today, diarenya sendiri berdurasi selama lima hari dengan frekuensi 4 kali buang air besar dalam satu harinya.

Analisis ini dilakukan pada 206 pasien dengan tingkat keparahan yang rendah dari infeksi virus corona. 

48 Orang di antaranya mengalami masalah pencernaan, 69 mengalami masalah pencernaan dan pernapasan, dan 89 hanya mengalami gejala masalah pernapasan.

Dari dua kelompok dengan gejala pencernaan, 67% mengalami diare dan 20% dari angka tersebut mengalami diare sebagai gejala pertama mereka saat penyakitnya muncul.

Sementara itu, demam ditemukan pada 62% pasien dengan masalah pencernaan, yang mana berarti hampir sepertiganya tidak mengalami demam.

"Studi ini penting karena merepresentasikan 80% pasien atau lebih yang tidak memiliki kondisi parah atau kritis," kata Brennan MR Spiegel, MD, MSHS, FACG, Co-Editor-in-Chief The American Journal of Gastroenterology.

Spiegel menambahkan, semakin umum orang yang kemungkinan mengalami COVID-19 dengan tanda awal diare, mual, dan muntah.

baca keseluruhan - Diare Salah Satu Gejala pada Pasien COVID-19 Level Ringan

Prototipe Test Kit qPCR COVID-19 Buatan Indonesia Rampung

Prototipe Test Kit qPCR COVID-19 yang dikerjakan startup Nusantics rampung dibuat. Alat ini teruji mampu mendeteksi virus SARS CoV dengan akurat.

Test Kit qPCR COVID-19 buatan anak negeri ini diberi nama NUSANTARA TFRIC-19. Proses desain dan uji laboratorium akurasi selesai pada Jumat (4/4). Pengembangan test kit ini dilakukan oleh Nusantics sebagai bagian dari Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19) yang dibentuk oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
CTO Nusantics Revata Utama menjelaskan bahwa pihaknya mendesain NUSANTARA TFRIC-19 tersebut menggunakan data genomic virus SARS-CoV-2 yang menyebar di Asia.

Pada tahap pertama, Nusantics melakukan analisis bioinformatika dengan mencocokkan (alignment) sekuens genetika virus SARS-CoV-2 yang mewabah di Asia untuk memilih gen sasaran.

Dari analisis bioinformatika, Nusantics memutuskan mendesain NUSANTARA TFRIC-19 untuk menyasar dua gen virus SARS-CoV-2 yaitu Gen RdRP (yang menghasilkan enzim untuk mereplikasi virus saat menginfeksi sel manusia) dan Gen N (yang melindungi inti RNA virus).
Nusantics kemudian menguji sensitivitas test kit dengan menggunakan isolat RNA dari luar negeri. Isolat dari luar negeri digunakan untuk mempercepat pengembangan, selama isolat RNA lokal belum tersedia.

Hasil uji laboratorium membuktikan bahwa NUSANTARA TFRIC-19 bisa mendeteksi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 secara spesifik, dan tidak bereaksi terhadap genome virus SARS-CoV-1 atau virus corona lain.

"Kami melakukan uji akurasi dan validasi prototipe terhadap strain Asia. Hasilnya, NUSANTARA TFRIC-19 bisa mengidentifikasi strain COVID-19, yang berdasarkan data sudah mirip dengan prediksi mutasi strain indonesia," kata Revata.

Nusantics selanjutnya akan melakukan uji laboratorium menggunakan sampel virus SARS-CoV-2 yang beredar di Indonesia. Dana genomic dari virus lokal akan digunakan untuk menyempurnakan prototipe NUSANTARA TFRIC-19.
Task Force BPPT untuk COVID-19 saat ini masih menunggu untuk mendapatkan sampel virus lokal dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes).

Penyempurnaan prototipe NUSANTARA TFRIC-19 diperkirakan selesai dalam 2-3 hari setelah sampel didapatkan.

"Validasi dengan strain virus Asia menunjukkan bahwa NUSANTARA TFRIC-19 mampu mendiagnosis COVID-19 dengan akurat.

Namun, kami akan menyempurnakannya dengan menggunakan informasi genomic virus lokal.

Ini alasannya, kenapa sampel strain lokal sangat penting.

Setelah mendapatkan sampel lokal, kami akan melakukan validasi akurasi NUSANTARA TFRIC-19 dengan strain Indonesia.

Setelah itu, kita bisa masuk ke tahap produksi massal," kata CEO Nusantics Sharlini Eriza Putri.

Untuk diketahui, pembuatan prototipe test kita qPCR COVID-19 merupakan bagian dari gerakan Indonesia Pasti Bisa, yang diinisiasi oleh East Ventures.

Gerakan tersebut melakukan menggalang pendanaan Rp 10 miliar untuk mendukung upaya Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 dalam mengembangkan dan memproduksi test kit COVID-19 buatan Indonesia.

Rencananya, test kit hasil pengembangan Nusantics akan diproduksi massal oleh BPPT, Bio Farma, dan Indonesia International Institute for Life Science.

Dana yang dikumpulkan melalui gerakan Indonesia PASTI BISA akan digunakan untuk membiayai pembelian material dan bahan baku untuk memproduksi 100.000 test kit qPCR.
baca keseluruhan - Prototipe Test Kit qPCR COVID-19 Buatan Indonesia Rampung

Sabtu, 11 April 2020

Dapat Petunjuk Lewat Mimpi, Pria Asal Bangka Ini Sebut Daun Leben Sebagai Obat Corona

Video Marsudi, warga Nelayan 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel) membuat heboh di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

Pasalnya, lewat mimpi, dia mendapatkan petunjuk soal obat yang kemungkinan dapat menyembuhkan pasien dari penyakit mematikan tersebut. 

Obat tersebut adalah pucuk daun leben (vitex pinatta).

“Mimpi tiga kali malam Jumat, kedatangan orang tua yang menyebutkan obat penyakit Corona adalah pucuk leben. 

Direbus secukupnya, air tiga gelas jadi satu gelas. Pada Jumat kedua, isi mimpinya sama dan di Jumat ketiga, mimpi lagi, kenapa gak coba pucuk daun leben, saya bilang tidak kena Corona,” sebut Marsudi dalam video berdurasi 2 menit 37 detik tersebut. 

Perihal mimpi tersebut, dia juga mengaku sudah menceritakan kepada temannya yang bernama Memet. 

Dari pengakuan Memet, ada temannya yang mengalami batuk kemudian sembuh setelah minum air rebusan daun pucuk leben. 

Namun begitu, Marsudi enggan videonya soal informasi obat Corona dikategorikan sebagai hoaks. 

Menurutnya, hal itu adalah mimpi yang harus dibuktikan benar atau tidak. Dia meminta kepada dokter untuk membuktikan apakah daun leben bisa menyembuhkan pasien Corona sesuai mimpinya. 

“Tolong dokter dicek benar tidak pucuk daun leben bisa jadi obat Corona, apakah mimpi saya benar atau salah. Itu saja. 
Jangan lupa jika mau mencoba daun pucuk leben baca doa dulu. Tuhan itu maha pengasih maha penyayang, untuk agama lain sesuai kepercayaannya masing-masing,”katanya.
baca keseluruhan - Dapat Petunjuk Lewat Mimpi, Pria Asal Bangka Ini Sebut Daun Leben Sebagai Obat Corona

Kata China Tentang Obat Avigan Yang Dipesan Jokowi Untuk Obati Virus Corona

Presiden Joko Widodo meengambil kebijakan untuk menyiapkan dua juta obat Avigan dan tiga juta Chloroquine sebagai antisipasi meluasnya wabah virus Corona di Indonesia.

“Obat-obatan tersebut akan sampai kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi,” kata Jokowi dikutip dari akun media sosialnya.

Avigan atau Favipiravir adalah agen anti-virus yang secara selektif dan berpotensi menghambat RNA-dependent RNA polimerase (RdRp) dari virus RNA.

Fujifilm Toyama mengembangkan obat ini pada tahun 2014 dan telah diuji coba kepada manusia yang terinfeksi virus corona COVID-19 sejak Februari.

Uji klinis dilakukan pada 200 pasien di rumah sakit Wuhan dan Shenzen.

Dari Shenzhen sendiri, menyumbang 80 pasien, 35 pasien yang menerima perlakuan obat oral favipiravir, dan 45 orang dalam grup kontrol (tidak minum obat favipiravir), mengutip dari Xinhuanet.

Otoritas medis di Cina mengatakan obat yang digunakan di Jepang untuk mengobati jenis baru influenza ini tampaknya efektif pada pasien COVID-19.

Zhang Xinmin, seorang pejabat di kementerian ilmu pengetahuan dan teknologi China, mengatakan favipiravir, memberikan hasil yang menggembirakan dalam uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien.

“Pasien yang diberi obat di Shenzhen berubah status menjadi negatif setelah rata-rata empat hari setelah menjadi positif, dibandingkan dengan rata-rata 11 hari untuk mereka yang tidak diobati dengan obat,” kata penyiar publik NHK.

Selain itu, sinar-X mengkonfirmasi peningkatan kondisi paru-paru pada sekitar 91 persen pasien yang diobati dengan favipiravir, dibandingkan dengan 62 persen atau mereka yang tidak menggunakan obat.

Hasil penelitian keduanya menunjukkan bahwa pasien yang menerima obat teruji negatif dalam waktu singkat, sedangkan gejala pneumonia sangat berkurang.

Hingga kini, obat Avigan masih terus dikembangkan. Para ilmuwan juga tengah menunggu hak paten obat tersebut agar bisa mengembangkan obat generiknya.

Namun obat ini menurut tim kesehatan Korea Selatan memilik efek samping yang sangat keras, bagi ibu hamil bisa membunuh janin yang dikandungnya.

Entahlah, mungkin petuah leluhur “Lebih baik mencegah daripada mengobati” sudah dilupakan.

baca keseluruhan - Kata China Tentang Obat Avigan Yang Dipesan Jokowi Untuk Obati Virus Corona

Jumat, 10 April 2020

Asal Usul Virus Corona Berasal, dari Mana Sebenarnya?

COVID-19 atau virus corona tengah menyebar dan menginfeksi lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia. Namun, sebenarnya virus corona berasal dari mana?

Kemunculan virus corona mulai terdeteksi pertama kali di negara China pada awal Desember 2019. 

Kala itu, sejumlah pasien berdatangan ke rumah sakit di Wuhan dengan gejala penyakit yang tak dikenal.

Kemudian, Dr. Li Wenliang menyebarkan berita mengenai virus misterius tersebut di media sosial. Diketahui, sejumlah pasien pertama memiliki akses ke pasar ikan Huanan yang juga menjual binatang liar.
Dikutip dari CNN, coronavirus sebenarnya sudah ada sejak lama. 

Namun, virus tersebut biasa ditemukan pada hewan, seperti kucing, anjing, babi, sapi, kalkun, ayam, tikus, kelinci, dan kelelawar.

Namun, virus corona pada hewan hanya dapat menyebar antara binatang yang satu dengan binatang yang lain. 

Bahkan, sebagian hanya bertahan pada inang aslinya saja dan tidak menyebar.

"Biasanya virus dari satu hewan tidak menular ke spesies hewan lain, atau ke manusia," kata Kepala Divisi Penyakit Menular Anak-anak di Rumah Sakit Anak Pittsburgh University Center Medical Pittsburgh, Dr. John Williams.

"Jadi biasanya jika virus berpindah dari hewan ke manusia, itu seperti jalan buntu. Orang itu sakit tetapi tidak menyebar lebih lanjut," sambungnya.

Kemudian, sebuah penelitian yang diterbitkan bulan Februari menyebutkan bahwa tampaknya virus corona berasal dari kelelawar. 

Virus tersebut berhasil bermutasi dari tubuh sang inang.

Penelitian tersebut menemukan coronavirus pada kelelawar memiliki 96% genetik yang mirip dengan virus corona yang saat ini menginfeksi orang di seluruh dunia. 

Namun, virus corona bukan infeksi langsung dari kelelawar, melainkan dari spesies lain yang terinfeksi dari kelelawar dan akhirnya menyerang tubuh manusia.

Namun, penelitian baru-baru ini juga menyebutkan 13 dari 41 pasien yang terinfeksi tidak memiliki hubungan dengan pasar yang menjual hewan liar. 

Sehingga, para peneliti belum mengetahui betul virus corona berasal dari mana.
baca keseluruhan - Asal Usul Virus Corona Berasal, dari Mana Sebenarnya?

Sabtu, 04 April 2020

Cegah Tamu Tak Diundang Susupi Meeting, Ini Tindakan Zoom

Penggunaan Zoom meroket dan tak diperkirakan oleh perusahaan, yang diakibatkan banyaknya warga diam di rumah mencegah penularan COVID-19. 

Salah satu isu yang memusingkan mereka adalah fenomena Zoom Bombing tapi kini, solusi agaknya telah ditemukan.

Dalam pengumumannya, Zoom menyebut bahwa fitur waiting room akan diaktifkan secara default.

Artinya, pihak yang mengorganisir meeting dapat mengontrol siapa partisipan yang dapat memasuki sesi rapat.

"Waiting Room adalah seperti bunyinya, area virtual yang mencegah orang bergabung dalam meeting sampai tuan rumah siap," papar Zoom, dikutip dari CNBC.

Sebelumnya, waiting room harus diaktifkan terlebih dahulu, bukan langsung ada. Sekarang, Zoom menjadikannya langsung tersedia.

Upaya perlindungan lainnya, Zoom mewajibkan peserta meeting yang bergabung dalam sesi secara manual untuk memasukkan password. 

Sedangkan mereka yang menerima undangan masih akan bisa bergabung cukup dengan klik link yang tersedia.

Zoom Bombing sendiri merupakan serangan berupa gangguan dari luar yang membajak video konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau ujaran kebencian disertai ancaman, sehingga menghentikan segala interaksi sosial online yang sedang dilakukan.

Serangan ini diketahui semakin meningkat secara signifikan selama pandemi. Hal itu seiring meroketnya penggunaan Zoom dengan 200 juta meeting digelar per hari pada bulan Maret silam.
baca keseluruhan - Cegah Tamu Tak Diundang Susupi Meeting, Ini Tindakan Zoom

Zoom Bombing Bikin Berang Pejabat Pemerintah

Pejabat hukum di sedikitnya 3 negara bagian di Amerika Serikat menyelidiki aplikasi konferensi video Zoom soal privasi dan keamanan. 

Itu dilakukan karena ada pejabat pemerintah yang terkena Zoom Bombing.

Zoom Bombing merupakan istilah bagi serangan berupa gangguan dari luar yang membajak video konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau ujaran kebencian disertai ancaman. 

Hal ini membuat keamanan Zoom dipertanyakan, khususnya saat menggelar rapat penting.

Dikutip dari CNBC, kejaksaan negara bagian Connecticut, New York dan Florida menyelidiki Zoom dan kemungkinan ada negara bagian lain yang akan ikut bergabung.

Jaksa Agung Connecticut, William Tong, adalah pejabat yang jadi korban Zoom Bombing saat beberapa waktu lalu berkomunikasi dengan Gubernur Connecticut, Susan Bysiewicz. Pesan-pesan tidak pantas membanjirinya di chat box.

"Kami waspada dengan insiden Zoom Bombing dan mencari lebih banyak informasi dari perusahaan tentang upaya privasi dan keamanan mereka serta berkoordinasi dengan jaksa lain," cetus Tong.

Bysiewicz mengaku sudah beberapa kali mengalami Zoom Bombing. 

"Sangat bikin frustrasi melihat hal-hal kebencian dan bully itu berada di sisi layar," katanya, dikutip dari CNBC.

Zoom sendiri mengaku berusaha memperbaiki masalah yang menjadikan mereka sasaran kritik.

"Kami memperlakukan privasi, sekuriti dan kepercayaan user dengan sangat serius," sebut juru bicara Zoom.
baca keseluruhan - Zoom Bombing Bikin Berang Pejabat Pemerintah

'Pikir Dua Kali Dulu Sebelum Pakai Zoom'

Makin banyak yang menguliti aplikasi Zoom seiring banyaknya orang dari segala kalangan memakainya buat meeting online di tengah wabah virus corona. 

Salah satunya lembaga pengawas internet Citizen Lab yang berbasis di Kanada, menyarankan agar orang pikir-pikir sebelum pakai Zoom.

Peringatan itu mereka sampaikan khususnya jika user membicarakan sesuatu yang sensitif. Sebab, sistem keamanan Zoom menurut mereka tidak dirancang untuk melindungi pembicaraan penting. 

Zoom memakai penyandian atau enkripsi yang tidak standar sehingga punya kelemahan.

"Zoom membuat kesalahan klasik dalam mendesain dan mengimplementasikan skema enkripsi mereka sendiri ketimbang memakai standar eksisting buat menyandi konten foto dan video," kata Bill Marczak, periset di Citizen Lab.

"Memang penyandian Zoom lebih baik daripada tak ada sama sekali, tapi pengguna yang mengharapkan meeting Zoom mereka akan aman dari penyadapan harus berpikir dua kali sebelum memakai aplikasi ini untuk mendiskusikan informasi sensitif," tegasnya.

Dikutip dari CTV News, peringatan itu disampaikan saat penggunaan Zoom marak bukan hanya di kalangan biasa, tapi juga pemerintahan. 

Politisi termasuk Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengandalkan Zoom buat meeting di saat dia diisolasi karena kena corona.

Peneliti Citizen Lab juga mencemaskan beberapa kunci penyandian Zoom didistribusikan melalui server di China, meskipun semua partisipan dalam meeting berada di luar China.

"Perusahaan yang secara khusus melayani klien di Amerika Utara dan mendistribusikan kunci enkripsi lewat server di China sangat mencemaskan karena Zoom mungkin wajib mengungkap kunci itu ke otoritas di China," cetus Citizen Lab.

Pihak Zoom sendiri mencoba makin serius menangani masalah yang menerpa aplikasinya. 

Pendiri dan sang CEO, Eric Yuan, telah menyatakan tidak akan ada penambahan fitur baru di Zoom selama 90 hari untuk memperbaiki isu-isu privasi dan keamanan.
baca keseluruhan - 'Pikir Dua Kali Dulu Sebelum Pakai Zoom'

CEO Zoom Layangkan Permintaan Maaf Pada Pengguna, Kenapa?

Seiring makin banyak digunakan orang, aplikasi konferensi video Zoom makin disorot. Belakangan, mereka diterpa isu soal privasi ataupun keamanan lantaran ada kasus orang tak dikenal nimbrung saat meeting. CEO Zoom, Eric Yuan pun meminta maaf.

"Kami menyadari tidak mencapai harapan soal privasi dan keamanan baik dari masyarakat maupun kami sendiri. Untuk itu, saya benar-benar minta maaf," kata Eric yang dikutip dari CNN.

Untuk 90 hari ke depan, Zoom menurut Eric tidak akan menambahkan fitur baru untuk fokus memperbaiki masalah yang ada. Mereka telah menghentikan fungsi pengiriman data ke Facebook yang dipersoalkan banyak pihak.

Pandemi virus corona membuat Zoom banyak diandalkan pegawai maupun pejabat lantaran mudah digunakan saat ingin meeting jarak jauh. 

Eric mengklaim pada bulan Maret, setiap harinya ada 200 juta meeting digelar melalui Zoom.

Minggu ini saja, Zoom diselidik oleh FBI karena dikhawatirkan kurang aman dengan isu penyusupan hacker. Lalu ada gugatan dilayangkan terkait pembagian data ke Facebook.

Eric membela diri bahwa Zoom dibuat terutama untuk institusi besar dengan dukungan TI penuh seperti universitas, badan pemerintahan atau lembaga keuangan. 

Meledaknya pemakaian individu tampaknya kurang mereka antisipasi.

"Kami tidak mendesain produk dengan perkiraan bahwa, dalam hitungan minggu, setiap orang di dunia mendadak bekerja, belajar dan bersosialisasi di rumah. 

Kami sekarang punya pengguna yang jauh lebih luas, menghadirkan tantangan yang tidak kami antisipasi," cetus Eric.

baca keseluruhan - CEO Zoom Layangkan Permintaan Maaf Pada Pengguna, Kenapa?

Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn Pengguna

Zoom menjadi salah satu aplikasi yang populer di era social distancing. Tapi semakin banyak digunakan, semakin banyak celah keamanan dan privasi yang ditemukan di aplikasi panggilan video tersebut.

Kali ini Zoom ketahuan menggali data dari LinkedIn penggunanya secara diam-diam. Dikutip dari The Verge,  Zoom rupanya memiliki fitur yang bisa mencocokkan nama dan email yang digunakan seseorang untuk sign in dengan profil LinkedIn mereka.

Jika pengguna lain di rapat online Zoom berlangganan layanan LinkedIn Sales Navigator, mereka bisa mengakses profil LinkedIn milik partisipan lain dengan mengklik ikon di samping namanya. 

Informasi ini bisa mencakup nama asli pengguna, tempat kerja dan lokasi.

Hal ini menjadi masalah karena Zoom melakukan hal ini tanpa sepengetahuan pengguna atau meminta izin dari mereka. 

Bahkan ketika pengguna tidak menggunakan nama aslinya di Zoom, platform tersebut tetap bisa mencocokkan mereka dengan akun LinkedIn-nya.

Untungnya, Zoom mengatakan fitur yang mengancam privasi pengguna ini telah dinonaktifkan. LinkedIn juga mengatakan bahwa mereka akan menangguhkan integrasi layanan dengan Zoom sembari menginvestigasi kejadian ini.

Sejak popularitasnya menanjak karena menjadi aplikasi pilihan untuk rapat dan bertatap muka secara online, Zoom telah diwarnai beberapa isu privasi. 

Sebelumnya mereka diketahui diam-diam mengirimkan data pengguna ke Facebook.

CEO Zoom, Eric S. Yuan pun meminta maaf kepada seluruh penggunanya. Ia juga mengumumkan bahwa Zoom akan menangguhkan update fitur baru selama 90 hari untuk fokus dalam memperbaiki masalah privasi dan keamanan.
baca keseluruhan - Zoom Diam-diam Gali Data LinkedIn Pengguna

Dokter Ai Fen, Pengungkap Pertama Virus Corona, Dikabarkan Menghilang

Dokter Ai Fen, direktur departemen darurat Rumah Sakit Wuhan yang buka suara bagaimana dia dibungkam karena menyebarkan informasi mengenai virus corona.
Ai Fen, dokter di Wuhan, China, yang pertama kali mengungkap virus corona, dilaporkan menghilang dengan kekhawatiran dia ditahan.

Dia menjadi perhatian dunia pada Maret, setelah mengutarakan apa yang dialaminya ketika pertama kali menyuarakan keberadaan patogen baru itu di akhir Desember 2019.

Dokter Ai Fen menuturkan, dia menghadapi "teguran keras yang tak pernah terjadi sebelumnya" dari komisi disiplin Rumah Sakit Pusat Wuhan.

Sebabnya pada 30 Desember 2019, dia mengunggah hasil diagnosa seorang pasien di WeChat dan memberikan keterangan "virus corona SARS".

Gambar itu segera menyebar, dengan mendiang dokter Li Wenliang menyuarakan kekhawatirannya akan virus yang kini membunuh lebih dari 47.000 orang di dunia.

Li, yang meninggal karena wabah itu pada 7 Februari, sempat diperingatkan otoritas setempat karena dianggap "menyebarkan informasi tidak benar".

Dikabarkan 60 Minutes Australia, Dokter Ai tidak terlihat lagi setelah memberikan wawancara kepada People yang mengkritik manajemen rumah sakit dalam merespons temuannya.

Tak lama setelah wawancara itu tayang, yang kemudian dihapus, Ai mengunggah sebuah gambar disertai keterangan di akun Weibo-nya.

"Sebuah sungai, jalan, jembatan, dan jam yang berdentang," kata Ai di Weibo seperti dikutip oleh RFA via Daily Mail.

Rumor dia menghilang terjadi setelah pemerintah China dikritik karena dianggap menutupi situasi tentang pandemi yang terjadi.

Beijing disebut berusaha menutupi kabar terkait patogen tersebut dengan menghukum tim medis yang menemukan dan menyebarluaskannya.

Kemudian memberi penyangkalan bahwa Covid-19 tidak ada transmisi antar-manusia, hingga menunda karantina di wilayah yang terdampak.

Bahkan hingga saat ini, sejumlah kalangan, termasuk warga di Wuhan, menduga angka sebenarnya infeksi virus SARS-Cov-2 itu jauh lebih tinggi dari yang dipaparkan.

Dalam wawancara sebelum dia tidak terlihat lagi, direktur departemen darurat itu mengaku menyesal tidak lebih berani menyuarakannya lebih keras.

Sebabnya empat koleganya, termasuk Dokter Li Wenliang, terpapar Covid-19 dan meninggal ketika berjuang untuk merawat para pasien.

"JIka saya tahu akhirnya bakal seperti ini, saya tak peduli akan hukuman. Saya akan terus menyuarakannya kepada siapa pun," kata dia.

Sang Dokter menceritakan, semua terjadi pada 30 Desember 2019, ketika dia melihat banyak pasien dengan gejala mirip flu tak bisa ditangani dengan pengobatan biasa.

Dia kemudian mendapatkan hasil laboratorium, dengan salah satunya mencantumkan sebuah kalimat yang membuatnya berkeringat dingin, "SARS coronavirus".

Seketika dia langsung melingkari kata SARS, mengambil foto, dan segera mengirimkannya kepada mantan teman sekelas di jurusan kedokteran yang bekerja di rumah sakit lain.

Dia juga sampai memanggil koleganya dari departemen pernapasan yang kebetulan tengah melintas. "Saya katakan salah satu pasiennya terinfeksi virus mirip SARS," kisahnya.

Segera saja, foto tersebut menyebar di kalangan tenaga medis, termasuk oleh dokter Li yang memberikan peringatan sebelum ditegur aparat.

Malamnya, dia menuturkan menerima pesan dari rumah sakit yang menyatakan bahwa informasi penyakit misterius itu harusnya tidak disebarluaskan.

Sebabnya, kabar yang belum diketahui kebenarannya itu bisa menyebabkan kepanikan. Dua hari kemudian, dia dipanggil komite disiplin RS.

Oleh kepala komite inspeksi disiplin, dia mendapat teguran karena dianggap "menyebarkan rumor" dan "merusak stabilitas".

"Pikiran saya kosong. Dia tidak menegur karena saya tak bekerja keras. Saya dianggap sudah merusak masa depan Wuhan. Saya putus asa," keluhnya.

Setelah itu, setiap staf dilarang untuk saling membagikan gambar maupun pesan yang berisi informasi mengenai virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu.

Ai mengaku tidak bisa mengusahakan apa-apa, selain meminta para stafnya untuk mengenakan pakaian pelindung dan masker meski tidak diinstruksikan.
baca keseluruhan - Dokter Ai Fen, Pengungkap Pertama Virus Corona, Dikabarkan Menghilang

Kenalan dengan Pencipta Zoom yang Duitnya Bertambah Rp 66 Triliun

Eric Yuan pendiri Zoom
Pandemi virus corona membuat banyak pegawai kerja dari rumah dan salah satu aplikasi yang mereka andalkan untuk meeting online adalah Zoom. 

Popularitas Zoom memang sangat melesat, begitu juga dengan harta pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan.

Dalam 3 bulan terakhir menurut Financial Times, kekayaan Eric bertambah USD 4 miliar atau di kisaran Rp 66 triliun. 

Adapun harta totalnya diestimasi sudah USD 7,5 miliar, berdasarkan kepemilikan saham di Zoom.

Eric yang berusia 49 tahun ini lahir di provinsi Shandong, China. Orang tuanya kerja di pertambangan. 

Ia menyelesaikan kuliah di bidang matematika dan teknik, lalu sempat bekerja 4 tahun di Jepang.

Waktu berlalu, Eric memutuskan pindah ke Silicon Valley untuk bekerja di startup internet. Visa Amerika Eric sempat ditolak 8 kali sebelum akhirnya lolos pada tahun 1997, saat itu usianya 27 tahun. Bahasa Inggrisnya pun belum lancar.

"Pada beberapa tahun pertama, saya cuma menulis kode dan sangat sibuk," tuturnya pada CNBC. Di waktu senggang, dia main sepakbola sebagai hobi.

Karirnya ternyata, berkat kerja keras dan kepandaian, makin moncer dan pernah menjadi Vice President di Cisco Systems. Ia juga pernah bekerja di perusahaan konferensi video WebEx.

Saat di China, Eric sudah punya pacar yang akhirnya jadi istrinya. Waktu itu, mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. 

"Aku hanya bisa menemuinya dua kali setahun dan butuh waktu lebih dari 10 jam untuk ke sana dengan kereta," begitu kisahnya.

"Saat itu aku masih muda dan berpikir fantastis jika di masa depan ada perangkat di mana cukup menyentuh tombol dan bisa melihat serta bicara padanya," sambung Eric.

Eric mengusulkan teknologi konferensi video yang ramah smartphone pada Cisco di 2011, tapi ia ditolak bosnya. 

Maka ia memutuskan keluar dan mendirikan Zoom karena yakin dengan idenya. Di masa awal itu, dia sulit mendapatkan dana dan harus meminjam pada teman dan keluarga.

Istrinya juga mempertanyakan kenapa dia keluar dari pekerjaan mapan di Cisco. "Saya beritahu dia bahwa ini akan jadi perjalanan panjang dan sangat sulit. 

Tapi jika saya tak mencoba, saya bakal menyesal," cetusnya.

Keyakinannya membuahkan hasil, popularitas Zoom makin meningkat. Pada 2014, jumlah penggunanya 10 juta kemudian naik jadi 40 juta pada 2015. 

Pendanaan mengalir, antara lain sejumlah USD 30 juta pada 2015 dari beberapa investor termasuk Horizons Ventures dan Qualcomm Ventures.

Tahun 2017, Zoom menyandang status startup unicorn. Akhirnya pada Maret 2019, mereka berjualan saham perdana atau IPO dengan valuasi sekitar USD 16 miliar.

Tahun 2020 ini dipastikan ketenaran Zoom makin bertambah. Dari pegawai sampai pejabat banyak mengandalkannya untuk membahas berbagai hal secara online. 

Bahkan valuasinya kini sudah USD 35 miliar.

Mereka mendapat uang dari klien korporat, dengan jumlah sekitar 30 ribu. Raksasa seperti Samsung, Uber sampai Walmart kabarnya menggunakan Zoom.

Belakangan seiring naiknya popularitas, Zoom mulai disorot karena tudingan mengirim data tanpa izin ke Facebook ataupun rentan disusupi hacker. 

Namun demikian sejauh ini, Zoom masih jadi favorit.

Eric sendiri mengaku tetap bekerja keras dan rendah hati. Ia termasuk CEO paling disukai karyawan. Hasil review Glasdoor, 99% karyawan senang dengan kepemimpinannya di Zoom.
baca keseluruhan - Kenalan dengan Pencipta Zoom yang Duitnya Bertambah Rp 66 Triliun

Awas Zoom Bombing! Ini Tips Aman Meeting Online Pakai Zoom

Zoom jadi salah satu platform yang sedang naik daun saat ini. Berbagai instansi pemerintahan, perusahaan, universitas hingga sekolah di berbagai negara serentak menggunakannya untuk menunjang aktivitas bekerja dan belajar dari rumah.

Sayangnya, aplikasi ini memiliki masalah yang bisa mengganggu penggunanya. IT Security Consultant PT Prosperita - ESET Indonesia Yudhi Kukuh mengatakan, segala hal yang terkait dengan dunia maya pasti memiliki risiko, termasuk menggunakan Zoom.

"Dalam kasus Zoom, ancaman Zoom Bombing bisa menjadi masalah besar bagi banyak pihak, untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan pengaturan yang tepat untuk mencegah terjadinya pembajakan," kata Yudhi seperti dikutip dari keterangan resminya.

Zoom Bombing merupakan serangan berupa gangguan dari luar yang membajak video konferensi dengan mengirim gambar-gambar porno atau ujaran kebencian disertai ancaman, sehingga menghentikan segala interaksi sosial online yang sedang dilakukan. 

Serangan ini diketahui semakin meningkat secara signifikan selama pandemi.

Nah, bagaimana caranya agar tetap aman? Pencegahan merupakan cara terbaik untuk mengatasinya. 

Sebelum Zoom Bombing menimpa, Yudhi membeberkan tips untuk mengamankan jaringan dari serangan serupa.

Zoom memiliki hidden tool untuk mencegah pengeboman Zoom yang disebut sebagai 'Waiting Room' atau ruang tunggu yang memungkinkan mencegah tamu yang tidak diundang mengambil alih. 

Berikut adalah langkah-langkah mengaktifkan Waiting Room :
 

1. Buka account management dan pengaturan akun, dan scroll ke bawah ke opsi 'Waiting Room' lalu aktifkan

2. Setelah pengaturan diaktifkan, pilih siapa saja yang bisa menghadiri.

'All Participants' misalnya, menempatkan semua orang di ruang tunggu secara default, dan 'Guest Participants Only' menambahkan orang-orang di berbagai akun Zoom atau yang tidak masuk ke ruang tunggu. Kamu juga dapat mengizinkan peserta lain untuk menerima orang dari 'Waiting Room'

3. Setelah diaktifkan, Waiting Room juga dapat diatur untuk pertemuan tertentu.

Untuk melakukan ini, jadwalkan pertemuan terlebih dahulu di opsi 'Schedule Meeting'


4. Untuk melihat pertemuan berikutnya tinggal klik 'Upcoming Meeting'.

5. Di sana, periksa untuk mengaktifkan 'Waiting Room' untuk pertemuan khusus/tertentu

6. Kamu juga bisa mengaktifkan 'Waiting Room' untuk semua rapat dengan ID rapat pribadi kamu.

Ini dapat dilakukan dengan cara, dari opsi 'Meeting' kemudian pilih opsi 'Personal Meeting Room'.

7. Klik 'Edit this Meeting'

8. Pastikan mengaktifkan 'Waiting Room' dengan dicentang, lalu tekan save/simpan.

9. Inilah yang akan dilihat peserta rapat saat berada di 'Waiting Room'

10. Host dapat kendalikan Waiting Room dengan memilih 'Manage Participants'

11. Sementara opsi 'More' akan memberikan beberapa opsi, termasuk memasukkan seseorang ke 'Waiting Room'

12. Setelah pertemuan dimulai, calon peserta rapat dapat diterima dari daftar tunggu di bawah 'Manage participants' (kelola peserta).

13. Atau, seluruh yang ada di 'Waiting Room' dapat diterima sekaligus

14. Dengan mengklik 'More' pada 'Video Participants' mereka dapat dikirim ke 'Waiting Room' selama panggilan.


Mencegah lebih baik daripada mengobati atau sedia payung sebelum hujan, dua pepatah ini sangat akrab di telinga kita sebagai orang Indonesia, kedua ungkapan tersebut sangat cocok dalam situasi Zoom terkini. 

Semoga tips langkah-langkah pengamanan Zoom di atas dapat bermanfaat untuk para penggunanya.

baca keseluruhan - Awas Zoom Bombing! Ini Tips Aman Meeting Online Pakai Zoom

Jumat, 03 April 2020

Asik! Panggilan Video Google Duo Bisa 12 Orang

Aplikasi panggilan video makin banyak digunakan saat #JagaJarakDulu dilakukan demi mencegah meluasnya wabah virus corona. 

Apa lagi bila aplikasi tersebut bisa menampung banyak orang di dalamnya.

Mungkin Google sadar akan adanya kebutuhan itu. 

Karenanya raksasa pencarian internet itu meningkatkan jumlah partisipan pada aplikasi video callnya, Google Duo.

"Kami bersyukur bahwa Duo membantu penggunanya melihat orang yang mereka cintai di seluruh dunia. 


Kami menyadari panggilan grup sangat penting saat ini. Kami telah meningkatkan panggilan grup dari 8 menjadi 12 peserta efektif hari ini," kata Sanaz Ahari Lemelson, Senior Director of Product and Design Google di akun Twitternya.

Ini kali kedua Google menambah jumlah partisipan dalam panggilan video grup di Duo. Saat dirilis, aplikasi ini hanya bisa mendukung empat orang, selang sebulan jumlahnya dibuat dua kali lipatnya alias 8 orang.

Dengan jumlah 12 orang tentu melakukan group video call lewat Google Duo jadi lebih seru. Tapi memang bila dibandingkan platform lain terpaut jauh.

FaceTime misalnya, layanan panggilan video call kepunyaan Apple ini mendukung hingga 32 orang.  

Skype bisa sampai 50 orang, dan Zoom yang banyak digunakan saat ini mendukung hingga 100 orang untuk layanan gratisnya.

Tapi mungkin memang Google tidak merancang Duo untuk melakukan video conference. Sebab bila ingin partisipan lebih banyak mereka punya layanan Google Hangout yang mendukung hingga 250 peserta.

baca keseluruhan - Asik! Panggilan Video Google Duo Bisa 12 Orang

Aplikasi Zoom Versi iOS Diam-Diam Kirim Data Pengguna ke Facebook

Semakin mewabahnya dan guna memutus rangkaian penyebaran virus corona, berbagai negara meminta masyarakat untuk menghabiskan waktu mereka di rumah masing-masing. 
Terpisah dari orang lain, komunikasi jarak jauh melalui group video call untuk bekerja, sekolah, atau kuliah pun menjadi sarana penting di tengah penyakit menular ini.

Dari sekian banyak layanan, aplikasi group video call yang saat ini naik populeritasnya saat ini adalah Zoom.

Semakin tenar dan jadi pilihan di berbagai negara, ternyata Zoom (versi iOS) kedapatan mengirim data ke Facebook tanpa sepengetahuan pengguna.

Dikutip dari laporan analisis jaringan Motherboard, data yang dikirim Zoom ke Facebook mencakup sejumlah informasi detail tentang pengguna.

Adapun informasi yang dikirim Zoom, termasuk ketika membuka aplikasi, model ponsel, lokasi pengguna, operator selular dipakai, dan ID khusus yang dapat digunakan oleh pengiklan atau pihak ketiga untuk mengirim iklan tertarget.

Lebih lanjut, praktik yang dilakukan Zoom versi iOS ini tidak diungkap oleh pengembang di dalam halaman kebijakan pengguna.

Kepada Motherboard, juru bicara Facebook mengatakan pengembang untuk menggunakan SDK perusahaan.

Tak hanya itu, pengembang aplikasi juga harus transparan dan secara jelas dengan pengguna mereka prihal data yang dikirim kembali ke Facebook.
baca keseluruhan - Aplikasi Zoom Versi iOS Diam-Diam Kirim Data Pengguna ke Facebook

    Twitter Bird on The Tree by Tutorial Blogspot

    iklan from adsense